Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Luka yang Tak Terlihat
Arga melangkah gontai melewati gang-gang sempit di pinggiran rel kereta api. Setiap tetes air hujan yang jatuh di pundaknya terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit. Namun, ia tidak kedinginan. Sebaliknya, di balik kulitnya, Arga merasa seolah ada tungku pembakaran yang menyala, menjalar dari tulang belakang hingga ke ujung jemarinya.
Yang lebih mengerikan bukan panas itu, melainkan kehadiran lain di dalam tempurung kepalanya.
“Inang, kau sangat lemah. Membiarkan tikus itu lari hanya karena empati yang sia-sia? Darah mereka seharusnya menjadi santapan untuk memulihkan lukamu.”
Suara itu berat, purba, dan bergema dengan arogansi yang membuat nyali Arga menciut. Arga mengertakkan gigi, meremas dadanya yang terasa berdenyut kencang. Ia berusaha menekan eksistensi itu jauh ke dalam relung pikirannya. Diamlah, batinnya tegas. Ia tidak boleh membiarkan suara itu menguasai nalar. Jika batas antara dirinya dan "sang macan" kabur, ia takut ia bukan lagi Arga, melainkan monster yang mengenakan kulit manusia.
Sesampainya di depan kontrakan petak yang catnya sudah lama mengelupas, langkahnya terhenti. Di atas tikar bambu yang lembap, Sari duduk memeluk lutut. Rambutnya basah, menempel pada daster batik lusuh yang ia kenakan.
"Arga!" Sari melompat berdiri, matanya sembap, wajahnya pucat pasi. Ia menghambur memeluk Arga, tubuhnya bergetar hebat. "Ya Tuhan, kamu ke mana saja? Tadi orang-orang Rano datang lagi. Mereka bilang kalau kamu berani melawan, mereka akan... mereka akan..." Sari terisak, menyembunyikan wajahnya di dada Arga.
Arga merasakan kehangatan yang kontras dengan gejolak dingin di batinnya. Ia membalas pelukan itu, mencoba menyalurkan ketenangan yang sebenarnya rapuh. "Aku nggak apa-apa, Sar. Lihat, aku pulang, kan?"
Sari melepaskan pelukan, jemarinya yang gemetar meraba wajah Arga, mencari jejak kehancuran yang ia saksikan sendiri di pasar siang tadi. Sari terdiam. Ia memicingkan mata, memutar wajah Arga ke bawah cahaya bohlam yang temaram.
Kosong. Tidak ada lebam kebiruan di pelipisnya. Tidak ada bekas robek di sudut bibir. Kulit Arga tampak bersih, bahkan pori-porinya terlihat lebih halus, seolah kulit itu baru saja ditempa ulang oleh api.
"Luka kamu... kok bisa?" suara Sari bergetar. Ia menyentuh pipi Arga dengan ragu, takut kulit itu akan retak atau terasa panas. "Tadi aku lihat sendiri Rano menghantam pelipismu sampai darah mengalir, Ga. Kenapa sekarang mulus?"
Arga terdiam. Otaknya, yang kini terasa jauh lebih tajam dan mampu memproses informasi dengan kecepatan yang tidak wajar, segera menyusun kebohongan. "Tadi... ada orang tua di dekat dermaga. Dia kasih minyak akar-akaran. Katanya ramuan kuno buat kuli-kuli pelabuhan supaya luka tidak gampang membekas."
Sari menatap mata Arga lekat-lekat. Ada sesuatu yang berbeda. Meski Arga masih tersenyum dengan cara yang sama, ada kilat asing di sana—sesuatu yang berwibawa, liar, dan jauh lebih berbahaya dari pemuda lugu yang ia kenal sejak kecil. "Tatapanmu... kamu bukan Arga yang aku kenal, Ga."
"Aku cuma capek ditindas, Sar. Mulai besok, semuanya bakal berubah. Aku janji."
Malam itu, saat Sari akhirnya tertidur, Arga tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk bersimpuh di lantai, menatap telapak tangannya sendiri. Ia bisa merasakan energi yang tertidur di bawah kulitnya, menuntut pelepasan. Ia sadar, menjadi kuli panggul tidak akan pernah cukup untuk melunasi utang bapak Sari yang mencapai puluhan juta. Utang itu adalah jerat yang bisa menarik Sari kapan saja ke tangan orang-orang seperti Rano.
Ia butuh sesuatu yang lebih besar. Ia butuh akses ke tempat di mana uang berputar tanpa aturan.
Keesokan malamnya, dengan tekad yang sudah membatu, Arga berdiri di depan The Obsidian. Kelab malam itu adalah pusat gravitasi bagi para elit dan penguasa bisnis gelap. Bau cerutu mahal, dentuman musik bass yang mengguncang jantung, dan aroma parfum kelas atas membuat kepalanya pening.
Di balik pintu baja yang dijaga dua pria berjas hitam, ia melamar menjadi petugas keamanan.
"Gaji harian, tidak ada asuransi, dan jangan pernah bertanya tentang apa yang terjadi di dalam ruang VIP," ujar kepala keamanan saat melihat tubuh Arga yang kini tampak jauh lebih tegap dan proporsional.
Arga menerima tawaran itu tanpa ragu. Tiga jam berlalu dengan membosankan di depan pos penjagaan pintu samping, sampai sebuah keributan kecil terjadi di koridor VIP. Pintu berat itu terbuka, dan seorang wanita keluar dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh tiga pria berbadan tegap yang tampak mencurigakan.
Wanita itu mengenakan gaun merah satin yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut hitamnya tergerai, dan wajahnya sangat cantik namun dingin seperti es. Itu adalah Clarissa, putri tunggal keluarga Wijaya—penguasa bisnis gelap di kota ini.
“Inang, waspada,” bisik suara macan di batin Arga. “Ada aroma kematian di sekitar wanita itu. Pengawal di belakangnya tidak membawa perlindungan, mereka membawa eksekusi.”
Arga menajamkan pendengarannya. Insting barunya menangkap detak jantung yang tidak normal—terlalu cepat—dari ketiga pengawal itu. Ia mendengar bisikan samar salah satu pria ke alat komunikasi di kerah bajunya: "Target sudah keluar. Eksekusi di parkiran bawah. Pastikan tidak ada yang tersisa."
Clarissa terus berjalan, tidak menyadari bahwa ia sedang melangkah menuju lubang kuburnya sendiri. Saat ia melewati Arga, mata mereka bertemu sedetik. Clarissa hanya melirik sekilas, menganggap Arga hanyalah penjaga keamanan murahan yang sedang bertugas.
Arga menahan napas. Ia punya pilihan: diam dan tetap menjadi kuli malam yang aman, atau melangkah maju dan menarik perhatian takdir yang mungkin akan menghancurkannya.
Saat pintu lift terbuka di lantai parkir yang sepi, sebuah tembakan dari senjata berperedam meletus.
Cring!
Sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Sebuah tangan dengan kecepatan kilat menyambar proyektil itu di udara tepat beberapa inci dari kepala Clarissa. Suara desingan peluru yang terhenti mendadak itu menggema di ruangan beton yang luas.
Clarissa mematung. Jantungnya seolah berhenti. Ia menoleh dan melihat pemuda penjaga keamanan tadi berdiri di sampingnya. Tangan kanan Arga berasap kecil karena gesekan logam panas, dan sebutir proyektil timah jatuh dari genggamannya ke lantai beton dengan suara denting yang nyaring.
Arga menatap dingin ke arah tiga pria yang kini sudah mencabut senjata mereka dengan wajah pucat pasi.
"Nona," ucap Arga dengan suara tenang namun bergetar oleh adrenalin. "Sebaiknya Anda berdiri di belakangku kalau masih ingin hidup."
Di dalam hatinya, sang Macan tertawa terbahak-bahak. “Akhirnya, Inang. Kau baru saja memilih jalan yang akan menumpahkan banyak darah. Selamat datang di dunia orang-orang besar.”
Arga tidak peduli. Ia hanya tahu satu hal: malam ini, ia telah memutuskan untuk tidak lagi menjadi pion. Ia akan menjadi pemain, atau ia akan hancur dalam prosesnya. Dunia kecilnya yang tenang bersama Sari kini telah terkubur, dan di hadapan tiga pembunuh bayaran ini, Arga Satria yang lama benar-benar telah tiada. Yang tersisa hanyalah predator yang baru saja menemukan mangsa pertamanya.