NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Keheningan yang menyelimuti Basement 7 setelah surutnya air laut terasa begitu mencekik, lebih menyesakkan daripada ledakan energi mana pun. Di bawah temaram lampu darurat yang berkedip-kedip pasrah, Arka masih bersimpuh di atas hamparan garam putih yang tebal seperti salju abadi. Kedua tangannya gemetar hebat saat ia mendekap tubuh Nirmala, tubuh yang kini tidak lagi memiliki kehangatan manusia.

Separuh raga Nirmala telah mengeras menjadi kristal biru safir yang statis. Wajah cantiknya seolah tertidur di balik lapisan kaca yang dingin dan tajam. Tidak ada hembusan napas. Tidak ada gerak nadi. Hanya ada pendaran cahaya biru redup yang memancar dari retakan-retakan di kulit kristalnya, seolah-olah sisa nyawa di dalamnya sedang berjuang untuk tidak padam.

"Nirmala... kumohon... jangan sekarang." isak Arka. Suaranya pecah, menggantung di udara yang berbau sulfur dan garam.

Arka memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mencoba memanggil sisa-sisa energi hijau zamrud dari matanya untuk disalurkan pada Nirmala, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan. Kekuatan yang selama ini ia banggakan seolah-olah ikut membeku bersama raga gadis di pelukannya. Dunia di mata Arka mendadak menjadi abu-abu, buram, dan kehilangan jiwanya.

Namun, di balik raga yang membatu itu, di sebuah dimensi yang tidak terjangkau oleh indra manusia, Nirmala sedang menjalani pertempuran terakhirnya.

————— Flashback on —————

Beberapa detik sebelum Nirmala menarik seluruh pusaran air masuk ke dalam dirinya, ia mendapati dirinya berdiri di sebuah ruang hampa yang tak bertepi. Di hadapannya, berdiri dua entitas besar yang selama ini menjadi kutukan sekaligus kekuatannya.

Di sisi kiri, sosok wanita berpakaian hijau dengan mata mutiara Sang Penguasa Laut. Di sisi kanan, sebuah pohon raksasa dengan urat-urat hitam yang berdenyut Manifestasi Biji Purba dan Sandiwayang.

"Pilihlah Penjaga Biji" suara laut itu bergema seperti deburan ombak di dalam gua. "Tetaplah menjadi kristal di dasar palungku dan kau akan abadi, atau hancurkan cangkangmu dan kembalilah menjadi debu manusia yang fana."

Nirmala menatap tangannya yang mulai menghitam karena getah Sandiwayang. Ia merasakan haus yang luar biasa akan kekuasaan, sebuah godaan untuk menjadi "Tuhan" di atas hutan beton Jakarta bersama Biji Purba tersebut. Namun, saat ia memejamkan mata, yang muncul bukanlah tahta emas, melainkan senyum tipis Arka saat mereka berada di lereng Merapi dan pelukan hangat Ibu Lastri.

"Aku memilih untuk pulang." ucap Nirmala dengan suara yang tenang namun sekeras batu karang. "Ambil kembali garammu. Ambil kembali kayumu. Aku menolak menjadi wadah bagi amarah kalian berdua!"

Nirmala melakukan sebuah tindakan nekat yang tak terduga. Ia tidak mencoba menjinakkan kekuatan itu. Sebaliknya, ia membenturkan energi laut yang dingin dengan energi kayu yang panas di dalam inti jiwanya. Ia menjadikan dirinya sebagai medan tempur terakhir. Ia membiarkan haus laut melahap habis setiap inci akar Sandiwayang yang merayap di nadinya.

BRAKKK!

Sebuah ledakan internal yang tak terdengar oleh telinga manusia terjadi. Itu adalah hancurnya "kontrak gaib" yang selama ini mengikat garis keturunannya. Nirmala sengaja membiarkan raga kristalnya retak hebat, karena ia tahu, hanya dengan menghancurkan cangkang kutukan itu, raga manusianya bisa keluar dengan selamat.

————— Flashback off —————

Kembali ke realitas basement yang dingin. Arka tersentak saat merasakan getaran halus dari tubuh Nirmala. Suara krek... krek... yang tadinya terdengar seperti suara kematian, kini berubah menjadi suara yang lebih lembut.

Retakan biru di wajah Nirmala mulai mengeluarkan uap putih yang hangat. Lapisan kristal yang keras itu tiba-tiba meluruh, rontok menjadi serpihan debu garam halus yang langsung terbang tertiup angin gaib. Dari balik "cangkang" biru yang pecah itu, muncul kulit manusia yang asli. Warna pucatnya perlahan digantikan oleh rona kemerahan yang sehat saat darah kembali mengalir dengan bebas.

"Nir?" Arka ternganga.

Cahaya putih murni meledak dari dada Nirmala, menyapu seluruh Basement 7. Cahaya itu tidak menyakitkan, ia terasa seperti usapan tangan seorang ibu di kening yang demam. Saat cahaya itu menyentuh Arka, ia merasakan sensasi "kaca pecah" di dalam matanya.

Arka berteriak singkat, menutupi matanya yang perih luar biasa. Pandangan hijau zamrud yang selama ini menjadi filternya, kemampuan melihat energi kehidupan tumbuhan dan jejak gaib, seketika sirna. Selama beberapa detik, Arka merasa benar-benar buta. Ia panik, merasa dunianya telah hilang total. Namun, saat ia memberanikan diri membuka mata kembali, dunianya tidak gelap.

Warna-warna di sekelilingnya kembali menjadi normal. Beton tetaplah abu-abu, kabel tetaplah hitam. Tidak ada lagi pendaran energi yang melelahkan sarafnya. Ia kembali menjadi manusia biasa.

"Arka... jangan menangis" suara itu begitu lembut, begitu nyata.

Nirmala membuka matanya. Pupilnya kembali berwarna cokelat jernih, tanpa pola fraktal kristal, tanpa pendaran putih keperakan yang asing. Ia menarik napas panjang, sebuah napas yang terasa begitu lapang di dadanya. Biji Purba itu... ia tidak lagi berdenyut jahat. Ia telah "tidur", menyatu menjadi bagian dari ketenangan jiwa Nirmala yang baru.

Arka membantu Nirmala duduk, tangannya masih gemetar. Saat telapak tangan Arka bersentuhan dengan kulit lengan Nirmala, sebuah keajaiban lain terjadi.

Nirmala tersentak. Ia tidak hanya merasakan sentuhan fisik Arka. Di dalam kepalanya, ia seolah-olah ditarik masuk ke dalam batin Arka. Ia mendengar gema rasa syukur yang begitu dahsyat, sebuah doa yang tak terucap 'Terima kasih Tuhan... dia kembali... aku tidak akan pernah melepaskannya lagi.'

"Arka... aku bisa mendengarmu." gumam Nirmala takjub. Ia menatap telapak tangannya. Saat ia melihat ke arah kaki Arka yang lecet terkena reruntuhan, secara insting Nirmala mengulurkan tangannya. Sebuah kehangatan yang menyerupai cahaya pagi mengalir dari ujung jarinya. Dalam hitungan detik, luka lecet di kaki Arka menutup sempurna, menyisakan kulit yang halus seolah tidak pernah terluka.

"Kau... kau menyembuhkanku?" tanya Arka tak percaya.

"Aku tidak tahu... rasanya seperti... aku hanya ingin rasa sakitmu hilang." jawab Nirmala. Kekuatan menghancurkannya telah berevolusi menjadi kekuatan memulihkan.

Arka hendak menjawab, namun perhatiannya teralihkan ke sudut basement yang gelap, di belakang tempat Aki dan Ibu Lastri berdiri mematung. Arka menyadari sesuatu yang aneh. Meskipun penglihatan "hijau"-nya sudah hilang, ia kini melihat sesuatu yang jauh lebih nyata.

Di sela-sela debu garam yang berterbangan, Arka melihat sosok-sosok transparan. Ada puluhan dari mereka, arwah para pekerja dan orang-orang yang dulu menjadi korban Hendrawan. Mereka tidak lagi mengerikan, mereka tampak tenang, seolah baru saja dibebaskan dari penjara yang gelap. Salah satu dari mereka, seorang pria tua, mengangguk hormat ke arah Arka sebelum akhirnya memudar menjadi udara.

"Aki... aku bisa melihat mereka. Bukan energinya... tapi wujud mereka." bisik Arka. Penglihatan indigonya telah bangkit sepenuhnya sebagai pengganti kekuatan lamanya.

Aki mendekat, wajah tuanya tampak penuh dengan rasa syukur sekaligus haru. Beliau memegang bahu kedua pemuda itu. "Jerat Sandiwayang telah hancur. Kutukan Pohon Randu pun sudah luruh bersama debu garam itu. Kalian sudah bebas, tapi kalian tidak lagi sama. Alam memberikan kalian mata dan tangan yang baru untuk menjaga keseimbangan yang telah kalian kembalikan."

Ibu Lastri memeluk Nirmala dengan isak tangis yang meledak. Tidak ada lagi hawa dingin yang mengancam di kulit putrinya (Bu Lastri sudah menganggap Nirmala adalah putrinya). "Sudah selesai, Nak... ayo kita pulang."

Mereka berjalan keluar dari Basement 7, melewati lorong-lorong Menara Kencana yang kini tampak sunyi. Gedung yang dulu terasa seperti predator itu sekarang hanyalah tumpukan beton mati yang tak lagi memiliki "jantung".

Saat mereka melangkah keluar dari lobi gedung, Jakarta sedang diguyur hujan tipis. Air hujan itu terasa sejuk, seolah-olah langit sedang ikut membasuh sisa-sisa abu Sandiwayang dari udara kota. Arka menggandeng tangan Nirmala erat-erat saat mereka menuruni anak tangga gedung.

Nirmala menengadah, membiarkan butiran hujan menyentuh wajahnya. Ia tersenyum. Lewat kepekaan batinnya, ia bisa merasakan kota ini mulai "bernapas" kembali dengan benar. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan harapan dari orang-orang di kejauhan yang mulai merasa lebih sehat dan tenang secara tiba-tiba.

"Dunia ini... sekarang terlihat sangat berbeda, ya kan?" bisik Arka sambil menatap ke arah kerumunan orang yang sedang berteduh, di mana ia juga bisa melihat beberapa "penduduk tak kasat mata" yang berjalan di antara mereka.

Nirmala menyandarkan kepalanya di bahu Arka saat mereka masuk ke dalam mobil. "Mungkin. Tapi setidaknya sekarang, kita tidak perlu lagi lari. Kita hanya perlu belajar untuk melihat dengan cara yang baru."

Mobil tua itu pun melaju, meninggalkan Menara Kencana yang kini meredup di belakang mereka. Di dalam kabin mobil yang sempit, tidak ada lagi ketegangan yang mencekam. Hanya ada kehangatan manusiawi, kasih sayang seorang ibu, dan dua jiwa yang kini memiliki mata dan hati untuk melihat rahasia semesta yang tersembunyi di balik tabir kehidupan.

1
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
kenapa hidup nirmala selalu aja ada cobaan 🗿
💜⃞⃟𝓛 ѕ⍣⃝✰『⃟𝐉🌹ɔı༊²⁶
astaghfirullah kok aku pakai akun ini baca😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: wah wah gk bisa lupa dari happy eid Mubarak nih😭😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Apa²an ini othor/Curse/ jangan biarkan Nirmala pergi/Cry/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: kau juga gk tw ini kenapa 😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apa pula judul nya happy ied mubarak😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
janji apa?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
putri duyung? 😱
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
semoga berhasil nir
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah disana akan aman?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pasti ibu Lastri mau putra nya sembuh
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
kenapa hrus berbohong
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!