Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
_
_
Drama percintaan beda usia ✅
Novel yang nggak ada konfliknya ✅ (Tapi Bohong)
Hidup Marsha dan Jeremy berubah seratus delapan puluh derajat. Gara-gara sebuah pakaian berbentuk mirip kacamata alias kutang, mereka terjebak dalam sebuah pernikahan konyol yang sejatinya sudah direncanakan oleh nenek-nenek mereka.
Bagaimana bisa Jeremy seorang CEO tampan nan tajir harus menikahi gadis berumur sembilan belas tahun yang lebih pantas menjadi keponakannya?
"Nahasnya aku harus mengambil alih beban keluarga Tyaga" ~ Jeremy
cover by Tiadesign_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Jujur Ke Mia
“Gadis ini, kenapa baru memberitahu sekarang?” gumam Jeremy.
Karena pernyataan Marsha, Jeremy seketika bangkit dari posisi. Namun, nahas lututnya terbentur meja. Pria itu pun mengaduh kesakitan bahkan mengerang.
“Duh … pasti sakit,” gumam Marsha. Bunyi benturan itu sangat keras. Ia sampai mengedikkan bahu. Marsha yakin bagian tubuh Jeremy yang terbentur itu pasti memar. “Sakit nggak Om? Pasti sakit.”
Jeremy meremas udara di depannya dan berjalan dengan cepat ke depan Marsha. Lagi-lagi dia meremas udara dan kini tepat di hadapan wajah sang calon istri. “Kenapa aku bisa sampai kecolongan seperti ini,” amuk Jeremy.
“Om belum kecolongan, aku sudah memberitahu Om lebih dulu. Bukankah aku baik? Aku tidak ingin membuat hubungan Om dengan Kakak Mia berantakan,” kata Marsha jemawa. Bibirnya bahkan menyunggingkan senyum polos seperti biasa.
_
_
Pada akhirnya, Jeremy pun mengambil keputusan sulit. Malam hari sepulang kerja, dia mengajak Mia bertemu. Wanita yang sebenarnya belum selesai dengan pekerjaannya itu pun menyetujui pertemuan itu di tengah jeda waktu istirahatnya. Jeremy tak serta merta mengatakan apa yang ingin dia katakan. Pria itu memberi perhatian lebih dulu ke sang kekasih dengan menanyakan bagaimana dengan pekerjaan, dan pasien-pasien yang ditanganinya hari ini.
“UGD tidak begitu ramai, aku harus sedih atau bahagia ya?” ucap Mia dengan nada bercanda. Seperti biasa wanita itu memilih memesan sebotol air mineral saja sebagai minuman saat sudah lewat jam lima sore.
“Pesan lah yang lain, apa kamu mau hot chocolate?” tawar Jeremy. Tak perlu berpikir lama, Mia menggeleng untuk menolak tawarannya itu.
“Tidak, aku tidak mau menambah kalori,” jawab Mia.
Seolah bisa menebak Jeremy meminta bertemu pasti bukan tanpa alasan, Mia pun bertanya dengan sedikit rasa takut. “Apa ada masalah?”
Perubahan ekspresi Jeremy jelas terbaca olehnya, Mia meraih tangan pria itu dan menautkan jemari mereka. “Je, apa ada yang tidak beres?”
Jeremy menarik napas dalam-dalam. Pria itu mempererat genggaman tangannya sebelum berkata,” Aku ingin memberitahumu sesuatu, tapi aku mau minta maaf dulu karena tidak langsung bercerita. Kamu harus tahu aku memilih untuk tidak membahasnya denganmu sebelumnya, karena tidak ingin membuatmu merasa tak enak hati.”
Kening Mia berkerut, wanita itu sampai kehilangan senyuman karena terlalu heran. Ia belum bisa menerka ke mana arah pembicaraannya dan Jeremy, hingga pria itu membuang napas kasar seolah dadanya sedang terhimpit sebuah batu besar.
“Mia, sebenarnya gadis yang akan menikah denganku bernama Marsha, dia adalah putri tunggal rumah sakit tempatmu bekerja, dia putri tunggal Kimi dan Richard Tyaga.”
“Apa?”
Seketika tautan jemari Mia mengendur, dia benar-benar syok mendengar kenyataan yang Jeremy tutupi. Mia bahkan memaksakan senyuman. Di dalam hati dia merasa ini sangat berat. Bagaimana mungkin gadis yang dijodohkan dengan kekasihnya adalah putri dokter yang sangat dia kagumi. Ia seketika merasa minder, padahal lima menit yang lalu dia masih percaya diri bahwa dirinya dan Jeremy masih bisa menjadi pasangan yang serasi meski perbedaan status mereka agak tinggi. Mendengar kekasihnya menyebutkan nama keluarga Tyaga, Mia merasa tidak akan mungkin bisa mempertahankan hubungannya dan Jeremy.
“Anak dokter Kimi?” tanya Mia seolah masih tidak percaya. “Kamu akan menikahi anak dokter Kimi yang masih belia?”
“Mia, aku sudah jelaskan masalah kami, lagi pula aku dan bocah itu sudah melakukan sebuah perjanjian,” tegas Jeremy.
“Perjanjian? Apa maksudmu?”
“Kamu tenang saja, tidak ada yang perlu kamu cemaskan. Kami akan bercerai setelah satu tahun. Tidak, jika perlu enam bulan aku akan menceraikannya,” ujar Jeremy dengan sangat enteng. “Setelah itu kita bisa menikah.”
Mia terkekeh ironi, matanya bahkan sudah merambang karena menahan tangis. “Dan aku akan disebut pelakor.”
_
_
_
bersambung
nanti tak pinjemin ke Orang tua ku....