"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pukul 13.00 WIB. Jalanan Kota Medan.
Matahari tepat berada di atas kepala, membakar aspal jalanan Medan dengan suhu yang mencapai puncaknya. Di dalam kabin mobil Rolls Royce hitam yang kedap suara, hawa dingin dari AC justru terasa menusuk tulang, namun tidak lebih dingin dari atmosfer yang tercipta di antara dua orang yang duduk di kursi belakang.
Sava menyilangkan kaki, menatap lurus ke arah jalanan dari balik kaca jendela yang gelap. Ia tidak sudi menatap pria di sampingnya. Pagi tadi mereka berangkat dengan mobil terpisah demi menjaga rahasia, namun siang ini, Garvi menghancurkan protokol itu. Ia memaksa Sava masuk ke mobilnya di depan lobi, disaksikan oleh mata-mata penasaran para karyawan.
"Mas... apa yang kamu lakukan? Ini di luar rencana kita selama empat tahun," ucap Sava rendah, menahan amarah yang bergejolak. "Mereka akan curiga."
Garvi menyandarkan punggungnya dengan santai, namun jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan dengan ritme yang tidak sabar.
"Biarkan saja. Aku tidak peduli mereka berasumsi kita punya hubungan gelap atau apa pun. Lagipula, aku tidak membawa lari istri orang lain. Aku membawa istriku sendiri. Sah secara hukum, sah secara agama. Apa yang harus aku takutkan?"
"Aku yang takut, Garvi! Aku membangun karirku sebagai COO dengan keringatku sendiri, bukan karena statusku sebagai nyonya Darwin!"
Garvi hanya menyeringai, sebuah senyuman manipulatif yang membuat paras rupawan bak dewa Yunani-nya terlihat semakin arogan. Ia tidak menjawab. Mobil terus melaju, namun Sava mulai menyadari sesuatu. Jalan yang mereka lalui bukan menuju kawasan Ring Road tempat proyek mall baru sedang dibangun. Mobil itu berbelok menuju kawasan apartemen paling elit di pusat kota.
"Ini bukan jalan ke Ring Road. Kita mau ke mana, Mr. Garvi?" tanya Sava, kembali ke panggilan formal karena mereka masih dalam jam kantor.
"Diam dan nikmati perjalanannya, Miss Sava."
Mobil berhenti di lobi privat. Garvi menarik tangan Sava menuju lift khusus yang langsung menuju lantai paling atas. Begitu pintu lift terbuka, mereka disambut oleh sebuah unit apartemen yang sangat luas dengan pemandangan 360 derajat kota Medan dari ketinggian. Interiornya dipenuhi dengan marmer putih, furnitur desainer dari Italia, dan karya seni yang harganya mungkin setara dengan satu buah mall.
"Selamat datang di unit baru kita," ucap Garvi sambil melepaskan jasnya.
Sava terpaku. Matanya menyisir ruangan yang megah namun terasa asing itu. "Apa maksudnya ini? Kamu bilang kita akan melakukan peninjauan lapangan!"
"Ini memang peninjauan lapangan, Ave," Garvi mendekat, mencoba menyentuh pipi Sava namun ditepis dengan kasar. "Ini apartemen yang sudah lama aku persiapkan untukmu. Sebagai hadiah. Aku ingin kamu punya tempat pribadi di pusat kota jika kamu lelah pulang ke mansion. Aku yang mendesain semuanya untukmu."
Sava tertawa pendek—tawa yang penuh dengan kepahitan. "Hadiah? Kamu pikir aku bisa disuap dengan gedung tinggi lagi setelah apa yang kamu lakukan tadi di kantor?"
Sava melangkah mundur, menatap Garvi dengan tatapan yang menghunus. "Kamu benar-benar tidak profesional, Mas. Sangat tidak profesional! Bagaimana mungkin seorang CEO Skyline Group bersikap seperti preman pasar di depan perwakilan bank? Kamu mengabaikan jabatan tangan Arkan seolah dia adalah sampah. Kamu tahu betapa memalukannya hal itu bagiku?!"
Garvi yang tadinya mencoba bersikap manis, seketika berubah. Mendengar nama Arkan disebut dari bibir istrinya dengan nada membela, bara api kecemburuan yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.
Garvi melangkah maju dengan cepat. Sebelum Sava sempat menghindar, Garvi sudah memegang kedua pundak wanita itu dengan erat, menguncinya di depan dinding kaca besar. Ia menatap tajam Sava seperti seekor Elang yang ingin mencabik buruannya.
"Sekarang aku mau tanya padamu, Ave," suara Garvi berat dan rendah, penuh ancaman. "Kenapa kamu bisa tertawa sebahagia itu dengan Arkan di ruang rapat tadi? Aku melihatnya! Aku mendengar tawa yang belum pernah aku dengar selama empat tahun kita menikah! Kenapa dengan dia kamu bisa bersinar, tapi denganku kamu selalu menjadi gunung es?!"
Sava terdiam, napasnya memburu. Perih di pundaknya akibat cengkeraman Garvi tidak sebanding dengan perih di dadanya.
"Jawab aku, Alsava! Apakah kamu mencintai Arkan? Apakah kamu masih menyimpan rasa pada cinta monyetmu itu?!" teriak Garvi, guncangan di pundak Sava membuat tubuh tinggi semampai itu sedikit bergetar.
Sava membuang pandangannya sejenak, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menyakitkan. Ada buliran bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menolaknya untuk jatuh di depan pria egois ini. Ia mengangkat kepalanya lagi, menatap mata Garvi dengan keberanian yang hancur.
"Kamu tanya kenapa aku tidak bisa tertawa denganmu?" tanya Sava, suaranya bergetar namun tajam. "Haruskah aku tertawa dengan seseorang yang terus-menerus menyakitiku? Haruskah aku tersenyum manis pada pria yang setiap malam memberiku pesan-pesan dari wanita simpanannya? Haruskah aku terlihat bahagia di samping suami yang menganggap istrinya hanyalah barang yang bisa dimatai-matai?!"
Garvi tertegun, cengkeramannya sedikit melonggar namun ia belum melepaskannya.
"Sebelum kamu mempertanyakan tawaku, Mas... harusnya kamu berkaca pada dirimu sendiri," lanjut Sava, kini air matanya luruh satu demi satu, membasahi wajah cantiknya yang mempesona. "Kenapa istri yang sudah empat tahun mengabdi padamu, yang selalu ada di sampingmu meski kamu menginjak-injak harga dirinya, tidak bisa tersenyum saat menatapmu? Kenapa?"
Sava menatap Garvi dengan tatapan yang sangat lelah. "Karena bagiku, setiap kali aku melihatmu, yang aku ingat hanyalah luka. Setiap kali aku mendengar suaramu, yang aku dengar hanyalah kebohongan. Kamu membangun apartemen mewah ini untukku? Tidak, Mas. Kamu membangun penjara baru untukku karena kamu takut aku pergi."
Sava dengan sisa tenaganya menyentak kedua tangan Garvi dari pundaknya. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu berbalik menuju pintu lift.
"Aku muak dengan kekayaanmu. Aku muak dengan kemegahan ini. Semua ini tidak bisa membeli satu pun senyum tulusku," ucap Sava final.
Ia melangkah pergi meninggalkan penthouse itu. Langkah kakinya yang mengenakan stiletto terdengar tertatih di atas lantai marmer yang dingin. Di sepanjang lorong apartemen yang sunyi, pertahanan Sava runtuh. Ia bersandar di dinding koridor, menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar, namun bahunya terguncang hebat. Ia merasa begitu hampa, seolah-olah seluruh pencapaian hidupnya sebagai COO hanyalah hiasan di atas penderitaannya sebagai seorang istri.
Garvi Darwin masih berdiri mematung di tengah ruangan yang luar biasa megah itu. Tangannya masih menggantung di udara, sisa dari posisi saat ia memegang pundak Sava tadi. Kata-kata Sava terus terngiang di kepalanya, memantul di dinding-dinding apartemen seolah-olah mengejeknya.
"Kenapa istri yang sudah 4 tahun bersamamu tidak bisa tersenyum dengan dirimu?"
Garvi menatap pantulan dirinya di dinding kaca. Ia memiliki segalanya. Wajah rupawan, tubuh atletis, kekayaan yang tidak akan habis tujuh turunan, dan kekuasaan untuk mengendalikan siapa pun. Tapi hari ini, ia menyadari satu hal yang tidak bisa ia kendalikan: hati istrinya sendiri.
"Arkhhh!!!"
Garvi berteriak frustrasi. Suaranya bergema memenuhi ruangan yang sunyi itu. Ia meraih sebuah vas kristal mahal dari atas meja konsol dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping—sama seperti perasaan yang berkecamuk di dadanya.
Ia meremas rambutnya sendiri, lalu meninju tembok dengan keras hingga buku jarinya memerah. Amarah, cemburu, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu racun yang menyesakkan paru-parunya.
"Apa salahku selama ini?" gumamnya pada diri sendiri dengan napas yang memburu.
Ia memikirkan para wanita yang mengelilinginya—Jia, Desi, dan entah siapa lagi nama mereka. Baginya, mereka hanyalah hiburan, cara untuk membuktikan bahwa dia masih memiliki jiwa bebas seorang Cassanova. Tapi bagi Sava, mereka adalah duri yang mematikan senyumnya. Ia memikirkan taktiknya memberikan nomor ponsel Sava kepada wanita-wanita itu—taktik yang ia pikir lucu untuk memancing cemburu, ternyata justru membunuh rasa cinta istrinya.
Garvi jatuh terduduk di atas sofa beludru, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di ketinggian kota Medan ini, sang raja Skyline Group baru saja menyadari bahwa mahkota emasnya tidak berguna jika tahtanya dibangun di atas penderitaan wanita yang paling ia inginkan.
"Ave..." bisiknya lirih.
Nama itu terasa pahit di lidahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Garvi Darwin merasa takut. Takut bahwa gunung es yang ia coba cairkan dengan paksaan, sebenarnya sudah mencair sejak lama... dan mengalir pergi meninggalkannya sendirian di istana kaca ini.
***