Keputusasaan yang membuat Audrey Cantika harus menandatangani perjanjian pernikahan yang dibuat secara sepihak oleh laki-laki berkuasa bernama Byakta Arsena.
"Lahirkan seorang anak untukku, sebagai tebusannya aku akan membayarmu lima miliar," ucap laki-laki itu dengan sangat arogan.
"Baik! Tapi ku mohon berikan aku uang terlebih dahulu, setelah itu aku akan melakukan apapun yang Tuan inginkan, termasuk melahirkan seorang anak," jawab Audrey putus asa.
Laki-laki itu mendengus saat Andrey meminta uang, ia berpikir semua wanita sama saja, yang mereka pikirkan hanya uang dan uang tanpa mementingkan harga dirinya.
Yuk ikuti terus!! ☺️☺️
Mohon bijak dalam memilih bacaan dan jika suka ceritanya silahkan tinggalkan like komen dan klik ♥️
Jika tidak suka bisa langsung tinggalkan, tanpa memberi komentar yang membuat penulisnya down 🙏☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifah_Musfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RLM bab 23
Di rumah sakit, Audrey sudah nampak lebih baik, ia ditemani oleh Bibi Lauren, wanita paruh baya itu nampak sangat protektif sekali dengan Audrey.
Meski agak risih, tapi hatinya sedikit menghangat. Setelah ibunya meninggal pasca melahirkan adiknya, sejak saat itu Audrey tidak pernah merasakan lagi kasih sayang seorang ibu.
Ia harus tumbuh dewasa sebelum waktunya untuk membantu ayahnya mengurus adiknya yang saat itu masih bayi.
Tapi hari ini, tangan lembut seorang ibu yang lain sedang merawatnya, tentu hatinya menghangat merasakan itu semua.
Namun, hanya sejenak, Audrey langsung tersadar bahwa ia tidak boleh tersanjung, karena semua ini sebentar lagi akan berakhir.
Ia tidak ingin ada kisah yang tertinggal di keluarga Byakta, ia tidak ingin merindu di saat sudah jauh nanti. Jadi, meski hanya pada bibi Lauren, Audrey tetap menjaga jarak dan menutup hatinya untuk menerima mereka semua sebagai keluarga.
"Bi, sebenarnya ada apa denganku, aku sakit apa?" tanya Audrey lemah. Ia mencoba untuk duduk, meski tubuhnya masih lemah, ia tetap berusaha.
Mendengar pertanyaan Audrey, Bibi Lauren tersenyum, senyum seorang ibu yang mampu menenangkan kegelisahan anaknya.
"Jangan khawatir, kamu tidak sakit, sayang." Bibi Lauren mengusap pucuk kepala Audrey lembut.
"Kalau tidak sakit, kenapa aku selalu pusing, mual dan muntah? Sekarang aku juga sedang berada di rumah sakit, kan?"
Sekali lagi bibi Lauren tersenyum, ia menggenggam kedua tangan Audrey "kamu memang tidak sakit, rasa pusing dan mual itu karena kamu sedang hamil," jelas bibi Lauren dengan mata berkaca-kaca.
Jantung Audrey berdebar mendengar kata hamil yang keluar dari mulut bibi Lauren. Aku hamil? Bagaimana bisa? Apa aku sedang bermimpi sekarang? Gumamnya dalam hati.
Tanpa sadar Audrey mengusap perutnya yang masih rata, bayangan kebebasannya berlari menjauh meninggalkannya, bahkan hatinya yang selalu mengatakan "hanya setahun kan?" Tak mampu lagi membuatnya terhibur.
Mengapa semua terjadi setelah ia sudah menyusun semua rencana indah bersama adiknya, mengapa takdir selalu mempermainkannya.
Satu tetes cairan bening itu lolos begitu saja dari mata indahnya, membuatnya sadar dan cepat-cepat menghapusnya.
Semua itu tidak luput dari pandangan Bibi Lauren, "kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Bibi Lauren khawatir.
Dengan senyum terpaksa, Audrey menjawab "Tentu, Bibi. Aku baik-baik saja, ini air mata bahagia, jangan khawatir,"
Bohong, ada gurat kebohongan yang di lihat Bibi Lauren dari mata gadis itu. Ia tahu, gadis itu tidak menginginkan ini, apalagi ia mendengar dari cerita Byakta bahwa beberapa hari yang lalu gadis ini membicarakan soal cerai padanya.
"Drey, lihat mata bibi," Audrey melakukan apa yang dititahkan bibi Lauren padanya.
"Maukah kamu melakukannya demi, Bibi? Bibi tahu, kamu tidak menginginkan semua ini, pernikahan, kehamilan. Kamu melakukannya hanya demi adikmu, kan?"
Deg
Dengan jantung yang berdebar kencang, Audrey membuang pandangannya ke arah lain "D-dari mana bibi tahu?" tanyanya terbata.
Bibi Lauren tersenyum mendengar pertanyaan Audrey, ia menangkap ada rasa takut di kalimatnya barusan.
"Bukankah bibi harus mencari tahu latar belakang wanita yang akan menjadi menantu, bibi?"
Ya, seharusnya Audrey sudah tahu itu, mereka adalah orang berkuasa, uang yang mereka miliki bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, termasuk memeriksa latar belakangnya. Bahkan menyalahkan Bastian juga tidak bisa ia lakukan, mengingat dia juga adalah bagian dari keluarga ini.
"Dengarkan bibi baik-baik," wanita paruh baya itu memegang kedua pundak Audrey.
Mau tidak mau, gadis itu harus melihat bibi Lauren "Apa pun masalahmu, kami sudah tahu, baik Bibi atau pun Byakta, dia berjanji akan melindungi adikmu dan memberikan pengobatan terbaik, asal kamu dengan ikhlas mengandung anaknya,"
Hati Audrey yang tadinya menghangat saat merasakan ketulusan bibi Lauren, langsung pudar begitu saja, ternyata semuanya sama saja.
Baiklah, ia sudah terlanjur terjun. Toh, memang inikan tujuan awal dia mengikat dirinya dengan perjanjian itu, hanya karena adiknya dan tidak lebih dari itu.