NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:104.1k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Di Balik Pintu yang Terkunci

Setelah sarapan yang terlambat itu selesai, suasana rumah kembali hening. Namun, bukan karena damai, melainkan karena masing-masing penghuni rumah memilih memikirkan dirinya sendiri.

Vera meletakkan piringnya di meja begitu saja. Tanpa melihat keadaan meja makan yang penuh piring kotor, gelas bekas minum, dan sisa makanan yang berserakan, gadis itu langsung berdiri.

"Aku ke kamar dulu, Bu." Tanpa menunggu jawaban, Vera melenggang pergi.

Mayang yang sedari tadi duduk dengan santai juga ikut berdiri. Ia merapikan sedikit bajunya lalu berjalan mengikuti Vera.

"Mayang mau istirahat dulu ya, Bu."

Bu Sumarni menoleh. "Lho, meja makannya belum diberesin."

Mayang tersenyum tipis. "Nanti aja, Bu."

Dan wanita itu pun pergi begitu saja. Bu Sumarni mematung beberapa saat. Tatapannya beralih pada meja makan yang berantakan. Piring kotor bertumpuk. Gelas-gelas belum dicuci. Wajan bekas memasak masih berada di dapur.

Biasanya, semua itu sudah bersih sejak pagi. Biasanya, ketika ia selesai makan, ia tinggal bangun lalu melakukan aktivitas lain.

Biasanya, ada Arini yang diam-diam membereskan semuanya. Namun sekarang, Arini sudah tidak ada.

Bu Sumarni menghela napas panjang. Dengan wajah kesal, ia mulai mengangkat piring satu per satu.

Belum sampai lima menit, emosinya mulai naik. Punggungnya terasa pegal. Tangannya mulai lelah.

Dan yang paling membuatnya kesal adalah suara tawa Vera yang terdengar dari dalam kamar. Anaknya itu malah asyik bermain ponsel.

"VERA!"

Teriakan Bu Sumarni menggema sampai ke seluruh rumah. Pintu kamar Vera terbuka.

"Apa sih, Bu?"

"Gak lihat ibu lagi beres-beres sendirian?"

Vera mengerucutkan bibir. "Terus kenapa?"

Bu Sumarni langsung naik pitam. "Terus kenapa katamu?! Kamu itu gak punya mata apa?!"

Vera terkejut melihat ibunya yang biasanya selalu membelanya kini benar-benar marah. "Ibu capek. Dari tadi ibu yang masak, ibu yang beres-beres, sekarang ibu juga yang harus nyuci piring."

"Lah, biasanya juga begitu kan? Ibu di kampung kan gak punya pembantu?"

Jawaban itu justru membuat darah Bu Sumarni semakin mendidih. "Di sini biasanya ibu gak gini, di sini ibu gak pernah kerja."

"Lalu?"

"Yang ngerjain semuanya itu Arini."

Vera terdiam sesaat. Namun bukannya merasa bersalah, ia malah mengangkat bahu.

"Kan Mbak Arin memang suka ngerjain pekerjaan rumah."

Bu Sumarni langsung membanting lap ke meja.

"Makanya kamu susulin dia, jangan sampai dia pergi sebelum semua pekerjaan rumah selesai."

Vera refleks mundur selangkah. Seumur hidupnya, jarang sekali ia melihat ibunya semarah ini.

"Lho, kata ibu biarkan Mbak Arin pergi, sekarang malah minta disusulin?"

"Iya sekarang ibu butuh dia, ternyata dia berguna juga."

"Ibu aja yang cari ah, aku malas." Vera malah balik kanan mau m tinggalkan ibunya yang sedang marah.

"Vera, kamu mau ke mana? Bantu ibu dulu!"

"Malas ah Bu." Vera mulai tidak nyaman. "Lagian Mbak Arin iyu gak pernah nyuruh-nyutuh kayak ibu."

"Karena Arini selalu keburu mengerjakannya!"

Bu Sumarni menunjuk tumpukan piring di wastafel.

"Selama ini kalian semua enak! Bangun tidur tinggal makan! Baju kotor tiba-tiba bersih! Rumah selalu rapi! Sekarang baru beberapa jam Arini pergi, rumah sudah kayak kapal pecah."

Ucapan itu membuat Vera kehilangan kata-kata.

Kini ia menyadari bahwa semua kenyamanan yang selama ini ia nikmati memang berasal dari Arini.

Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui.

"Udah nanti aja di kerjainnya, Bu. Aku capek."

Mendengar alasan itu, Bu Sumarni hampir meledak. "Capek?"

"Iya."

"Kamu capek karena apa? Main ponsel dari pagi sampai siang?"

Wajah Vera memerah. "Bu, jangan berlebihan deh."

"Berlebihan katamu?" Suara Bu Sumarni meninggi.

"Ibu yang sekarang beresin rumah sendirian. Ibu yang nyuci piring. Ibu yang capek. Sedangkan kalian semua cuma bisa makan lalu pergi."

Bu Sumarni benar-benar murka. Selama ini ia begitu mudah meremehkan Arini. Menganggap semua pekerjaan rumah itu hal biasa. Menganggap menantu itu memang sudah seharusnya melayani keluarga suami.

Tapi sekarang, ketika tidak ada lagi orang yang melakukan semuanya, ia baru merasakan betapa berat pekerjaan yang selama ini dipikul Arini seorang diri.

"Mulai hari ini jangan harap ibu yang ngeladenin kamu terus." bentaknya.

"Kalau mau makan, bantu beres-beres! Kalau pakai piring, cuci sendiri!"

Vera mendelik tidak percaya. "Serius, Bu?"

"Sangat serius!"

Setelah mengatakan itu, Bu Sumarni kembali ke dapur dengan napas memburu. Tangannya terus mencuci piring sambil mengomel. Di dalam hati, kemarahannya bukan hanya tertuju kepada Vera.

Melainkan juga kepada Mayang yang baru datang namun sudah bersikap seperti tamu kehormatan.

Dan entah kenapa, sejak Arini pergi, Bu Sumarni mulai merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Rumah itu terasa kosong. Tidak nyaman. Tidak terurus.

Dan yang paling membuatnya kesal, ia mulai menyadari bahwa sosok yang selama ini paling sering ia hina justru adalah orang yang diam-diam menopang seluruh rumah itu.

***

Setelah sarapan yang sederhana itu selesai, Mayang sama sekali tidak berniat membantu Bu Sumarni membereskan meja makan. Dia langsung berdiri, lalu berjalan santai menuju kamar tamu yang kini ditempatinya bersama Galang.

Sementara itu, Bu Sumarni hanya bisa menghela napas panjang melihat piring dan gelas kotor yang masih berserakan di atas meja. Mau bagaimana lagi? Kalau tidak dia yang membereskannya, tidak akan ada yang bergerak.

Mayang masuk ke kamar dengan langkah ringan. Entah mengapa suasana hatinya pagi itu sangat baik. Mungkin karena semalam berhasil menginjakkan kaki di rumah yang selama ini dia impikan. Atau mungkin karena hari ini dia akan jalan-jalan bersama Galang.

Dia membuka lemari kecil di kamar tamu, lalu memilih pakaian terbaik yang dibawanya.

Tak lama kemudian suara shower terdengar dari dalam kamar mandi.

Hampir satu jam kemudian, Mayang keluar dengan penampilan yang jauh berbeda. Dia mengenakan gaun ketat berwarna cerah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Riasan wajahnya cukup tebal, lengkap dengan lipstik merah menyala dan bulu mata yang lentik.

Dia berdiri di depan cermin sambil memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. "Sempurna," gumamnya puas.

Galang yang sedang duduk memainkan ponselnya langsung menoleh.

"Mas, ayo jalan-jalan!" kata Mayang penuh semangat.

Galang mengangkat wajahnya. "Jalan-jalan?"

"Iya. Katanya mau ajak aku jalan-jalan."

Galang langsung terdiam. Semalam memang dia mengucapkan janji itu. Saat suasana masih menyenangkan dan belum ada masalah. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda.

Mobil tidak ada. Arini pergi membawa mobilnya sejak pagi. "Kan mobilnya nggak ada, May."

Mayang langsung cemberut. "Ya pakai angkutan online aja."

Galang tampak ragu. "Tapi...."

"Gak ada tapi-tapian." Mayang memotong cepat. "Semalam kamu janji. Masa baru sehari aja udah ingkar?"

Galang mengusap tengkuknya. "Ya bukan gitu."

"Kalau bukan gitu ya ayo. Aku sudah siap dari tadi."

Mayang bahkan sudah mengambil tas kecilnya dan berdiri di depan pintu.

Galang tahu kalau perempuan itu mulai ngambek.

"Ya sudah, ya sudah. Aku mandi dulu."

"Nah gitu dong." Mayang langsung tersenyum lagi.

"Tapi jangan lama-lama ya. Nanti keburu panas."

"Iya."

Galang lalu berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tamu. Beberapa menit kemudian dia selesai mandi. Dengan handuk menggantung di leher, dia menaiki tangga menuju lantai atas. Tujuannya sederhana. Dia ingin mengambil beberapa pakaian yang masih berada di kamar utama.

Namun saat sampai di depan pintu, langkahnya mendadak berhenti. Keningnya langsung berkerut.

Pintu kamar itu tertutup rapat. Dia mencoba memutar gagang pintu.

Klik. Tidak bisa. Dia mencoba lagi Tetap tidak bisa.

Terkunci. "Apa-apaan ini?" gumamnya.

Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah kantong plastik besar yang diletakkan tepat di depan pintu. Galang membungkuk dan membuka sedikit isi kantong itu.

Matanya langsung melebar. Di dalamnya terdapat beberapa baju, celana, pakaian dalam, dan perlengkapan pribadinya. Semuanya dimasukkan begitu saja ke dalam plastik. Seolah-olah barang-barang itu tidak lagi pantas berada di dalam kamar tersebut.

Wajah Galang seketika memerah. "Brengsek banget si Arini!"

Suara bentakannya menggema di lantai atas.

"Kamarnya dikunci segala!"

Dia kembali memutar gagang pintu dengan kasar.

Tetap tidak terbuka. "Ini bajuku juga cuma ditaruh di kresek depan pintu!"

Tangannya mengepal kuat. Harga dirinya terasa diinjak-injak. Selama ini dia selalu menganggap Arini sebagai perempuan yang penurut. Tidak pernah membantah. Tidak pernah berani melawan.

Tapi tindakan pagi ini terasa seperti tamparan keras di wajahnya.

Arini bukan hanya pergi. Dia sedang menunjukkan bahwa dirinya tidak lagi menganggap Galang sebagai suami yang berhak memasuki kamar itu.

Di bawah, Bu Sumarni yang baru saja selesai mencuci piring langsung menoleh kaget mendengar suara anaknya yang menggelegar dari lantai atas.

Keningnya berkerut. "Ada apa lagi itu?" gumamnya.

Tanpa membuang waktu, dia segera meletakkan lap piring lalu bergegas menaiki tangga. Semakin dekat, suara gerutuan Galang semakin terdengar jelas.

Dan saat tiba di depan kamar utama, Bu Sumarni langsung melihat anaknya berdiri dengan wajah merah padam di depan pintu yang terkunci rapat, sementara sebuah kantong plastik berisi pakaian teronggok di lantai.

"Ada apa, Lang?" tanyanya.

Galang menunjuk pintu itu dengan kesal. "Lihat sendiri, Bu!" katanya dengan rahang mengeras.

Bu Sumarni mengikuti arah telunjuk anaknya. Lalu wajahnya perlahan ikut berubah gelap.

__________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Nani Te'ne
lanjut
Mundri Astuti
yeeee galang pede beud kau...sapa yg mo balikan sama laki modelan kamu, duit ga nggablek, keluarga yg toxic ..
Ma Em
Galang penyesalanmu tdk tulus Galang mau kembali pada Arini karena TDK mau hdp nya susah bkn benar2 cinta , jgn sampai Arini kembali pada Galang dan semoga si Mayang dan pak Hardi juga dapat balasan nya agar mereka menyesal .
Herdian Arya
azab apa kira kira buat pasangan biadap itu🤔
sutiasih kasih
bersenag senanglah.... sblm balasan berdatangan.....
klo kena pnyakit kelamin.... emang klean msih bisa tertawa bangga🤣🤣
Arieee
mampus👎👎👎👎👎bisa bisanya ngaku rumah nya🤣🤣🤣🤣🤣mokondo
sunaryati jarum
Keduanya terkena virus.HIV dan tidak ada orang yang peduli
Uyen Uyen
jangan jangan tuh Galang sudah kena penyakit kelamin
sunaryati jarum
Licik mereka agar diusir, tapi baguslah agar membuka mata Galang dan Bu Sumarni,siapa suami dan menantunya
sunaryati jarum
🤣🤣🤣
sutiasih kasih
kpan bagian mayang & hardi dpt karma nich....
🤔🤔
Herdian Arya
borok bapak mertua yg sok bijak dengan menantu kapan di bongkar thor.
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Mundri Astuti
tinggal karma buat si Hardi ma dedemit, dah tua bukannya sadar diri, dah tau dedemit Ani" belom aja kena penyakit kelamin
Maria Magdalena: iya ayo thor beri balasan buat hsrdi dan mayang kenz HIV krn klrg ini sdh hancur betantakan.
total 1 replies
Irma
mampus
sutiasih kasih
pak bardi benar... galang....
dia itu g diam saja galang.... bhkn bpk sambungmu jga totalitas dlm ikut brtanggunh jawab....
sampe peranmu sbg suami mayang pun pak hardi ikut bertanggung jawab lho.... mmberi nafkah lahir dan batin untuk mayang....
saat km tak di rumah... ada pak hardi yg mngganti peranmu untuk meniduri mayang🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sutiasih kasih
galang... galang... cm punya modal isi kolor aja.... belagu amat buat poligami🤣🤣🤣🤣🤣
Maria Magdalena
😄😄😄😄nah lho betarti kamu cowok mokondo ya galang nikmati karmamu
Ma Em
Alhamdulillah akhirnya Arini sdh bebas dari suami dan mertua yg toksik , tinggal menunggu Galang dan keluarganya diusir dari rumah Arini .
Arieee
ayo kapan keluarga nya Galang di usir udah greget gak sabar👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!