NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Ladang Emas Berdarah di Barat

Dua minggu berlalu sejak hari di mana ego Max dihancurkan di bawah bilah pedang berkarat.

Dalam empat belas hari tersebut, area belakang Kastil Denwick telah berubah dari lapangan berdebu biasa menjadi sebuah kamp penyiksaan militer. Namun, hasil dari siksaan itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika sebelumnya Max, Josh, Willi, Erson, dan Kin hanyalah gerombolan berandalan desa yang memakai seragam prajurit, kini mereka mulai terlihat seperti sebuah unit tempur sungguhan.

Mereka berdiri tegak dalam satu barisan lurus, dada membusung, dan pandangan lurus ke depan. Otot-otot mereka menebal, kulit mereka terbakar matahari, dan yang terpenting, mata mereka kini memancarkan kewaspadaan yang sunyi.

Di hadapan mereka, Arya memandangi pasukannya dengan tangan terlipat di belakang punggung. Tubuh pemuda itu sendiri telah mengalami transformasi yang signifikan. Meskipun belum bisa disebut kekar, dadanya kini lebih bidang, lengannya menampakkan serat otot yang padat, dan napasnya bergerak dalam ritme konstan yang tenang. Pucat pasi anak penyakitan itu telah lenyap, digantikan oleh aura komandan yang dingin.

Arya berjalan perlahan, memeriksa senjata yang tersarung di pinggang kelima pria itu. Ia berhenti, menarik setengah pedang milik Willi dari sarungnya, dan mendengus pelan melihat karat yang menggerogoti tepian bilahnya. Ia mendorong pedang itu kembali dengan kasar.

"Dua minggu kalian berkeringat, memuntahkan isi perut kalian, dan merayap di lumpur," suara Arya memecah keheningan sore itu, datar namun menggema. "Kalian memiliki postur seorang prajurit. Tapi lihat senjata kalian. Zirah kulit kalian berlubang dan pedang kalian lebih pantas dipakai untuk memotong kayu bakar."

Kelima prajurit itu menelan ludah, tidak berani membantah fakta tersebut.

"Baroni ini miskin," lanjut Arya, berjalan kembali ke depan barisan. "Ayahku nyaris tidak bisa membayar makan sehari-hari untuk kastil ini, apalagi mempersenjatai sebuah pasukan. Jika kita ingin menjadi unit pembunuh yang ditakuti, kita butuh zirah pelat baja, pedang dari baja tempaan murni, dan logistik yang layak. Kita butuh koin emas."

Arya berhenti melangkah, menatap langsung ke mata mereka satu per satu. "Dan karena ibu kota Mossgate tidak akan sudi meminjamkan koinnya pada keluarga buangan ini, kita akan merampas kekayaan itu sendiri. Kita akan pergi berburu. Bersiaplah, lusa kita berangkat ke Hutan Kuno di wilayah Kekaisaran Verdentia."

Hening sejenak. Angin sore berhembus, namun kelima prajurit itu membeku seperti patung es. Mata mereka terbelalak.

"T-Tuan Muda..." Erson, prajurit berambut ikal yang biasanya paling banyak bicara, memecah barisan dan maju setengah langkah. Wajahnya pucat pasi. "Anda... Anda pasti bercanda. Hutan Kuno Verdentia?"

"Aku terlihat seperti sedang melucu, Erson?" balas Arya dengan tatapan menusuk.

"T-Tapi itu mustahil!" Erson setengah berseru, panik menguasai suaranya. "Itu bukan sekadar hutan, Tuan! Itu wilayah tak bertuan! Hutan itu dipenuhi monster buas, mutan, dan binatang iblis! Bahkan para petualang veteran berperingkat tinggi di Guild tidak berani masuk terlalu dalam karena tingkat kematiannya sangat gila! Kita akan mati konyol sebelum sempat melihat emas!"

Arya tidak marah. Ia justru mengangguk pelan, seulas senyum tipis yang mematikan terbentuk di sudut bibirnya.

"Pengetahuan geografis dan informasi yang sangat bagus, Erson," puji Arya, nadanya ironis. "Kau tahu persis di mana letak bahayanya. Tapi di mana ada kematian, di situ ada komoditas. Kristal Mana dari jantung monster, kulit tebal mereka untuk zirah, dan bagian tubuh spesifik yang dicari para alkemis. Itu semua bernilai puluhan keping emas di pasar gelap kota perbatasan."

Arya melangkah mendekati Erson, membuat prajurit itu menahan napas.

"Kalian sudah berlatih menahan rasa sakit selama dua minggu ini," desis Arya. "Latihan hanyalah omong kosong jika tidak diuji dengan darah yang sesungguhnya. Ini adalah pembaptisan kalian. Jika kalian ingin menjadi pasukan elite di bawah komandoku, kalian harus berhenti takut pada monster dan mulai menjadi monster itu sendiri."

Erson terdiam, perlahan melangkah mundur dan kembali masuk ke barisannya dengan kepala tertunduk. Kata-kata Arya menyengat harga diri mereka, menyadarkan bahwa mereka tidak bisa selamanya berlindung di balik tembok kastil yang rapuh.

Namun, Max yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Suaranya berat dan penuh keraguan.

"Kami adalah prajurit Anda, Tuan Muda. Jika Anda menyuruh kami melompat ke jurang, kami akan melakukannya," ucap Max tegas, menunjukkan kesetiaannya yang baru terbentuk. "Tapi ada satu masalah besar. Kita tidak bisa pergi begitu saja. Tuan Baron tidak akan pernah mengizinkan pewaris satu-satunya pergi ke zona kematian seperti Verdentia."

Arya mengalihkan pandangannya dari Max menuju ke lantai dua kastil, menatap sebuah jendela kayu yang sedikit terbuka—tempat ia tahu ayahnya sering diam-diam mengamati mereka.

"Kau benar, Max. Ayahku adalah seorang ksatria tua yang keras kepala," ucap Arya pelan. Senyum tipisnya berubah menjadi seringai penuh arti. "Karena itu, aku tidak akan sekadar meminta izin padanya dengan kata-kata manis. Aku akan memberinya sebuah pertunjukan."

Arya berbalik, mencabut pedang usangnya, dan menancapkannya ke tanah.

"Malam ini, tidurlah yang nyenyak. Besok pagi, kita akan menyeret ayahku ke lapangan ini, dan aku akan memaksanya memberikan izin itu dari mulutnya sendiri."

1
adiba fafa
/Drool/
adiba fafa
mana nih duel sama max
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!