"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Kebiasaan Baru
Sudah hampir dua bulan Kate memiliki kebiasaan baru yang sama sekali tidak akan dia akui sendiri. Dia jadi sering sekali melewati koridor yang bersebelahan langsung dengan barak yang selalu dijadikan area latihan. Padahal jalan itu adalah jalan yang memutar jika Kate ingin ke perpustakaan seperti biasanya. Rhea jelas mengerti ini, meski kalau Rhea menuduh dengan tepat Kate akan mengalihkan pembicaraan atau menyangkal pendapat itu besar-besar.
“Nona, mau ke perpustakaan lagi?” Tanya Rhea begitu Kate bangun dari duduknya setelah rambutnya ditata dengan rapi.
Kate yang baru saja bangun mengangguk tegas. “Tentu saja. Akhir-akhir ini ada banyak sekali buku baru yang ingin aku baca,” katanya dengan dagu yang terangkat sombong. Seolah-olah yang dibicarakan olehnya sendiri adalah sebuah fakta.
Meski begitu, Rhea yang sudah lama bersama dengan Kate tentu saja mengerti alasan yang sebenarnya. Dengan tidak ada sopan-sopannya, Rhea membuka suaranya. Mengeluarkan pendapat yang sukses membuat Kate langsung terdiam kaku di tempatnya berdiri tadi.
“Padahal dulu Anda sangat menolak jadwal membaca buku ke perpustakaan dan memilih tiduran di kamar seharian. Kenapa akhir-akhir ini Anda rajin sekali? Bukan karena Anda ingin melihat Tuan Sal yang bertelanjang dada di barak latihan lagi?”
Deg.
Perkataan yang meluncur dari mulut Rhea benar-benar tepat sasaran. Pendapat itu membuat Kate diam mematung seperti orang yang baru saja disambar oleh petir di siang bolong. Rasanya ingin menyangkal tapi hatinya mengiyakan alasan tidak masuk akal itu.
Ada jeda keheningan lima detik sebelum Kate mengambil kembali kesadarannya. Dengan pipi yang merona merah tipis, dia langsung menoleh dan menatap ke arah dayang pribadinya sambil menatap tajam. “Apa-apaan itu? Kau menuduhku melakukan hal yang sangat merusak pemandangan itu?”
Rhea tidak menunjukan ekspresi, datar. Justru itu yang membuat Kate rasanya ingin menampar wajah sok seriusnya itu. “Oh benarkah pemandangan yang merusak? Lalu kenapa Anda ingin melihat pemandangan yang merusak itu tiap saat nyonya?”
Kate mendengkus.
Wanita itu menyambar kipas dengan hiasan kristal asli dari meja rias dan berbalik membelakangi Rhea, siap untuk melangkah keluar dari kamar menuju ke perpustakaan seperti yang sedang dibicarakan. “Aku tidak berniat untuk melihat dia,” ketusnya.
Rhea mengangguk kecil.
Dayang itu langsung mengambil posisi dan berjalan di belakang Kate keluar dari kamar dan menyusuri koridor. “Oh, begitu ya, nyonya. Berarti kali ini saya salah tebakan? Saya pikir Anda memang ingin melihat Tuan Salvatore. Karena seperti yang semua orang di mansion Ardan ini tahu kalau jalan ke perpustakaan lebih dekat kalau kita belok kiri di koridor utama, bukan belok ke kanan dan menyusuri jalanan taman sampai melewati taman.”
Kate lagi-lagi terdiam membisu. Dasar pelayan menyebalkan. Seharusnya aku biarkan saja dia di rumah Raventhal dan mengurusi ayah yang sifatnya berubah-ubah seperti wanita hamil.
“Dan tidak seharusnya kau mengatakan tuduhan seperti itu kepada ku,” lanjut Kate.
“Baiklah, nyonya. Mohon maaf atas kesalahan tebakan saya kali ini. Saya hanya menerka-nerka karena jujur saja saya ingin kita lewat koridor terdekat agar sampai lebih cepat ke perpustakaan. Dengan begitu efisiensi Anda meningkat dan bisa membaca buku lebih banyak.”
Mendengar penuturan sang dayang, Kate tiba-tiba terdiam. Otaknya berpikir lebih cepat. Meski dia menolak mengakui kalau dia ingin melewati jalanan yang melewati taman karena ingin melihat Sal, dia tidak bisa mengabaikan tujuan awalnya.
“Tidak apa-apa kita tetap melewati jalan yang agak lebih panjang,” kata Kate kembali.
Rhea tersenyum mengejek, sangat tahu sendiri apa tujuan utama sang nona. “Kenapa? Bukannya lebih jauh? Apa Anda benar-benar melakukannya karena ingin kesana atau ingin melihat jenderal latihan lagi seperti biasanya?”
Kate langsung berbalik dan menatap Rhea dengan tatapan tajamnya, sok-sokan galak menutupi salah tingkah yang sangat nyata terlihat di matanya. “Siapa bilang?” Dengkusnya dengan ketus.
“Aku ingin melewati jalan itu karena udara yang dibawa di area taman lebih segar, tidak ada hubungannya dengan menonton Salvatore,” lanjut Kate menatap tajam.
Mengerti kalau nyonya nya tidak akan mengalah apalagi mengaku secara terang-terangan apa tujuan utamanya melewati taman, Rhea hanya mengangguk kecil. “Baiklah, nyonya. Kita melewati taman bukan karena mau menonton jenderal berlatih tapi untuk menikmati udara segar.”
“Tentu saja.”
Kate mengangkat dagu nya lebih atas sombong. Meski dalam hatinya dia mengutuk Rhea yang terlalu tepat sasaran kalau menerka-nerka tentang dirinya. Dia pikir dengan alibi itu mungkin Rhea akan mengerti, tidak tahu saja kalau Rhea sudah lebih tau motif utama Kate dan membiarkan nyonyanya bersenang-senang.
Langkah kaki dua pasang istri jenderal dan dayang pribadinya bersahutan melewati koridor panjang. Sesekali dayang-dayang Ardan yang ada disana menunduk menyapa Kate dengan sopan sebelum Kate hanya tersenyum tipis yang tidak niat.
Seperti yang diucapkan oleh Rhea, jalan yang harus mereka lalui kalau mengambil arah ini memakan waktu yang cukup lama dan tidak efisien. Namun karena itu keinginan dari sang nyonya, Rhea tidak bisa menyangkal lebih jauh dan memilih membiarkannya saja.
Keduanya kini sudah melewati taman, yang artinya sebentar lagi mereka akan melewati barak latihan para ksatria militer. Jika diperhatikan lebih detail, sebenarnya Kate melangkah mendadak lebih lambat, seperti memang ingin melihat suaminya itu memimpin pasukan untuk melakukan latihan pagi hari tapi tidak mau ketahuan.
Sesuai dugaan Rhea, langkah kaki Kate yang semula tegap dan sok sibuk mendadak melambat beberapa tingkat begitu keharuman embun taman berganti dengan aroma samar debu tanah dan hawa panas dari lapangan latihan.
Kate menegakkan punggungnya, memegang kipas kristalnya dengan gaya paling elegan seolah-olah ia adalah seorang penguasa Kerajaan yang sedang melakukan inspeksi wilayah. Matanya dipasang lurus ke depan pura-pura sangat fokus menatap pepohonan rindang di seberang sana padahal ekor matanya sudah bergerak-gerak liar menyapu area lapangan di sebelah kanannya.
‘Mana dia? Kok tidak ada suara dentingan pedang?’ batin Kate mulai gelisah sendiri. ‘Apa latihan paginya sudah selesai? Masa aku memutar jalan sejauh ini cuma untuk melihat lapangan kosong?’
Namun, kekecewaannya tidak bertahan lama.
Di tengah lingkaran para ksatria yang sedang beristirahat meneguk air, berdiri sesosok pria berpostur jangkung dan tegap. Hari ini Salvatore tidak bertelanjang dada seperti kemarin, membuat Kate menelan sedikit rasa kecewa yang amat sangat tidak sudi ia akui, melainkan mengenakan kemeja kain hitam tipis berpotongan ketat yang memperlihatkan lekuk otot punggung dan dadanya secara sempurna saat terkena angin pagi. Keringat tipis mengkilap di sekitar leher dan rahang tegasnya.
Kate membusungkan dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia mempercepat sedikit ritme langkahnya, mencoba berpura-pura tidak sadar bahwa pria paling dominan di lapangan itu sedang berdiri hanya berjarak belasan meter darinya.
‘Anggap tidak lihat, Kate. Kau cuma seorang istri bangsawan terhormat yang sedang mencari udara segar dan hendak membaca literatur sejarah di perpustakaan. Kau tidak peduli pada pria batu itu. Tidak sama sekali!’ mantra Kate di dalam hatinya, diiringi kibasan kipas kristal yang agak kelewat kencang.
Di belakangnya, Rhea mengulum senyum tipis yang amat sangat menyebalkan, merekam setiap detik gelagat salah tingkah majikannya yang kelewat kentara.
Tepat saat Kate berada di jalur terdekat yang sejajar dengan posisi Salvatore, langkah sang Jenderal mendadak terhenti. Salvatore yang sedang memberi instruksi pada salah satu komandannya menyadari keberadaan bayangan anggun bergaun biru pastel yang sedang berjalan melenggang di sepanjang koridor luar.
Mata elang Sal bergulir, menatap sosok istrinya yang berjalan dengan gestur sok leher beton (kaku), lurus ke depan, dan tidak mau menoleh sedikitpun.
Salvatore memiringkan kepalanya sedikit. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis samar yang amat halus. Tanpa ragu, sang Jenderal menghentikan percakapannya dengan bawahan, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah koridor.
"Selamat pagi, Kate."
Suara bariton yang berat, rendah, dan begitu renyah itu meluncur jernih menembus keheningan taman, bergema tepat di udara pagi yang sejuk.
STUCK!
Langkah kaki Kate mendadak membeku
seolah-olah kedua kakinya baru saja disiram semen cair dan mendadak mengeras di atas lantai batu!
Jantungnya meloncat hebat sampai ke tenggorokan. Demi Tuhan! Kenapa dia harus menyapa dengan suara sejelas itu di hadapan puluhan prajuritnya?
Kate berkedip histeris. Selama tiga detik penuh, ia berdiri mematung membelakangi lapangan. Pipinya langsung meletupkan hawa panas yang membara hingga ke ujung telinga.
Ia memutar tubuhnya dengan patah-patah, memasang raut wajah paling galak, dingin, dan judes yang sanggup ia rakit dalam kurun waktu sesingkat itu.
"Apa?” sembur Kate dengan nada melengking kaku, matanya melotot tajam menatap Sal yang berdiri santai di tepi lapangan. "Kenapa kau berteriak-teriak menyapaku? Kau tidak lihat aku sedang sibuk?"
Salvatore mengerjapkan matanya sekali. Wajah datarnya memancarkan kebingungan yang sangat polos. Berteriak? Padahal volumenya tadi tidak lebih keras dari suara sapaan normal.
"Aku tidak berteriak," jawab Sal tenang, melangkah dua tapak mendekati pembatas taman dengan menyilangkan tangan di dada.
"Aku hanya menyapa istriku yang kebetulan lewat. Kau mau ke mana pagi-pagi begini?"
"Ke perpustakaan! Mau baca buku! Penting sekali!" jawab Kate serentak tanpa jeda napas, mengibaskan kipas kristalnya secara brutal ke arah wajahnya yang makin memerah padam. "Dan jangan mengganggu jalanku! Waktuku sangat berharga, Jenderal Tembok!"
Tanpa menunggu balasan atau penjelasan lebih lanjut dari suaminya, Kate langsung berbalik cepat—hampir saja membuat gaun mewahnya terbelit tumit sepatunya sendiri—lalu mengambil langkah seribu!
Tak-tak-tak-tak!
Suara sepatu tumit Kate bersahutan amat kencang di atas lantai koridor. Ia setengah berlari meninggalkan area taman dengan kepala terangkat kaku dan napas yang terengah-engah karena malu setengah mati!
"Jalanannya licin, Kate, jangan berlari," panggil Sal pelan dari belakang, suara peringatannya terabaikan sepenuhnya oleh sang Putri Ravental yang sudah melesat jauh bagaikan buronan perang.
Salvatore berdiri sendirian di tepi lapangan, menatap punggung istrinya yang menghilang di balik belokan koridor menuju perpustakaan. Alis tebal sang Jenderal bertaut tipis.
Ia mengusap tengkuknya yang basah oleh keringat, lalu menoleh menatap Rhea yang masih berjalan santai di belakang Kate.
Rhea menghentikan langkahnya sejenak saat melewati Sal, lalu membungkuk hormat dengan sangat sopan.
"Ada apa dengan dia?" tanya Salvatore polos, suaranya benar-benar menunjukkan kebingungan seorang pria yang tidak paham kenapa sapaan ramah pagi hari bisa memicu omelan melengking dari istrinya. "Apakah aku salah menggunakan kata sapaan?"
Rhea menatap wajah jujur sang Jenderal Besar, lalu mengulas senyum misterius.
"Tuan Jenderal tidak salah sama sekali," jawab Rhea datar namun penuh makna. "Nona Kate hanya sedang... terlalu kenyang menikmati udara segar taman pagi ini. Mohon maklumi beliau."
Salvatore baru saja hendak mengangguk paham saat suara derap langkah kuda berpelana baja berderap kencang memasuki gerbang utama barak latihan. Seorang prajurit melompat turun dan langsung berlari memberikan penghormatan militer di hadapan Salvatore.
"Lapor, Jenderal Besar!" seru prajurit itu tegas.
"Utusan dari Divisi Ketiga Pasukan Perbatasan Utara baru saja memasuki gerbang kota. Komandan Sonia Vance diperkirakan tiba di markas utama Ardan dalam hitungan jam!"
Mendengar nama itu disebut, alis tebal Salvatore terangkat. Raut wajahnya yang tadinya bingung mendadak berubah sedikit lebih luwes—sebuah binar keakraban yang jarang sekali terlihat di mata sang Jenderal Tembok.
"Sonia sudah sampai?" gumam Sal dengan helaan napas lega, sudut bibirnya terangkat tipis. "Baguslah. Jadwalnya lebih cepat dari dugaan. Siapkan dokumen pasokan senjata dan sambut dia di aula latihan."
"Siap, Tuan!"
Rhea yang belum sempat melangkah jauh, menghentikan jalannya sejenak. Ekor mata dayang cerdas itu merekam jelas bagaimana ekspresi kaku Salvatore meleleh begitu mendengar nama 'Sonia'.
Rhea melirik ke arah lorong perpustakaan tempat Kate baru saja menghilang, lalu kembali melirik ke arah Salvatore yang kini mulai sibuk menginstruksikan pasukannya untuk menyambut kedatangan perwira wanita tersebut.
Sebuah senyuman makin lebar terukir tipis di bibir Rhea.
Ah... sepertinya udara segar di taman esok hari bakal terasa jauh lebih panas untuk Nona Kate, batin Rhea menggeleng pelan, sebelum melangkah pergi menyusul majikannya yang kemungkinan besar saat ini sedang menyembunyikan wajah merahnya di balik tumpukan buku tebal perpustakaan.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗