NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Taktik bertahan hidup

Ayden menyadari bahwa ancaman fisik maupun amarah tidak akan pernah bisa menundukkan jiwa Aisyah yang kini telah mati rasa. Pria itu terdiam membeku, menyadari bahwa benteng pertahanan istrinya sudah terlampau kokoh untuk ditembus oleh kata-kata manis belaka.

"Aku tidak akan membiarkanmu melangkah keluar dari pintu itu," bisik Ayden parau, suaranya terdengar seperti sebuah permohonan yang dibungkus ancaman putus asa. "Lebih baik aku melihatmu tinggal di sini sebagai patung es daripada membiarkanmu pergi selamanya."

"Lakukanlah," tantang Aisyah tanpa rasa takut sedikit pun di wajah pucatnya. "Bunuh aku di sini, di atas lantai ini, jika itu satu-satunya cara bagimu untuk memastikan aku tidak pergi. Tapi ketahuilah, bahkan dalam kematian sekalipun, aku tidak akan pernah menjadi milikmu sepenuhnya."

Kalimat itu menghujam jantung Ayden bagaikan tikaman belati bermata dua. Pria itu terhuyung mundur, melepaskan seluruh sisa ketegangannya seolah tubuh wanita itu baru saja membakar tangannya. Tanpa membuang waktu, Ayden maju dan langsung menarik Aisyah ke dalam pelukan eratnya, menenggelamkan wajah wanita itu di dadanya.

"Tidak... kumohon, jangan tinggalkan aku," bisik Ayden di telinga Aisyah dengan suara bergetar hebat. "Aku bersumpah di telingamu, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi selamanya... tetaplah di sini bersamaku."

Aisyah tetap diam kaku di dalam dekapan erat suaminya. Tubuhnya tidak memberikan respons kehangatan ataupun perlawanan, membiarkan dirinya terperangkap dalam pelukan sang pembunuh kehidupannya.

Ayden mengeratkan pelukannya seolah takut wanita itu akan menguap menjadi udara begitu saja. Di tengah malam yang sunyi dan megahnya penthouse mewah tersebut, Ayden bersumpah di dalam hatinya bahwa ia akan melakukan apa saja untuk menahan Aisyah, meskipun ia tahu bahwa raga yang berada dalam pelukannya kini telah kehilangan seluruh binar jiwanya.

***

Malam itu, di dalam dekapan erat Ayden yang dipenuhi ketakutan kehilangan, Aisyah tidak menitikkan air mata sedikit pun. Kepalanya bersandar pada dada bidang suaminya yang bergemuruh keras, namun di balik ketenangan luar biasa itu, sebuah tekad baja mulai ditempa di dalam benaknya.

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi selamanya," bisik Ayden sekali lagi dengan suara serak, mempererat rengkuhannya seolah takut Aisyah akan menguap menjadi udara.

Aisyah mengerjap pelan dalam kegelapan kamar tidur utama yang megah itu. "Tentu saja, Ayden," jawabnya dengan nada suara yang terdengar begitu patuh dan datar, nyaris tanpa emosi. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana malam ini."

Pria itu menghela napas panjang, merasa sedikit lega karena mengira benteng pertahanan istrinya telah runtuh sepenuhnya di bawah kungkungannya. Ia tidak tahu bahwa kalimat itu hanyalah sebuah taktik bertahan hidup bagi seseorang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan.

***

Keesokan paginya, matahari menyinari sudut-sudut penthouse dengan pendar keemasan yang dingin. Ayden harus kembali meninggalkan rumah lebih awal untuk mengurus urusan bisnis perusahaannya yang sempat tertunda. Sebelum pergi, pria itu mengecup kening Aisyah yang duduk tenang di meja makan.

"Tetaplah di rumah, Aisyah. Semua pengawal di luar akan memastikan kau aman," pesan Ayden sebelum melangkah pergi.

"Baiklah, Ayden. Hati-hati di jalan," balas Aisyah tanpa menatap ke arah suaminya, tetap fokus pada cangkir teh hangat di hadapannya.

Begitu deru mesin mobil Ayden menghilang di balik gerbang otomatis, Aisyah mulai melancarkan langkah pertamanya. Ia tahu bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan sekecil apa pun. Mengabaikan sisa-sisa rasa takut yang sempat mencekat tenggorokannya, ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap; sebuah sweater rajut hitam berukuran longgar dan celana kain polos yang tidak mencolok. Rambut panjangnya ia ikat ke belakang dengan rapi agar tidak menarik perhatian.

"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala pengawal rumah tangga bernama Hans, yang berdiri siaga di dekat koridor utama saat melihat Aisyah berjalan keluar kamar.

Aisyah menatap pria berbadan tegap itu dengan ekspresi datar yang tidak terbaca. "Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar di halaman belakang untuk menghirup udara segar. Kepala pusing jika terus-menerus berada di dalam kamar."

Hans mengangguk hormat, sama sekali tidak menaruh curiga karena dalam beberapa hari terakhir Aisyah memang kerap menunjukkan sikap apatis dan patuh. "Baik, Nyonya. Tapi tetaplah berada di dalam area taman dalam pandangan kami."

"Tentu," jawab Aisyah singkat, lalu melangkah perlahan menuju pintu kaca besar yang mengarah ke halaman belakang.

Di luar, deretan mawar putih kesayangan mendiang ibu mertuanya tampak bergoyang diterpa angin sore. Aisyah berjalan mendekati area tersebut, berpura-pura merentangkan tangan seolah menikmati angin. Namun, matanya dengan cepat mengawasi pergerakan di sekitar pos penjagaan belakang.

Pukul empat sore adalah jadwal pergantian shift bagi para pengawal. Di sela waktu peralihan selama kurang lebih sepuluh menit itulah celah keamanan terkecil tercipta. Aisyah berdiri di balik rimbunnya tanaman hias, menghitung detik dalam hati sambil menunggu momen yang tepat.

Satu... dua... tiga...

Dua orang pengawal di pos belakang tampak bergeser masuk ke ruang istirahat untuk menyerahkan laporan serah terima tugas. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Aisyah merunduk dan berlari cepat menuju pintu pelayan di bagian sudut paling belakang bangunan mewah tersebut. Pintu itu tidak dikunci dari dalam karena para staf kebersihan kerap keluar masuk untuk membuang sampah sore hari.

Dengan jantung yang berdegup kencang hingga terasa mendesak dinding dadanya, Aisyah berhasil menyelinap keluar melalui jalur samping yang langsung tembus ke jalan raya utama.

Udara dingin sore menyambut kulit wajahnya, membawa aroma debu jalanan kota yang terasa begitu asing sekaligus membebaskan. Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan hidup di dalam sangkar emas penuh ketakutan, Aisyah merasakan denyut kehidupan di dalam pergelangan tangannya kembali bergemuruh hebat.

"Taksi!" panggilnya dengan suara bergetar tertahan saat melihat sebuah kendaraan umum berwarna biru melintas pelan di ujung jalan.

Mobil taksi itu menepi seketika. Aisyah langsung membuka pintu belakang dan merangsek masuk ke dalam jok yang sedikit berbau asap rokok.

"Mau ke mana, Non?" tanya sang sopir paruh baya melalui kaca spion depan dengan ramah.

Aisyah menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan sisa kepanikan di dadanya sebelum menjawab, "Ke stasiun pusat kota, Pak. Tolong jalan sekarang."

"Baik, kita berangkat," ujar sang sopir, menginjak pedal gas dan membelah kepadatan lalu lintas kota menjelang senja.

Aisyah menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil, menatap deretan gedung pencakar langit yang perlahan mulai menyalakan lampu-lampu kotanya. Di balik pantulan kaca yang berembun, seulas senyuman tipis tersungging di bibirnya.

"Aku pergi, Ayden," bisiknya pelan di dalam hati, membiarkan deru mesin mobil membawanya jauh meninggalkan bayang-bayang penjara yang selama ini mencekik jiwanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!