Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 22
Silaunya sinar matahari pagi yang masuk melalui celah-celah dinding kayu yang tak rapat membangunkan Gadis yang masih terlelap dalam tidurnya.
Dikejap-kejapkannya kedua matanya yang enggan terbuka. Dimatanya, ruangan dimana ia berada kini sangatlah asing. Seperti tempat aneh yang ntah berada dimana.
" Dimana ini ?" Gumamnya sambil melangkah keluar dari kamar itu
Sayup-sayup terdengar suara dari luar rumah. Gadis pun segera mencari asal suara itu. Ternyata suara itu berasal dari halaman samping rumah itu.
Suara kayu yang dibelah menggunakan kapak oleh seorang pria yang nampak gagah dan kekar dilihat dari punggungnya. Keringat berkucuran diseluruh tubuhnya menambah keseksian dari seorang pria dimata Gadis.
Gadis berusaha keras untuk mengingat-ingat apa yang mungkin saja ia lupakan. Setelah usaha kerasnya itu, akhirnya ia mengingat kembali apa yang sudah terjadi padanya dihari kemarin.
" Hei.. Jam berapa sekarang ?" Sapanya sembari menguap.
Pria menghentikan kapak yang telah siap menghantam kayu dihadapannya. Kemudian dia mendongak keatas, lalu menoleh kearah Gadis.
" Entahlah. Sekitar jam 9 atau jam 10 pagi.. " Ujarnya kemudian.
" Kenapa tidak membanginkanku ?" Tanya gadis yang sudah duduk didekat pria.
" Tidurmu nyenyak sekali. Saya tidak tega untuk membangunkannya. " Jawabnya tersenyum ramah.
Gadis hanya menyunggingkan bibir mungilnya itu mendengar jawaban dari pria. Namun raut wajahnya seketika berubah saat dia memegangi perutnya yang menjerit kelaparan.
" Lapar ? Tunggulah sebentar. " Kata Pria.
Pria segera kembali kedalam rumah. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan sebuah mangkuk yang terbuat dari tempurung kelapa yang cukup besar berisikan sayuran yang telah dimasaknya. Pria menyodorkan mangkuk itu kepada Gadis yang masih terlihat ragu-ragu untuk menerimanya.
" A... Apa ini ?" Tanyanya.
" Makanlah. Ini hanya sayur-sayuran biasa. Dan bisa dimakan. Bukan racun. " Jawabnya.
Nampaknya Gadis masih ragu untuk menerima makanan itu. Dan untuk meyakinkannya, Pria menyuapkan sesendok sayuran itu kedalam mulutnua sendri kemudian mengunyahnya, setelah itu ditelannya.
Gadis yang semula ragu akhirnya mau menerima mangkuk berisi sayuran itu. Dan dia mulai menyuapkan sedikit makanan itu kedalam rongga mulutnya. Dikunyahnya dengan perlahan takut rasanya tidak akan diterima dengan baik di lidahnya. Namun saat makanan ia mulai mengecapnya, barulah ia tau bahwa sayuran yangvtampilannya tidak menarik itu cukup memiliki cita rasa yang dapat dikatakan enak.
" Lumayan. Enak juga. " Ujarnya kemudian.
" Benar kan.. Saya tidak mungkin memberikan racun pada wanita semanis kamu. " Jawab Pria tersenyum lembut.
Seketika wajah Gadis memerah mendengar pujian dari Pria. Ia segera melahap makanan itu dengan cepat sambil menunduk untuk menutupi rasa malunya.
" Dasar.. Selalu saja terburu-buru. Tidak ada akan yang merebutnya darimu bocah.. " Kata Pria sembari mengusap kasar kepala Gadis.
" Aku... Aku sangat lapar. " Jawab Gadis gugup.
" Mau saya ambilkan lagi ?" Tanya Pria.
" Tidak.. Tidak perlu. Ini sudah cukup. " Jawab Gadis yang sedang menenggak kuah sayuran dan lalu meletakkan mangkuk itu ditanah.
Karena masih merasa gugup, Gadis segera lari masuk kedalam kamarnya dan menyembunyikan wajahnya dibawah bantal.
" Apa-apaan dia ! Bisa-bisanya dia bicara seperti itu dengan santainya !?" Omelnya.
" Ada apa dengan dia ?" Pikir Pria dalam batinnya. " Sudahlah. Mungkin dia sakit perut. Tapi.. Sayur ini bagus kok, saya saja tidak apa-apa.. " Pikirnya lagi.
Mataharipun bergeser menuju peraduannya dan hilang diujung langit. Digantikan dengan rembulan dan taburan bintang yang berkilauan dilangit.
Ditempat ini, meski matahari tepat diatas kepala dan bersinar cukup terik, namun tidak akan terasa panas yang menyengat kulit ditamba angin yang berhembus cukup sejuk. Begitu pula dengan udara malam. Dimana biasanya ditempat lain terasa dingin yang menggigit, namun ditempat ini justru hangat yang terasa.
Pagi yanh cerah telah menyapa, dua anak manusia yang tidak saling kenal pada awalnya kini telah bersiap menjelajahi tempat itu untuk mencari bahan makanan untuk menu makan mereka malam ini.
Dengan sebuah keranjang dipunggung mereka, mereka menyusuri hutan pinus, menaiki bukit lalu menuruninya, memetik buah-buahan yang mereka temui, dan pada akhirnya sampailah mereka ditempat tujuan. Sungai.
Ya, mereka memang sengaja menuju sungai dengan harapan bisa mendapatkan beberapa ekor ikan untuk santap makan malam mereka. Airnya sangat jernih sampai ikan yang berenang kesana kemari terlihat dari permukaan.
" Menu makan malam kita hari ini adalah ikan bakar.. !!" Seru pria sambil menceburkan diri kedalam sungai itu.
Melihat keseruan itu membuat Gadis tidak tahan untuk tidak ikut menceburkan dirinya kedalam sungai.
Dengan riang dan semangat mereka menjaring ikan sampai salah satu keranjang yang mereka bawa hampir penuh.
Tak terasa hari sudah hampir sore. Merekapun bergegas untuk kembali kepondok. Dijalan pulang mereka terus bercanda dan tertawa.
" Waaaah telapak tanganku keriput !!" Seru Gadis sambil memamerkan telapak tangannya yang mengkerut pada Pria.
Tak mau kalah, Pria pun memamerkan kedua telapak tangannya yang juga sudah mengeriput.
" Punya saya juga. Lihatlah.. " Kata Pria.
" Haaaaa aku sudah jadi nenek-nenek. " Kata Gadis yang memeasang mimik wajah yang sedih.
" Saya jadi kakeknya !" Seru Pria.
" Wahahahahahaa ki-ta ja-di ka-kek ne-nek.. " Teriak mereka kompak.
" Oh tidak ! Dimana cucuku ? Cucuku.. Dimana kau ?!" Teriak Gadis sembari bertingkah seperti nenek-nenek yang sedang mencari cucunya.
" Ya, benar. Cucuku dimana kau ?" Sahut Pria ikut-ikutan.
" Sebentar.. " Tahan Gadis. " Memangnya kita punya cucu ?" Tanyanya dengan wajah bingung.
" Benar. Saya lupa. Sepertinya saya sudah pikun. " Jawab Pria sembari menepuk keningnya. " Maklum, sudah kakek-kakek.. " Katanya lagi.
" Kita kan tidak punya anak. " Kata Gadis sedih.
Setelah mengatakan itu Gadis menoleh kearah Pria. Begitu pula sebaliknya dengan Pria. Mereka berdua bertatap-tatapan untuk beberapa detik. Kemudian..
" Hahahahahahaaaaaa " Mereka tertawa bersama.
Mereka terus bercanda selama perjalanan menuju pondok mereka sampai tak terasa lelah yang menerpa tubuh mereka.
" Hei.. Apa kita harus membuat anak ?" Tanya Gadis tiba-tiba.
" Tentu. Kita harus punya anak dulu sebelum memeiliki cucu. " Jawab Pria spontan. " Eh, hah ?! Apa ?!" Seru Pria seketika saat menyadari apa yang baru saja dikatakannya atas pertanyaan Gadis.
" Benar. Ayo kita buat anaknya dulu. " Sorak Gadis yang kemudian berlarian kegirangan tanpa menyadari apa yang sebenarnya sudah diucapkannya.
Seketika wajah Pria menjadi merah padam. Dia pun menjadi bingung akan apa yang sebenarnya dimaksud dari pertanyaan Gadis untuknya barusan.
" Apakah dia sadar dengan apa yang diucapkannya itu ? Ataukah sebenarnya dia benar-benar memikirkannya ? Aaarrggghh ! Bikin bingung saja ! " Batin Pria yang mulai bergejolak dan berperanh dengan akal sehatnya.
Malampun tiba, tapi tidak ada hal-hal yang istimewa yang terjadi. Gadis bersikap seperti biasanya seperti tidak pernah mengatakan hal yang ambigu. Mereka membakar ikan hasil tangkapan tadi siang dihalaman rumah. Berkali-kali Pria ingin memastikan maksud dari pertanyaan Gadis sore tadi.
" Soal, pertanyaanmu sore tadi... " Ujar Pria mencoba bertanya namun tak sanggup melanjutkannya.
" Ya ?" Tanya Gadis cuek sambil asik melahap ikan bakar ditangannya.
" Itu... Soal yang kamu tanyakan tadi sore dijalan pulang.. " Lanjutnya tergugup.
" Yang mana ?" Tanya Gadis bingung.
" Ah, sudahlah. Sayapun masih belum yakin. " Kata Pria lesu.
" Apa sih nggak jelas banget. " Dengus Gadis.
" Yah, berartikan itu cuma candaan saja. " Gumam Pria.
Give me Like, Komen, n Vote y sobat readers.. Jangan lupa disubscribe juga.. C...u.. 😘💕