Kenzo dibesarkan oleh Ibunya. Dia mempunyai teman yang bernama Nada. Nada dan Kenzo pada akhirnya menikah, bagai mana kisahnya? Dan sesungguhnya, ke mana Ayahnya Kenzo? Silakan ikutin alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 ( Hujan )
“Ken, Babe minta tolong,” ucap babe Rano yang menghampiriku.
“Tolong ape, Be?” jawabku.
“Beberapa hari ini si Nada murung terus. Aktivitas die cume ngampus, balik rumah ngedekem terus di kamar,” ucap babe Rano menjelaskan.
Aku terdiam.
Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian waktu lalu ya? Pekik dalam hati.
Mungkin Nada trauma, karena sebenarnya sudah dua kali ia hampir dilecehkan oleh Fajri.
“Ken!” ucap babe Rano mengagetkanku.
“Eh ... iya, Be. Nanti Ken ke rumah Babe,” pungkasku.
Babe Rano kembali melangkahkan kaki ke rumahnya. Ia membuka pagar rumah, memasuki hingga tak terlihat lagi oleh mataku.
Minggu pagi ini aku memutuskan untuk mengajak Nada ke pantai. Aku bergegas mandi. Aku mengenakan celana jeans warna hitam yang dipadu dengan sepatu kets warna senada. Aku memakai kaos warna hijau muda yang aku double dengan kemeja panjang polos warna gelap. Tak lupa topi dan gelang benang yang ada inisial huruf K & N.
Nada tidak menyadari kalau aku mempunyai dua gelang yang berinisialkan namaku dan namanya. Secara aku selalu memakai gelang ini ketika perform bernyanyi di panggung.
Tok ... Tok ... Tok ....
Aku mengetuk jendela kamar Nada.
KREKKK ....
Terdengar jendela kamar yang terbuka. Ada sosok Nada yang berwajah kusut ketika aku memandangnya.
Aku menebarkan senyuman paling manis yang ku punya.
“Pagi ... Nad,” aku menyapa di luar jendela kamarnya.
“Mau ngapain, Lu?”
Ucap Nada dengan suara yang sepertinya males banget ketika melihat manusia di dekatnya. Mungkin kalau aku berbentuk cake udah habis di makan Nada.
“Mantayy ... nyok?” ucapku dengan nada ceria.
“Ogah!” ucap Nada ketus.
“Ayolah, Nad. Gue bete nih,” ucapku dengan memasang wajah melas.
“Ihhh ... Gue bilang, M.A.L.E.S. KENZO! Ngerti gak sih?” Nada memutar bola matanya.
“Ayolah ... Plisssss ....” aku rapatkan kedua tanganku seperti sedang memohon.
Hening.
Nada masih diam di dalam kamar, sedangkan aku masih berdiri mematung di luar kamar tanpa di ajak masuk.
Nada menarik jendela kamarnya.
“Eh ... Jangan ditutup! Gue gak mau pergi sebelum Lu ikut Gue!” ucapku yang bernada mengancam.
“Gue mau ganti baju, katanya mau matayy?” ucap Nada.
“Oh,” aku terkekeh.
Nada kembali memutar bola matanya.
Jendela kamar pun tertutup rapat. Akhirnya aku memutuskan menunggu Nada di depan teras rumahnya yang berdekatan dengan pintu ruang utama.
Aku menunggu sekitar tiga puluh menit kek orang linglung di depan teras rumah Nada.
Nada lagi ngapain sebenarnya? Apakah Dia ngerjain Gue? Kalau hanya sekedar make baju emang selama ini? Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku.
KREKK ...
Pintu rumah terbuka. Aku menoleh dengan wajah datar karena terlalu lama menunggu cewek, yang hanya berganti baju menghabiskan waktu sekitar setengah jam.
“Hai, Ken,” Nada menyapaku.
Subhanallah ... Gue gak salah liat, pan? Pekik dalam hati dengan ekspresi wajah melongo kek orang begok.
“Ayo! Katanya mo mantayy?” ucap Nada lagi.
“Oke!” ucapku yang kehabisan kata.
Nada memakai mini dress simpel berwarna salem di padukan dengan look natural pada makeup’nya. Rambutnya di ikat kek ekor kuda, dan sepatu converse yang tetap memberikan kesan santai. Tak lupa Nada juga membawa tas kecil yang ia selempangkan di pundaknya.
Kami melesat ke pantai dengan kecepatan sedang. Di perjalanan langit tidak mendukung. Awan hitam yang menaungi kami di tengah kemacetan kota Jakarta.
“Nad,” ucapku memecah kebisuan.
“Hem.”
“Lu masih inget kejadian waktu lalu ya?” tanyaku.
“Gak usah bahas itu, Ken,” terucap dari bibir Nada.
Hening.
Hingga akhirnya sampai juga di pantai.
Aku berharap di pantai akan ramai banyak orang, namun aku salah. Mungkin karena himbauan dari pemerintah untuk meminimalisir aktivitas di luar rumah, hingga di pantaipun sepi pengunjung. Mungkin dapat dihitung dengan jari orang yang ada di sini.
“Nad,” ucapku.
“Apa?” jawab Nada.
Nada masih memandang ke arah pantai. Menikmati angin pantai yang menyibak rambutnya. Melihat ombak yang tidak terlalu besar dan suara gemuruh ombak yang menerjang batu karang.
“Lu, cantik,” ucapku sambil memangdang Nada.
Kini, pandangan Nada beralih padaku. Nada menatapku dengan pandangan yang entah. Entah dia suka akan pujianku. Ataukah ia malah enek mendengar pujianku. Ragu.
“Apa?” tanya Nada lagi.
Hemmm pasti kek gini, di ulang terooossss tuh pertanyaan yang sama. Ngedadak jadi budek kalau udah dipuji. Dasar cewek! Pekik dalam hati.
“Lu cantik hari ini, tapi ....” sengaja aku memotong ucapanku.
“Tapi apa?” tanya Nada.
“Tapi bo’ong!” aku terkekeh.
Terlihat rona kesal pada wajah Nada. Bibirnya kini semakin mengerucut.
“Nad,” ucapku.
BYURRR ....
Tiba-tiba hujan turun begitu lebat. Aku meraih tangan Nada dan mengajak ia berlari untuk mencari tempat untuk berteduh. Kami berteduh di sebuah bangunan kecil mirip rumah (Saung, kalau kata orang sunda).
Syukurlah baju kami masih kering. Namun angin begitu kencang hingga Nada terlihat kedinginan.
“Nad, pakai ini,” aku menyerahkan kemejaku untuknya.
“Gak usah, Ken,” Nada menolaknya.
“Gue gak mau Lu sakit, nanti Gue lagi yang kena omel Babe Lu! Pan Gue yang ngajakin ke mari,” aku beralibi.
Akhirnya Nada mau memakai kemeja yang aku berikan.
Aku terkunci dalam keadaan ini. Dengan deras hujan dan tidak ada satu orangpun di sini. Langit begitu gelap yang disertakan angin yang sangat kencang.
Nada mendekatiku. Entah apa maksudnya? Mungkin ia takut atau? Entahlah.
***
“Ken,” ucap Nada di tengah hujan deras.
“Hem,” ucapku.
“Boleh Gue minjem pundak Lu lagi?” tanya Nada sambil menatapku.
Aku menatap Nada, begitu pun dengan Nada. Tatapan kami begitu lekat hingga netra kami bertemu di satu titik. Wajah kami kini begitu dekat hampir tak berjarak.
JEDERRRR!
Suara petir mengagetkan kami. Jarak wajah Nada yang tadinya berhadapan denganku, kini berubah menjadi dalam dekapanku.
“Gue takut, Ken!” ucap Nada yang menyembunyikan wajahnya dalam dadaku.
Aku mematung dengan degup jantung yang masih kencang karena tadi kami bertatapan lekat. Rasa itu selalu ada ketika bersama Nada.
Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Apakah aku benar-benar mencintai Nada? Ataukah aku hanya menyayangi dia sebagai sahabat?
Semua rasa telah berkecamuk dalam dada.
Tapi, ada satu hal yang memang aku rasakan terhadap Nada. Aku selalu berdebar ketika kami bertatapan, hal itu yang aku rasa hingga saat ini.
“Ken, Gue takut,” ucap Nada yang masih ada dalam dekapanku.
Aku sampai lupa ada seseorang yang sedang merasakan ketakutan. Tapi aku malah asik menerka perasaanku sendiri, dasar t*lol! Pekik dalam hati.
“Gak papa kok, Nad,” aku mengusap pelan rambut Nada.
“Nad, sebenarnya ....” ucapanku terpotong. Lidah ini rasanya kelu untuk mengatakan kata I LOVE YOU.
“Apa?” ucap Nada yang kini matanya menatap mataku. Sedangkan pipinya masih melekat pada dada ini.
Aku malah terhanyut, ketika melihat netra indah berwarna hitam. Tak menyadari aku kini mendekatkan wajahku pada wajahnya Nada. Hingga akhirnya mata nada tertutup. Ia memejamkan mata, dan.
Sial! Apa yang Gue pikirkan? Pekik dalam hati dan aku membuang jauh pikiran yang hinggap dalam otakku saat ini.
.
Kami menunggu sampai hujan reda. Tidak ada sesuatu yang terjadi dengan kami. Begitu pun dengan ucapan yang selalu tertahan oleh lidahku.
Hanya tiga kata yang mestinya aku bisa untuk mengucapkannya. Tak perlu waktu lama untuk mengingat tiga kata itu. Namun, apabila hati telah merajai, tiga kata itu bagaikan tiga bab buku yang mesti ku hafal.
Cinta ... cinta ... dan cinta. Apakah hal itu yang ku rasa? Terlalu dalamkah aku mencintai Nada? Hingga aku sulit untuk terapung ke permukaan hanya untuk menghirup napas agar bisa mengungkapkan kalau aku kini sedang jatuh cinta.
***
“Nad, makan yuk?” ucapku ketika hujan mulai mereda.
“Makan apa?” tanya Nada.
“Kamu maunya apa?” ucapku.
Nada menatapku seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku menjadi berpikir. Apakah aku salah? Adakah salah dalam perkataanku? Tanya dalam hatiku.
Aku mengangkat alisku. Menggantikan kata tanya untuk Nada.
“Lu sakit, Ken?” tangan Nada di letakan ke keningku.
“Kagak!” ucapku penuh dengan keyakinan.
“Lah ... Tadi Lu bilang Kamu ke Gue,” ucap Nada sambil terkekeh.
“Kapan? Lu ngayal, ah!” aku beralasan di tengah rasa malu yang mendera.
“Cie ... Lu mulai suka ya sama Gue?” kembali Nada terkekeh.
‘Iya! Udah dari dulu Nada!’ pekik dalam hati.
“Kagak!” ucapku.
“Malu tuh ketahuan ... tuh, wajahnya memerah,” telunjuk Nada menunjuk ke wajahku.
“Mau makan enggak?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Ya udah deh, Gue juga udah lapar,” ucap Nada.
Akhirnya, aku terbebas dari pertanyaan Doremi yang sebenarnya memang iya. Iya, kalau aku benar-benar sedang jatuh cinta.
Entah, kapan aku bisa mengungkapkan? Jodoh gak bakal kemana. Kalau bukan jodoh yaa Gue minta jadi’in jodoh Gue! Maksa! Pekik dalam hati.
Aku melanjutkan perjalanan mencari tempat makan dengan gerimis yang masih menyertai perjalanan kami.
Hingga akhirnya, aku memarkirkan motor di salah satu rumah makan di pinggir jalan.
Sate kambing pun menjadi pilihan menu sarapan plus makan siang kami. Di sebut sarapan waktunya udah telat karena jam telah menunjukan pukul sebelas siang.
“Ken, Gue mau denger dong Lu nyanyi lagunya Romance band yang Lu nyanyiin ketika di minta untuk acara nembak cewek,” ucap Nada.
“Ogah! Gue malu. Ini bukan tempat Gue nyanyi, Doremi!” ucapku.
“Ayolah ... Plissss ....” ucap Nada sambil memasang wajah melas.
“dua porsi Sate kambing, dua porsi nasi sama jus mangga dua, silakan,” ucap pelayan restoran sembari menyajikan pesanan di atas meja kami.
“Makasih, Mba,” ucapku sembari tersenyum.
“Sama-sama,” mba nya tersenyum dan berlalu pergi.
“Ayok makan, Nad,” ucapku mengajak makan.
“Gak mau!”
“Loh ... Kenapa?”
“Gue ingin denger Lu nyanyiin lagu itu di depan Gue!” pintanya sembari memasang bibir yang meruncing.
Hening.
“Ya udah, iya. Tapi di rumah ya?” ucapku.
“Janji?” tanya Nada memastikan.
“Iya!” jawabku.
“Janji dulu!” pinta Nada maksa.
“Iya janji. Ya udah buru makan dulu,” ucapku.
Nada tersenyum.