NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat Sang Makcomblang

Sementara itu, di gudang markas Wilayah Utara, suasananya jauh berbeda. Jeka dan Vino sedang duduk santai di atas kardus-kardus bekas yang disusun menjadi kursi darurat, ditemani oleh Bima dan empat anggota inti baru dari bekas geng Bima. Mereka membahas detail teknis untuk acara nanti malam—bukan strategi perang atau rencana pertempuran, tapi rencana sederhana untuk menghadiri festival.

Bima terlihat sangat bersemangat, duduk paling depan dengan mata berbinar. Ia berusaha keras membuktikan bahwa dia dan anak buahnya sudah bisa berbaur dengan damai dan tidak lagi menjadi trouble maker seperti dulu.

"Pokoknya, kita harus cari stan makanan yang paling enak," ujar Vino dengan penuh semangat sambil menggosok-gosok perutnya yang terasa lapar hanya dengan membayangkan makanan festival. "Aku dengar ada martabak manis rasa baru di sana—cokelat keju oreo. Bayangin, Jek! Tiga rasa sekaligus dalam satu gigitan!"

Jeka yang sedang membersihkan kacamatanya dengan kain lap kecil hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. "Vin, isi kepalamu cuma perut saja," timpalnya sambil memasang kembali kacamatanya. "Aku cuma berharap tidak ada keributan. Kalau ada yang memicu masalah, aku harap Misca tidak bertindak overkill seperti dia ngadepin Bima."

Bima, yang tadinya diam mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil, akhirnya angkat bicara. "Tenang saja, Jek," ujarnya dengan nada serius yang jarang muncul. "Kami yang akan menjaga keamanan. Kami sudah berjanji pada Misca. Kalau ada trouble maker, kami yang urus duluan sebelum situasi jadi lebih parah. Kami nggak akan bikin Misca kecewa."

Salah satu teman Bima yang bertubuh agak gemuk dan selalu tersenyum, bernama Adi, menambahkan, "Betul, Jeka. Ini kesempatan kami buat buktiin kalau kami beneran bisa dipercaya. Lagipula, kami juga pengen lihat sisi lain dari Misca. Selama ini kan kami cuma liat dia pas lagi serius atau lagi ngalahin orang."

Vino tertawa keras mendengar komentar itu. "Kamu beruntung, Di. Aku dan Jeka udah kenal Misca dari SMP, dan bahkan kami juga jarang banget lihat dia santai. Ini event langka."

Tiba-tiba, suasana menjadi hening seketika. Perubahan atmosfer itu begitu drastis hingga semua orang langsung tahu—Misca baru saja tiba.

Misca masuk ke dalam gudang melalui pintu samping. Ia hanya mengenakan kaus hitam polos yang sedikit kebesaran dan celana jins gelap yang sudah agak pudar warnanya. Penampilannya sangat kasual—jauh dari kesan menyeramkan yang biasa ia tampilkan saat berhadapan dengan musuh. Namun tetap saja, ada aura otoritas yang kuat memancar dari tubuhnya yang tegak dan pandangan matanya yang tajam.

Di tangan kirinya ada cangkir kopi hitam—kebiasaannya yang tidak pernah berubah. Di tangan kanannya, ia memegang sebatang rokok yang baru saja dinyalakan, asap tipis mengepul perlahan dan bercampur dengan aroma kopi pahit yang menyeruak.

Kehadiran Misca selalu membawa suasana yang berbeda—tenang tapi sangat disegani, seperti datangnya badai yang diam-diam mengancam. Semua anggota yang ada di gudang, termasuk Bima dan teman-temannya yang baru bergabung, langsung terdiam dan secara refleks berdiri tegak sebagai bentuk penghormatan.

Misca berjalan dengan santai menuju sebuah kursi di sudut gudang, lalu duduk sambil menyilangkan kakinya. Ia menyesap rokoknya perlahan, membiarkan asapnya mengepul ke atas sebelum menghembuskannya dengan tenang. Matanya menyapu seluruh ruangan, mengamati setiap orang yang ada di sana.

Pandangannya berhenti sejenak pada Bima. Ia menatap pemuda yang dulunya musuhnya itu selama beberapa detik, lalu memberikan anggukan kecil—sebuah gestur sederhana yang seolah mengatakan "aku menghargai niat baikmu untuk berbaur dengan yang lain."

Bima langsung merasa dadanya menghangat. Anggukan kecil dari Misca itu terasa lebih berharga daripada pujian panjang lebar dari orang lain.

Vino, yang sudah paling akrab dengan Misca dibanding yang lain, memberanikan diri memecah keheningan. "Mis, soal kumpul nanti malam," ujarnya sambil berjalan lebih dekat, "kita ketemuan di kafe dekat taman kota saja. Biar tidak pusing mencari parkir di Alun-Alun yang pasti penuh sesak. Kamu tahu sendiri kan, kalau weekend festival gitu, Alun-Alun pasti kayak pasar."

Misca mengangguk pelan, menyetujui alasan yang masuk akal itu tanpa berkomentar. Ia menyesap kopinya yang masih hangat.

Vino kemudian tersenyum dengan senyum jahil yang biasa ia tampilkan saat sedang merencanakan sesuatu yang usil. "Satu lagi, Mis," ujarnya dengan nada yang dibuat-buat serius, padahal mata nya berbinar penuh kenakalan. "Kamu jemput Raya, ya? Dia kan anak baru, tidak enak kalau harus berangkat sendirian. Rumahnya juga agak jauh dari titik kumpul. Lagipula, motormu yang paling bagus dan paling layak buat nganter cewek."

Jeka yang mendengar itu hampir tersedak air minumnya sendiri. Ia tahu persis apa yang sedang Vino rencanakan—sahabatnya itu sedang berusaha menjadi cupid dadakan.

Misca berhenti menghisap rokoknya. Gerakannya terhenti di tengah udara. Ia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap tajam ke arah Vino dengan pandangan yang sangat dingin—lebih dingin dari biasanya. Tatapannya tidak mengandung amarah yang eksplisit, namun ada aura peringatan yang sangat jelas di sana.

Misca paling tidak suka urusan pribadinya dicampuri orang lain, bahkan oleh sahabat sedekatnya sendiri.

"Aku tidak suka yang bertele-tele," ucap Misca dengan suara yang sangat pelan tapi menusuk seperti es. "Itu cuma membuang waktu saja."

Vino menelan ludah, tapi senyum jahilnya tidak hilang sepenuhnya. Ia tahu ia sudah menginjak wilayah yang sensitif, tapi ia juga tahu bahwa Misca tidak akan benar-benar marah kepadanya—paling-paling cuma diberi tatapan dingin seperti sekarang.

"Oke, oke, Mis. Aku cuma kasih saran kok," ujar Vino sambil mengangkat kedua tangannya dalam gestur menyerah.

Tapi kemudian, sebuah ide gila muncul di kepala Vino. Ia mundur beberapa langkah dari Misca sambil berpura-pura mau ke belakang untuk mengambil sesuatu. Setelah merasa cukup jauh dan tidak terlihat jelas oleh Misca yang masih fokus pada kopinya, Vino segera merogoh ponselnya dari saku celananya.

Dengan gerakan secepat kilat, ia menelepon Dhea secara sembunyi-sembunyi. Jantungnya berdebar kencang—campuran antara excited karena rencana jahilnya dan takut kalau-kalau ketahuan Misca.

"Halo, Dhe?" bisik Vino sangat pelan, nyaris tidak terdengar. Ia bersembunyi di balik tumpukan kardus di sudut gudang. " Di rumah kamu ada Raya " . Tanya Vino

"Ada, lagi mencoba gaun bareng Raya. Kenapa?" tanya Dhea di seberang telepon. Ada sedikit nada curiga dalam suaranya karena Vino jarang sekali menelepon saat sedang kumpul di gudang. "Tumben nanyain Raya. Ada apa, Vin?"

"Eh, jangan cemburu dulu, sayang. Ini demi kebaikan kita semua," kekeh Vino pelan sambil sesekali melirik untuk memastikan Misca tidak melihatnya. "Boleh aku bicara sama Raya sebentar? Ini biar Raya bisa ngobrol langsung sama Misca. Aku punya rencana gila."

Dhea yang mulai paham maksud jahil kekasihnya itu akhirnya tertawa pelan sambil menutup mulutnya agar Raya tidak curiga. "Vin, kamu gila. Tapi oke, aku suka." Ia lalu menyerahkan ponselnya kepada Raya yang masih bingung kenapa tiba-tiba Dhea tertawa sendiri.

"Halo?" Raya menerima ponsel itu dengan bingung.

Vino kemudian berjalan kembali ke arah Misca dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin—seolah-olah ia tidak sedang merencanakan apapun. Ia menyodorkan ponselnya yang masih tersambung dengan panggilan ke arah Misca sambil tersenyum lebar.

"Nih, Mis. Raya mau bicara sama kamu. Dia minta dijemput sama kamu," bohong Vino dengan sangat yakin, seolah-olah itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah.

Jeka yang melihat aksi Vino dari jauh hanya bisa menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil menggelengkan kepala. "Vino, kamu bener-bener..." gumamnya pelan.

Di ujung telepon, Raya yang sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana Vino, tiba-tiba kebingungan karena suara di telepon berubah menjadi hening. Lalu terdengar helaan napas berat yang sangat ia kenali—helaan napas khas Misca yang selalu terdengar seperti ia sedang berpikir keras atau menahan emosi.

"Halo?" suara Misca terdengar berat dan sangat kaku di telinga Raya. Tidak ada kehangatan, tidak ada intonasi ramah. Hanya nada datar yang sangat khas. "Benar... kau minta dijemput?"

Raya yang benar-benar gugup dan sama sekali tidak tahu tentang rencana jahil Vino, secara spontan menjawab tanpa pikir panjang, "Eh? Iya... kalau tidak merepotkan."

Ia langsung menyesal setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya. Wajahnya langsung memerah padam. Dhea yang melihat reaksi Raya langsung menggigit bantal untuk menahan tawa.

Suasana di gudang menjadi sangat canggung. Misca terdiam cukup lama—mungkin lima atau enam detik yang terasa seperti selamanya bagi Vino dengan tangan gemetar menahan tawa.

Lalu akhirnya, Misca menghela napas panjang—sebuah tanda bahwa ia akhirnya mengalah pada situasi yang sudah terlanjur terjadi ini.

"Ya sudah, aku jemput nanti malam," jawab Misca dengan nada yang masih datar, tapi ada sedikit—sangat sedikit—nada pasrah di sana.

Misca kemudian menatap Vino dengan pandangan yang sangat datar dan tajam sekaligus—pandangan yang mengatakan "kamu akan membayar ini nanti"—lalu bicara lagi ke telepon dengan suara yang sedikit lebih keras agar Raya bisa mendengar dengan jelas.

"Minta Dhea ketik nomor HP-mu, kirim ke Vino. Biar aku bisa hubungi untuk tanya alamat rumahmu," ujar Misca dengan sangat formal dan kaku, seolah ia sedang mengatur jadwal rapat bisnis, bukan menjemput teman untuk pergi ke festival.

Raya yang masih merasa jantungnya berdegup kencang karena gugup hanya bisa menjawab pendek dengan suara yang hampir tidak terdengar, "I-iya, Mis. Terima kasih."

Panggilan terputus. Misca menyerahkan ponsel Vino kembali dengan gerakan yang agak kasar—tidak sampai melempar, tapi jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada situasi yang baru saja terjadi.

Di seberang sana, di kamar Dhea, suasananya benar-benar chaos. Dhea tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya sakit, melihat wajah Raya yang memerah padam seperti tomat matang. Raya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.

"Dhe! Kenapa kamu kasih ponselnya ke aku?! Aku jadi ngomong aneh!" protes Raya dengan suara yang setengah panik dan setengah malu.

"Kamu nggak ngomong aneh, Ray! Kamu ngomong yang SEMPURNA!" Dhea masih tertawa sambil mengguling-guling di kasur. "Ini rencana Vino yang gila tapi jenius! Sekarang Misca HARUS jemput kamu. Nggak ada alasan lagi buat dia menghindar!"

Dhea dengan cepat mengetik nomor ponsel Raya di chat Vino, lalu mengirimkannya dengan tambahan emoji hati dan jempol yang banyak sekali—seolah merayakan kemenangan besar.

Dhea: "Ini nomornya, sayang! You're the best boyfriend ever! "

Vino: "Aku tahu Mission accomplished!"

Raya masih duduk dengan wajah tertutup kedua tangannya, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sebagian dari dirinya merasa malu setengah mati karena harus dijemput Misca—orang yang selalu membuatnya gugup setiap kali bertatapan mata. Tapi sebagian lain dari dirinya... merasa sedikit senang dan excited dengan situasi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!