NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28_DINGIN LAGI?

Suasana di depan kafe mendadak terasa berat.

Azka dan Arvin berdiri berhadapan, jarak mereka tidak sampai satu langkah. Riuh suara pengunjung seolah menghilang, tergantikan oleh ketegangan yang mengendap di udara.

"Kalau gue nggak mau?" ulang Arvin, nadanya santai, tapi sorot matanya menantang.

Azka menyeringai tipis. "Berarti lo cari masalah."

Arvin tertawa kecil. "Tenang. Gue nggak tertarik ribut. Cuma heran aja."

"Heran apa?" Azka bertanya dingin.

"Cara lo ngeliatin gue" jawab Arvin. "Kayak gue ngambil sesuatu yang bukan hak gue."

Rahang Azka mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar. "Karena emang bukan."

Arvin menaikkan alis. "Oh ya?"

Devan melangkah mendekat. "Ka" panggilnya pelan tapi tegas. "Santai."

Raka dan Dion ikut berdiri di sisi Azka, membentuk barisan tanpa perlu diminta. Suasana semakin tidak enak.

Arvin melirik mereka satu per satu, lalu kembali menatap Azka. "Protektif banget. Lo siapa emangnya buat Nayla?"

Pertanyaan itu menghantam tepat di dada Azka. Ia terdiam. Jawaban yang sebenarnya tidak bisa ia ucapkan. Jawaban yang tidak boleh keluar.

Arvin tersenyum tipis melihat diamnya Azka. "Nah. Itu dia."

Azka melangkah maju setengah langkah. "Dengerin gue baik-baik. Apa pun hubungan gue sama Nayla, itu bukan urusan lo."

Arvin menatapnya lama. "Selama dia nggak keberatan, gue bakal tetap ada."

Devan menghela napas. "Bro, mending lo pergi deh. Ini nggak akan enak."

Arvin menoleh ke Devan, lalu mengangguk kecil. "Santai. Gue juga nggak mau bikin ribut."

Ia kembali menatap Azka. "Sampai ketemu lagi."

Arvin berbalik pergi, meninggalkan kafe tanpa menoleh lagi. Tapi tak disangka, senyum kecil terbit disudut bibirnya.

Azka berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya menghembuskan napas kasar.

"Lo kenapa sih?" Dion menatap Azka heran. "Jarang banget lo segitu emosinya."

Raka menyilangkan tangan. "Lo ada masalah apa sama si Arvin?"

Azka tidak langsung menjawab. Ia mengambil minumannya, meneguk sampai hampir habis. "Nggak ada. Dan Nggak penting."

"Tapi jelas bikin lo kepancing" Ujar Devan pelan.

Azka menoleh ke luar jendela, ke arah Arvin yang sudah menghilang dari pandangan.

"Dia terlalu dekat" Gumam Azka tanpa sadar.

Devan menatap Azka lekat. "Ka… jangan bilang—"

"Udah" Potong Azka cepat. "Ganti topik."

Mereka kembali duduk, tapi obrolan tidak lagi sama.

Di kepala Azka, satu pikiran terus berputar. Bayangan Nayla. Tawa kecilnya. Cara dia berdiri di bawah matahari pagi sambil memegang es krim.

Azka meremas gelas plastik di tangannya.

***

Cahaya sore menembus tirai kamar Nayla, jatuh tepat di wajahnya.

Nayla mengerang pelan, lalu membuka mata dengan berat. Kepalanya sedikit pening, mungkin karena tidur terlalu lama. Ia menguap lebar sambil mengucek kedua matanya.

"Udah sore ternyata" gumamnya pelan.

Ia meraih ponsel di samping bantal dan menatap layar. Jam menunjukkan hampir pukul lima.

"Aku tidur lama juga ya" katanya pada diri sendiri.

Nayla menyingkirkan selimut, lalu turun dari ranjang dengan langkah pelan. Kakinya sedikit lemas, tapi ia tetap menuju kamar mandi. Niatnya sederhana, sekadar mencuci muka agar tubuhnya terasa segar.

Air dingin membasuh wajahnya. Nayla menatap pantulan dirinya di cermin, rambutnya sedikit berantakan, matanya masih sembap. Ia menghela napas kecil, lalu keluar dari kamar mandi.

Begitu kembali ke kamar, hal pertama yang ia lakukan adalah mengambil ponsel lagi.

Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan. Tidak ada nama Sena dan Dani, maupun Azka di layar.

Nayla menatap ponselnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya, lalu mengunci layar itu kembali.

"Sepi juga" pikirnya.

Tiba-tiba—

Kruyukk~~

Nayla langsung memegangi perutnya. "Laper" gumamnya sambil meringis kecil.

Ia pun keluar dari kamar. Langkahnya terhenti sejenak dan menoleh ke arah kamar Azka. Pintu kamar itu tertutup rapat. Tidak ada suara apa pun dari dalam.

"Mungkin masih tidur" gumam Nayla pelan.

Ia tidak berniat mengganggu.

Nayla menuruni tangga menuju lantai bawah, lalu berjalan ke arah dapur. Bau khas rumah itu menyambutnya, bersih, tenang, tapi sedikit dingin.

Ia membuka kulkas, menatap isinya sebentar.

Dan tanpa sadar, di dalam hatinya muncul satu pikiran kecil yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus hampa.

"Kalau Azka ada di sini, mungkin dia bakal nyuruh aku makan lagi".

Nayla menggeleng pelan, mengusir pikiran itu.

Ia mengambil sesuatu dari kulkas dan menutup pintunya perlahan.

***

Di waktu yang sama, suasana di kafe masih terasa agak canggung.

Azka duduk bersandar di kursinya, satu kaki menyilang santai, tapi ekspresi wajahnya jauh dari kata santai. Pikirannya masih tertinggal pada pertemuannya dengan Arvin barusan.

Dion menatap Azka sejak tadi. Alisnya berkerut, jelas menahan rasa penasaran.

"Azk" panggil Dion akhirnya, memecah keheningan. "Lo ada hubungan apa sih sama Nayla?"

Azka melirik malas, belum sempat menjawab.

Raka langsung menjentikkan telunjuknya, ekspresinya seolah baru menemukan momentum. "Nah itu. Gue juga mau nanya. Akhir-akhir ini… lo selalu dekat sama Nayla."

Azka mendengus kecil.

Devan ikut menimpali, suaranya lebih tenang tapi tajam. "Dan kemarin juga lo belain Nayla, pas ada siswa lain yang nggak sengaja lempar bola ke kepala dia."

Pelipis Azka berdenyut.

"Dan lebih parahnya" Dion menyela sambil sedikit membesarkan suara, "lo berantem demi Nayla."

"Berisik" Potong Azka malas, sambil mengusap wajahnya.

"Lah, apa salahnya?" Raka bersandar ke meja. "Kalau lo nggak ada hubungan apa-apa, nggak mungkin lo kayak gini."

Azka menegakkan tubuhnya, lalu menatap ketiganya bergantian. Tatapannya dingin, penuh peringatan.

"Kalian semua bisa diem nggak?" ucapnya tegas. "Nggak usah bahas dia."

Dion membuka mulut, tapi Azka sudah lebih dulu melanjutkan.

"Dan Nayla nggak ada hubungan apa pun sama gue."

Hening sejenak.

Raka menaikkan alis. "Serius?"

"Iya" Jawab Azka cepat. "Lagian kalian kenapa kepo banget sih?" lanjutnya, nada suaranya terdengar kesal. "Nggak ada yang aneh."

Devan menatap Azka cukup lama. Dengan nada lebih pelan, ia berkata, "Kalau emang nggak ada apa-apa, kenapa lo defensif?"

Azka terdiam.

Beberapa detik.

Lalu ia berdiri. "Gue mau keluar sebentar."

Tanpa menunggu jawaban, Azka melangkah pergi dari meja, meninggalkan tiga sahabatnya yang saling pandang.

"Dia bohong" Gumam Dion pelan.

Raka mengangguk. "Iya."

Devan menghela napas panjang. "Masalahnya, dia sendiri belum sadar."

Sementara itu, Azka berdiri di luar kafe, menatap jalanan sore yang mulai padat.

Ia mengepalkan tangannya. Karena untuk pertama kalinya, ia sendiri tidak yakin apakah ucapannya barusan adalah kebohongan atau sekadar penyangkalan.

***

Beberapa menit berlalu.

Azka kembali masuk ke dalam kafe dengan langkah cepat. Wajahnya datar, rahangnya mengeras. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung menuju meja mereka dan meraih kunci mobil yang tergeletak di sana.

Tingkahnya itu sukses membuat tiga pasang mata menatapnya bersamaan.

"Eh, Ka". Dion berdiri setengah dari duduknya. "Lo mau ke mana?"

"Pulang" Sahut Azka singkat, tanpa menoleh sedikit pun.

Ia langsung melangkah keluar dari kafe, meninggalkan mereka begitu saja.

Raka melongo. "Serius?"

Dion menggaruk kepala. "Dia kenapa sih?"

"Fix" Raka berseru. "Dia aneh!"

Devan menghela napas panjang. "Bukan aneh. Lagi kacau."

***

Mobil Azka melaju cepat menuju rumah Mahendra. Musik tidak dinyalakan. Pikirannya penuh, kepalanya terasa berat.

Begitu sampai, ia memarkirkan mobil lalu turun dan langsung masuk ke dalam rumah. Tampangnya dingin. Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi.

Di ruang tengah, Nayla sedang duduk santai di sofa. Ponsel ada di tangannya, sekantong kecil keripik pisang di pangkuannya. Begitu mendengar pintu terbuka, Nayla refleks menoleh.

"Azka?" katanya terkejut. "Kamu dari mana—?"

Tidak ada jawaban.

Azka bahkan tidak menatapnya. Ia berjalan lurus melewati ruang tengah, seolah Nayla hanyalah udara. Langkahnya mantap menuju tangga.

Nayla membeku di tempat. Tangannya masih memegang keripik pisang, tapi selera makannya langsung hilang. Ia menoleh mengikuti punggung Azka sampai sosok itu menghilang di lantai atas.

“Dia… dia kenapa lagi?” gumam Nayla pelan.

Dadanya terasa sedikit sesak.

“Perasaan tadi dia baik-baik aja…”

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!