"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Ahh......." Laura mendesah lirih. Napasnya mulai memburu saat Hendra memberikan ciuman yang begitu mesra di lehernya. Sentuhan itu terasa kasar, namun entah mengapa, Laura justru menikmatinya.
"Laura, aku sudah nggak tahan..." bisik Hendra serak, suaranya terasa hangat menyentuh telinga Laura, memberikan getaran yang membuat pertahanan Laura runtuh.
Laura memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam setiap sentuhan Hendra. Ada rasa puas yang sudah lama tak ia rasakan. Baginya, ini adalah pelarian dari rasa haus yang menyiksa selama menjadi istri Dirga. Suaminya itu terlalu dingin, terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, dan sering kali mengabaikan Laura saat ia sangat membutuhkan kehangatan seorang pria. Bersama Hendra, semua hasrat yang selama ini terpendam dan membeku perlahan mencair, meledak menjadi gairah yang tak terbendung.
Setiap sentuhan Hendra terasa seperti jawaban atas kesepian yang ia rasakan selama ini. Laura menutup mata nya rapat-rapat, menikmati sensasi yang tak pernah ia dapatkan dari Dirga. Baginya, malam itu bukan sekadar perselingkuhan, melainkan sebuah pelarian dari dinginnya ranjang pernikahannya sendiri. Ia membiarkan Hendra membawanya pergi jauh, melupakan status dan kenyataan, hanya demi mendapatkan kehangatan yang selama ini ia rindukan.
"Laura, aku benar-benar mencintaimu," bisik Hendra dengan suara serak, napasnya terasa hangat di telinga Laura. Ia seolah tak ingin melepaskan Laura dari dekapannya. "Kamu luar biasa, Ra. Rasanya kamu masih seperti perawan.. seolah-olah kamu memang hanya diciptakan untukku."
Laura tersipu, ia menyandarkan kepalanya di dada Hendra yang bidang.
"Masa sih, Ndra? Kamu jangan berlebihan begitu," sahutnya pelan, meski jauh di lubuk hati ia merasa sangat tersanjung.
Hendra menarik napas dalam, seolah masih terbuai dengan sisa-sisa kehangatan mereka.
"Aku serius, Ra. Rasanya begitu istimewa, sangat jauh berbeda dari yang kubayangkan. Apa si Dirga itu benar-benar mengabaikan mu? Kenapa kamu masih terasa begitu... tak tersentuh?"
Laura hanya terdiam. Lidahnya terasa kelu untuk membantah karena apa yang dikatakan Hendra adalah kenyataan pahit yang ia telan setiap hari. Di dalam fikiran Dirga, hanya ada nama Karin selalu Karin yang menempati hatinya , sementara dirinya tak lebih dari sekadar bayangan.
"Kenapa diam saja, Ra?" Hendra menelisik wajah Laura, mencoba mencari celah di balik tatapan kosong itu. "Benar, kan? Suamimu itu sama sekali nggak pernah menyentuhmu?"
"Iya, Ndra. Semua yang kamu bilang itu benar."
"Lalu, kenapa kamu masih bertahan sama dia?" Hendra meraih jemari Laura, menggenggamnya seolah memberi kekuatan yang manipulatif. "Dirga sekarang nggak punya apa-apa lagi, Ra. Kamu cuma hidup menderita sama dia. Tinggalkan dia sekarang, kita bisa hidup bahagia. Aku bisa kasih kamu segalanya—rumah, uang, mobil... apa pun yang kamu mau. Aku bisa penuhi"
Laura menunduk, ada gejolak dendam yang lebih besar dari sekadar tawaran harta.
"Aku belum bisa ninggalin Mas Dirga sekarang, Ndra."
"Kenapa?" tanya Hendra dengan dahi berkerut, tampak tidak sabar.
"Karena Karin belum resmi menceraikannya, setelah mereka resmi bercerai , aku juga akan pergi dari hidup mas Dirga. Aku ingin Mas Dirga merasakan rasanya dikhianati dan ditinggalkan oleh semua orang sekaligus."
Laura mencengkeram sprei dengan erat, meluapkan amarah yang selama ini ia pendam sendiri.
"Aku masih sakit hati, Ndra. Dia nggak peduli sama anakku. Dia tahu siapa yang membuat anakku meninggal, tapi dia tetap membela perempuan itu. Dia membiarkan Karin bebas begitu saja tanpa rasa bersalah. Aku nggak terima! Aku harus membalaskan dendam anakku dulu."
"Oke, kalau itu maumu. Aku akan tunggu sampai dendammu terbalas kan,"ucap Hendra dengan suara lembut, mencoba meyakinkan.
Ia menarik Laura ke dalam pelukannya. "Jangan pernah merasa sendiri, Ra. Aku akan selalu ada di sini untukmu."
Laura mengangguk pelan, merasa sedikit lega karena ada seseorang yang berpihak padanya. "Terima kasih ya, Ndra. Tapi... aku harus pulang sekarang. Aku takut Mas Dirga curiga kalau aku nggak ada di rumah."
Hendra melepaskan pelukannya dan menatap jam di dinding. "Kenapa nggak menginap saja di sini? Ini sudah larut malam, Ra. Kamu yakin mau pulang sendirian?"
"Iya, Ndra. Aku harus tetap pulang," jawab Laura tegas. Ia mulai merapikan pakaiannya, tidak ingin meninggalkan jejak apa pun yang bisa memancing kecurigaan Dirga.
"Yaudah, aku antar ya?" tawar Hendra sambil meraih kunci mobilnya.
Laura segera menoleh, wajahnya tampak sedikit cemas. "Boleh, tapi jangan sampai depan rumah, ya. Turunkan aku di persimpangan saja. Aku nggak mau Mas Dirga curiga kalau melihat kamu".
"Oke, siap. Aku mengerti," sahut Hendra Ia memberikan senyum manis yang penuh rahasia. "Ayo naik."
Mobil Hendra perlahan melambat dan akhirnya berhenti tepat di bawah bayangan pohon besar di persimpangan jalan, tak jauh dari kontrakan. Laura segera melirik ke arah jalanan yang sepi, memastikan tidak ada sosok yang ia kenal sedang melintas. Ia tak ingin mengambil risiko sekecil apa pun.
"Udah, Ndra. Turun di sini saja," ujar Laura sambil mulai melepas sabuk pengamannya.
Hendra menoleh, menatap Laura dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu nggak apa-apa aku turunin di sini? Tapi kamu masih harus jalan kaki ke depan sana, kan?"
"Nggak apa-apa, Ndra. Daripada nanti Mas Dirga curiga, malah bisa bahaya buat kita," sahut Laura cepat. Ada rasa gelisah dalam dirinya saat menyebut nama suaminya.
Hendra menarik napas panjang, lalu tiba-tiba menarik tengkuk Laura lembut.
"Oke, oke. Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku ?". Hendra mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening Laura, cukup lama seolah enggan berpisah.
"Iya, siap," jawab Laura singkat dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Ia segera turun dari mobil dan menutup pintunya pelan-pelan. Sambil merapatkan jaketnya untuk menghalau dinginnya angin malam. Sekaligus menyembunyikan sisa-sisa jejak Hendra di lehernya. Laura mulai melangkah menuju kontrakan dengan jantung yang berdegup kencang.
Langkah kaki Laura terhenti seketika saat pintu kontrakan terbuka. Jantungnya serasa copot melihat Dirga masih duduk tegak di sofa ruang tamu . Sorot mata suaminya itu tajam, menusuk tepat ke arahnya.
"Laura... dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" suara Dirga berat dan dingin. "Coba lihat jam di dinding itu. Ini sudah jam berapa!"
Laura tergagap, tangannya refleks merapikan jaketnya yang sedikit berantakan.
"Aku... aku habis main dari rumah temanku, Mas."
"Teman? Teman yang mana, Ra?" Dirga berdiri, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. "Di sini kamu nggak punya teman selain Karin. Kenapa jam sebelas malam baru pulang?. Jawab jujur!" bentak Dirga, membuat Laura ketakutan.
"Aku memang habis dari rumah teman! Kalau kamu nggak percaya, ya sudah, terserah kamu!" sahut Laura ketus, mencoba menutupi kegugupannya dengan kemarahan.
Saat Laura hendak melengos pergi menuju kamar, gerakan kepalanya membuat kerah jaketnya sedikit tersingkap. Mata Dirga yang jeli menangkap sesuatu yang kontras di kulit putih leher istrinya.
"Laura, tunggu!" Dirga menyambar lengan Laura, menahannya dengan kuat. "Itu apa? Merah-merah di lehermu?."
Darah Laura seolah membeku. Ia segera menutupi lehernya dengan telapak tangan.
"Ah, ini... tadi aku digigit nyamuk, Mas. Makanya jadi merah karena aku garuk."
"Laura!" Suara Dirga meninggi, kemarahannya pecah. Ia menarik tangan Laura agar menjauh dari leher itu. "Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi dengan alasan konyol begitu! Jawab jujur, siapa yang sudah berani mencium lehermu?!"
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Laura. Ia merasa seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis. Tatapan Dirga begitu mengintimidasi, menguliti setiap kebohongannya yang ia tutupi . Dirga yang biasanya tidak peduli, kini tampak seperti singa yang siap menerkam karena harga dirinya diinjak-injak.
"Kenapa diam? Jawab, Laura!" Dirga melangkah maju satu demi satu, membuat Laura terpojok ke dinding.
"Bekas itu... itu bukan bekas garukan nyamuk. Aku tahu betul bedanya digigit serangga dengan bekas ciuman!"
Laura memalingkan wajah, napasnya tersengal. Ia berusaha memutar otak, mencari celah untuk meloloskan diri, namun lidahnya terasa kelu. Kebenaran bahwa itu adalah bekas dari Hendra seolah mencekik lehernya sendiri.
"Siapa laki-laki itu, Ra? Siapa?!" suara Dirga menggelegar, tangannya terkepal kuat . Amarahnya memuncak saat menyadari bahwa istrinya, yang selama ini ia abaikan, ternyata mencari kehangatan di pelukan pria lain.
"Kamu nggak perlu tahu siapa dia!" teriak Laura akhirnya, mencoba menutupi kegugupannya dengan ledakan emosi.
Matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena rasa takut dan dendam yang membuncah.
"Kenapa sekarang kamu peduli? Bukannya selama ini di otakmu cuma ada Karin? Kamu bahkan nggak pernah menganggap aku ada mas".
Bersambung.............
jangan lupa like dan vote ya kak, supaya aku bisa semangat terus 😁🙏🙏🤭🤭♥️♥️
Sejak kapan sidang perceraian terbuka untuk umum.???!!!!