⚠️Bijak Memilih bacaan!
DIBACA AJA DULU, KALI AJA SUKA😉
Karena sebuah janji yang terlanjur Salwa dan Arga sanggupi dihadapan Salma yang tengah kritis. Salwa si gadis manis dan penurut yang baru saja lulus kuliah di salah satu universitas di luar kota, pada akhirnya harus menerima takdirnya yakni menikah dengan Arga, laki-laki yang tidak lain adalah kekasih kakaknya sendiri. Mampukah Salwa menjalani kehidupannya bersama Arga sang flamboyan yang menyimpan sejuta teka-teki di dalam hidupnya.
Akankah cinta bersemi diantara keduanya? Ataukah justru perpisahan yang pada akhirnya mereka pilih?
ー Chrysalis
Follow my instagram @chrysalisha98
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Crhysalis_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 22
Malam harinya Salwa yang baru pulang pukul delapan tiga puluh, langsung menuju ke dapur untuk mengambil air putih. Diteguknya air putih itu hingga dahaga Salwa menghilang. "Ah... seger!"
"Baru pulang?"
"Astaga!" Salwa terkejut mendengar suara Arga yang datang secara tiba-tiba. Salwa memegangi dadanya, merasakan detak jantungnya berdegup kencang karena kaget. Ia bahkan sampai menghela napas dahulu barulah meletakan gelas yang dipegangnya itu kembali. "Hih! Kenapa sih, kamu itu sering banget dateng tiba-tiba begitu? Nggak tau apa orang kagetan."
"Gitu aja kaget, emangnya gue hantu."
"Emang sifatnya kayak hantu," gumam Salwa.
"Eh apa kamu bilang, aku kayak hantu?"
"Ih siapa yang bilang kayak hantu, aku tuh bilangnya sifatnya kayak hantu."
"Argh terserah. Yang jelas kamu darimana? Tumbenan jam segini baru pulang?" Arga mulai menginterogasi istrinya. Salwa sendiri justru merasa aneh melihat Arga menginterogasinya begitu, seperti bukan Arga.
"Ye.... malah ngelihatin, aku nanya kamu loh."
Salwa semakin menatap aneh sang suaminya itu. Si Arga kenapa sih? "Ya gimana nggak aku lihatin, habisnya kamu aneh! Tumben-tumbenan nanyain aku."
"Emangnya salah, kalau suami nanyain istrinya?"
"Yaー enggak sih! Cuma, aneh aja gitu, seorang kamu nanyain aku. Biasanya juga nggak gitu."
Diputar terus pertanyaannya oleh sang istri, membuat Arga mulai hilang kesabaran. "Kamu tuh kalau aku nanya ya jawab aja!" Seketika Salwa agak terkejut dibuatnya, ia belum pernah melihat Arga bicara dengan nada sekeras itu padanya, melihatnya begitu membuat Salwa jadi ngeri. "I- iya, tadi ada raker dulu sebelum pulang. Jadinya agak telat deh." Salwa terlihat gugup menjawab pertanyaan Arga.
"Oh, kirain abis pergi sama siapa?"
Alis Salwa langsung mengkerut, "Sama siapa gimana maksud kamu?"
"Enggak apa-apa udah lupain aja."
"Hih dasar aneh!" Salwa seketika menarik kerah kemejanya karena merasa tubuhnya lengket, dan tidak sengaja kancingnya terlepas hingga membuat belahan dada Salwa nampak menyembul. Arga yang lebih tinggi dari Salwa pun jadinya bisa melihat dengan jelas. Naluri laki-laki, Arga menelan ludahnya dan memandanginya tanpa berkedip. Hingga Salwa akhirnya sadar dan buru-buru menutupinya dengan tangannya. "Ih dasar porno!" Seru Salwa pada suaminya, sambil memegangi kemejanya.
"Lah tapikan itu muncul sendiri, ya sebagai laki-laki bukan salah aku dong, kalau nggak kedip lihat pemandangan begitu," tutur Arga dengan entengnya.
"Ah emang dasar kamunya aja yang mesum. Pantes aja kamu tiap hari dipanggil guru BK, orang kerjanya gintipin cewek!"
Arga terkesiap mendengar Salwa berucap begitu. "Tunggu, atas dasar apa kamu bisa ngomong kayak begitu?"
"Ya asbun aja, tapi emang bener kan? Terus juga pas SMA kamu itu suka ngumpulin foto-foto cewek cantik di sekolah buat kamu pacarin. Abis itu kamu suka ngumpetin majalah dewasa di dalem tas kamu iya kan, ngaku?"
Arga menahan rasa malunya, tapi dari ucapan Salwa dirinya semakin yakin, kalau memang istrinya itu tadi makan siang bersama Irsyad. Sebab, hanya Irsyad yang tahu persis kenakalannya saat sekolah dulu. Arga mendongakan kepalanya, tanda percaya diri. "Ya terus kenapa emangnya, kalau aku dulu disekolah kayak gitu?"
"Emー ya nggak gimana-gimana sih. Cuma lucu aja, ternyata seorang Arganata Yudhistira yang kelihatannya berwibawa otaknya mesum."
"Emang aku mesum! Terus kamu mau apa? Mau aku intipin juga kalau mandi, huh?"
"Ih apaan sih..." Salwa melihat ke arah suaminya itu dengan tatapan ngeri bercampur aneh.
Arga tersenyum miring memperhatikan Salwa. "Setelah semua yang kamu omongin itu, aku jadi yakin banget kalau kamu itu habis jalan sama Irsyad kan tadi siang?"
"Kalau iya emang kenapa?" balas Salwa.
"Ya nggak apa-apa, cuma heran aja si Irsyad kok comel banget mulutnya cerita-cerita gitu."
"Masih mending comel daripada mesum."
Arga tak terima dengan ucapan Salwa barusan, "Ye mendingan mesum, wajar laki-laki. Daripada comel nggak ada bedanya sama tukang gosip. Hiyy..."
Salwa semakin senewen dibuatnya. "Arghhh udahlab terserah kamu, kalau sama kamu mah aku diajak ribut terus!"Salwa pun pergi meninggalkan dapur.
"Eh mau kemana, aku belum kelar ngomong!"
Salwa tidak menghiraukan ucapan Arga, ia malah tetap saja berjalan dan masuk ke kamarnya. Di kamar Salwa langsung merebahkan badannya diatas ranjang. "Gila, kalau udah cekcok sama Arga kenapa capeknya sampe badan-badan ya?" Salwa pun sampai tak habis pikir dengan Arga kenapa dirinya sering sekali memancingnya untuk ribut.
**
Besok paginya di kantor, Arga dan Irsyad bersiap untuk pergi meeting. Disela-sela waktu sebelum meeting, Arga menyinggung Irsyad yang hari ini kelihatan senang sekali. "Lu kayaknya hari ini lagi hepi banget ya Syad?"
"Bukan hari ini aja, dari kemarin emang gue udah happy terus rasanya," ujar Irsyad sambil merapikan berkas-berkas yang akan dibawa meeting nanti.
"Oh... seneng karena abis makan sama Salwa?"
Irsyad langsung menoleh ke arah Arga. "Kok lo bisa tau, kan gue belom cerita sama Lo!"
Arga sambil memainkan bolpoinnya dimeja pun cerita, kalau kemarin Salwa memberitahunya soal itu.
"Oh jadi dia cerita ke elo," Irsyad tersenyum lega, karena ia tahu kalau Salwa yang diketahuinya sebagai adik sepupu bosnya itu sudah cerita pada sahabatnya itu. seolah ia merasa Arga sudah memberikan lampu hijau untuk dirinya. "Jadi gimana?"
"Gimana apanya?" sahut Arga tidak paham dengan pertanyaan Irsyad.
"Ya gimana, lo setujukan kalau gue sama sepupu lo makin deket?"
Arga yang awalnya bersikap santai, seketika jadi tegas. "Kalau soal itu lo jangan tanya gue lah, lo tanya aja sama ortunya Salwa!"
"Dih kok lu sewot gitu sih santai aja mblo," celetuk Irsyad.
"Habisnya lu sembarang aja. Lagian gue juga heran, kenapa juga lo pake cerita soal kenakalan gue pas sekolah ke Salwa, kan tengsin gue jadinya." Arga tampak jengkel.
"Dih gitu aja tengsin, biasanya juga lo bodo amat sama aib-aib lo, kenapa sama Salwa tengsin? Aneh!"
"Ya tengsinlah, dia kan isー" Irsyad menunggu ucapan Arga selesai.
"Is apa?"
"Isー istilahnya dia adik gue, jadi gue harus jadi contoh yang baik buat dia."
"Oh gitu, gue kira kenapa."
"Yaudah, makanya kalau lu nggak mau jadi contoh jelek buat Salwa, lu bantu guelah biar jadian sama dia."
Arga tersentak kaget. Lu mau jadian sama bini gue? Gile lu ndro! "Ehem, sorry bukan nggak mau bantu, tapi gue bukan biro jodoh dan kerjaan gue banyak. Jadi kalo lo mau deketin dia ya usaha!" ujar Arga yang terdengar ketus.
"Iye iye pak bos, sorry dah." Irsyad sepertinya memang harus mengubur harapannya yang berharap mendapat bantuan dari Arga untuk mendapatkan Salwa.
🌹🌹🌹
Hai jangan lupa di like, comment dan vote ya... 🙏
follow juga ig @chrysalisha98
salwa tinggalin laki kaya tuh,ga tegas,plin plan..