Bagaimana jika dirimu dihadapkan diantara dua pilihan yang sulit?
Itulah yang dialami wanita cantik bernama Maya, terjebak cinta diantara dua bersaudara.
Aiden yang berjuang dan membantunya kembali bangkit pada trauma masa lalunya
Alden cinta pertama Maya dan ayah dari anaknya
Siapakah kira kira yang mendapatkan hatinya?
*Lanjutan cerita dari Story of Maya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Maya
🌷🌷🌷
Di ruangan Dokter
Dokter menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Apa anda suaminya ibu Maya?" tanya Dokter itu.
"Iya Dok," jawab Aiden tanpa ragu karena dia memang menganggap Maya istrinya walaupun belum sah di agama maupun negara.
"Apa sebelum kemari anda melakukan hubungan suami istri?"
Aiden diam, dia ragu menjawab dengan mengingat permainannya yang begitu kasar tadi.
"Saya anggap keterdiaman anda sebagai jawaban iya. Begini pak, anda melakukannya terlalu kasar sehingga ibu Maya mengalami pendarahan dan itu membahayakan janin yang dikandungnya. Untung saja cepat dibawa kemari jika tidak mungkin janinnya tidak tergolong lagi," jelas Dokter.
Aiden masih mencerna perkataan Dokter itu.
"Maksud Dokter istriku hamil?"
"Jadi, anda tidak tahu istri anda hamil? Istri anda saat ini tengah hamil usia kandungannya masih berumur 4 minggu jadi masih sangat rentan. Saya sudah memberikan obat penguat kandungan. Saya harap setelah ini jangan melakukan hubungan suami istri dahulu hingga trimester kedua," jelas Dokter.
Yang mana membuat Aiden tertunduk lesu, bukan karena tidak boleh melakukan hubungan suami istri tapi lebih telah tepatnya karena kebodohannya yang hampir membunuh anaknya sendiri.
Setelah mendapat penjelasan Dokter panjang lebar Aiden segera keluar dari ruangan Dokter untuk menemui Maya. Wanita itu saat ini pasti sangat marah padanya.
Belum juga Aiden sampai ke ruangan Maya, dia sudah dihadang oleh Rita dan Alden.
"Kita perlu bicara dulu," ucap Rita tegas.
Sekarang Rita sudah tahu semuanya, Alden sudah menceritakan semua kejadiannya pada mamanya. Tentu saja Rita awalnya sangat syok dan marah bagaimana mungkin Alden dan Sinta begitu tega membohonginya selama ini.
"Aku tidak ada waktu, Ma. Maya membutuhkanku saat ini," tolak Aiden.
"Aiden, tinggalkan Maya! mama sudah tahu semuanya, Maya ibu kandung El biarlah Maya bersama kakakmu," bujuk Rita.
Aiden yang mendengar itu tentu saja merasa emosi kembali.
"Jadi mama lebih membela si b*engsek itu dari pada aku! Ternyata dari dulu mama tidak pernah berubah lebih sayang padanya daripada aku!"
"Bukan begitu Aiden tapi El lebih membutuhkan Maya saat ini, jadi mengalahlah."
"Aku tidak akan mengalah lagi! Asal mama tahu Maya mengandung anakku saat ini dan aku akan tetap menikahinya dan pergi dari hidup kalian! Ternyata kalian sama saja dari dulu tidak pernah peduli padaku!"
Setelah berkata seperti itu Aiden berlalu pergi meninggalkan Rita yang hampir pingsan mendengar kehamilan Maya. Dengan sigap Alden menangkap mamanya yang hampir jatuh.
Rita tak kuasa menahan air matanya. Di sisa umurnya saat ini harus melihat anak mereka saling berselisih.
Tak kalah syok, Alden seperti dipukul sembilu saat ini menerima kenyataan jika Maya hamil anak adiknya. Jadi, bagaimana nasibnya dengan El nantinya?
"Kalian benar-benar membuat mama bisa mati! Bagaimana mungkin Maya bisa memiliki anak dari kalian berdua!"
Rita terus saja meraung menangis dipelukan putra sulungnya.
🌷🌷🌷
Sementara di ruang rawat Maya sudah sadar dari pingsannya. Dia saat ini tengah bersender di ranjang pasien sambil melihat ke arah jendela. Tenggelam dalam pikirannya saat ini, bagaimana takdir begitu mempermainkannya membawanya pada takdir yang sangat rumit. Terjebak diantara dua bersaudara sungguh Maya tidak pernah membayangkan hal ini terjadi pada dirinya.
Pintu terbuka tapi Maya enggan menoleh, entah siapa yang datang dia tidak peduli. Saat ini rasanya hatinya seperti di remas-remas.
"Sayang.. " panggil Aiden yang sudah duduk di pinggir ranjang itu.
Tapi Maya masih enggan menoleh, dia sangat marah pada Aiden saat ini apalagi ditambah hormon kehamilannya menambah emosinya tidak bisa stabil.
Tangan Aiden sudah terulur ingin meraih tangan Maya tapi langsung ditepis oleh Maya.
"Sayang, maafkan aku. Kenapa tidak bilang kalau kau hamil, hem? ternyata kau begitu manja dan terus mual itu penyebabnya?"
Lagi-lagi tangan Aiden ditepis oleh Maya saat akan menyentuh perutnya.
"Ck, aku tahu apa salahku. Jadi jangan diamkan aku begini, aku akan urus pernikahan kita besok ya. Kita resmikan hubungan kita," bujuk Aiden.
Maya tetap diam dan kembali menangis dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sayang, jangan menangis. Kasian baby kita kalau mommy nya bersedih," ucap Aiden dengan lembut.
"Kau menyakitinya Aiden, aku sudah memohon padamu untuk berhenti tapi kau tetap melakukannya," sahut Maya yang masih diposisinya.
Aiden ingin memeluk wanitanya itu tapi tangan Maya mendorongnya untuk menjauh.
"Jangan dekati aku!" bentak Maya.
"Kau selalu saja bertindak sesuka hatimu, Aiden. Bahkan dari awal kita bertemu kau sudah melecehkanku sekarang aku merasa menjadi seorang p*lacur! Aku hamil tapi kita belum menikah, bagaimana orang tuamu memandangku nanti jika tahu aku juga ibu kandung dari El, aku merasa begitu kotor!" sambungnya.
"Aku ingin sendiri sekarang Aiden, ku mohon tinggalkan aku." Kini suara Maya melemah.
Aiden pasrah sepertinya emosi Maya memang belum stabil, dia takut jika Maya terus-terusan begini akan membahayakan bayinya kembali.
"Aku akan pergi dan menunggu di luar jadi kalau ada apa-apa aku bisa siaga," ucap Aiden.
"Tidak perlu, pulanglah!"
Tidak ingin menambah Maya gusar, Aiden keluar dengan penyesalan dihatinya. Sungguh sakit menerima penolakan dari orang yang dicintai. Andaikan dia bisa menahan emosinya pasti hal ini tidak akan terjadi, entah bagaimana jika anaknya tidak tertolong tadi mungkin dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Di luar Alden masih menunggu dengan setia menunggu, sedangkan Rita sudah pulang dijemput supir. Rita masih sangat syok menerima kenyataan hingga mengurungkan niatnya bertemu dengan Maya.
"Kenapa masih disini? pulanglah! Aku tidak berselera meladenimu sekarang," tegur Aiden kesal.
"Ck, jangan begini kita bicarakan masalah kita baik-baik. Papa mama semakin setres memikirkan kita, mereka merasa bersalah dan itu membuat kesehatan mereka menurun," ucap Alden berusaha bersikap bijak.
"Dari dulu bukankah aku anak tidak dianggap jadi kenapa sekarang sok peduli memikirkanku, aku akan menikahi Maya besok. Akan aku resmikan hubunganku dengannya," tegas Aiden.
Alden menghela nafasnya panjang," Kita suruh dia memilih. Jangan egois sesuka hatimu begitu."
"Dia sedang mengandung anakku, aku ingin cepat meresmikannya!"
"Dia juga punya anak dariku, ingat itu! Kenapa kau takut dia lebih memilihku daripada memilihmu hingga kau ingin cepat mengikatnya?" tantang Alden.
"Kau dari dulu sudah mendapat apa yang kau mau! uang, kekuasaan, kasih sayang orangtua dan keluarga. Sedangkan aku? hidupku begitu keras di New York apa kau tahu itu? jadi biarkan aku hidup bahagia sekarang!"
Maya yang mendengar itu semua dari balik pintu hanya bisa menangis, dirinya merasa tak pantas diperebutkan seperti itu hingga membuat satu keluarga terpecah belah.
"Biar aku saja yang pergi dari hidup kalian berdua," ucap Maya dalam hati.
🌷🌷🌷
awalnya ngira Maya bakalan balikan lg ma Alden, secara ada pesan Aiden yg nyuruh buat jagain Maya dan anaknya ke Alden..
mungkin kakak author bingung jg nentuin mau ngilangin tokoh yg mana..
secara Aiden dari dulu selalu merasa dianaktirikan ma keluarganya, sedangkan Alden dah puas ngerasain cinta ortu dan Sinta pada awalnya..
jadinya kakak author mau ngasih keadilan jg buat Aiden biar sama2 bahagia..
jadi ceritanya turun ranjang ini mah ya..
tetep keren ceritanya walopun di puncak konflik bikin nyesek bacanya..
dan pada akhirnya jati diri author keluar di akhir2 cerita 😁😁😁🤭🤭🤭
g usah season 3 ya kak, kasian Aiden ma Maya biar happily ever after..
sehat2 terus kakak..
tetap semangat berkarya.. 😘🥰😍🤩