NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh bulan bulat yang menggantung sempurna di langit malam. Cahayanya memantul lembut, menerangi bumi dan menghadirkan suasana tenang yang indah.

Di kediaman Keluarga Wiratama, tepatnya di kamar Aru, gadis itu tengah bersiap. Ia mengenakan kemeja berwarna blue sky dengan pita kecil di bagian leher, dipadukan dengan celana high-waist trouser pants dan heels bigtree putih yang simpel. Tak berlebihan, namun cukup membuat siapa pun yang melihatnya terkesan.

Aru bukan tipe gadis yang ribet soal penampilan. Selama nyaman dan rapi, itu sudah lebih dari cukup baginya.

Selesai bersiap, Aru keluar dari kamar dan menuruni anak tangga satu per satu. Dari ruang tamu, aroma kopi hitam dan pisang goreng hangat menyambut inderanya. Kedua orang tuanya tampak duduk berdampingan, menikmati waktu santai yang jarang mereka miliki.

Meski dikenal sebagai keluarga berada, Keluarga Wiratama justru lebih menikmati hal-hal sederhana. Bagi mereka, kebersamaan jauh lebih bernilai daripada kemewahan.

“Loh… siapa ini yang turun-turun bikin rumah jadi terang nih?” celetuk seorang pria sambil menatap Aru dari atas ke bawah.

Pria itu adalah Andhika Naraya Dirgantara Wiratama,ayah Aru pemilik Wiratama Grup dan Wiratama Hospitals.

“Ah, Ayah bisa aja,” sahut mama Yasmine terkekeh. “Jelas anak cantik kita, siapa lagi.”Wanita tersebut merupakan mama dari Aru, yaitu Yasmine Naraya Wiratama.

Aru terkekeh kecil dan menghampiri mereka. Ia lalu duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.

“Terima kasih, Yang Mulia Ayah dan Mama,” godanya ringan. “Tapi kok sepi? Abang, Kakak, sama Phi Bisma belum kelihatan batang hidungnya.”tanya Aru yang tak melihat satupun saudaranya.

Sambil bicara, Aru mengambil satu pisang goreng dan langsung menggigitnya.

“Pelan-pelan, nanti tersedak,” tegur Mama Yasmine sambil menggeleng geli. “Bang Alvaro masih di rumah sakit. Operasinya belum selesai.”ujarnya.

“Kalau Phi Bisma?” tanya Aru.

“Lagi di luar kota. Kayaknya baru pulang besok,” jawab sang mama. “Nah, kalau Kak Alvian… biar Ayah yang jawab.”

Ayah Dika menghela napas kecil, lalu bersandar santai.

“Kakakmu itu sekarang lagi sok sibuk,” ujarnya setengah bercanda. “Ada jamuan makan malam sama dewan direksi. Gantian tugas Ayah.”

“Hah? Serius?” Aru mendongak. “Kenapa Ayah nggak datang aja? Biasanya kan juga Ayah yang hadir kalau ada jamuan penting kayak gitu.”

“Justru itu,” jawab Ayah Dika. “Ayah mau lihat sejauh mana dia bisa berdiri sendiri. CEO itu bukan sekadar jabatan, Nak.”

Ia menepuk pundak Aru pelan.

“Sebentar lagi perusahaan ini ada di tangan mereka. Mau nggak mau mereka harus siap.”

Aru mengangguk pelan, meski senyumnya sedikit memudar.

“Beda sama kamu,” lanjut Ayah Dika sambil melirik Aru. “Yang lebih senang jadi ‘anak orang’ di perusahaan Bara.”ucap Ayah Dika. Sebenarnya Ayah Dika sangat kesal jika mengingat Pak Bara berhasil membujuk Aya untuk bekerja dengan nya.

“Yah…” Aru mendesah pelan. “Topik itu lagi.”

Sebenarnya ada alasan lain mengapa Aru tidak mau menjadi penerus perusahaan Wiratama. Sikembar sendiri juga terpaksa menjadi penerus Wiratama Grup dan Wiratama hospital, namun dengan segala bujuk rayu Aru lah kedua nya mau menjadi penerus perusahaan sang ayah.

“Sudahlah, Yah,” ucap Aru sambil tersenyum kecil. “Jangan bahas itu terus. Aru mau berangkat.Nanti takut keburu malam” ucap nya sambil menoleh ke arah jam dinding.

“Kamu bawa mobil sendiri lagi?” tanya Ayah Dika, nada suaranya refleks berubah khawatir.

“Iya,” jawab Aru santai.

“Hati-hati. Jangan ngebut,” pesan Ayah Dika yang sejujurnya takut jika anak perempuan nya ini berkendara sendirian, tapi mau bagaimana lagi anak gadis nya ini juga cukup keras kepala.

Aru tidak pernah mau menggunakan sopir, katanya agak ribet. Tapi tanpa sepengetahuan Aru, Ayah Dika sering mengirim beberapa bodyguard untuk menjaga putri satu-satunya itu.

“Siap, Komandan,” balas Aru sambil berdiri. “Aru pamit dulu. Takut Om Bara keburu nyariin.”

Ia menyalami tangan kedua orang tuanya. Pelukan hangat dan kecupan di kening langsung menyusul.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Jaga diri baik-baik ya sayang,” ujar Mama Yasmine lembut.

Aru mengangguk paham. Setelah berpamitan ia segera melangkah keluar rumah menuju mobilnya yang sudah terparkir cantik di halaman.

“Hati-hati di jalan, Mbak Aru!” sapa Pak Mail dari dekat gerbang.

“Siap, Pak Mail. Jangan lupa gerbangnya ya,” balas Aru sambil menurunkan kaca mobil.

“Siap!”

Mobil Aru melaju meninggalkan rumah besar itu. Malam semakin sunyi, sementara perjalanan sekitar tiga puluh menit menuju rumah keluarga Mahendra pun dimulai.

*********

Di Rumah Keluarga Mahendra

Waktu yang dinanti akhirnya tiba. Seluruh anggota keluarga Mahendra telah bersiap sejak sore. Meja makan tersaji rapi,hidangan lengkap dan minuman tertata sempurna, seolah menunggu momen penting yang tak boleh gagal.

Kini mereka semua berkumpul di ruang tamu, duduk dengan sikap rapi namun gelisah, menunggu kedatangan dua tamu istimewa.

Namun, ada yang terasa janggal.

Dua anggota keluarga belum juga terlihat.

“Semua sudah siap, kan, Mi?” tanya Papi Bas sambil melirik ke arah meja makan, memastikan sekali lagi.

“Untuk makanan dan minumannya sudah lengkap, Pi,” jawab Mami Amara sambil merapikan taplak meja.

Papi Bas mengangguk pelan, lalu mengernyit.

“Tapi… Papi merasa seperti ada yang kurang.”

Ucapan itu membuat semua orang menoleh ke arahnya.

Kurang?

Makanannya?

Pakaiannya?

Atau… sesuatu yang lebih penting?

“Apa yang kurang, Pi?” tanya Nathan yang duduk di dekat sang ayah.

Papi Bas, Mami Amara, dan Nathan saling berpandangan, berpikir keras. Sampai tiba-tiba suara Joe memecah keheningan.

“Sibocil kematian mana, Aunty?” tanya Joe sambil menoleh ke segala arah.

“Kai masih tidur,” jawab Mami Amara singkat.

Joe langsung menepuk pahanya.

“Fix. Berarti jelas.”

Seketika semua tersadar.

Kenan.

Ya, Kenan belum juga bergabung.

“Sekarang Aunty sama Om tahu, kan, apa yang kurang dari tadi?” Joe menyeringai. “Si duda itu belum turun, om, aunty.”

Mami Amara menghela napas panjang.

“Astaga, anak itu. Dari tadi sudah disuruh siap-siap, tapi belum juga turun.”

Mami Amara menoleh padanya.

“Joe, bangunkan Kenan. Sekarang.”

Joe berdiri. “Kalau susah bangun?”

“Siram.”

Mata Joe langsung berbinar.“Dengan senang hati, Aunty.”

Ia bergegas menuju tangga, langkahnya cepat dan penuh semangat,bahkan terlalu bersemangat.

Kapan lagi coba, bisa menjahili singa lapar itu.

Begitu Joe menghilang, suasana kembali sunyi.

Papi Bas menyandarkan punggung ke sofa, matanya menatap kosong ke depan.

“Semoga kali ini berhasil,” ucapnya lirih. “Papi sudah lelah melihat Kenan seperti itu. Dia keras kepala… dingin… dan menutup diri dari semua orang.”

Mami Amara meraih tangan suaminya.

“Kenan cuma belum bertemu orang yang tepat, Pi.”

Nathan mengangguk.

“Semoga gadis ini bisa melihat sisi Kenan yang bahkan dia sendiri nggak sadari.”

“Amiiin,” ucap mereka hampir bersamaan.

Satu jam sebelumnya. 

Setelah salat magrib, Papi Bas mengumpulkan seluruh anggota keluarga di ruang keluarga—kecuali Kenan dan Kaivan.

Papi Bas duduk di sofa tunggal dengan wajah serius.

“Papi mau bicara sama kalian semua,” ucapnya.

Mami Amara dan Joe saling pandang.

“Bicara apa, Pi?” tanya Mami Amara pelan.

Papi Bas menarik napas dalam.

“Ini tentang Kenan.”

“Kenan?” mereka mengulang hampir bersamaan.

“Papi sudah mengambil keputusan,” lanjut Papi Bas mantap. “Papi akan menjodohkan Kenan dengan anak sahabat Papi.”

Semua terdiam.

“Apa Papi yakin?” tanya Nathan hati-hati. “Ini bukan pertama kalinya Bang Kenan dijodohkan. “Bang Kenan pasti akan nolaknya pi,”

“Benar,” timpal Mami Amara. “Kenan bahkan nggak mau berpikir dulu.”

“Kali ini berbeda,” potong Papi Bas tegas. “Papi yakin seratus persen. Bahkan Papi yakin Kenan sendiri yang akan meminta kita melamar gadis ini."

Joe mengangkat alis.

“Jadi… acara makan malam ini tujuannya itu, Om?”tebak Joe.

Papi Bas tersenyum dan mengangguk.

“Apakah gadis itu sekretaris Pak Bara?” tebak Joe lagi.

Anggukan Papi Bas kembali menguatkan dugaan mereka.

"Benar Joe, gadis yang akan om jodoh kan dengan kenan itu adalah sekretaris dari Bara sekaligus anak dari Andika Naraya Dirgantara Wiratama, sahabat papi.!! "

Semua orang pun terkejut mendengarkan jawaban papi Bas, bukan masalah perjodohan nya,tetapi nama Andika Naraya Dirgantara Wiratama lah yang membuat mereka terkejut. Siapa yang tidak tau dengan keluarga Wiratama? Semua kalangan tau tentang keluarga Wiratama,mulai dari para pengusaha sampai dengan para pemilik rumah sakit di negri ini tau tentang Wiratama grup. Karna semua kebutuhan alat medis sampai obat-obatan di pasok oleh Perusahaan Wiratama.

"Apa,,,Keluarga Wiratama ???."ucap mereka secara serempak,dengan wajah terkejut dan mulut yang terbuka karna shok mendengarkan penjelasan sang papi. 

" Iya, anak gadis keluarga Wiratama. Papi sudah membicarakan ini dengan Dika dan papi sudah menceritakan semua masalah Kenan padanya. Dan Dika setuju dengan perjodohan ini. Tapi, Dika ingin Leo dan anaknya tidak tau mengenai perjodohan ini. Biarkan mereka saling mengenal terlebih dahulu. Untuk itu papi mintak kalian untuk merahasiakan tentang perjodohan ini. Papi juga minta tolong pada Bara untuk membawa anak gadis keluarga Wiratama kerumah ini agar mereka saling berkenalan."

Tak ada yang menentang.

Kadang, harapan hanya perlu disimpan diam-diam.

Kembali ke 1 jam kemudian. 

Kamar Kenan

Dikamar yang megah nan luas, dengan dinding kamar yang dominan dengan warna hitam dan abu-abu, di tambah dengan kasur king size yang menambah kenyamanan siapa pun yang tidur di atasnya.

Di atas ranjang besar, Kenan tertidur. Satu lengannya melingkari tubuh kecil Kaivan, seolah dunia luar tak diizinkan masuk.

Ceklek.

Pintu terbuka.

Joe masuk perlahan. Ia berhenti sejenak, menatap pemandangan itu.

Seorang lelaki yang keras pada dunia, tapi rapuh saat memeluk anaknya.

"Astaghfirullah,sabar Joe,,, sabar,,,, tarik nafas, dan buang,,,."gumamnya sambil mengelus dada.

Joe pun melangkah menuju ranjang Kenan untuk membangunkan sang putra mahkota. sebelum itu Joe sudah memindahkan Kaivan kesebuah sofa lebar disudut kamar itu.

Joe pun langsung berteriak untuk membangunkan Kenan. Joe tau bahwa saudara nya itu tidak mempan di bangunkan dengan nada lembut.

“WOI, KENAN! BANGUN! Mami udah nunggu dibawah. Cepat bangunnnnnn atau mau gue siram sama air haaaaaaaa"” teriak Joe sambil mengguncang tubuh Kenan

Kenan mengerang. “Gue nggak tuli… sial…”

Ia mendorong Joe hingga terjatuh.

“ADUH!” Joe meringis sambil memegangi pantatnya.“Lo mau bunuh gue, hah?!”

“Lebay,” jawab Kenan dingin.

“Dasar duda gila!”umpat Joe kesal.

Beberapa detik kemudian,Kenan duduk mendadak, napasnya memburu.

“Anak gue?”paniknya.

"Ngak usah teriak,, gua ngak tuli."

"Anak gue mana setan. " teriak Kenan Panik tidak menemukan Kaivan.

“Itu,” tunjuk Joe malas."Ngak usah teriak. "

Kenan menarik nafas lega melihat Kai masih tertidur didengan aman. Ia kembali menatap Joe sudah berdiri.

"Ngapain lo ke kamar gue???"tanya Kenan dengan santai, tanpa ada rasa bersalah karena telah mendorong Joe.

"Ck', gue mau bangunin lo setan,,,, mami nyuruh lo untuk siap-siap dan langsung turun ke bawah"

"Ngak usah banyak tanya. Sekarang lo masuk kamar mandi trus mandi dan pakai baju lo dan langsung turun." perintah Joe dengan serius nya, walaupun sambil memegang pantat nya yang terasa sedikit sakit karna benturan tadi.

Belum Kenan menjawab perkataan Joe, ia kembali bersuara.

"Ngak pakai lama, lima belas menit harus samapai di bawah. " Ucap Joe, ia pun langsung berjalan meninggalkan kamar Kenan. Joe pun menutup pintu kamar itu dengan sedikit emosi

Brakkk

Kenan yang masih berada di atas ranjang pun sedikit terkejut mendengar suara pintu kamar nya di tutup dengan kasar.

"Ck'. Dasar lebay" Ucap Kenan.

Kenan pun turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah Kai untuk membangun kan putranya itu.

Bersambung...............

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!