Setelah istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan mobil, Alkha Kim Junno seorang lelaki keturunan Korea Selatan, menjadi seorang yang sangat dingin kepada semua wanita. Sampai akhirnya dia dijodohkan dengan seorang wanita oleh mamanya, karena mamanya takut anaknya akan selamanya sendiri.
"Aku nggak mau nikah sama duda!!!" teriak Arabella Putri Jovanka, seorang gadis yang baru lulus kuliah, bahkan belum dapat pekerjaan. Dia adalah wanita yang akan dijodohkan dengan Alkha. Seorang gadis ceria, optimis, dan memiliki rasa percaya diri diatas rata-rata, juga keras kepala.
Akan tetapi, setelah melihat ketampanan Alkha. Gadis kecil itu langsung berubah pikiran. Pasalnya, Alkha adalah lelaki yang dia cintai setelah pertemuannya di sebuah club malam.
Ara jatuh cinta pada Alkha, pada pandangan pertama. Alkha adalah tipe lelaki idaman Ara.
Akankah Ara bisa mencairkan gunung es yang bisa bernafas itu?
Terus dukung author ya 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Cemburu
"Kamu mau balik kantor kan?" tanya Alkha kepada Ara yang duduk disebelahnya.
"Iya," jawab Ara singkat.
"Kalau gitu bareng aku!" Alkha bersiap menarik tangan Ara, tapi kemudian ditahan oleh Barra.
"Maaf pak Kim, biar saya yang mengantar Ara balik ke kantor, karena tadi dia bareng sama saya!" Barra memegangi tangan Alkha yang sudah mencengkeram tangan Ara.
"Nggak perlu repot-repot pak Barra, lagipula saya dan Ara kan satu kantor, juga kantor pak Barra kan beda arah." Alkha sebenarnya tidak suka dengan perilaku Barra yang sok perhatian ke Ara. Sebagai seorang lelaki, Alkha bisa melihat kalau Barra itu memiliki perasaan khusus untuk Ara.
"Nggak apa kok pak, serius.." Barra masih tidak mau menyerah.
"Ada sesuatu hal juga yang ingin saya diskusikan dengan Ara mengenai proyek kerja sama kita." lanjut Barra. Sebenarnya itu hanyalah trik Barra supaya bisa lebih lama bersama Ara. Karena kebetulan Ara jugalah penanggung jawab dari proyek kerja sama mereka.
Akan tetapi Alkha tidak mau mengalah begitu saja, membuat dirinya dan Barra saling menarik tangan Ara. "Aw.." erang Ara karena tangannya sakit.
"Gue bareng pak Reska aja.." Ara memutuskan untuk tidak memilih kedua lelaki yang berebut ingin mengantarnya.
Ara lalu dengan cepat menarik tangan Reska juga Cintya. Dia sudah tidak tahan dengan suasana canggung yang terjadi antara kedua CEO muda itu. "Buruan balik!" ucapnya sembari meninggalkan kedua lelaki yang mungkin sedang kesal itu.
"Gue duluan bro!" pamit Reska kepada Alkha yang sedang menatapnya tajam.
Setelah mengantar Cintya balik ke tempat kerja. Reska dan Ara kembali ke kantor mereka. Di mobil, Reska sempat ngomel dengan Ara karena melibatkan dia dalam permasalahannya. Reska tahu Alkha tidak suka dengan tindakan Ara, terlihat dari raut wajahnya yang suram.
"Kalau Alkha sampai marah ke aku, kamu harus tanggung jawab!!" ucap Reska dengan sedikit kesal.
"Ngapain dia marah?" tanya Ara.
"Karena kamu ninggalin dia tadi. Alkha lagi kejar kamu kan?" mendengar pertanyaan Reska, seketika Ara menoleh dan menatap Reska.
"Darimana lo tahu?" tanya Ara penasaran. Ara tahu kalau Alkha dan Reska itu sahabatan, tapi Ara tidak yakin kalau Alkha suka curhat ke Reska, orang Alkha dingin banget kayak gunung es yang bisa jalan.
"Dari dia sendirilah."
"Dia kalau sama aku nggak pernah bisa bohong." imbuh Reska.
"Dia juga bisa curhat ternyata? Gue kirain dia pendem sendiri masalahnya, dia dingin banget gitu orangnya."
"Meskipun gunung es berjalan tapi dia juga manusia biasa, ada sisi lemahnya. Dan dia sebenarnya orangnya nggak seperti itu, mungkin karena dia belum menerima kenyataan aja." Reska berkata dengan sedikit sedih. Dia merasa kasihan kepada sahabatnya itu. Tapi setelah ketemu Ara, Reska bisa sedikit lega karena Ara perlahan bisa menghancurkan gunung es itu.
"Emang beneran dia mau kejar gue?" Ara masih belum percaya dengan ketulusan Alkha belakangan ini.
"Emm.." Reska menganggukan kepalanya tanpa menoleh ke Ara yang ada di sampingnya.
"Kamu masih suka kan sama dia?" tanya Reska lagi.
"Masih sih, tapi gue mau lihat perjuangan dia, dan juga ketulusan dia." Ara tidak yakin sih, kalau Alkha akan bisa sabar menghadapi dirinya. Meskipun Alkha terlihat baik dan lembut, tapi terlihat sisinya arogannya juga.
"Dia suka sama gue karena emang suka? atau karena gue mirip dengan mantan istrinya, kata lo?" Tapi Ara masih saja penasaran dengan perubahan Alkha yang tiba-tiba.
"Awalnya kayaknya sih karena kamu sekilas mirip Adela, tapi makin kesini kamu jelas beda dengan Adela, karena Adela itu dewasa banget, nggak manja kayak kamu.."
Bukk..
Ara memukul lengan Reska sedikit agak keras, membuat Reska mengerang kesakitan.
"Arghhhh..."
"Lanjutin!!" perintah Ara, membuat Reska sedikit kesal. Tadi aja dia mukul lengan Reska kenceng banget, sekarang memerintah seenak jidatnya.
"Lanjutin!! Malah bengong.." seru Ara yang hanya bisa dituruti oleh Reska.
Reska menghirup nafas dalam-dalam dan mnmenghembuskannya secara perlahan. Dia mencoba mengatur irama hatinya supaya tidak merasa jengkel dengan perilaku Ara. "Tapi sekarang kayaknya seleranya berubah semenjak kenal kamu. Dia merasa sedih banget waktu kamu marah dan tidak bertingkah manja ke dia lagi.." ucap Reska melanjutkan informasi mengenai perasaan Alkha.
****
Pukul 15.00 WIB, Barra dan Ara baru selesai mendiskusikan kerja sama mereka. Dan Alkha sama sekali tidak meninggalkan mereka berduaan. Sejak dari kembali ke kantor, Alkha dengan sengaja menunggu mereka berdua yang sedang berdiskusi di ruangan kerja Ara.
Dan, ketika Barra mengingatkan Alkha dengan pekerjaannya. Alkha akan selalu menjawab kalau dia sedang tidak ada pekerjaan lain. Padahal itu hanya alasan saja, karena dia tidak ingin Ara berduaan dengan Barra.
"Kamu mau pulang atau kemana? Biar aku anter!" Barra menawarkan diri ingin mengantar Ara.
"Ara ada meeting dengan saya sore ini." tapi malah Alkha yang menjawab pertanyaan Barra.
"Meeting pak?" Ara memicingkan matanya, dia merasa tidak wajar kalau meeting di luar jam kerja.
"Iya, kliennya bisanya sore jadi kamu siap-siap sekarang!" perintah Alkha, dan Ara sebagai bawahan hanya bisa nurut apa kata atasannya.
"Ya udah kalau gitu aku pulang duluan ya? Mari pak," pamit Barra. Alkha yang dingin hanya menganggukan kepalanya saja.
Setelah selesai bersiap, Ara pun bertanya dimana mereka akan meeting. Tapi dengan santai Alkha menjawab kalau dia sengaj berbohong supaya Ara tidak pulang bareng Barra.
Sontak, marahlah Ara karena merasa Alkha tidak masuk akal. "Kenapa bapak lakuin ini?" tanyanya dengan marah.
"Karena aku nggak suka kamu deket sama dia," jawab Alkha masih dengan santai menghadapi amarah Ara.
"Alasannya? Saya mau deket sama siapa aja itu hak saya, bapak nggak berhak larang!!" seru Ara dengan kesal.
"Kalau aku bilang aku cemburu, apa kamu percaya?"
"Nggak!!! Saya nggak percaya, bapak sendiri yang minta saya menjauh, tapi kenapa sekarang malah bapak yang sok mau ngejar saya?"
"Itulah bodohnya aku, aku nggak menyadari sampai aku kehilangan senyum dan kemanjaan kamu. Tapi sekarang aku bisa bilang, maukah kamu menerima aku jadi calon suami kamu?" ditembak seperti itu membuat Ara menjadi salah tingkah, karena saking bahagianya. Padahal dia sudah mempersiapkan hati sebelumnya, tapi masih saja dia merasa sangat berdebar.
"Tapi aku juga harus jujur sama kamu. Hatiku sudah tidak lagi utuh, setengah hatiku sudah pergi bersama dengan perginya Adela, jika kamu mau menerima aku, aku akan berikan semua hati aku yang tersisa." Ara tak mampu berkata-kata, dia terpaku menatap Alkha yang sedang mengatakan cintanya.
Sebetulnya Ara tidak masalah jika Alkha tidak melupakan istrinya sepenuhnya, karena biar bagaimanapun Adela pernah menjadi bagian dari hidup Alkha. Tapi Ara cuma tidak mau dijadikan bayang-bayang Adela. Dia ingin dicintai dengan tulus, tanpa dia harus menjadi orang lain.
"Apa yang buat bapak berubah pikiran? Bukannya bapak nggak suka sama cewek manja?"
"Aku juga tidak tahu kenapa, tapi yang pasti aku sangat nyaman dan bahagia saat dengan kamu, hati aku merasa tenang. Waktu kamu bersikap seperti sekarang, entah kenapa aku merasa tidak suka, aku lebih suka kamu bersikap seperti pertama kita ketemu. Manja, ceria, meskipun manggil lo, gue, tapi aku merasa senang karena kita terasa amat dekat." jelas Alkha.
"Jadi bapak maunya saya panggil lo, gue, dan suka kalau saya panggil om daripada bapak?" Alkha dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Oke, tapi saya nggak akan manggil lo, gue. Saya akan manggil aku, kamu aja, biar sedikit sopan."
"Lalu, apa itu artinya kamu mau kasih aku kesempatan buat jadi suami kamu?"
"Ya,, ya,, itu tergantung dari seberapa tulusnya bapak mengejar saya.." Ara jadi gagap seketika karena pertanyaan Alkha.
"Oke kalau gitu, mulai sekarang aku akan kejar kamu, dan akan buat kamu jatuh cinta lagi sama aku.." ucap Alkha dengan menatap Ara lekat. Senyuman manis juga menghiasi wajah tampannya.
Ara menghindari kontak mata dengan Alkha, karena dia tahu, dia tidak akan bisa mengendalikan perasaannya ketika bertatapan langsung dengan Alkha.