NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Mansion Paramitha - Tengah Malam

Mansion megah yang biasanya dipenuhi kehangatan dan tawa kini terasa dingin dan sunyi. Semua tamu sudah pulang, meninggalkan aroma dupa dan bunga kamboja yang menggantung berat di udara—aroma kematian yang tidak akan hilang dalam beberapa hari.

Di lantai dua, lampu masih menyala di satu ruangan—ruang kerja pribadi Darma Paramitha.

TOK. TOK. TOK.

Ketukan pelan di pintu memecah keheningan.

"Paman, ini aku, Arman. Apa kita bisa berbicara sebentar?" Suara Arman Syailendra terdengar dari luar, pelan tapi tegas.

Darma Paramitha duduk di kursi kulit tua di depan jendela besar, menatap kosong ke taman gelap di luar. Di pangkuannya, sebuah foto lama—foto Aditya kecil berusia 5 tahun, tersenyum lebar sambil memeluk seekor anjing golden retriever.

"Masuklah, Arman," jawab Darma tanpa menoleh, suaranya serak—parau karena terlalu banyak menangis.

Pintu terbuka perlahan. Arman masuk dengan langkah hati-hati, seperti takut mengganggu kesedihan yang menggantung tebal di ruangan ini. Matanya langsung tertangkap oleh pemandangan di hadapannya.

Darma Paramitha—pria yang biasanya berdiri tegak dengan wibawa seorang raja bisnis—kini terlihat seperti bayangan dari dirinya sendiri. Punggungnya membungkuk, rambut putihnya berantakan, kerutan di wajahnya terlihat lebih dalam di bawah cahaya lampu yang redup.

Ini bukan hanya kesedihan seorang ayah yang kehilangan anak.

Ini adalah kesedihan seorang pria yang sudah kehilangan terlalu banyak, terlalu sering, sampai jiwanya mulai retak.

Arman menelan ludah, dadanya sesak. Dia ingat saat istrinya—Luna—meninggal saat melahirkan Vyan. Dia ingat bagaimana rasanya kehilangan separuh jiwanya. Tapi setidaknya dia masih punya Vyan, masih punya alasan untuk terus hidup.

Tapi Darma? Pria ini sudah kehilangan istri, menantu perempuan dan sekarang putra satu-satunya. Yang tersisa hanya cucu kecil berusia 6 tahun.

Darma akhirnya bergerak, meletakkan foto Aditya kembali ke meja dengan sangat hati-hati—seolah foto itu adalah barang paling berharga di dunia. Tangannya gemetar saat melakukannya.

"Apa yang ingin kau bicarakan, Arman?" tanya Darma, suaranya datar tapi ada beban berat di sana.

Arman melangkah lebih dekat, berdiri di samping jendela. Dia menatap taman yang sama—taman di mana dulu dia, Aditya dan Bramantara sering bermain saat masih kecil, saat tiga keluarga ini masih utuh dan bahagia.

"Paman," mulai Arman pelan, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Aditya tidak mungkin meninggal karena serangan jantung."

Darma tidak menjawab, tapi bahunya menegang.

"Aditya adalah orang paling sehat yang pernah aku kenal," lanjut Arman, nada suaranya mengeras. "Dia lari 10 kilometer setiap pagi. Dia tidak merokok, tidak minum alkohol berlebihan. Kondisi fisiknya sempurna. Dan untuk serangan jantung mendadak pada usia 37 tahun..." Arman menggeleng. "Itu hampir mustahil."

Dia berbalik menghadap Darma, matanya tajam—mata seorang detektif yang sudah menemukan sesuatu yang tidak beres.

"Dan lebih dari itu, Paman... kalau seseorang meninggal karena serangan jantung, seharusnya ada tanda-tanda. Wajah yang membiru, bibir yang pucat, posisi tubuh yang menunjukkan dia meronta kesakitan sebelum mati." Arman menarik nafas dalam. "Tapi, aku sudah melihat tubuh Aditya dengan mata kepalaku sendiri. Tidak ada tanda-tanda itu. Dia terlihat seperti... seperti hanya tertidur. Damai. Seolah dia tidak merasakan sakit sama sekali sebelum mati."

Hening panjang menggantung di antara mereka.

Darma menutup matanya, tangannya terkepal di atas meja. "Aku tahu, Arman," bisiknya akhirnya. "Aku juga sudah mencurigai ini sejak awal. Tapi belum ada bukti yang muncul. Polisi sudah melakukan investigasi menyeluruh. Otopsi tidak menemukan racun, tidak ada trauma fisik. Secara medis dan legal, ini adalah kematian alami."

"Tapi kita berdua tahu itu bohong," kata Arman tegas. "Ada yang membunuh Aditya dengan cara yang sangat halus, sangat sempurna, sampai tidak meninggalkan jejak apapun."

Darma membuka matanya, menatap Arman dengan tatapan yang penuh keputusasaan. "Bahkan jika itu benar... siapa? Siapa yang melakukan ini? Dan yang lebih penting—kenapa?"

Arman terdiam. Dia tidak punya jawaban untuk itu. Belum.

"Paman," kata Arman dengan determinasi yang kuat, "aku akan menyelidiki ini. Aku akan menemukan siapa pelaku utamanya. Aku akan memastikan mereka membayar untuk apa yang mereka lakukan pada Aditya."

"TIDAK!"

Teriakan Darma membuat Arman tersentak. Pria tua itu berdiri dengan tiba-tiba, berjalan cepat menghampiri Arman, tangannya mencengkeram bahu anak muda itu dengan kuat.

"Kita tidak tahu siapa musuh kita, Arman," kata Darma, suaranya bergetar—campuran antara ketakutan dan kemarahan. "Musuh yang bisa membunuh Aditya tanpa meninggalkan jejak adalah musuh yang sangat berbahaya. Sangat pintar. Sangat kejam."

Mata Darma berkaca-kaca. "Aku sudah kehilangan putraku. Aku tidak ingin kehilangan putra kedua ku."

Arman tercekat. Putra kedua. Darma selalu menganggapnya seperti anak sendiri, sejak dia kecil.

"Paman tidak perlu cemas," kata Arman, berusaha terdengar meyakinkan walau hatinya juga takut. "Aku akan baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula..." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Aku keluarga Syailendra. Gangster yang ditakuti, ingat?"

Tapi Darma tidak tertawa. Dia hanya menatap Arman dengan tatapan yang sangat sedih.

"Gangster pun bisa mati, Arman," bisiknya. "Istrimu—Luna—dia juga kuat. Tapi dia tetap pergi meninggalkanmu dan Vyan."

Arman tercekat mendengar nama istrinya disebut. Luka lama yang sudah dia kubur terbuka lagi.

Darma menghela nafas panjang, melepaskan cengkeramannya, berbalik kembali ke jendela. "Apa Arjuna—ayahmu—sudah tahu tentang ini?"

Arman menggeleng, walau Darma tidak melihatnya. "Aku tidak bisa memberitahu Papa, Paman. Kondisi Papa semakin buruk akhir-akhir ini. Stroke yang dia alami dua tahun lalu membuatnya... rapuh. Kalau aku cerita tentang ini, aku takut kondisinya makin memburuk."

"Arjuna... sahabatku yang dulu paling kuat..." Darma tersenyum pahit. "Sekarang terbaring di kursi roda, tidak bisa berjalan, tidak bisa berbuat banyak. Ironi yang menyakitkan."

Dia berbalik lagi menghadap Arman, kali ini ekspresinya lebih lembut. "Arman, kau harus menjaga dirimu baik-baik. Ingat, sahabatku itu—Arjuna—dia bertahan sampai saat ini karena memilikimu dan Vyan. Tolong jaga diri kalian baik-baik."

Suara Darma pecah sedikit. "Aku sudah merasakan terlalu banyak kehilangan. Dan saat ini, aku hanya bertahan karena adanya Anindita. Tapi kalau sampai sesuatu terjadi padamu atau Vyan... Arjuna tidak akan sanggup. Dia akan menyusul mereka pergi."

Arman mengangguk, tenggorokannya tercekat. Dia tidak bisa bicara karena takut suaranya akan bergetar.

Darma melangkah mendekat, tangannya terangkat—ragu sejenak—kemudian mengusap rambut Arman dengan lembut, seperti mengusap rambut anak sendiri.

"Wajahmu mirip sekali dengan ibumu," bisik Darma, senyum tipis muncul di wajahnya yang lelah. "Sari yang cantik dan lembut. Kau mewarisi mata Papamu yang tajam, tapi senyum mu... senyum mu persis Sari."

Arman membeku.

Ada yang aneh di kata-kata Darma. Sesuatu yang tidak pas.

"Paman," kata Arman pelan, "aku tahu Mama meninggal saat melahirkanku. Tapi kenapa Paman bicara seperti... seperti Paman kenal Mama dengan baik?"

Darma terdiam. Wajahnya berubah—ada kesedihan yang lebih dalam di sana, ada rahasia yang terlalu berat untuk diungkap.

"Karena..." Darma menarik nafas panjang, matanya menatap jauh ke masa lalu. "Karena ibumu tidak meninggal saat melahirkanmu, Arman."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!