Aarav Baskara Darma, seorang jaksa yang harus menyewa jasa bodyguard untuk melindunginya dari teror yang terus saja menghampirinya, setiap dia berhasil menyelesaikan satu kasus. Dia tidak menyangka jika bodyguard cantik itu selalu bisa menarik perhatiannya, hingga hatinya merasa nyaman dengannya dan perlahan-lahan mulai menyukainya, walaupun gadis itu sangat dingin dan bahkan kejam padanya, dia juga sangat mata duitan. Dan jelas selalu saja membuat Aarav dengan mudahnya naik darah.
Bagaimana perjalanan kisah manis mereka?
Yuk! ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
.
22
.
"Kita akan kemana lagi tuan Aarav?" tanya Erza yang masih begitu fokus mengemudikan mobil Aarav.
"Pulang dulu ke rumah. Aku lapar." jawab Aarav.
"Kenapa tidak makan di restoran saja? Kita akan melewati banyak restoran di sepanjang jalan ini." Aarav segera menggelangkan kepalanya.
"Rasa masakan rumah adalah yang terbaik. Apa lagi masakan seorang ibu." jawabnya.
Erza tersenyum kecut. Mendengar bagaimana Aarav mengungkit tentang rasa masakan seorang ibu.
"Kamu sangat beruntung tuan Aarav... Kamu memiliki keluarga yang lengkap dan saling menyayangi." ucapnya seraya memperlihatkan senyuman pahitnya.
Aarav melihat wajah cantik Erza yang telihat penuh kesedihan. Entah apa yang terjadi pada keluarganya, Aaeav masih meminta teman detektif nya untuk memeriksanya, dan saat ini masih belum mengabarinya.
"Erza... entah keluarga itu lengkap atau tidak, atau bahkan sehat atau tidak, jika memang saling menyayangi, semuanya akan terasa sangat indah." ucap Aarav.
Entah apa yang terjadi pada Erza sebenenrnya, dia belum mengetahuinya, jadi dia hanya bisa mengatakan hal itu padanya.
Erza tersenyum lebar.
"Tuan Aarav benar. Aku seharusnya berfikir seperti itu. Aku merasa lega sekarang. Karena itu aku jadi merasa sangat lapar." jawab Erza.
Aarav menatap jengah pada Erza yang sudah kembali menjadi Erza yang menyebalkan dan mengesalkan.
"Kita akan pulang ke rumah ku dulu. Kamu bisa makan di sana sekalian, seperti biasanya." jawab Aarav.
Erza tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya pada Aarav.
"Tuan Aaraaavvv... Anda memang yang terbaik." ucap Erza dengan begitu manis.
Aarav memutar bola matanya jengah, dia memilih untuk melihat ke arah lainnya, dari pada harus melihat Erza yang susha kembali ke mode menyebalkan.
"Erza... berhenti! Bukankah itu Olivia?" Aarav menunjuk pada sebuah mobil yang sepertinya sedang mogok, dan memang Olivia terlihat di sana.
"Benar. Itu nona Olivia." jawab Erza.
Dia menepikan mobilnya di dekat mobil Olivia yang terhenti di sana.
klek!
Dengan cepat Aarav keluar dari mobilnya untuk berjalan menghampiri Olivia.
Melihat itu Erza hanya bisa tersenyum kecut. Dia seharusnya tahu, jika Aaeav memang menyukai Olivia, karena dia selalu mendengar bagaimana Aarav memujinya dan membandingkan dengannya.
Walaupun begitu, dia tidak mengerti kenapa ada rasa yang masih saja berusaha menggerogoti hatinya yang menjadikannya merasa sangat tidak nyaman.
"Shit! Kenapa aku harus merasa seperti ini!" sungutnya pada dirinya sendiri. Dia hanya bisa melihat keduanya yang sedang mengobrol dari dalam mobil.
"Olivi, mobilmu kenapa?" tanya Aarav saat dia sudah berada di dekat Olivia.
"Tidak tahu Aarav. Tiba-tiba saja berhenti." jawab Olivia yang terlihat kebingungan.
"Kamu sudah menghubungi mobil derek?" tanya Aarav.
Olivia menggelangkan kepalanya, "belum Aarav, aku sangat terburu-buru. Jadi aku lupa untuk itu. Aku harus segera menemui clien ku. Dia mungkin sudah menungguku lama." jelas Olivia yang terlihat begitu sedih.
"Pakai mobil ku saja. Aku akan menghubungi mobil derek, aku juga akan menjaga mobilmu sampai mobil derek datang untuk membawanya ke bengkel." ujar Aarav.
"Apa kamu tidak memakainya?" tanya Olivia.
"Tidak. aku sudah selesai dengan tugasku pagi ini. Aku hanya akan ada sidang nanti siang. Jadi jangan khawatir." jawab Aarav seraya berjalan mendekati mobilnya.
"Erza... keluarlah. Oliv akan memakai mobil ku." Mendengar itu Erza segera keluar dari mobil Aarav.
Dia melihat Olivia yang memang terlihat begitu terburu-buru.
"Silahkan." ucap Erza seraya mempersilahkan Olivia untuk masuk ke dalamnya.
"Terimakasih Erza... Terimakasih banyak Aarav. Aku akan mengembalikannya saat aku sudah selesai." ucap Olivia seraya masuk kedalam mobil Aarav.
"Santai saja Oliv... Hati-hati." jawab Aarav.
"Iya Aarav, aku pergi dulu." Olivia segera mengemudikan mobil Aarav untuk segera pergi menemui clien-nya.
Kini Erza dan Aarav sedang berdiri di sebelah mobil milik Olivia yang mogok.
"Aku akan pulang ke apartemen dulu. Aku tidak memiliki tugas untuk mengurus mobil orang lain." ucap Erza.
Aarav terkejut mendengar apa yang Erza katakan.
"Tapi menemaniku adalah bagian dari tugasmu." jawab Aarav.
"Benar. Tapi itu jika kamu dalam masa bekerja. Saat ini kamu bukanlah Boss ku. kamu hanyalah seorang pria yang sedang menunggu mobil gebetanmu. jadi aku tidak memiliki tugas untuk itu." ucap Erza seraya bersiap untuk berjalan pergi dari sana.
"Erza! Kamu memiliki tugas semua itu. Kamu hanya perlu menemaniku dan menjagaku, kamu tidak berhak untuk menolak ku. Kamu harus selalu patuh pada apapun yang aku perintahkan! jangan melawan! Aku yang membayar mu selama ini, jadi menurut saja!" ucapan Aarav terdengar serius.
Erza tersenyum menyeringai.
"Iya, kamu benar. Aku lupa, jika aku ini hanyalah seekor anjing yang sudah seharusnya mengikuti apapun yang tuan -nya katakan dan perintahkan." jawabnya, "aku tidak akan kemana-mana. Tenang saja." tambahnya.
"Bukan maksud ku seperti itu Erza... Aku..."
"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan ini. Jangan khawatir, aku tidak akan pernah melawanmu, aku akan selalu tunduk di bawah kakimu, selama beberapa bulan kedepan." jawab Erza.
Walaupun itu yang Aarav inginkan, tapi dia juga tidak bermaksud untuk mengatakan seperti apa yang Erza katakan tadi.
Aaeav hanya tidak mau sendirian berada di sana. Dia butuh Erza untuk menemaninya, tapi sepertinya apa yang dia katakan salah, dan itu membuat Erza salah paham.
Erza berdiri di belakang mobil Olivia, sementara Aarav berdiri di depan mobil itu. Erza masih sangat tidak nyaman untuk mengatakan apapun lagi pada Aarav.
Begitu juga dengan Aarav yang masih sangat merasa bersalah karena apa yang Erza katakan tadi.
Mereka masih menunggu mobil derek yang akan membawa mobil Olivia ke bengkel.
"Erza..."
Aarav berusaha untuk memanggil Erza.
"Iya tuan Aarav... Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Erza dengan begitu dingin. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia harus begitu kesal ada Aarav saat ini.
"Tidak... Hanya saja, aku lapar. Aku belum makan apapun sejak pagi." jawab Aarav.
"Apa aku perlu membeli sesuatu untuk di makan?" tanya Erza lagi.
"Tidak perlu. Temani saja aku di sini." jawab Aarav.
"Aku juga tidak pergi kemanapun. Jadi jangan khawatir." jawab Erza yang masih dengan sikap dinginnya.
"Bukan begitu Erza... Mendekatlah... Kita seperti ini seperti sedang saling marahan." Erza menatap Aarav dengan begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.
"Aku tidak mungkin marah padamu. Aku masih harus bekerja di sisimu. Setidaknya sembilan bulan lagi." jawab Erza yang masih tidak mau bergerak dari posisinya
"Erza..." Aarav berjalan mendekati Erza yang masih terus memberikan sikap dinginnya padanya.
"Kamu marah?" tanya Aarav.
Erza memaksakan senyumnya, dia juga menggelengkan kepalanya.
"Tidak. jika aku marah, mungkin kamu sudah tidak bisa berdiri seperti ini di depanku. Karena aku mungkin sudah membunuh mu." jawab Erza.
"Mau makan steak daging terbaik di kota ini? Aku akan mengajakmu makan malam di sana jika kamu mau." ajak Aarav sembari memperlihatkan senyuman manisnya.
Erza menggelangkan kepalanya, "tidak perlu. aku hanya ingin makan malam di apartemenku, aku akan memasak saja. Ada banyak bahan makanan yang sudah aku beli kemarin." jawab Erza.
"Kalau begitu, bagaimana jika aku juga ikut makan malam di rumahmu? Aku akan membelikan jaket baru untukmu. Ada model baru yang baru saja di keluarkan oleh salah satu brand kesukaan mu." Aarav hanya tidak ingin melihat sikap dingin Erza padanya.
Dia sangat ingin melihat sikap menyebalkan dan genit Erza saat dia menginginkan sesuatu darinya
"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkannya." jawab Erza masih dengan begitu dingin, Erza bahkan tidak ingin menatap wajah Aarav.
Melihat itu Aarav benar-benar frustasi. Dia bahkan merasa jika dia sedang di hadapkan pada kekasihnya yang sedang marah padanya.
"Aku minta maaf." ucapnya, pada akhirnya Aarav hanya bisa mengatakan hal itu.
Mendengar itu Erza melihat wajah Aarav yang terlihat begitu menyesali apa yang sudah dia katakan.
"Tidak perlu. Aku tidak merasa jika kamu bersalah padaku." jawab Erza.
"Tapi kenapa kamu bersikap dingin padaku?"
"Aku kebelet! Aku ingin buang air kecil! Aku sedang menahannya sedari tadi dengan susah payah! Bodoh!" sungut Erza yang memang terlihat seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.
"Oh... Aku kira kamu sedang marah pada ku." ujar Aarav, "tunggu apa lagi! pergilah! cari toilet umum!" perintah Aarav dengan keras.
Erza mendesis mendengar ucapan Aarav yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Siapa yang menyuruhku untuk tetap di sini! idiot!" Desisnya seraya berlari pergi dari sana.
Sementara kini Aarav masih melongo mendengar apa yang baru saja Erza katakan.
"Idiot? Dia mengatakan jika aku idiot? Dia benar-benar..." Aarav memilih untuk mendengus kesal pada dirinya sendiri yang masih saja bisa di bully dengan mudahnya oleh Erza.
"Awas saja! Aku akan..." mengingat bagaimana cara Erza dalam mengalahkan lawannya, Aarav bergidik ngeri
"Aku akan memberikan dia hadiah... Iya, hadiah..." lanjutnya.
.