Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan dari Masa Lampau
Ruang Rapat Arvana
Ruang rapat lantai delapan Arvana Children Toys selalu terlalu terang bagi Ravindra. Lampu downlight putih, meja kaca panjang, aroma kopi yang konsisten pahit. Semua terasa normal—sampai pintu terbuka.
“Selamat pagi. Kami dari Luminara Creative Industries,” ucap seorang pria berjas abu-abu, diikuti seorang perempuan di sampingnya.
Ravindra berdiri untuk bersalaman. Gerakannya otomatis. Sampai matanya bertemu mata itu.
Dunia seolah tersendat setengah detik.
Perempuan itu tersenyum profesional, tenang, dewasa—senyum yang jauh berbeda dari senyum remaja yang dulu sering muncul sambil mengunyah permen di bangku kelas SMP. Rambutnya kini tergerai rapi, blazer krem membingkai posturnya dengan elegan.
“Yunika,” katanya sambil menjabat tangan Ravindra. “Business Development Manager Luminara.”
Nama itu jatuh pelan di telinganya, tapi menghantam tepat di dada.
“Ravindra,” jawabnya sedikit terlambat. “CEO Arvana Children Toys.”
Yunika mengangkat alis, samar terkejut. “Kamu… Ravindra yang dulu di SMP Elang?”
Bukan Pak Ravindra. Bukan Bapak. Hanya namanya. Seperti dulu.
Ravindra terkekeh pendek. “Kelihatannya kamu ingat.”
Rapat berjalan. Slide dipresentasikan. Angka-angka dipaparkan. Proposal kerja sama mainan edukatif berbasis karakter lokal dibahas. Ravindra menyimak—atau setidaknya berusaha.
Setiap kali Yunika berbicara, suaranya terdengar familiar dan asing sekaligus. Intonasinya lebih matang, pilihan katanya terukur. Tapi cara ia menyelipkan humor kecil di tengah paparan… itu Yunika yang ia kenal.
“Kalau Arvana tertarik,” ujar Yunika, menatap langsung ke arahnya, “kami terbuka untuk pengembangan jangka panjang. Bukan sekadar proyek musiman.”
Tatapan itu menahan lebih lama dari yang perlu. Ravindra merasakannya. Jantungnya berdegup kencang, memalukan.
Setelah rapat usai dan tim lain mulai berkemas, Ravindra mendekat.
“Nika,” panggilnya spontan—nama panggilan yang belum sempat ia kubur sepenuhnya.
Yunika menoleh. Senyumnya berubah. Lebih personal. “Kamu masih ingat.”
“Beberapa hal sulit dilupakan,” jawabnya jujur.
Mereka berdiri canggung sejenak, seperti dua orang dewasa yang lupa cara memulai percakapan yang dulu terasa begitu mudah.
“Kamu kelihatan… berbeda,” kata Ravindra akhirnya.
“Kamu juga,” balas Yunika ringan. “Dulu kamu paling anti presentasi. Sekarang memimpin perusahaan mainan.”
Ia tertawa kecil. Ravindra ikut tersenyum, hangat—senyum yang jarang ia sadari muncul akhir-akhir ini.
“Apa kamu ada waktu setelah ini?” tanya Yunika, nada suaranya kasual, hampir tak berbahaya. “Sekadar nikmati kopi. Nostalgia kecil. Kita kan… teman lama.”
Kata itu terasa aman untuk dijadikan alasan.
Ravindra ragu sesaat. Dalam benaknya, wajah Tafana melintas. Wajahnya yang berhias senyum saat menyambutnya di rumah yang hangat.
Namun penyesalan lama juga ikut menyusup—tentang perasaan yang tak pernah ia ucapkan, tentang nama yang terlalu lama hanya tinggal kenangan. Untuk kali ini saja, rasanya terlalu percuma kalau kesempatan ini ia sia-siakan.
“Ya,” jawabnya akhirnya. “Sepertinya… ada banyak hal yang bisa kita bicarakan.”
Yunika tersenyum, puas namun tetap sopan. Tak ada sentuhan. Tak ada janji.
Hanya takdir yang tampak tersenyum tipis, mempermainkannya. Setelah enam bulan ia menikah dengan Tafana tanpa ekspektasi, wanita ini malah kembali muncul.
Pikirannya mulai bertanya, apakah ini godaan atau kesempatan?
Dan Ravindra, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, memilih untuk mendekat.
-oOo-
Dulu mereka dekat, sangat dekat. Hampir seperti sahabat kalau saja Ravindra tak menyimpan rasa lain di hatinya.
Di SMA, Ravindra dan Yunika duduk sebangku—bukan karena pilihan, melainkan karena guru matematika percaya takdir bisa menyatukan murid yang sama-sama “butuh diawasi”. Ravindra terlalu pendiam, Yunika terlalu banyak bicara. Kombinasi yang, entah bagaimana, bekerja dengan sangat baik.
“Pinjam penghapus,” bisik Yunika tiap lima menit, padahal penghapusnya selalu ada di tas.
“Kamu itu lupa atau sengaja?” Ravindra akan menyerahkan miliknya tanpa menoleh.
“Sengaja. Biar kamu merasa berguna,” jawab Yunika sambil menyeringai tengil.
Mereka belajar bersama hampir setiap pulang sekolah. Yunika membaca soal keras-keras dengan dramatis, Ravindra mengerjakan sambil menghela napas sabar. Kalau Yunika salah, ia akan protes panjang. Kalau Ravindra salah—yang sebenarnya jarang terjadi—Yunika akan menertawakan seolah itu pencapaian besar.
“Eh, Ravin,” panggil Yunika suatu sore di perpustakaan.
“Jangan panggil aku Ravin!" proses pemuda lugu itu.
“Terlambat. Lebih cocok," kata gadis itu sambil mengacak rambut Ravin.
"Terserah kamu lah, Nika."
Julukan itu bertahan sampai lulus.
Mereka sering berbagi bekal. Yunika membawa camilan aneh hasil eksperimen ibunya, Ravindra membawa roti tawar dengan isi seadanya. Yunika selalu mengkritik, tapi tetap menghabiskan.
“Kamu hidupnya hambar,” kata Yunika.
“Kamu yang terlalu ribut,” balas Ravindra.
Namun saat Yunika sakit dan tak masuk sekolah tiga hari, Ravindra mendapati bangkunya terlalu sunyi. Ia membawakan catatan, berdiri kikuk di depan rumah Yunika, lalu pergi cepat-cepat setelah disambut.
“Katanya cuek,” gumam Yunika sambil tersenyum melihat catatan yang rapi.
Tak pernah ada pengakuan. Tak ada momen dramatis. Hanya tawa kecil, kebiasaan saling menunggu, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, terlalu berharga untuk dirusak dengan kata-kata.
Saat lulus, mereka berpisah SMA. Yunika pindah kota. Ravindra tak pernah mengucapkan apa pun. Perasaan itu berubah menjadi rindu dan penyesalan, dan menetap terlalu lama di dadanya.
-oOo-
Clover Coffee Shop
Kafe itu tenang, wangi kopi menguar lembut. Ravindra duduk lebih dulu, jari-jarinya mengetuk cangkir tanpa sadar. Saat pintu terbuka dan Yunika masuk, waktu kembali melambat—seperti dulu, tapi dengan versi yang lebih dewasa.
Yunika kini anggun, langkahnya mantap. Namun ketika mata mereka bertemu, ada jeda kecil. Senyumnya muncul perlahan.
“Hai, Ravin.”
Nama itu. Ravindra menelan napas. “Hai, Nika.”
Mereka saling pandang, lebih lama dari sekadar sopan, seolah memastikan yang di hadapan mereka nyata. Bukan kenangan yang terlalu sering ia putar ulang.
“Aku nggak menyangka,” ujar Ravindra jujur. “Kamu… di sini.”
“Aku juga,” Yunika tertawa kecil. “Kita kelihatan berkembang, ya.”
Ravindra tersenyum. Sosok yang dulu ia dambakan, yang membuatnya tak pernah bisa berpaling pada wanita mana pun sepanjang masa SMA dan kuliah, kini duduk di depannya—nyata, hangat, dan terasa mungkin untuk digapai.
Untuk pertama kalinya, Ravindra tak ingin diam. Penyesalan itu sudah cukup lama disimpan. Dan kali ini, ia siap menebusnya.
-oOo-
Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya malam itu. Tafana duduk di sofa, kaki dilipat rapi, televisi menyala tanpa benar-benar ia tonton. Jam dinding berdetak dengan suara yang mendadak terasa personal—seperti sengaja mengingatkannya bahwa Ravindra belum pulang.
Biasanya, pukul enam kurang sedikit pintu akan terbuka. Ada suara sepatu dilepas, dasi dilonggarkan, lalu kecupan ringan di keningnya. Pola-pola kecil yang tanpa sadar kini ia tunggu dengan setia.
Ponselnya bergetar, pesan dari Ravindra masuk. "Aku pulang terlambat. Mungkin dua jam lagi. Jangan ditunggu, ya. Pesan makan aja dulu."
Tafana menatap layar itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Dua jam. Ia menghela napas pelan, lalu mendengus kecil.
“Baik, Tuan Terjadwal,” gumamnya, setengah kesal, setengah maklum.
Ia meletakkan ponsel di meja, menyandarkan kepala ke sofa. Ada rindu yang tak besar, tapi konsisten. Jenis rindu yang muncul karena kebiasaan, bukan drama. Yang justru lebih mengganggu.
Akhirnya, Tafana meraih ponselnya lagi dan membuka aplikasi pemesanan makanan. Jarinya menggeser layar tanpa fokus. Biasanya ia akan bertanya dulu, kamu mau apa? Sekarang, ia harus memilih sendiri.
“Sendirian lagi,” katanya lirih, lalu tersenyum tipis.
Ia menekan tombol pesan.
Makanannya akan datang.
Suaminya, nanti.
-oOo-
Pintu rumah terbuka nyaris tanpa suara. Ravindra masuk dengan langkah ringan, senyum masih mengulum di sudut bibirnya—sisa dari tawa, dari obrolan lama yang entah bagaimana terasa terlalu hangat untuk sekadar kenangan.
Lampu ruang tengah redup. Televisi menyala, dengan volume kecil. Di sofa, Tafana tertidur dengan posisi setengah duduk, kepalanya miring ke sandaran, selimut tipis melorot di pangkuannya. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang tadi memilih makanan sendirian.
Senyum Ravindra luruh.
Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia berdiri beberapa langkah dari sofa, menatap perempuan yang—tanpa sadar—masih menunggunya pulang.
Dua jam. Dua jam sebelumnya ia habiskan bersama wanita lain. Bersama nama yang kini bergetar pelan di kepalanya, nama yang ia simpan rapat-rapat, seolah dengan tidak menyebutnya, ia bisa menghapus rasa bersalah ini.
Tangannya terangkat, refleks. Ingin menyibakkan rambut Tafana. Ingin mencium kening itu, seperti biasa.
Namun gerakannya tertahan di udara.
Untuk pertama kalinya, kecupan itu terasa seperti kebohongan kecil.
Ravindra menelan ludah, lalu perlahan menurunkan tangannya. Ia mengambil selimut dan menyelimutkan Tafana lebih rapi. Tanpa ciuman. Tanpa sentuhan lebih.
“Maaf,” bisiknya pelan, entah kepada siapa.
Televisi terus menyala. Tafana tetap terlelap.
Dan Ravindra berdiri di sana, dengan nostalgia yang masih hangat... dan rasa bersalah yang tak mau pergi.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅