Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusupan Kemenara Utama
Tiga inang terkutuk itu menerjang maju secara serentak. Gerakan tubuh mereka begitu kaku dan patah-patah, namun memiliki kecepatan serta presisi yang berada di luar nalar manusia biasa. Kabel-kabel serat optik yang melilit dan tertanam di leher mereka berdesis pelan, memancarkan percikan bunga api statis berwarna biru keudaraan yang dingin. Langkah kaki mereka yang menghantam ubin semen memantulkan gema berat di sepanjang lorong Sub-Level 1.
"Faris, amankan modulnya! Biar aku yang tahan mereka di pintu!" jerit Maya, suaranya melengking mengatasi dengung frekuensi yang kian bising.
Tanpa ragu sedikit pun, Maya menyambar tabung pemadam api busa kimia berdaya tinggi yang tergantung di dinding koridor. Dengan gerakan tangkas, ia mencabut pin pengamannya, mengarahkan corong tabung, dan menekan tuasnya dalam-dalam.
PSSSSSSSHHH!
Semburan busa tebal berwarna putih menyembur keras, mengikis udara lembap di lorong dan menghantam telak bagian wajah serta dada ketiga inang tersebut. Busa kimia dingin itu seketika menutupi pandangan mata polos mereka dan membekukan sirkuit tembaga basah yang menempel di leher mereka. Reaksi kimia asam-basa memicu percikan korsleting tajam, membuat ketiga inang mengerang parau seraya meraba-raba udara dengan liar.
Faris menggunakan celah sempit berdurasi beberapa detik itu untuk melompat menerobos ambang pintu besi tangga darurat. "Kak Maya, cepat masuk!"
Maya melempar tabung pemadam yang telah kosong ke arah kaki salah satu inang hingga tersungkur keras ke lantai semen, lalu melompat masuk menembus pintu tangga darurat di belakang Faris. Dengan sisa tenaganya, Maya menarik pintu besi tebal itu hingga tertutup rapat dan menyumbat tuas putarnya menggunakan sebuah pasak besi besar yang tergeletak di lantai.
BANG! BANG! BANG!
Pukulan bertubi-tubi bermuatan tenaga abnormal menghantam pintu besi dari luar hingga permukaan logam tebal itu melekuk ke dalam. Namun, pasak besi yang terpasang kokoh berhasil menahan selot mekanis pintu.
Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk bernapas, Faris dan Maya berbalik dan mulai menaiki anak tangga beton satu per satu dalam kegelapan pekat. Satu-satunya sumber penerangan mereka hanyalah pendar lampu senter LED kecil di tangan kiri Maya dan pendar hijau samar dari indikator modul Sigaik Begu di dada Faris.
Lantai dua... lantai tiga... lantai lima...
Setiap pijakan kaki terasa begitu berat. Udara di dalam lorong tangga darurat terkunci rapat, tanpa sirkulasi, terasa kian pekat oleh aroma belerang yang menyengat dan uap es yang memicu batuk. Di sepanjang dinding beton tangga darurat yang catnya mengelupas, rajah-rajah Batak kuno yang dipadu dengan garis sirkuit tembaga tipis tampak terukir rapi—seseperti urat-urat darah hitam yang menjalar naik membungkus seluruh struktur gedung Senjaya Telecom.
Napas Faris tersengal-sengal, dadanya terasa bagai dihantam bongkahan batu besar. Modul Sigaik Begu di dalam tasnya terasa kian hangat, memancarkan denyut elektromagnetik yang beradu langsung dengan gelombang ghaib yang mengalir di dinding gedung. Bekas luka memar di leher Faris berdenyut keras, memancarkan sensasi terbakar yang menjalar hingga ke saraf tulang belakangnya.
"Tahan, Faris... sedikit lagi!" bisik Maya, suaranya gemetar menahan lelah luar biasa.
Lantai delapan... lantai sembilan... lantai sepuluh.
Mereka akhirnya tiba di bordes lantai sepuluh—pintu penghubung terakhir menuju Master Server Room sekaligus akses tangga luar menuju pylon menara pemancar pusat.
Pintu besi berlapis ganda menuju lantai sepuluh tidak terkunci. Pintu itu sedikit renggang, membiarkan aliran udara dingin bersuhu di bawah nol derajat Celsius meluncur keluar menyambut mereka, membawa aroma belerang pekat dan bau ozon terbakar yang sangat menusuk.
Faris memegang erat tuas linggis di tangan kanannya, menyikut pintu besi itu hingga terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara dentang logam.
Ssssshh...
Lantai sepuluh adalah sebuah ruang aula raksasa yang membentang hampir seluas lapangan sepak bola. Di bawah temaram lampu darurat merah pekat, ribuan unit rak server canggih milik Senjaya Telecom berdiri berjejer bagaikan deretan nisan besi yang berdegung halus. Namun, seluruh interior modern berteknologi tinggi itu telah diubah secara mengerikan menjadi mezbah ritual yang kolosal.
Kabel-kabel serat optik tebal berwarna hitam dan merah dilepas dari tempatnya, dijalin dan dipilin secara rumit di atas lantai ubin semen untuk membentuk rajah geometri raksasa Begu Ganjang. Di pusat matriks sirkuit kabel tersebut, berdiri sebuah panggung kaca segi delapan yang dialiri cairan tembaga cair di bagian bawahnya.
Di atas panggung kaca itu, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan jas hitam buatan penjahit ternama. Rambutnya yang berklimis rapi berseling garis-garis uban memantulkan pendar merah dari layar monitor di belakangnya. Di tangan kanannya, pria itu memegang sebuah mikrofon pemancar berukirkan tembaga merah murni yang terhubung langsung ke sakelar bus utama gedung.
Dialah Hartono Senjaya—taipan media terbesar di negeri ini, sosok di balik berdirinya Jamiah Frekuensi Nol.
Di sekeliling panggung kaca, puluhan layar monitor raksasa memancarkan peta pemancar jaringan di seluruh wilayah Sumatra Utara. Seluruh titik pemancar di peta itu telah berubah warna menjadi merah pekat yang berkedip-kedip ritmis. Di bagian atas layar utama, angka penghitung mundur digital terus bergerak turun tanpa ampun:
00:18:42 (MENUJU TRANSMISI MASAL / PANGGULAN KONFERENSI 0000)
"Selamat datang, Faris... Maya," suara Hartono menggelegar tenang namun dingin melalui sistem tata suara master server, memantul penuh gema di antara ribuan rak besi. "Aku sangat menghargai kegigihan kalian. Kalian adalah bukti nyata bahwa tubuh manusia memiliki ketahanan yang luar biasa saat dihadapkan pada panggilan frekuensi ini."
Hartono memutar tubuhnya perlahan, menatap Faris dan Maya dengan ukiran senyum tipis yang hampa tanpa rasa bersalah sedikit pun. Matanya berkilat penuh obsesi gila.
"Kalian mengira sedang berusaha menjadi pahlawan yang menyelamatkan kota ini dari bencana?" Hartono terkekeh pelan—sebuah tawa kering yang terdengar sangat merendahkan. "Kalian hanyalah partikel kecil yang buta. Kalian tidak memahami bahwa evolusi manusia berikutnya tidak lagi membutuhkan jasad yang lapuk. Evolusi itu berada di dalam frekuensi ini."
"Kau sudah gila, Hartono!" jerit Maya, melangkah maju satu pukulan dengan kunci pas raksasa terangkat di tangannya. "Kau mengorbankan puluhan orang mati berdarah demi obsesi mistis yang tak masuk akal ini!"
"Gila?" Hartono mengangkat alisnya, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah ribuan rak server di sekelilingnya. "Hendra adalah orang gila karena ia mencoba mengurung roh di dalam sirkuit radio amatir tahun 1998. Tapi aku... aku adalah arsiteknya. Aku membangun jaringan serat optik, mendirikan menara BTS di setiap sudut pulau ini, hanya untuk satu tujuan: menyediakan jalan tol yang sempurna bagi gelombang ini untuk menguasai seluruh benak manusia!"
Faris melangkah maju menyejajarkan posisinya di samping Maya. Tangan kanannya dengan erat mencengkeram tas modul Sigaik Begu. "Saluran ini akan kami tutup malam ini, Hartono. Darah orang-orang yang kau korbankan tidak akan membiarkanmu menang."
Hartono tersenyum sinis, lalu mengetukkan jarinya ke permukaan mikrofon tembaga di tangannya.
Tek... tek... tek...
Suara ketukan kuku itu seketika bergelombang liar di seluruh aula lantai sepuluh.