NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Keadilan yang Dipelintir

Rendra menelan ludah. Wajahnya yang semula merah karena marah kini tampak semakin tegang. Dia tidak menyangka Tantya akan membongkar persoalan uang itu di hadapan Bu Afifah dan Tara. Selama ini, dia pikir istrinya tidak akan pernah mengetahui bahwa uang yang seharusnya diberikan kepada keluarga Tantya ternyata tidak sampai ke tangan mereka secara utuh.

Dia melirik Bu Afifah sekilas, kemudian mengalihkan pandangan kepada Tara. Rasa malu mulai menyelinap di antara amarah yang masih menguasai dirinya. Namun, alih-alih mengakui kesalahannya, Rendra justru merasa tersudut dan berusaha mencari cara untuk membalikkan keadaan.

"Bisa nggak sih kamu jangan mempermalukan aku di depan orang lain?” bentaknya, berusaha menguasai situasi. “Masalah rumah tangga begini nggak perlu dibicarakan di depan Ibu dan Tara!”

Tantya tertawa hambar. Dia menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan sikap suaminya. "Mempermalukan kamu?” ulangnya, menatap Rendra tak percaya. “Aku cuma minta penjelasan tentang uang yang kamu ambil, Mas. Uang lima puluh juta itu uangku. Uang lima juta setiap bulan itu juga uang yang aku berikan untuk keluargaku. Aku percaya sama kamu, makanya aku titipkan semuanya lewat kamu. Tapi ternyata kamu malah membohongiku!”

Rendra mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras mendengar Tantya terus mendesaknya. Dia tahu dirinya salah, tetapi mengakui kesalahan di hadapan ibu mertua dan adik iparnya terasa begitu sulit bagi egonya.

"Sudahlah, Tya! Kamu nggak tahu apa-apa tentang urusanku!” sergahnya, mencoba mengakhiri pembicaraan.

"Kalau memang ada urusan yang membuat kamu menggunakan uang itu, kenapa kamu nggak bilang dari awal?” Tantya membalas dengan suara bergetar. “Kenapa kamu harus berbohong? Kenapa kamu bilang uang renovasi sudah diberikan kepada Ibu, padahal Ibu sendiri yang mengatakan tidak pernah menerimanya?”

Rendra terdiam lagi. Kali ini, dia tidak segera membantah. Tatapannya bergerak gelisah, seolah sedang menimbang jawaban yang paling aman untuk diucapkan.

Di sudut ruangan, Bu Afifah mengamati menantunya dengan wajah kecewa. Dia tidak menyangka persoalan uang yang selama ini tidak diketahuinya ternyata begitu besar. Sementara itu, Tara menatap Rendra dengan sorot mata tajam. Sebagai adik Tantya, dia tentu tidak bisa menerima kenyataan bahwa kakaknya telah diperlakukan seperti itu.

"Mas Rendra, jawab saja pertanyaan Mbak Tya,” ujar Tara akhirnya. Nadanya terdengar tenang, tetapi ketegasan dalam suaranya sulit diabaikan. "Uangnya dipakai untuk apa?”

Rendra menoleh tajam ke arah Tara. Dia tidak suka adik iparnya ikut campur, terlebih ketika dirinya sedang berada dalam posisi terpojok.

"Kamu nggak usah ikut campur urusan rumah tangga kami!” bentaknya.

"Ini bukan sekadar urusan rumah tangga kalau yang dibicarakan uang untuk keluarga kami,” sahut Tara, tak mundur sedikit pun. “Mbak Tya sudah memberikan uang itu dengan kepercayaan penuh. Kalau ternyata uangnya tidak sampai kepada Ibu, wajar kalau kami bertanya.”

Ucapan Tara membuat Rendra semakin gerah. Dia merasa semua orang kini berdiri di pihak Tantya, seolah-olah dirinya adalah satu-satunya orang yang bersalah.

Padahal, tak seorang pun sedang meminta sesuatu yang berlebihan darinya. Mereka hanya menuntut penjelasan atas uang yang telah dipercayakan kepadanya.

Tantya kembali menatap suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi kali ini dia tidak ingin menangis. Dia tidak mau air matanya justru membuat Rendra menganggap dirinya lemah.

"Mas, aku tanya sekali lagi. Uang lima puluh juta itu kamu apakan? Dan ke mana uang empat juta setiap bulan yang seharusnya diberikan kepada keluargaku?”

Rendra mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun menahan emosi. Dia ingin membentak lagi, ingin menyalahkan Tantya karena telah membuka persoalan itu di depan orang lain. Namun, jauh di dalam hatinya, dia tahu bahwa kemarahan tidak akan bisa menghapus kenyataan.

Untuk beberapa saat, dia hanya berdiri membisu.

Dan di hadapan tatapan kecewa Bu Afifah serta Tara, Rendra akhirnya menyadari bahwa persoalan ini tidak lagi bisa diselesaikan hanya dengan menyuruh Tantya diam. Kali ini, dia harus memberikan jawaban. Rendra mengembuskan napas kasar. Dia mengusap wajahnya berkali-kali, sementara matanya bergerak gelisah ke arah Bu Afifah dan Tara. Berada di posisi seperti itu membuatnya merasa terpojok. Dia tahu, cepat atau lambat, dirinya harus memberikan jawaban. Namun, mengakui kesalahan di hadapan keluarga Tantya terasa begitu berat bagi harga dirinya.

"Uang lima puluh juta itu aku pakai untuk menambah kekurangan acara lamaran Sellina besok.” akhirnya Rendra mengaku.

Tantya tertegun. Dia menatap suaminya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Jadi, uang yang dipercayakan kepadanya untuk membantu renovasi rumah ibunya justru digunakan untuk membiayai acara lamaran adik perempuan Rendra?

"Untuk acara lamaran Sellina?” ulang Tantya, memastikan bahwa dia tidak salah dengar.

Rendra mengangguk kecil, kemudian buru-buru memberikan pembelaan sebelum Tantya kembali menyerangnya.

"Iya. Kebutuhan untuk lamaran Sellina banyak. Aku juga bingung harus mencari uang dari mana. Jadi, aku pakai uang itu dulu. Toh, kita juga keluarga. Aku pikir nanti bisa diganti kalau sudah ada uang.”

Tantya tertawa pendek, tetapi sama sekali tidak ada kegembiraan dalam tawanya. "Dipakai dulu?” ulangnya getir. “Kamu menganggap uang lima puluh juta itu uang yang bisa kamu ambil sesuka hati, Mas? Kamu bahkan nggak pernah meminta izin kepadaku!”

Rendra tidak menjawab. Dia justru memalingkan wajah, seolah persoalan itu tidak perlu diperpanjang. "Sudahlah, masalah itu bisa dibicarakan nanti. Sekarang kamu juga sudah tahu uangnya ke mana.”

"Lalu uang bulanan yang seharusnya diberikan kepada keluargaku?” Tantya kembali mendesak. "Kenapa Ibu cuma menerima satu juta setiap bulan, padahal aku memberikan lima juta kepadamu?”

Rendra mendecakkan lidah. Tampaknya, dia mulai kesal karena Tantya terus mengungkit uang yang selama ini dialihkannya. Dengan wajah tanpa rasa bersalah, dia akhirnya menjawab, “Uang itu aku kasihkan kepada ibuku. Memangnya kenapa? Ibuku juga lebih membutuhkan uang itu.”

Tantya terdiam sesaat, mencoba mencerna jawaban suaminya. Akan tetapi, Rendra justru semakin lancar melontarkan pembelaan yang membuat hati istrinya semakin terluka.

"Untuk ibuku, mana cukup uang lima juta sebulan?” katanya dengan nada meremehkan. "Ibuku orang kaya, pengeluarannya banyak. Jangan disamakan dengan ibumu yang masih bisa makan dengan lalapan dan ikan asin. Harusnya kamu mengerti itu, Tya. Adil itu bukan berarti harus sama.”

Kalimat terakhir itu membuat suasana seketika membeku. Bu Afifah menundukkan wajahnya. Bukan karena malu dengan kehidupannya yang sederhana, melainkan karena mendengar bagaimana menantunya merendahkan dirinya demi membenarkan tindakan yang jelas-jelas merugikan keluarga Tantya.

Sementara itu, Tara yang berdiri tidak jauh dari kakaknya tampak mengepalkan tangan. Wajahnya menegang, tetapi dia masih berusaha menahan diri. Bagaimanapun, dia tidak ingin memperkeruh suasana sebelum Tantya selesai berbicara.

Tantya sendiri merasakan dadanya sesak. Bukan semata-mata karena uang yang telah disalahgunakan, melainkan karena cara Rendra memandang keluarganya. Seolah-olah ibunya yang hidup sederhana tidak pantas mendapatkan bantuan yang sama hanya karena tidak terbiasa hidup mewah.

Perlahan, Tantya mengangkat wajahnya. Matanya menatap Rendra dengan kekecewaan yang begitu dalam. "Kalau Mas tahu ibumu punya banyak pengeluaran, kenapa nggak dari uang Mas sendiri?” tanyanya. Suaranya terdengar tenang, tetapi setiap katanya mengandung ketegasan. "Kenapa harus membebankan kebutuhan ibumu kepadaku? Kenapa uang yang sudah aku alokasikan untuk keluargaku justru kamu ambil dan berikan kepada keluargamu sendiri?”

Rendra hendak menyela, tetapi Tantya segera melanjutkan. "Dan satu hal lagi yang harus Mas ingat. Uang itu bukan sekadar uang untuk membantu keluargaku. Uang yang aku berikan setiap bulan itu adalah uang untuk Tara. Aku membantunya karena dia adikku, aku bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya, aku sebagai walinya, bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya."

Tara menoleh kepada kakaknya. Dia bangga, ternyata kakaknya sangat bertanggung jawab.

Tantya menarik napas panjang. Air matanya mulai menggenang, tetapi dia tetap berusaha berbicara dengan jelas.

"Jadi, selama ini kamu dan ibumu telah mengambil hak anak yatim, Mas.” tegasnya. “Kamu mengambil uang yang seharusnya menjadi hak Tara, lalu memberikannya kepada ibumu tanpa izin dariku. Kamu tahu itu bukan hakmu, tetapi kamu tetap melakukannya.”

Rendra terdiam. Wajahnya kembali menegang, kali ini bukan hanya karena kemarahan, melainkan juga karena tuduhan Tantya telah menyentuh persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar perbedaan perlakuan terhadap kedua keluarga.

"Jangan sembarangan menuduh aku!” bentaknya, berusaha mempertahankan diri.

"Aku nggak sembarangan menuduh, Mas. Kamu sendiri yang baru saja mengaku!” balas Tantya. "Kamu mengakui uang lima puluh juta itu kamu pakai untuk lamaran Sellina. Kamu juga mengakui uang empat juta setiap bulan kamu alihkan kepada ibumu. Jadi, bagian mana yang aku tuduhkan tanpa bukti?”

Rendra membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang segera keluar.

Bu Afifah akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya tertuju kepada Rendra, menantunya sendiri, dengan sorot mata yang sulit diartikan. Dia tidak pernah meminta Tantya mengorbankan hak siapa pun demi dirinya. Bahkan, dia tidak tahu bahwa uang yang seharusnya diberikan kepada keluarganya ternyata telah dialihkan.

Di sampingnya, Tara menatap Rendra dengan wajah kecewa. Sementara Tantya berdiri tegak, berusaha menahan luka yang semakin dalam. Kini, persoalannya bukan lagi tentang siapa yang lebih membutuhkan uang atau keluarga mana yang harus didahulukan. Persoalannya adalah kepercayaan yang telah dikhianati, hak yang telah dialihkan tanpa izin, dan seorang suami yang justru merasa dirinya paling benar setelah melakukan semuanya.

Kini, Tantya merasa bahwa yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan uang itu, melainkan menyadari bahwa orang yang selama ini dipercayainya ternyata sanggup melakukan semua itu tanpa merasa bersalah.

1
Heny
What lagi asyik baca thor.. Lanjut
Heny
Jng mau di bujuk di rayu tya jng banyak mengalah
Heny
Gercap tya jng tunggu lama2 amankan aset ygkm punya
Heny
Sudah lah tya lbh baik pisah dr pada dimanfaatkan
Heny
Duh tantya besok2 klau diajak jng mau lbh baik jln sendiri
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!