Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Al uring-uringan malam itu. Nggak keluar kamar. Bahkan saat Jonas dan Arza bikin suara heboh di dapur Al tak peduli. Aroma mi instan juga tak membuat Al keluar dari kamarnya.
"Kalian lihat nggak tadi muka Al waktu pulang?" tanya Bima. Keduanya mengangkat wajah dari mangkuk. Mengangguk.
"Kenapa dia?"
Keduanya bertukar pandang lalu mengangkat bahu.
"Tapi kan bang, kami ada sedikit info. Pemilik gelang ungu itu cewek. Kuliah di sini juga. Tapi belum tau orangnya yang mana,"
"gimana kalian bisa tau?" Bima tertarik.
"gampang bang, logika aja. Nggak ada cowok pake gelang ungu gitu!" keduanya ngakak bersamaan. Bima nyesel nanya-nanya.
Al masih menyumpal telinganya dengan earphone. Tiga orang di luar kamarnya nggak pernah diam. Al menatap ponselnya, mau chat duluan tapi gengsi.
Sebelum Al mengirim pesan, Rin sudah lebih dulu ngirim pesan.
Foto Al tidur mangap di bukit tadi sore, bibirnya kebuka dikit. Di bawahnya ada chat:
Tadi ada yang ngorok di bukit . Makasih Matcha-nya :)
Al ngeliatin foto itu. Malu banget. Balon yang memenuhi dadanya sore tadi kempes gara-gara temen Rin sekarang mulai terisi kembali. Itu artinya Rin mengingatnya. Al tersenyum dan keluar kamar. Merebut mi instan Jonas dan Arza.
"Bang....!" protes keduanya.
"Kenapa?" tatapan matanya tajam, Jonas dan Arza nggak jadi protes. Duduk merhatiin Al yang makan mi instan tapi sudut bibirnya naik sedikit. Sedikit kali. Al tersenyum!
"Cerita! Siapa dia?" kini Bima bergabung di meja makan. Jonas dan Arza menunggu tak sabar.
"Siapa?" tanya Al. Menyeka mulutnya. Mi instan sudah habis, tinggal tatapan sedih Jonas dan Arza ke mangkuk yang ada di hadapan Al.
"Si gelang ungu," ucap Bima.
"Oh dia... Namanya Rin," saat Al menyebut namanya. Kedua mata Jonas dan Arza berbinar.
"Dia cucunya Roemah Roti yang sering aku beli. Dan dia juga yang bikin cookies. Kenapa?" tanya Al.
"Gimana hubungan kalian?" tanya Jonas.
"Teman," jawab Al singkat, meraih mangkuk dan mencuci mangkuknya. MENCUCI mangkuknya. Hal yang langka. Biasanya boro-boro mau dicuci, mangkuk abis makan bisa digeletakin gitu aja.
"Progress bang," bisik Jonas ke Bima melihat Al yang mencuci mangkuknya.
"Ohhh teman ya, boleh dong kenalin ke kita," ucap Arza. Al berbalik. Matanya dingin kembali.
"Gue merinding jirrrr!" Arza mengusap lengannya.
"Belajar yang bener! Baru mikirin cewek!" ucap Al dan dia masuk ke kamar. Lupa menutup pintu.
Dari luar keliatan Al mengusap ponselnya lagi sambil tersenyum. Terus berbalas chat dengan Rin. Senyumnya tak lepas. Jonas dan Arza takjub melihatnya.
"Ayo, bantu beresin dapur! Kalian masak kayak mau ngehancurin rumah!" Bima menarik Jonas dan Arza dari depan pintu kamar Al.
Rin dan Al berbalas chat. Rin masih meminta Al untuk mengantarnya besok bertemu ketua band yang dimaksud.
Al : band apa?
Rin : Tomorrow Today. Aneh banget namanya! Mau besok apa sekarang? Hihihi
Al manyun baca balasan chat dari Rin. Itu idenya. Tomorrow Today adalah band-nya. Al udah muter otak buat namain band itu, meski kadang ada aja pertanyaan nyasar nanya arti dari nama band-nya.
Al : Ohhh... Band itu keren! Mau diantar kemana itu?
Rin mengirimkan foto berisi alamat kantor Al. Al tertawa. Kali ini tertawa. Sampai-sampai Jonas dan Arza kembali berdiri di depan pintu kamar Al.
"Sana! Ganggu aja!" Klik. Al menutup pintu kamar dan menguncinya.
Al mau menjahili Rin. Sepertinya Rin belum tahu kalau itu adalah band yang didirikan oleh Al.
Al : Kesana aja besok, nggak jauh dari tempat kita beli box cookies kemarin
Al membalas pesan Rin. Tak lama Rin mengirim emoticon Oke. Dia tak lagi meminta Al mengantar. Al sengaja nggak mau ngantar Rin, dia bakal ngasih kejutan di kantornya.
Besoknya Rin pergi dibonceng dengan teman cowoknya sesama panitia. Sesampainya di kantor yang dimaksud, Rin takjub dengan aneka alat musik yang ada di sana. Pantesan aja band ini terkenal (katanya, tapi Rin malah nggak kenal), mereka juga menyediakan alat musik untuk di jual atau di sewa. Ada juga beberapa ruangan untuk penyewaan latihan.
Rin bersama Tyo masuk dan bertemu dengan karyawan di sana. Rin menyampaikan maksud dan tujuannya. Sementara itu si karyawan masuk ke kantor yang berada di lantai atas.
Rin memperhatikan sekeliling. Alat musiknya lengkap banget, ada banyak gitar-gitar di gantung. Piano dan alat drum dipajang. Ada poster besar dengan tulisan TOMORROW TODAY-Live at Campus Fest. "Gila! Band ini keren abis! Drummernya katanya galak!" bisik Tyo.
Rin mengangguk-anggukkan kepalanya, tetap nggak kenal.
Karyawan tadi kembali turun.
"Kalian sudah ditunggu di atas, silakan!" dia mengajak Rin dan Tyo ke atas. Rin agak takut juga kalau bener Drummer-nya galak gimana? Rin mengulang kalimat agar tak grogi saat masuk ke ruangan band yang katanya terkenal itu. Dia juga berdoa supaya si Drummer itu nggak ada di dalam. Rin hanya mau ketemu leader-nya.
Di lantai atas suasana hening. Ruangannya bersih dengan dominasi warna putih. Banyak lukisan musisi dunia di sepanjang koridor. Rin kenal sebagian.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu dengan tulisan T & T. Karyawan itu mengetuk dua kali lalu membuka pintu. Mempersilahkan Rin dan Tyo masuk. Ruangan itu harum, maskulin. Didominasi warna putih dengan hiasan hitam putih. Ada sofa penerima tamu warna putih gading. Tak jauh dari sofa ada meja dengan tulisan T & T dan sebuah kursi putar yang membelakangi mereka.
Rin mengira ruangan itu kosong.
"Permisi kak, kami dari panitia kampus..."
Kursi berbalik dan seseorang dengan kemeja hitam duduk disana menyilangkan tangan menatap Rin dan Tyo dengan mata tajamnya.
Mulut Rin terbuka kaget sementara Tyo menunduk.
"Mampus! Itu Drummernya!" bisik Tyo.
"Haa? Ap... Apa?" bisik Rin, tak percaya. Rin tak bisa berkata-kata. Rasanya Rin mau menghilang aja dari tempat itu. Tyo sama sekali nggak membantu. Keduanya seperti tikus terjepit di pojokan hanya tinggal tunggu di mangsa kucing dengan kuku tajamnya.
"Rin! undangannya! Ngomong!" Tyo menggoyangkan lengan Rin. Rin yang segera sadar buru-buru membuka tasnya dan mencari undangan yang sudah mereka cetak. Tangan Rin gemetar memegang undangan itu. Mau melangkah maju rasanya berat.
"Lu deh yang ngasih!" Rin menyerahkan undangan itu ke tangan Tyo.
"Kok gueeee... Ini tugas elu! Gue cuma nganter!" Tyo menyerahkan undangan ke tangan Rin lagi.
"Ehemmm..." suara berdehem menghentikan debat mereka berdua. Rin meringis.
"Duduk!"
Keduanya ragu-ragu maju dan duduk di hadapan drummer-nya Tomorrow Today. Rin masih menunduk begitu juga Tyo.
Si drummer menyilangkan tangan di meja menatap Rin tajam.
Duh...!
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok