NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12: Cemas Sepanjang Sore

Langit Jakarta di balik jendela ruang tengah perlahan berganti warna. Merah jingga yang semarak memudar menjadi abu-abu keunguan, menandakan sang surya mulai tenggelam di ufuk barat.

Angin sore berhembus sedikit lebih kencang, hingga menggoyangkan dahan-dahan pohon mahoni di pekarangan rumah megah milik Yoga.

Di dalam rumah, suasana terasa makin hening dan mencekam.

Ayu berdiri di dekat pintu kaca yang menghadap ke halaman depan. Tangannya menggenggam erat ponsel pintar miliknya, dan memperhatikan layar yang terus menampilkan angka jam yang makin merambat naik: 17.15 WIB.

Perasaan tidak tenang merayapi ulu hatinya sejak dua jam lalu. Biasanya, Lea sudah tiba di rumah paling lambat pukul empat sore setelah kegiatan sekolah selesai. Namun, hingga sore sesunyi ini, tanda-tanda keberadaan gadis remaja berusia empat belas tahun itu belum juga terlihat.

Mobil jemputan Pak Maman, sopir pribadi keluarga, bahkan sudah terparkir di garasi sejak siang tanpa membawa Lea, sebab kata Pak Maman tadi, Lea sudah tidak ada di sekolah saat jam pulang.

"Apa Lea ada les tambahan? Atau kerja kelompok? Atau..." batin Ayu bertanya-tanya, kepalanya penuh oleh berbagai prasangka yang membuat dadanya sesak.

Ayu menggigit bibir bawahnya dengan pelan. Rasa khawatir yang meluap mengalahkan rasa ragu dan canggung yang selama ini menyergapnya. Dengan memberanikan diri, Ayu melangkah menaiki tangga melingkar menuju lantai dua.

Langkah kakinya yang dilapisi kaus kaki tebal bergerak cepat menelusuri koridor. Ia melewati kamar Moana yang pintunya sedikit renggang, gadis kecil itu sedang tertidur lelap setelah capek bermain mewarnai bersama Bibi Minah.

Ayu pun terus berjalan hingga berhenti tepat di depan kamar anak sulung Yoga, yakni Kenzo.

Ayu menarik napas panjang, dan menetralkan detak jantungnya yang berdebar kencang, lalu mengetuk pintu kayu tebal itu secara perlahan.

Tok... tok... tok.

"Kenzo... Ini Ibu," panggil Ayu dengan nada suara selembut mungkin, dan menahan rasa canggung yang membuncah. "Maaf mengganggu... Ibu mau tanya, apa Kenzo tahu Lea ke mana? Ini sudah hampir magrib tapi Lea belum pulang juga..."

Hening. Tidak ada sahutan dari dalam kamar.

Namun Ayu tidak menyerah. Ia kembali mengetuk pintu itu dengan lebih keras sedikit. "Kenzo... Ibu khawatir sekali. Tadi kata Pak Maman, Lea sudah izin pulang duluan dari sekolah sejak jam istirahat. Apa Lea ada mengabari kamu?"

Di balik pintu tebal itu, terdengar langkah kaki malas mendekat. Ceklek. Pintu terbuka sedikit, dan memperlihatkan sosok Kenzo yang berdiri di ambang pintu.

Remaja enam belas tahun itu masih mengenakan kaos polos dan celana santainya, dengan salah satu earphone nirkabel menyangkut di telinganya.

Kenzo menatap Ayu dari atas ke bawah dengan tatapan yang sangat datar, dingin, dan tanpa ekspresi sedikit pun. Sikap acuh tak acuhnya terpancar begitu pekat, seolah-olah wanita muda di hadapannya ini tidak lebih dari sebuah bayangan yang mengganggu ketenangannya.

"Kenzo... tahu Lea ada di mana?" ulang Ayu, matanya menatap Kenzo dengan pendar permohonan dan rasa cemas.

Kenzo menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu bersandar pada bingkai pintu. "Gak tahu," jawab Kenzo singkat, datar, tanpa nada peduli.

"Tapi... apa dia gak ada kirim pesan atau menelepon kamu? Biasanya kalau jam segini belum pulang, dia ke mana, Kenzo?" desak Ayu ragu-ragu.

Kenzo terkekeh pelan, sebuah tawa meremehkan yang amat dingin. "Tante gak usah sok panik gitu. Lea itu udah gede. Paling juga nongkrong sama temen-temen sekolahnya di kafe. Gak usah lebay."

"Ibu bukan lebay, Kenzo. Ini sudah mau magrib dan nomor telepon Lea tidak aktif saat Ibu hubungi," tutur Ayu mencoba meluruskan dengan suara yang tertahan. "Ibu cuma khawatir kalau terjadi sesuatu pada adikmu..."

"Gak usah sok jadi ibu perhatian," potong Kenzo sinis. "Lea itu bisa jaga diri sendiri. Dan kalaupun dia kenapa-napa, itu bukan urusan Tante."

Kata-kata tajam itu kembali menghantam dada Ayu. Namun, sebelum Ayu sempat membalas atau mencerna penolakan dingin itu lebih jauh, tiba-tiba ponsel di saku celana Kenzo bergetar kencang, lalu mengeluarkan nada dering panggilan masuk.

Kenzo merogoh saku celananya, dan menatap layar ponselnya sekilas. Seketika itu juga, raut wajah Kenzo yang tadinya datar dan acuh berubah drastis. Matanya membulat, alisnya menajam, dan ada guratan panik yang mendadak muncul di keningnya.

Tanpa mengucap sepatah kata pun pada Ayu, Kenzo langsung menggeser tombol hijau pada layarnya, menempelkan ponsel ke telinga, lalu berbalik terburu-buru ke dalam kamar.

"Halo! Milla?! Lu bilang apa?! Lea gak ada di kelas dari jam istirahat?!" suara Kenzo mendadak meninggi,m dan merasa panik. "Trus dia pergi ke mana?! Lu temennya kenapa gak tau?!"

Ayu yang berdiri di luar pintu terpaku mendengarkan bentakan Kenzo dari dalam kamar. Hatinya kian mencelos. Tebakannya benar: Lea memang sedang dalam masalah atau sedang pergi ke tempat yang tidak biasa.

Hanya dalam hitungan detik, Kenzo kembali keluar dari kamarnya dengan gerakan yang sangat tergesa-gesa. Ia sudah menyambar jaket hoodie hitamnya, mencangklong tas ransel kecil, dan jemarinya menggenggam erat sebuah kunci motor yang terikat gantungan kunci besi.

Kenzo berjalan cepat menerobos koridor, melewati Ayu begitu saja tanpa memandang atau memedulikannya.

"Kenzo! Mau ke mana?!" seru Ayu panik, seraya berbalik menyeimbangi langkah kaki panjang anak sulung suaminya itu. "Ada apa dengan Lea? Kenzo, jawab Ibu!"

Tapi Kenzo tidak menjawab sama sekali. Langkah kakinya menuruni tangga dengan dua anak tangga sekaligus. Sedangkan Ayu setengah berlari menyusul dari belakang, napasnya mulai tersengal-sengal oleh rasa cemas yang semakin besar.

Begitu sampai di lantai bawah, Kenzo langsung menerobos keluar pintu utama, berlari melintasi teras menuju garasi samping tempat motor matic bongsor miliknya terparkir.

"Kenzo! Tunggu dulu! Jangan pergi sendirian kalau tidak jelas kemananya! Kita telepon Papa kamu dulu!" teriak Ayu dari ambang teras.

Namun Kenzo mengabaikan seruan itu sepenuhnya. Ia menyambar helm, memakainya dengan kasar, lalu menaiki motornya. Jemarinya memutar kunci kontak dan menekan tombol starter.

BROOMM!

Suara derum mesin motor yang keras menggema di area halaman rumah yang tenang. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ayu yang berdiri cemas di teras, Kenzo menarik gas dalam-dalam.

Motor hitam itu melaju kencang menerobos gerbang besi yang terbuka, dan menghilang di balik belokan jalan perumahan dalam sekejap mata.

Ayu berdiri terpaku di teras rumah yang makin temaram dilingkupi warna remang senja. Bau asap tipis dari knalpot motor Kenzo masih menyengat pelan di udara.

Jantung Ayu berdegup kencang tak beraturan. Tangan kirinya yang masih terbalut kassa tipis refleks meremas dada, sembari menahan rasa sesak yang merayap naik ke tenggorokan.

"Ya Allah... Ada apa ini sebenarnya?" gumam Ayu lirih pada dirinya sendiri. "Apa aku... apa aku terlalu mencemaskan mereka? Atau memang ada hal buruk yang terjadi?"

Langkah kaki terburu-buru dari dalam rumah membuyarkan lamunan Ayu. Bibi Minah keluar membawa serbet dapur di tangannya, wajah paruh bayanya diliputi kebingungan dan raut khawatir setelah mendengar derum keras motor Kenzo tadi.

"Ya Allah, Bu Ayu! Itu tadi Den Kenzo yang naik motor ngebut banget?" tanya Bibi Minah cemas, sambil menatap ke arah gerbang yang kosong.

Ayu menoleh, dan mengangguk pelan dengan wajah yang memucat. "Iya, Bi... Kenzo pergi terburu-buru sekali."

Ayu melangkah mendekati Bibi Minah, dan mencoba menguasai suaranya yang gemetar. "Bibi... Saya mau tanya. Apa Lea memang pernah atau sering pulang terlambat seperti ini sebelumnya?"

Bibi Minah menggelengkan kepalanya cepat-cepat dengan raut wajah yang kian panik. "Aduh, tidak pernah, Bu Ayu! Jarang sekali Non Lea pulang terlambat begini. Kalapun pernah ada kegiatan sekolah atau kerja kelompok yang bikin dia telat, pasti Non Lea selalu telepon atau setidaknya WhatsApp Bibi atau Pak Yoga. Ini... dari siang tidak ada kabar sama sekali!"

Perkataan Bibi Minah makin membuat ulu hati Ayu mencelos. "Lalu... kalau Kenzo, Bi? Kenzo tadi tiba-tiba pergi naik motor. Apa dia biasa naik motor kalau sore-sore begini?"

"Wah, makin aneh itu, Bu!" sahut Bibi Minah seraya menutup mulutnya dengan tangan. "Den Kenzo itu sebenarnya jarang sekali mau naik motor. Kalau sekolah saja dia selalu minta diantar Pak Maman atau naik kendaraan umum. Dia baru mau pakai motor kalau ada hal yang benar-benar kepepet atau penting sekali! Makanya Bibi jadi ikut merinding begini..."

Ayu menelan ludahnya yang terasa sangat pahit. Kekhawatirannya kini bukan lagi sekadar prasangka berlebihan seorang ibu tiri. Lea menghilang sejak jam istirahat sekolah tanpa mengabari siapa pun, dan Kenzo pergi terburu-buru naik motor setelah menerima telepon misterius yang menyebut nama Lea.

"Astaghfirullahhaladziim..."

Ayu merogoh ponselnya dari saku gamis. Layar ponsel menunjukkan pukul 17.35 WIB. Waktu Magrib tinggal menghitung menit, dan suasana luar rumah makin gelap dipeluk malam.

Ayu tidak bisa tinggal diam dan hanya menunggu di rumah sementara dua anak tirinya dalam bahaya atau kesulitan di luar sana. Tanpa ragu lagi, Ayu menyentuh daftar kontak di layarnya, dan menekan nama yang paling ia andalkan saat ini.

Panggilan pun tersambung. Suara berat dan ramah dari sang suami terdengar di seberang telepon.

"Halo, Ayu? Ada apa, Sayang? Aku ini sedang dalam perjalanan pulang, sebentar lagi sampai..."

Ayu menarik napas panjang, dan berusaha menjaga agar suaranya tidak pecah oleh tangisan cemas. "Mas... Tolong cepat pulang, Mas. Ada hal buruk terjadi. Lea belum pulang dari siang, dan Kenzo baru saja pergi naik motor terburu-buru mencari adiknya..."

Di seberang sana, keheningan mendadak menyergap sebelum suara Yoga berubah menjadi sangat panik dan tegang. "Apa?! Lea belum pulang?!"

"Iya, Mas... Tolong cepat pulang, Mas..." bisik Ayu dengan air mata yang akhirnya menetes pelan membasahi pipinya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!