Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Duka
Pagi-pagi sekali, Pradipta menghubungi orang tua Indri dan mengabarkan anaknya sudah ditemukan. Pradipta meminta mereka datang ke Bandung untuk menjemput Indri. Selain itu, dia juga hendak mengabarkan kondisi Arga.
Pradipta tidak mau mengambil risiko menyampaikan berita buruk itu kepada Indri tanpa didampingi orang tuanya.
Pria itu takut Indri melakukan hal berbahaya setelah mendengar kematian Arga. Karena itu, dia memanggil Danu dan Weni.
“Kalian belum mendapat kabar soal Arga?” tanya Indri sambil mendekati Pradipta dan Gilang yang sedang menikmati sarapan. “Kalian cepat banget nemuin aku. Masa nggak bisa nemuin Arga, sih?”
Gilang melirik Arga yang berdiri di samping Indri. Pria itu tetap memilih menutup mulutnya atas perintah Pradipta.
Alasan yang dikatakan Pradipta masuk akal. Jika Indri sampai tantrum setelah mendengar kematian Arga, pasti mereka juga yang dibuat repot.
“Kalian kenapa diam aja, sih? Sebenarnya kalian bisa nemuin Arga nggak, sih? Kalau nggak bisa, biar aku minta orang lain aja,” ancam Indri.
Ancaman Indri sama sekali tdak digubris Pradipta. Pria itu tetap menutup mulutnya.
“Mending kamu makan dulu, deh. Ngoceh, kan, butuh tenaga,” ujar Gilang sambil menyodorkan piring berisi kupat tahu kepada Indri.
“Gilang benar, In. Lebih baik kamu makan. Jangan sampai kamu sakit. Aku nggak suka lihat kamu sakit,” ujar Arga, yang tentu saja tidak bisa didengar oleh Indri.
Dengan enggan, Indri menarik kursi makan lalu duduk di sana. Dia mulai menikmati sarapan yang sudah disiapkan Gilang. Melihat kupat tahu,
Indri jadi teringat kepada Arga. Setiap kali dia ke Bandung, kekasihnya itu sering membawanya makan kupat tahu. Itu adalah salah satu makanan favorit Arga.
Mata Indri berkaca-kaca saat menyuapkan kupat tahu ke mulutnya. Tanpa dapat ditahan, buliran bening keluar dari kedua matanya. Sambil mengusap air matanya, Indri memakan sarapannya.
Arga pun tidak bisa menahan kesedihan melihat keadaan kekasihnya. Niatnya ingin membangun rumah tangga bersama wanita itu.
Arga bahkan sudak menabung dan bersiap membeli rumah kecil untuk mereka tinggali setelah menikah. Namun, apa daya, takdir berkata lain.
Melihat Indri yang begitu bersedih, Gilang tak tega juga. Dia berinisiatif menuangkan jus jeruk ke gelas lalu memberikan kepada Indri.
“Makasih,” jawab Indri pelan sambil menarik cairan di hidungnya. Gilang menyodorkan tisu kepadanya.
“Aku tahu kalau kamu mau menemukan Arga secepatnya. Kita juga masih menyelidiki. Ada beberapa hal yang harus kita pastikan dulu. Aku harap kamu sabar.”
“Apa Arga masih hidup?” tanya Indri tiba-tiba.
Melihat kinerja orang-orang di PRADA TRACE, Indri tahu kalau mereka cukup andal di bidang yang mereka geluti.
Bahkan, mereka bisa menemukan dirinya dalam waktu cepat. Namun, mengapa begitu sulit menemukan Arga?
Hanya satu penjelasan yang masuk akal bagi Indri perihal kesulitan yang dihadapi Pradipta dan Gilang. Arga sudah meninggal dunia dan jasadnya entah berada di mana.
“Apa pun yang terjadi pada Arga, kamu harus tetap sehat dan kuat. Kalau Arga tahu kamu kayak gini, dia pasti sedih. Aku yakin, pasti Arga maunya kamu itu sehat, ceria, dan semangat menjalani hidup.”
Air mata Indri semakin bercucuran setelah mendengar ucapan Gilang. Sambil mengusap air matanya, wanita itu menghabiskan sarapannya.
Arga menaruh tangannya di puncak kepala Indri, lalu membelainya. Tentu saja, tangannya tidak bisa menyentuh tubuh kekasihnya.
Tiga jam kemudian, Danu dan Weni tiba di tempat Pradipta berada. Pria itu segera mengajak mereka ke bus. Ada hal penting yang ingin dibicarakannya. Dia juga meminta Gilang memanggil Indri.
Giana yang sudah berada di dalam bus diminta Pradipta tetap tinggal. Gadis itu adalah bagian dari PRADA TRACE dan berhak tahu juga kebenaran dari kasus yang mereka tangani.
Tak lama berselang, Gilang datang bersama Indri. Wanita itu terkejut melihat kedatangan kedua orang tuanya. Seketika emosinya meledak.
“Kenapa kalian memanggil mereka? Apa maksud kalian?!” bentak Indri.
“Indri, ini Mama, Nak. Apa kamu baik-baik aja?” tanya Weni sambil mendekat, tetapi Indri langsung beringsut mundur.
“Tolong kamu duduk dulu. Ada hal penting yang mau kubicarakan,” ujar Pradipta.
“Kalian aja yang bicara,” jawab Indri sambil berbalik. Dia hendak keluar dari bus.
“Ini berkaitan dengan Arga.”
Langkah Indri terhenti begitu mendengar nama Arga. Indri berbalik dan memilih duduk di dekat Gilang.
“Arga, kalian sudah menemukannya? Di mana dia?” tanya Indri.
“Iya, kami memang sudah menemukannya. Terakhir, dia terlihat di daerah Padalarang, dekat Kota Baru Parahyangan.”
Pradipta memperlihatkan rekaman CCTV saat Arga menolong Lisa yang hendak dibawa paksa oleh Bimo. Indri tampak terkejut.
Dia lebih mendekat ke layar putih yang terpasang di dinding bus untuk memastikan apakah pria itu benar-benar Arga.
“Arga,” gumam Indri pelan.
“Lihat itu, dia malah bersama perempuan lain saat kamu kabur dari rumah dan mencarinya!” seru Danu.
“Arga itu laki-laki setia!” teriak Indri membela kekasihnya.
“Maaf… tolong jangan dipotong dulu. Apa yang mau sampaikan belum selesai. Tolong dengarkan apa yang saya katakan sampai selesai.”
Pradipta langsung menyela perdebatan Indri dan ayahnya. Kedua orang itu akhirnya diam. Pria itu pun melanjutkan perkataannya.
“Aku dan Gilang menelusuri jejak Arga sampai akhirnya kami tahu apa yang terjadi di sana. Kejadian yang terlihat di rekaman tidak seperti yang Bapak duga.
Arga sedang melintas di jalan itu saat dia melihat seorang perempuan ditarik paksa oleh laki-laki ini. Lisa nama perempuan itu, dan dia nggak punya hubungan apa-apa dengan Arga.”
Danu mendeham pelan. Pria itu memalingkan pandangannya ke arah lain. Dari sikap dan mimik wajahnya, masih terlihat jelas bahwa Danu tetap tidak menyukai Arga yang sudah membuat putrinya tergila-gila.
“Melihat ada yang tidak beres, Arga pun memutuskan menolong perempuan itu. Hal itu memicu emosi laki-laki yang menarik tangan Lisa.
Laki-laki kasar itu bernama Bimo. Dia nggak terima dengan Arga yang ikut campur dan mau menghajarnya. Tapi, karena ada patroli polisi, Bimo mengurungkan niatnya.”
Mendengar penjelasan tentang Bimo, perasaan Indri langsung tidak enak. Dia takut sesuatu terjadi kepada Arga.
“Setelah mengantarkan Lisa ke rumahnya, Arga melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah menemui Indri di rumahnya.
Tapi, di tengah perjalanan, tepatnya di kawasan hutan pinus Desa Tenjolaut, motornya ditabrak mobil Bimo. Arga pingsan dan dibawa ke vila milik ayah Bimo.”
“Jadi, Arga ada di vila itu? Apa dia diculik Bimo? Apa dia baik-baik aja?” tanya Indri yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Giana segera menenangkan Indri. Beberapa hari ini, hubungan keduanya semakin dekat. Indri kerap menceritakan sosok Arga kepadanya.
Arga yang dewasa dan selalu bersikap lembut kepada Indri membuat wanita itu begitu mencintainya.
Perlahan Arga bisa mengubah sikap kekanak-kanakan Indri dan membuat wanita itu menjadi sosok yang mandiri.
“Arga dibawa ke vila. Bimo melampiaskan emosinya kepada Arga karena sudah ikut campur dalam urusannya tadi. Dia dan teman-temannya memukuli Arga sampai akhirnya dia meninggal.”
“NGGAK! ITU BOHONG, KAN? ARGA PASTI MASIH HIDUP. KAMU BOHONG, KAN?!” teriak Indri histeris.
Meski dugaan Arga sudah meninggal sempat terbersit di benaknya, tetap saja Indri tidak bisa menerimanya. Dia masih berharap kekasihnya itu masih hidup dan bisa bertemu dengannya.
“Semalam, polisi sudah menemukan jasadnya di vila. Dia disimpan di freezer yang ada di vila itu,” lanjut Pradipta.
Gilang segera menunjukkan foto jasad Arga setelah dikeluarkan dari freezer.
Tangis Indri pecah melihat foto tersebut. Dia terus menjerit, memanggil nama Arga. Saking kerasnya suara Indri, para karyawan Arkana Technology sampai keluar dari kantor.
“ARGA!! ARGAAAA!!!!” teriak Indri sambil menangis tersedu.
Weni mendekat untuk menenangkan anaknya, tetapi tangannya ditepis oleh Indri.
“ARGAAAAA!!!” panggil Indri lagi.
“Istighfar Indri. Istighfar,” ujar Weni. Wanita itu berusaha memeluk anaknya, tetapi Indri terus berontak hingga akhirnya tubuhnya terkulai.
“Indri!” panggil Weni begitu sang anak kehilangan kesadaran.
***
Hmmm...
semoga neng Giana baik baik aja 🙏