Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: TERTANGKAP BASAH OLEH ARSEN BRAK!
Pintu jati berdebu itu terdorong membentur dinding dengan dentuman hebat, menghempaskan gelombang debu tua ke udara. Clara tersentak, refleks menyembunyikan berkas rahasia dan kotak kayu ibunya di balik lipatan gaunnya yang gembung.
Arsen berdiri di ambang pintu.
Napas Tuan Muda itu memburu, jas hitamnya sedikit kusut di bagian bahu seolah ia baru saja berlari kencang dari lantai dasar. Wajahnya pucat pasi, namun sepasang matanya menyala oleh aura amarah, kecemasan, dan kegilaan yang membakar habis sisa-sisa kesabarannya.
"Clara..." suara Arsen bergetar rendah, sangat pelan, namun bergetar seperti lahar panas yang siap meledak.
Langkah kaki Arsen berderap maju. Sepatu kulitnya menghantam lantai kayu yang berderik. Setiap jengkal jarak yang ia potong menyebarkan hawa intimidasi yang sanggup melumpuhkan paru-paru Clara.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" bentak Arsen menggelegar, suara bass-nya memantul keras di dinding-dinding kamar tua itu hingga membuat cermin retak di sudut ruangan bergetar.
Clara melangkah mundur hingga betisnya menabrak pinggiran tempat tidur tua yang berdebu. Bibirnya gemetar hebat, matanya yang basah oleh air mata menatap Arsen dengan tatapan yang kini tak lagi sama—tatapan yang dipenuhi kengerian atas kebenaran ikatan darah di antara mereka.
"Aku tanya, APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI, CLARA?!" Arsen menyambar kedua bahu Clara secara kasar, menarik tubuh kecil itu hingga berada tepat di dalam jangkauan tatapannya. Matanya yang merah menatap lurus ke dalam manik mata Clara yang membelalak. "Aku sudah melarangmu! Aku sudah membuang kuncinya! Kenapa kau selalu melanggar batasan paling terlarang di rumah ini?!"
"Karena aku bukan barang milikmu, Arsen!" jerit Clara meluapkan penderitaannya, air matanya membanjiri pipinya yang pucat. "Aku punya hak untuk tahu siapa diriku! Aku punya hak untuk tahu penderitaan Ibuku!"
"Gadis bodoh!" Arsen mengepalkan tangannya di udara, matanya berkilat liar oleh amarah dan frustrasi mendalam. "Kau tidak tahu apa-apa! Kamar ini adalah racun! Masa lalu wanita itu adalah dosa yang seharusnya terkubur selamanya! Kenapa kau harus menggalinya?! Kenapa kau tidak mau tetap berada di dalam sangkar yang kubuatkan untukmu?!"
"Sangkar?" Clara tertawa lirih di tengah tangisnya—sebuah tawa getir yang terasa begitu menyayat hati. Ia mengangkat tangannya yang bergetar, menunjukkan berkas catatan medis tua dan surat tulisan tangan Ratna yang sudah kusam ke depan wajah Arsen.
"Kau mengurungku bukan cuma karena utang 50 juta itu, kan?" bisik Clara dengan suara yang pecah. "Kau tahu segalanya sejak awal, Arsen... Kau tahu siapa aku... Kau tahu alasan kenapa Baskara ingin membunuhku belasan tahun lalu!"
Mata Arsen membelalak tajam saat pandangannya jatuh pada lembaran kertas di tangan Clara. Pendar dominasi di wajah Tuan Muda itu seketika runtuh, berganti dengan kilatan ketakutan tak kasat mata yang teramat sangat.
Napas Arsen tercekat. Rahangnya bertaut begitu rapat hingga otot-otot lehernya menegang keras.
"Kau... kau sudah membacanya?" bisik Arsen serak. Suaranya mendadak kehilangan kekuatan, berubah menjadi bisikan hampa yang dingin.
"Ibu melarikan diri demi menyelamatkan aku dari ancaman aborsi Baskara..." tangis Clara makin pecah, dadanya naik turun tak beraturan. "Aku ini anak kedua dari Ibu... Aku adik kandungmu, Arsen! Kita bersaudara!"
Kata-kata itu menghantam ruangan seperti dentuman meriam. Keheningan yang mengerikan seketika menyelimuti kamar tersegel itu.
Arsen membeku di tempatnya. Tangan tegap yang tadinya mencengkeram bahu Clara perlahan melorot jatuh. Pria itu menatap Clara dengan pandangan yang hancur—sebuah topeng ketegaran yang runtuh total, menyingkapkan kegelapan dan ikatan obsesif terlarang yang selama ini ia pikul sendirian di dalam kegilaan klan Baskara.