"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat
"Pak Bian..." sapa seorang guru BK saat melihat Bian datang bersama Reyhan, Aluna, dan Elova. Guru BK itu bernama Ibu Friska yang memang mengetahui sosok Bian sebagai wali dari Reyhan.
"Selamat pagi, Bu. Saya dan Ibu Aluna selaku orangtua Reyhan ingin mengonfirmasi mengenai surat panggilan dari sekolah. Jujur saja, saya baru mengetahui ada surat panggilan ini tadi pagi dan jumlahnya lumayan banyak." ucap Bian sambil meringis pelan.
Dia sendiri malu karena anaknya mendapatkan surat panggilan sebanyak itu. Jika bukan karena Aluna yang memintanya memeriksa tas milik Reyhan, mungkin sampai sekarang dia tidak akan tahu tentang surat panggilan ini. Baru beberapa kali Bian datang ke sekolah ini. Yang sering datang adalah Mang Jono dan Mama Mila. Mereka yang sering bergantian antar jemput atau mengambil rapor. Ibu Friska tersenyum karena ternyata dugaannya benar. Kemungkinan surat panggilan itu tidak sampai pada wali dari Reyhan.
"Sekalian kami ingin bertemu dengan Pak Dayat, guru matematika Reyhan. Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan dan butuh penjelasan," lanjutnya.
"Pak Dayat? Kalau boleh tahu, ada apa ya? Soalnya Pak Dayat kebetulan saat ini ada jam mengajar," tanya Ibu Friska dengan tatapan bingungnya.
"Reyhan mengatakan kalau Pak Dayat melontarkan kalimat yang kurang berkenan dan menjatuhkan mentalnya. Sehingga saya butuh konfirmasi apakah benar apa yang diucapkan pada Reyhan ini," jawab Bian sambil tersenyum tipis.
"Baik lah. Sebentar biar saya minta Pak Dayat datang ke sini," ucap Ibu Friska dengan raut wajah sedikit gugup atau takut.
Sepertinya masalah ini bukan hanya menyangkut mengenai bolosnya Reyhan saja, tapi merembet pada lainnya. Ibu Friska pun segera meminta temannya untuk memanggil Pak Dayat. Ibu Friska juga memberikan minum dan sedikit cemilan untuk tamunya. Reyhan terus menggenggam tangan Aluna karena dia pun sebenarnya takut. Beruntung orangtuanya punya pemikiran yang lebih terbuka dalam menghadapi masalah ini.
"Silahkan bisa dicicipi minuman dan makanannya Pak, Bu." ucap Ibu Friska sambil tersenyum.
"Ndak ditawali kita ini, Abang? Cuma Papa dan Ibu saja," ceplos Elova dengan sindirannya.
"Ma..."
"Nggak lah. Ngapain nawarin kamu. Yang ada semuanya bukan dicicip, tapi dimakan habis." ucap Reyhan membuat Ibu Friska yang hendak berbicara langsung tidak jadi.
"Namanya juga makanan, masa cuma suluh dicicip saja. Bikin selet lehel doang," ucap Elova sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Silahkan boleh dimakan, anak-anak." ucap Ibu Friska meralat ucapannya.
Nah... Gitu dong. Jadi kan Lopa makannya ndak malu kalau asal ambil,
Bahkan Elova langsung makan cemilan di atas meja setelah dipersilahkan. Reyhan dan Bian yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Aluna sendiri sedari tadi sudah memberi kode pada Elova agar berhenti bicara. Namun sepertinya Elova tidak menyadari. Aluna tidak mau menegur Elova di depan oranglain. Khawatirnya nanti Elova malah malu dan minder. Bahkan saat ini, Elova menyuapi Aluna cemilan agar Ibunya ikut makan.
"Sayang ya, Bu. Kulang banyak," ceplos Elova membuat Aluna langsung membekap bibirnya dengan telapak tangannya.
"Hush... Nggak boleh begitu. Kalau mau banyak, nanti beli sendiri di pasar." bisik Aluna pada Elova dan bocah cilik itu menganggukkan kepalanya.
"Tapi enak glatis, Bu." Setelah bekapan terlepas, Elova malah langsung mengungkapkan hal lain lagi. Aluna sampai mengelus dadanya sabar.
"Maaf ya, Bu. Ini bibirnya lupa dipasang saringan teh, makanya asal bicara." ucap Aluna merasa tak enak hati.
"Tidak apa, Bu. Maklum, anak kecil." ucap Ibu Friska sambil tersenyum.
Tak berapa lama, Pak Dayat datang dengan raut wajah santainya. Namun saat masuk ruang BK dan melihat Reyhan, Pak Dayat tampak terkejut. Bahkan langkahnya langsung mundur. Reyhan yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya pelan. Dia masih tersinggung dengan ucapan Pak Dayat beberapa waktu yang lalu. Untuk bertemu orangnya, dia masih malas. Namun ini semua perintah dari Bian dan Aluna yang harus dirinya patuhi.
"Pak Dayat, silahkan duduk." suruh Ibu Friska saat merasakan aura ketegangan di ruangan itu.
"Ada apa ini, Bu Friska? Kok kaya mau keroyokan," tanya Pak Dayat saat melihat Reyhan diapit kedua orang dewasa. Pak Dayat belum tahu bahwa Bian dan Aluna ini merupakan wali dari Reyhan.
"Dikila kami mau masuk angin, pakai kelokan segala." sindir Elova menatap tak suka pada Pak Dayat.
"Ngomong keroyokan saja belum benar, kok pakai nasehatin orang dewasa." ucap Pak Dayat membuat Bian menatapnya tajam. Aluna langsung menyuapkan cemilan pada mulut Elova agar diam.
"Maaf, Pak Dayat. Kita langsung pada topik saja ya. Lagi pula dia hanya anak-anak, jangan diambil hati. Apalagi ucapannya juga bukan sesuatu yang menjatuhkan mental seseorang," ucap Ibu Friska menengahi.
Apalagi dia bisa melihat kalau Bian tidak suka dengan cara bicara Pak Dayat. Memang Pak Dayat ini sedari dulu terkenal dengan gaya bicara ceplas-ceplosnya. Bian mencoba tetap tenang, padahal dalam pikirannya sudah ingin menonjok Pak Dayat. Pantas saja anaknya bilang malas masuk kelas matematika, gurunya kalau bicara asal begini. Namun tak mungkin Bian meminta Reyhan untuk tidak masuk kelas.
"Pak Bian dan Ibu Aluna ini orangtua dari Nak Reyhan. Beliau ingin berbicara mengenai anda yang menjatuhkan mental anaknya alias Nak Reyhan ini," lanjutnya.
"Pak Dayat, saya minta maaf kalau Reyhan jarang masuk ke kelas Bapak. Setelah saya bicara dengan Reyhan, katanya Bapak sering menyindirnya tentang miskin dan pekerjaan orangtuanya sebagai petani. Apakah itu benar?" tanya Bian pada Pak Dayat.
"Benar. Setidaknya kalau memang tidak berminat sekolah, bekerja saja sebagai petani seperti Bapaknya. Seperti itu kan ada yang bisa dibanggakan. Daripada di sekolah, tapi tidak pernah masuk kelas dan otaknya kosong. Setidaknya kalau tidak ada privilege atau orangtuanya kaya, belajar yang benar." ucap Pak Dayat menanggapinya dengan santai.
"Apa Pak Dayat tahu kalau Reyhan ini sudah menyumbangkan banyak piala kejuaraan untuk sekolah ini? Walaupun bukan olimpiade matematika. Saya cek rapornya, nilai mata pelajaran lainnya masih aman kecuali matematika." ucap Bian berusaha menahan emosinya.
Aluna pun sampai mengelus punggung Bian agar tidak emosi. Kalimat yang dilontarkan Pak Dayat ini cukup menohok. Seakan jika berasal dari keluarga kaya atau punya privilege tertentu, bisa seenaknya saja. Padahal pendidikan harus adil dan sama rata entah itu untuk kalangan bawah atau atas. Elova menatap tak suka Pak Dayat yang masih duduk dengan gaya angkuhnya. Ibu Friska pun baru mengetahui permasalahan ini. Selama ini, dia menangani kasus Reyhan sering bolos kelas karena laporan Pak Dayat.
"Piala itu tidak penting, kecuali ikut olimpiade matematika dan mata pelajaran lainnya." ucap Pak Dayat menanggapinya dengan santai.
Kalau begitu, mulai hari ini juga Reyhan tidak mau mewakili sekolah dalam kejuaraan apapun.
Apa?
Heh...
coba klau anaknya Pak Dayat digituin, emang mau nerima? yang ada Pak Dayat juga bakalan emosi sama seperti Bian.
klau ngomong tuh disaring dulu Pak, jangan asal ceplos aja, emang semua orang bisa nerima apa yang bapak ucapkan?! /Panic//Drowsy/
..