NovelToon NovelToon
SAAT BAHAGIA BERSAMAMU

SAAT BAHAGIA BERSAMAMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah NH2

Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.

Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?

Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa

Selamat membaca~~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lo Bisa Apa?

Malam itu, Kyle datang menemui Hendry dengan tampilan kacau, rambut kusut dan mata sembab. Langkahnya yang pelan membawanya menuju tepi kolam renang, menghampiri Hendry yang sedang berdiri kearah kolam. Hendry menoleh, menatap Kyle disampingnya sebelum hembusan nafas panjang terdengar dari mulutnya.

"Kenapa puteri Papa sampai pulang sendiri tengah malam begini?"

"Kalau terjadi sesuatu gimana?"

Pertanyaan Hendry membuat Kyle mengepalkan tangannya. Sejujurnya, Kyle sendiri juga tidak tahu bagaimana Marsya bisa pulang seorang diri. Karena sepengetahuannya, Marsya ikut bersama Leo. Dan ada benarnya juga, jika tadi terjadi sesuatu pada Marsya, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri dan pasti ayah mertuanya ini akan membenci dirinya. Disitu Hendry memperingatkan Kyle untuk tidak membiarkan Marsya pulang sendirian di larut malam dan Kyle mengangguk patuh.

Obrolan mereka mulai serius, Hendry pun membawa Kyle duduk diruang keluarga. Hendry dengarkan dengan seksama setiap kalimat yang Kyle ucapkan. Bagaimana awal ketegangan itu terjadi sampai berakhir dengan keadaan Erik yang cukup mengenaskan. Dari semua cerita itu, Hendry bisa menilai bahwa Kyle tidak menyesal sudah "melumpuhkan" Erik, yang Kyle sesali adalah sudah menunjukkan sisi yang seharusnya tidak dia tunjukkan didepan Marsya.

Dan Hendry sangat paham, puterinya itu tidak pernah menyaksikan adegan kekerasan didepan matanya. Tumbuh besar didalam keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang, tentu membuat Marsya terkejut dan takut melihat sikap Kyle yang sangat kasar seperti tadi. Terbukti saat Marsya menolak ikut dengannya. Dan sekarang yang Kyle pikirkan adalah, bagaimana membuat istrinya kembali lagi bersamanya.

"Marsya sudah tidur, kamu menginap disini aja"

"Bersih-bersih, nanti Papa bawakan baju ganti buat kamu"

Kyle mengangguk, dia tinggalkan Hendry dan melangkah menuju kamar Marsya dilantai dua. Pintunya dia buka perlahan, kakinya melangkah nyaris tanpa suara. Kyle dekati tempat tidur Marsya, memperhatikan istri kecilnya yang tidur meringkuk dibalik selimut berwarna merah itu. Ah, senang sekali bisa kembali melihat Marsya, ingin rasanya memeluk erat istrinya itu, Kyle merindukannya.

Kyle menjauh dari tempat tidur, dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kyle melepas seluruh pakaiannya, menampakkan beberapa luka merah yang dia dapatkan dari perlawanan Erik, dibagian lengan dan lehernya. Disini Kyle juga baru menyadari bahwa kalungnya sudah hilang entah kemana, sepertinya Erik menarik kalung rantai itu sampai putus, pantas saja lehernya terluka.

Selesai mandi dan berpakaian, Kyle memberanikan diri untuk naik ke tempat tidur. Dengan jarak yang sedekat ini, Kyle dapat menghirup aroma tubuh Marsya yang selalu harum seperti bunga, aroma yang dia rindukan. Kyle menyingkap selimutnya perlahan, tubuhnya menyelinap masuk kedalam sana. Lembut dan hangatnya kulit Marsya menyatu dengan kulitnya yang kasar dan dingin saat Kyle memasukkan Marsya kedalam pelukannya, nyaman sekali. Andai bisa, Kyle ingin menghentikan waktu, dia tidak ingin kebersamaan itu berakhir dengan cepat. Kyle tidak ingin Marsya terbangun dan kembali menolak dirinya.

"Maaf udah bikin lo takut" Kyle berbisik, dia kecup kening Marsya cukup lama, mencurahkan rasa penyesalan karena sudah membuatnya ketakutan.

***

Bantalan lengan yang besar dan kekar, membuat Marsya tersadar dan bangun dari tidurnya. Marsya terkejut, buru-buru dia duduk dan menjaga jarak. Marsya tidak percaya, bagaimana bisa Kyle ada disini? Dan bagaimana mungkin dia tidur dipelukannya? Entah sejak kapan suaminya ini datang, Marsya menyesal tidak menyadarinya. Andai dia tahu, dia tidak akan mau bertemu Kyle, dia masih merasa takut.

"Papa. Apa Papa yang minta Kyle datang?"

Marsya bergeser ke tepi, dia hendak turun dan meminta penjelasan dari Hendry. Namun belum sempat kakinya menyentuh lantai, Kyle sudah menahan pinggangnya, satu tarikan mampu menjatuhkan Marsya kepelukannya. Tentu Marsya memberontak, namun tenaga Kyle jauh lebih besar darinya. Kyle mengunci Marsya, memeluknya erat dari belakang. Berulang kali memukul-mukul lengan Kyle, namun laki-laki itu tetap tidak mau melepaskannya.

Hanya satu kata yang Kyle ucapkan, satu kata yang diucapkan berkali-kali, yaitu maaf. Sebisa mungkin Kyle harus mendapatkan maaf dari Marsya, sebab situasi ini cukup membuatnya tersiksa. Kyle tidak tahan melihat Marsya yang selalu ingin menjauhkan dirinya.

"Lepasin" Marsya bersikap acuh, tangannya tetap berusaha melepaskan diri dari Kyle, "Lepasin, Kyle"

"Nggak mau, jangan kayak gini, Sya. Jangan ngehindarin gue"

Kyle mengeratkan pelukannya, bibirnya mengecup bahu Marsya yang terbuka. Marsya lupa, memakai piyama dengan model gaun tidur membuat tubuhnya cukup terbuka, kecupan Kyle membuatnya merinding. Andai tahu Kyle akan datang, Marsya tidak akan memakai gaun tidur ini. Sayang sekali seluruh piyamanya sudah dibawa kerumah Kyle saat hari pertamanya tinggal disana.

Marsya sedikit kesal, Kyle seakan tidak memperdulikan ucapannya. Kyle terus saja mencium dirinya berulang kali. Alhasil, Marsya memutar tubuhnya, dia bungkam bibir Kyle dengan tangannya "Jangan nakal, ini bukan waktunya bercanda"

"Kalau gitu maafin gue. Maaf udah bikin lo takut"

Marsya terdiam sejenak, dia menimang-nimang permintaan maaf Kyle sebelum akhirnya mengangguk, "Ya udah"

"Apa? Dimaafin?"

"Iya. Tapi aku nggak mau ngeliat kamu pukulin orang lagi"

"Tergantung, kalau orang itu bawa kabur istri gue, bakal gue pukulin sampai mampus"

"Kyle?"

"Iya, gue ikutin apa kata lo. Yang penting lo nggak marah lagi, nggak ngehindarin gue lagi"

"Gue nggak mau kehilangan lo, Sya. Jangan tinggalin gue lagi, please" Kyle merajuk, tangannya kembali memeluk Marsya dan kepalanya dia jatuhkan dibahu kecil istrinya itu. Marsya menarik nafas panjang, Kyle pandai mengambil perhatiannya, hanya dengan tutur kata lembut sudah mampu membuatnya luluh.

Ya, apa boleh buat, Marsya sadar semua yang Kyle lakukan adalah reaksi wajar seorang suami. Memang, suami mana yang tidak marah melihat istrinya diperlakukan sebegitu kasar oleh laki-laki lain. Marsya hanya menyayangkan sikap Kyle yang terlalu brutal menyerang Erik tanpa ampun.

***

Siang itu, Marsya dan Kyle pulang secara terpisah. Ada beberapa urusan yang harus Marsya selesaikan dikampus, sementara Kyle, laki-laki itu memberi kabar bahwa ada hal mendesak yang terjadi di bengkel mobilnya, Kyle pun pergi lebih dulu. Selesai memberi kabar pada Marsya, Kyle masuk kedalam mobilnya, disusul Leo yang langsung masuk tanpa permisi.

"Udah ngabarin Marsya?"

"Hm"

"Wait, ini lo beneran mau temuin Erik?" Pertanyaan Leo membuat Kyle menunjukkan ponselnya. Disitu, Leo baru percaya setelah membaca rentetan pesan yang Erik kirim kepada Kyle. Umpatan, kata-kata kasar Erik tuliskan semuanya untuk Kyle. Laki-laki itu menunggu kehadiran Kyle untuk meminta penjelasan tentang sikapnya semalam yang dinilai terlalu ikut campur pada hubungannya dengan Marsya.

Baiklah, Kyle ikuti kemauan Erik, akan dia temui sekarang juga. Jika memang pernikahannya dengan Marsya harus Kyle ungkapkan, akan Kyle ungkapkan saat itu juga. Biar saja, biar semua orang tahu bahwa Marsya adalah miliknya. Dan tidak ada yang berhak atas Marsya selain dirinya.

"Ya udah, kamu duluan aja, kebetulan nanti aku dijemput Papa"

Kyle terdiam sesaat membaca balasan pesan dari Marsya, dalam hatinya meminta maaf karena sudah berbohong. Sebab tidak mungkin Kyle berkata jujur ingin menemui Erik, tentu hal itu akan membuat Marsya panik dan tidak akan mengizinkannya pergi.

Kyle lajukan mobilnya menuju rumah sakit, tidak sabar rasanya kembali bertemu dengan sahabat sekaligus kekasih dari istrinya itu. Tetapi Leo, dia mulai khawatir, dia takut dua orang ini bertengkar lagi. Sungguh, Leo merasa takut, akan kah persahabatan mereka berdua putus karena memperebutkan seorang perempuan? Leo merasa bingung harus berada dipihak siapa. Tetapi untuk sekarang, Leo harus mengingatkan Kyle untuk tidak terpancing emosi jika Erik "menyalakan api" untuknya.

"Pokoknya lo harus tenang, Kyle. Jangan emosi, gue nggak mau lo berdua sampai ribut"

"Ck, berisik"

"Ini rumah sakit, bro, ketahuan ribut lo bisa diusir"

"Gue tau"

Akhirnya, mereka berdua tiba diruang rawat inap Erik. Tanpa sepatah kata, Kyle melenggang masuk dan duduk disofa. Kyle bersandar, satu kakinya saling berpangku, matanya menatap tajam kearah Erik yang bersusah payah mengambil posisi duduk. Leo yang ingin membantu, tangannya ditepis Erik begitu saja. Erik bersikeras melakukannya sendiri, padahal cukup sulit kelihatannya. Pemandangan itu membuat Kyle tertawa kecil, tidak disangka Erik benar-benar tidak berdaya karena ulahnya.

"Nggak usah ketawa! Gue begini gara-gara lo"

"Oh?"

"Ck, sialan. Maksud lo apa bikin gue kayak gini? Lo naksir Marsya? Dia cewek gue, lo nggak lupa kan?"

"Kalau dia cewek lo, apa boleh lo ngelakuin itu? Lo paksa dia, nyakitin dia?"

"Ya, ya, gue nggak sengaja, gue nggak sadar, toh, gue udah minta maaf"

"Heh?" Kyle tertawa getir. Dengan entengnya Erik mengatakan tidak sengaja memaksa dan menyakiti Marsya. Padahal, Kyle melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Marsya sudah memberontak tetapi Erik tidak mau melepaskannya. Sebagai suami Marsya, tentu darahnya mendidih seketika mendengar jawaban Erik yang terkesan menyepelekan masalah itu.

"Jangan bilang selama ini lo naksir Marsya?" Tanya Erik penuh selidik, raut wajahnya terlihat cukup kesal, "Gue nggak main-main ya, Kyle, kalau lo punya niat ngerebut Marsya, gue nggak bakal diam aja"

"Oh? Lo bisa apa? Buat duduk aja nggak mampu"

"Kyle! Lo kurang ajar lama-lama! Gue nggak bercanda, lo lihat aja nanti!"

"Okay" Kyle bangun dari duduknya dan mendekati Erik, tangannya menepuk-nepuk bahu Erik namun laki-laki itu dengan kasar menyingkirkan tangannya.

"Cepat sembuh, gue pengen lihat lo bisa ngelakuin apa" Kyle tersenyum dan pergi meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Erik yang terlihat semakin kesal dan mencengkram kuat selimutnya. Leo yang tertinggal disana, terlihat cukup bingung. Sudah? Hanya itu yang Kyle katakan? Terlihat sangat tenang. Tidak seperti Erik yang panas dan berapi-api, dia merasa terpancing dengan ucapan Kyle yang seakan mengajaknya berperang.

...••••...

To be continued~~~~

Hay, hay guysss

Gimana bab kali ini? Suka nggak??? Aku butuh komen dan masukan kalian yaaa

Seperti biasa jangan lupa dukungannya yaaa biar cerita ini makin berkembang🥰💕

1
rayhan dirgantara
belalai apa tu🫪🫪🫪🫪
rayhan dirgantara
hi nma aku rayhan ak suka crrita kmu ka aku kls 4sd ka
Kholifah NH2: anak kelas 4 sd bacanya komik yang lucu lucu aja ya dek, jangan yang ini nanti dimarahin mama🥰
total 1 replies
rayhan dirgantara
jjur krng pjng,bacany cma semenit torrr pjgngin lg dong smngat y😌
rayhan dirgantara
Kelazzzzzz
Tiaraa Kayla
ini kurang ajar si
Tiaraa Kayla
what😰
Tiaraa Kayla
rahasiain pernikahan tp mereka kiss di parkiran,ada yg liat ga th
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!