hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 7
Kini, Damian telah berada di kantornya. Seperti biasa, setelah menyelesaikan rapat bersama para petinggi perusahaan, pria itu harus kembali berkutat dengan tumpukan berkas yang menunggunya.
Di atas meja kerjanya, berbagai dokumen kerja sama dengan perusahaan lain tersusun rapi. Damian membaca setiap halaman dengan teliti sebelum membubuhkan tanda tangannya pada berkas yang telah disetujui.
Suasana ruang kerja itu begitu tenang, hanya terdengar suara lembaran kertas yang sesekali dibalik.
“Tuanku.”
Suara Vandes terdengar dari dekat pintu. Pria itu berdiri tegak dengan kepala sedikit tertunduk sebagai bentuk penghormatan Damian tak mengangkat wajahnya. Ia masih sibuk memeriksa sebuah dokumen.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
Vandes melangkah mendekat, lalu berhenti beberapa langkah dari meja kerja Damian.
“Maafkan saya karena berani menanyakan hal ini, Tuan. Apakah Anda sudah melakukan ritual darah dengan Nyonya Emma?” tanyanya hati-hati.
Gerakan tangan Damian yang sedang membubuhkan tanda tangan sempat terhenti.
“Belum,” jawabnya pendek sebelum kembali meletakkan pena di atas meja.
Vandes tampak semakin khawatir mendengar jawaban tersebut.
“Tuan, saya rasa ritual itu harus segera dilakukan.”
Damian mengangkat wajahnya dan menatap pelayannya itu dengan sorot mata tajam.
“Apa alasanmu mengatakan hal itu?”
Vandes menarik napas sejenak sebelum menjelaskan.
“Tadi saya melihat beberapa vampir liar berkeliaran di sekitar area mansion. Mereka memang belum memasuki wilayah utama, tetapi keberadaan mereka cukup mencurigakan.”
Damian menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Apakah mereka mengetahui sesuatu tentang mansion kita?”
“Saya belum bisa memastikannya, Tuan. Namun, ada satu hal lagi yang membuat saya khawatir.”
“Apa?”
Vandes menundukkan kepalanya sedikit sebelum melanjutkan perkataannya.
“Aroma darah Nyonya sangat kuat, Tuan. Bahkan dari kejauhan, saya bisa mencium aromanya dengan jelas.”
Suasana ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Damian terdiam.
Jemarinya mengetuk permukaan meja perlahan, sementara pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak menyenangkan.
Emma.
Perempuan itu memang menyebalkan. Keras kepala, banyak bicara, dan selalu saja punya cara untuk membuatnya kehilangan kesabaran. Bahkan untuk urusan sesederhana membeli martabak, mereka bisa berdebat panjang.
Namun, suka atau tidak, Emma sekarang adalah istrinya.
Setidaknya, selama satu tahun ke depan.
Dan selama perempuan itu masih menyandang status sebagai istrinya, keselamatannya menjadi tanggung jawab Damian.
Damian mengembuskan napas panjang, lalu mengambil kembali pena yang tadi diletakkannya.
“Baiklah,” ucapnya akhirnya.
Vandes mengangkat wajah.
“Apakah Tuan akan melakukan ritual itu?”
Damian menatapnya tajam.
“Aku akan mempertimbangkannya. Untuk sekarang, pastikan para penjaga meningkatkan pengawasan di sekitar mansion. Aku tidak ingin ada orang asing yang mendekati Emma tanpa sepengetahuanku.”
“Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan.”
“Dan Vandes.”
“Ya, Tuan?”
“Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya.”
Vandes menundukkan kepala lebih dalam.
“Dimengerti, Tuan.”
Setelah memberikan penghormatan, Vandes berbalik dan meninggalkan ruangan.
Damian kembali menatap berkas di hadapannya. Namun, kali ini, pikirannya tidak lagi sepenuhnya tertuju pada pekerjaan.
Entah mengapa, ia merasa harus segera kembali ke mansion Sebuah firasat buruk perlahan muncul di benaknya Dan firasat itu semakin kuat ketika ia teringat betapa sulitnya mengendalikan Emma.
Sementara itu, di mansion, Emma sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mematuhi larangan suaminya.
Padahal, Damian sudah berulang kali memperingatkannya agar tidak keluar dari mansion. Namun, siapa sangka, begitu pria itu pergi bekerja, Emma justru mulai memikirkan berbagai cara untuk menghabiskan waktunya.
Awalnya, ia berniat mengajak Sonia berjalan-jalan di sekitar mansion. Namun, setelah mencari ke beberapa tempat, pelayan itu tidak kunjung ditemukan.
Anehnya, Raina dan beberapa pelayan lainnya juga tidak terlihat.
Emma bahkan sudah memanggil nama Sonia berkali-kali, tetapi tidak ada satu pun jawaban yang terdengar.
“Ke mana sih mereka semua? Kok mansion sebesar ini malah sepi banget?” gumam Emma sambil melongok ke arah lorong.
Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu mengintip ke arah dapur. Tidak ada siapa-siapa.
Emma mengerucutkan bibir.
“Jangan-jangan mereka lagi rapat rahasia tanpa mengajakku?”
Ia terkekeh sendiri membayangkan kemungkinan itunSetelah berpikir sejenak, Emma akhirnya mengangkat kedua bahunya dengan santai.
“Ya sudah, keluar sebentar, deh. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik di belakang.”
Tanpa merasa bersalah sedikit pun, Emma melangkahkan kakinya menuju taman belakang mansion.
Udara di sana terasa sejuk. Pepohonan tinggi tumbuh mengelilingi taman, sementara sinar matahari menembus sela-sela dedaunan dan jatuh di atas jalan setapak.
Emma berjalan santai sambil sesekali memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran.
“Wah, ternyata taman belakangnya bagus juga,” gumamnya kagum.
Ia terus berjalan hingga pandangannya menangkap sosok seorang pria yang berdiri membelakanginya tidak jauh dari sana.
Pria itu mengenakan pakaian berwarna gelap. Postur tubuhnya tinggi dengan bahu lebar, sekilas mengingatkan Emma pada suaminya.
Emma langsung menghentikan langkah.
“Lho, bukannya Damian tadi bilang mau ke kantor?” gumamnya sambil memiringkan kepala.
Ia menyipitkan mata, mencoba memastikan apakah pria itu benar-benar Damian Namun, dari tempatnya berdiri, Emma hanya bisa melihat punggung pria tersebut.
“Jangan-jangan dia pulang lagi karena ketinggalan sesuatu?”
Rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya.
Emma pun melangkah mendekat dengan santai, sama sekali tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dengan sosok di hadapannya.
“Damian?” panggilnya pelan.
Pria itu tidak menjawab.
Emma semakin dekat.
“Eh, kenapa diam saja? Aku tahu kau dengar!”
Masih tidak ada jawaban.
Emma mendengus kecil.
“Ck, dasar pria aneh.”
Ia mengulurkan tangan, berniat menyentuh punggung pria tersebutnNamun, sebelum jemarinya sempat menyentuh pakaian pria itu, sosok tersebut berbalik dengan gerakan yang begitu cepat.
Tangan Emma langsung ditangkap.
“Akh!”
Emma terkejut hingga tubuhnya menegang.
Pria itu mencengkeram pergelangan tangannya, lalu mendekatkan wajahnya. Senyum aneh muncul di bibirnya, memperlihatkan sepasang taring panjang.
“Hmmm ....” Pria itu mengendus pelan, kemudian menyeringai. “Segar sekali. Kau harum sekali.”
Emma membeku Matanya perlahan membesar ketika menyadari bahwa pria di hadapannya bukanlah Damian Kulit pria itu pucat. Matanya merah menyala, sementara taring panjang menyembul dari mulutnya. Bahkan, terdapat noda merah di sudut bibirnya yang membuat penampilannya semakin mengerikan.
Pemandangan itu terasa begitu familier Seketika, ingatan Emma melayang pada mimpi yang dialaminya beberapa waktu lalu—mimpi tentang Damian yang memiliki mata merah dan taring seperti makhluk dalam cerita vampir.
Namun, kali ini bukan mimpi.
Makhluk itu benar-benar berdiri di hadapannya.
“Ti-tidak ....” Emma menggeleng pelan, berusaha melepaskan tangannya. “Lepaskan aku!”
Vampir itu justru semakin menyeringai.
“Manusia yang begitu wangi berkeliaran sendirian di tempat seperti ini?” gumamnya, seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri. “Sungguh keberuntungan yang luar biasa.”
Emma mulai panik.
“Siapa kau?! Lepaskan aku sekarang!” bentaknya sambil berusaha menarik tangannya sekuat tenaga.
Namun, cengkeraman pria itu terlalu kuat.
“Tenanglah, Manis. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat.”
“Jangan mendekat!”
Emma berusaha mundur, tetapi pria itu menariknya kembali hingga ia kehilangan keseimbangan.
“TOLOOONG! LEPASKAN AKU!” teriak Emma sekuat tenaga.
Suara teriakannya menggema di antara pepohonan, tetapi taman belakang itu tetap sunyi.
Tidak ada Sonia.
Tidak ada Raina.
Tidak ada seorang pun yang datang menolongnya.
Air mata mulai menggenang di sudut mata Emma. Baru sekarang ia menyadari betapa bodohnya keputusan untuk keluar sendirian, apalagi setelah Damian melarangnya berkali-kali.
Damian, tolong ....
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Emma benar-benar berharap suaminya yang menyebalkan itu segera muncul di hadapannya.
Sementara itu, vampir di depannya semakin mendekat, menikmati kepanikan yang terpancar jelas dari wajah Emma.
“Sekarang, katakan kepadaku, Manis,” bisiknya dengan senyum mengerikan. “Siapa namamu?”
Emma menggeleng ketakutan.
“A-aku tidak akan memberitahumu!”
Senyum pria itu perlahan menghilang.
“Kalau begitu,” ucapnya dengan suara rendah, “sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.”
Emma menahan napas ketika pria itu kembali mendekat.Dan pada saat itulah, ia menyadari satu hal yang membuat seluruh tubuhnya terasa dingin.
Mungkin selama ini Damian bukanlah satu-satunya orang di mansion yang menyimpan rahasia Mungkin dunia yang selama ini dianggapnya hanya ada dalam film dan cerita ternyata benar-benar nyata Dan sekarang, tanpa sengaja, ia telah melangkah tepat ke dalamnya.
“Singkirkan tangan kotormu dari menantuku!” teriak Raina lantang.
Suara perempuan itu menggema di taman belakang mansion. Tatapannya tajam, tertuju pada vampir yang masih mencengkeram pergelangan tangan Emma.
Vampir itu menoleh. Bukannya merasa takut, ia justru menyeringai lebar begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
“Ratuku...” Ia berhenti sejenak, kemudian terkekeh. “Ah, maksudku, mantan ratu. Kebetulan sekali, sekarang menantumu sudah menjadi milikku.”
Tanpa aba-aba, vampir itu menarik Emma semakin dekat ke tubuhnya.
“Lepaskan aku!” Emma meronta, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman kuat pria tersebut. Namun, tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan tenaga vampir itu.
“Diam, gadis manis. Jangan banyak bergerak kalau kau tidak ingin terluka,” bisik vampir itu di dekat telinganya.
Emma langsung membeku. Matanya berkaca-kaca, sementara tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian mengerikan seperti ini di tempat yang selama ini dianggapnya aman.
“Lepaskan dia sekarang juga!” Raina melangkah maju. Wajahnya yang biasanya lembut kini berubah dingin dan mengintimidasi.
“Jangan macam-macam dengannya kalau kau tidak mau aku mengurung mu di dalam liontin perak ini!”
Raina mengangkat sebuah liontin perak yang tergantung di lehernya. Benda kecil itu tampak sederhana, tetapi melihatnya saja membuat beberapa pelayan yang baru tiba di taman langsung menundukkan kepala.
Untuk sesaat, vampir itu terdiam.
Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Tatapannya beralih dari wajah Raina menuju liontin perak yang berada di tangannya.
Namun, bukannya mundur, ia justru mendadak tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHA! Kau pikir aku masih takut dengan ancamanmu, Raina?”
Tawa itu terdengar begitu meremehkan.
“Zamanmu sudah berakhir. Kau bukan lagi ratu yang bisa memerintah kami sesuka hati!”
Raina mengepalkan tangannya. Ia tahu vampir di hadapannya bukanlah vampir biasa. Pria itu pernah menjadi bagian dari kelompok yang menolak kekuasaannya, dan sekarang ia berani muncul di mansion untuk mengincar Emma.
Terlebih lagi, aroma darah Emma rupanya sudah menarik perhatian mereka.
“Mami...” Suara Emma terdengar lirih.
Ia menoleh ke arah Raina dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya pucat, dan napasnya mulai takk beraturan.
“Mami, tolong aku. Aku takut....”
Hati Raina terasa mencelos mendengar suara menantunya yang bergetar. Ia ingin segera menarik Emma ke dalam pelukannya, tetapi vampir itu masih menahan gadis tersebut erat-erat.
“Iya, Sayang. Mami di sini.” Raina berusaha menenangkan Emma, meskipun amarah di dalam dirinya semakin membara. “Jangan takut, ya. Mami tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”
“Benarkah, Mami?” tanya Emma dengan suara nyaris seperti bisikan.
“Iya, Sayang. Percayalah kepada Mami.”
Raina menatap vampir itu sekali lagi. Kali ini, tidak ada lagi kelembutan dalam sorot matanya.
“Ini kesempatan terakhirmu. Lepaskan menantuku sebelum aku membuatmu menyesali kedatanganmu ke tempat ini.”
Vampir itu mendengus, kemudian melirik Emma yang masih berada dalam cengkeramannya.
“Sayang sekali, Ratu. Aku sudah menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar merebut kembali kekuasaan.”
Ia menunduk sedikit, menatap Emma dengan senyum mengerikan.
“Darah gadis ini... sungguh luar biasa.”
Jantung Emma seolah berhenti sesaat.
Darah?
Mengapa semua orang terus membicarakan darahnya?
Dan mengapa vampir di hadapannya menatapnya seolah-olah dirinya bukan manusia, melainkan sesuatu yang bisa dimiliki begitu saja?
Emma kembali meronta.
“DAMIAN TOLONG AKU!”
Teriakannya memecah keheningan taman.
Namun, sebelum vampir itu sempat melakukan apa pun, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari arah pintu belakang mansion.
Seseorang datang.
Dan ketika vampir yang mencengkeram Emma melihat siapa yang muncul, senyum di wajahnya perlahan memudar.
Sebab pria yang berdiri di sana bukanlah orang sembarangan, ia adalah Damian Aksara von Valemont
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭