Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cangkir Kopi yang Belum Sempat Habis
Udara malam di apartemen kelas atas itu terasa sangat pengap, berbanding terbalik dengan badai salju brutal di luar jendela yang digambarkan pada halaman 342 dari novel dark romance internasional berjudul “The Alpha’s Obsession”—sebuah buku terlaris yang baru saja melayang indah dengan sukses menabrak lantai keramik.
"Penulis buku ini benar-benar perlu ditaruh ke rumah sakit jiwa!" Protes itu meluncur tajam dari bibir Ceisya, melipat kedua tangannya di dada sambil mendengus keras dengan napas memburu. "Mana ada protagonis figuran yang tingkat IQ-nya setara dengan amuba, dengan sukarela mati dikorbankan demi sahabat bermuka dua? Jelas-jelas si Belva itu adalah ular berkedip bulu mata lentik dan ular bulu ketek yang sukanya nempel Raja Serigala, tapi kenapa si Raja Serigala yang katanya paling ditakuti se-benua malah mendadak jadi tolol akut karena bucin padanya? Ceisya berpikir... Harusnya di ruqiyah tuh si Raja Serigala biar otaknya lurus enggak belok-belok kayak ular tangga."
Ceisya—mantan hacker independen yang terbiasa hidup dikelilingi layar monitor berkecepatan tinggi, menguasai berbagai seni bela diri mematikan, dan paling alergi pada segala bentuk kebodohan—baru saja melampiaskan emosinya pada takdir sial tokoh figuran di dalam buku tersebut yang kebetulan memiliki nama sama persis dengannya.
Di dalam novel itu, Ceisya versi figuran digambarkan sebagai mahakarya kemalangan: cupu maksimal, berambut cokelat kusam yang dikepang dua dengan kaku mirip sapu ijuk gagal, mengenakan kacamata berbingkai kawat tebal setebal kaca akuarium yang membuat matanya tampak juling sebelah, serta postur tubuh yang selalu membungkuk demi totalitas peran sebagai gadis tak kasat mata. Takdirnya? Tragis. Ia mati tertusuk pisau perak oleh pembunuh bayaran sang antagonis utama hanya karena keliru disangka sebagai Belva.
"Sialan. Hidup cuma sekali, malah jadi figuran tumbal."
Namun, sebelum sisa tegukan kopi hitam kesayangannya sempat mendarat di tenggorokan untuk menetralkan darah tingginya, tiba-tiba ruangan di sekitarnya berputar kencang layaknya mesin cuci rusak. Suara bising kota metropolitan lenyap seketika, digantikan oleh deru angin musim dingin ekstrem yang menusuk hingga ke sumsum tulang belakang.
Gasp!
Di Dunia lain...
Ceisya terkesiap, menegakkan tubuhnya secara refleks. Bau anyir darah, aroma salju segar yang pekat, serta wangi hutan pinus langsung menyerang indra penciumannya tanpa permisi. Jemarinya yang sedetik lalu masih menggenggam ponsel pintar kini mencengkeram erat kain wol kasar dari jubah tua yang aromanya mirip lap piring bulukan.
Kelopak matanya mengerjap cepat. Tidak ada lagi wallpaper dinding minimalis apartemennya. Yang menyambut retinanya kini adalah dinding batu kastil abu-abu kuno yang dingin, diterangi oleh obor api berkedip redup di sepanjang lorong sempit. Sebuah tempat tidur kayu berdebu berada di belakangnya, dan di atas meja sudut terdapat cermin perunggu buram.
Dengan langkah ragu namun cepat, Ceisya mendekati cermin tersebut. Pantulan yang menyambutnya hampir membuatnya melontarkan sumpah serapah dalam tiga bahasa.
Rambut cokelat kusam dengan kepang dua kaku di kedua sisi bahu. Sepasang kacamata super tebal yang sukses membuat dunia terlihat seperti dicat ulang pakai cat air meleleh. Serta kulit pucat pasi bak mayat hidup yang seumur hidupnya sepertinya alergi vitamin D.
"Oh, luar biasa. Aku resmi jadi warga Isekai."
Alih-alih histeris, menangis histeris, atau memanggil Ibuuu! seperti gadis-gadis di webtoon pasaran, sudut bibir Ceisya justru terangkat membentuk seringai sinis. Sebagai wanita yang biasa menjebol server Pentagon sambil makan keripik pedas dan melumpurkan preman berbadan beruang dengan sekali banting, masuk ke dunia novel fantasi bukanlah akhir hayat. Ini adalah upgrade permainan hidup yang menarik. Dan satu prinsip utamanya: Raga ini milik Ceisya sekarang, dan tidak akan ada yang namanya mati konyol demi skenario murahan.
"Ceisya...?"
Sebuah suara lembut yang terdengar semanis gula donat namun menyimpan racun sianida di baliknya, mendadak menginterupsi keheningan dari balik pintu kayu tipis kamar asrama pelayan itu.
Dalam sepersekian detik, akting tingkat dewa Ceisya langsung aktif. Punggungnya kembali melengkung membungkuk, bahunya diciutkan, dan matanya dipasang kosong selayaknya orang linglung.
Pintu terbuka. Sosok seorang gadis berambut ikal keemasan dengan gaun linen bersih melangkah masuk bagaikan bidadari suci. Wajahnya sempurna tanpa cela, mata birunya jernih, dan senyumnya merekah indah.
Belva Vespera. Sahabat tercinta sekaligus ular weling paling berbakat di kerajaan ini.
"Oh, Ceisya. Kau belum tidur?" Belva melangkah mendekat dengan anggun, membawa secangkir teh hangat. Wajahnya langsung berubah cemas, menatap Ceisya dengan mata berkaca-kaca ala aktris sinetron peraih piala citra. "Aku dengar suara gaduh dari kamarmu. Kau baik-baik saja? Jangan-jangan trauma masa lalumu kambuh lagi?"
Di balik kacamata tebalnya, Ceisya menahan diri untuk tidak memutar bola mata sejauh mungkin. Wah, aktingnya bagus banget. Kalau di bumi, dia udah dapet piala Oscar kategori Villain Paling Bermuka Dua, batin Ceisya menyindir tajam.
"Aku... hanya merasa sedikit pusing, Belva," jawab Ceisya dengan suara gemetar palsu yang dibuat-buat sedramatis mungkin.
Belva menghela napas lega, meletakkan cangkir teh, lalu menggenggam kedua tangan Ceisya dengan lembut—meskipun telapak tangan itu terasa dingin penuh udang di balik batu.
"Jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kau tahu sendiri, di istana yang dihuni para monster haus darah ini, aku cuma punya kamu sebagai tempat bersandar," bisik Belva dengan nada haru biru yang bikin mual. "Ayah angkatku memang pahlawan yang gugur demi Raja, tapi posisiku tidak aman. Terutama karena Lady Bianca terus meneror dan ingin menghabisiku karena wanita itu cemburu buta padaku dan Yang Mulia Alpha Fenrir."
Ah, nama itu lagi. Fenrir Volkov. batin Ceisya berpikir.
Sang Raja Serigala yang kejam, dingin, posesif, dan punya hobi menatap orang lain dengan tatapan ingin membunuh. Di dalam novel, Belva selalu mencitrakan dirinya sebagai korban yang suci, sementara Bianca Reinhardt—si tunangan sah dari kaum darah murni—adalah antagonis utamanya. Padahal aslinya, Belva ini sama terobsesinya dengan takhta dan tubuh sang Alpha, hanya saja kemasannya lebih ramah lingkungan tapi mematikan.
"Aku takut sekali, Ceisya," lanjut Belva dengan bibir bergetar indah. "Malam ini, para pengawal bayaran Lady Bianca sedang berpatroli di dekat perbatasan hutan salju tempat biasa aku harus mengambil dokumen penting... tapi aku terlalu lemah untuk pergi ke sana."
Mulai deh drama kolosal gratisannya, batin Ceisya mencibir
Ceisya tahu ini momen legendaris di mana Belva akan merengek meminta Ceisya memakai jubah berkerudung miliknya untuk berjalan ke jalur maut itu, dengan dalih "mengecoh musuh", padahal tujuannya jelas menjadikan Ceisya umpan empuk agar si pembunuh bayaran salah sasaran.
"Aku... akan membantumu, Belva," ucap Ceisya dengan nada penakut yang sangat meyakinkan.
Senyum kemenangan yang begitu licik sempat berkelebat kilat di bibir Belva sebelum kembali berubah menjadi senyum malaikat. "Kau memang sahabat terbaikku, Ceisya. Nanti malam, tolong kenakan jubah tebal miliku saat keluar dari kamar, ya. Biar aku bisa lewat lewat jalur lain dengan aman."
"Baiklah," jawab Ceisya patuh.
Begitu Belva melangkah keluar kamar dengan perasaan bangga karena merasa berhasil memperalat si "bodoh" Ceisya untuk kesekian kalinya, raut wajah Ceisya langsung berubah total dalam satu detik.
Punggungnya yang tadinya bungkuk mendadak tegak lurus sempurna. Ceisya melepas kacamata tebalnya, melempar benda itu ke atas meja dengan cuek. Tanpa bantuan lensa minus tersebut, tatapan matanya kini berubah tajam, dingin, dan mematikan.
Ia berjalan ke tengah ruangan, melayangkan beberapa gerakan jab-cross dan tendangan tinggi ke udara dengan presisi yang sangat sempurna—mengetes kelenturan raga barunya.
"Mau menjadikan aku sate kambing tusuk buat pembunuh bayaran Bianca, hah?" gumam Ceisya sambil tersenyum miring, lalu mengurai ikatan rambut kepang dua kaku itu hingga tergerai panjang menawan. "Mari kita lihat, Belva sayang. Siapa yang nantinya bakal lari terbirit-birit di tengah salju."
Seketika itu pula, suhu di luar jendela mendadak drop drastis. Es membeku membentuk pola rumit di kaca. Dari kejauhan, membelah kepekatan malam Kerajaan Valesia, suara lolongan berat dan menggema dari seekor Alpha mengguncang tanah—memancarkan dominasi mutlak yang membuat seluruh isi kastil menunduk ketakutan.
Bayangan Fenrir Volkov, sang Raja Serigala yang kejam, kini resmi turun tangan menyambut malam yang panjang.
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊