Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Surat Dari Jakarta
Dua minggu setelah Pohon Revan Baru berbunga pertama itu, Langgur yang sudah damai satu tahun kedatangan tamu tak terduga.
Siang jam dua, kapal pos dari Tual datang membawa satu kantong surat besar. Biasanya surat di Langgur cuma satu atau dua, karena Langgur desa kecil. Tapi hari ini tukang pos bawa satu amplop coklat besar, tebal, ada stempel MERAH dari Jakarta, dan di amplop itu tertulis, "UNTUK DION ANAK PAK HENDRA - PENTING DAN RAHASIA - DARI PENGACARA JAKARTA."
Tukang pos kasih amplop itu ke Pak RT Unus karena Dion tidak punya alamat rumah tetap, dia tinggal di balai desa.
Pak RT langsung panggil Dion yang lagi siram Pohon Revan Baru.
"Dion! Ada surat dari Jakarta! Dari pengacara ayahmu!"
Dion yang mendengar nama ayahnya, Pak Hendra, langsung gemetar. Tangannya yang pegang ember air jadi gemetar dan airnya tumpah. Sudah satu tahun dia tidak dengar kabar ayahnya sejak ayahnya kabur setelah kalah di Ambon dan masuk penjara karena kasus jual tanah ilegal di Langgur.
"Dari... dari ayahku?" tanya Dion dengan suara pelan.
Pak RT mengangguk dan kasih amplop tebal itu. "Buka di balai desa, biar ada saksi, biar tidak ada yang curiga lagi."
Sore itu, di balai desa, seluruh warga berkumpul lagi karena penasaran surat dari Jakarta isinya apa. Ara juga datang, duduk di samping Dion.
Dion dengan tangan gemetar membuka amplop coklat besar itu. Di dalamnya ada banyak kertas, ada kertas putih dengan tulisan hukum, ada foto-foto, dan ada satu kunci kecil berwarna emas.
Dion baca surat pertama dengan suara keras agar semua dengar.
"Surat Pemberitahuan Warisan. Saya, Pengacara Bapak Hendra Wijaya, memberitahukan bahwa Bapak Hendra Wijaya telah meninggal dunia di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan pada tanggal 10 bulan lalu karena sakit jantung. Sebelum meninggal, beliau meninggalkan surat wasiat untuk anak tunggalnya, Dion Wijaya."
Warga langsung heboh! Pak Hendra mati di penjara!
Dion langsung lemas dan jatuh duduk, air matanya keluar, walaupun ayahnya jahat, tetap ayahnya.
"Ayahku... mati..." bisik Dion.
Ara memegang bahu Dion pelan untuk kuatkan.
Dion lanjut baca kertas kedua.
"Isi wasiat: Bapak Hendra memiliki tabungan di Bank Jakarta sebesar 500 JUTA RUPIAH dari hasil penjualan tanah Langgur yang belum sempat dipakai. 500 juta itu diwariskan 100% untuk Dion. Tapi dengan satu syarat, Dion harus pakai uang itu untuk bangun kembali semua rumah warga Langgur yang dulu dibakar Dion, dan sisa uangnya harus dipakai untuk bangun sekolah baru di Langgur."
Warga yang dengar 500 JUTA langsung terdiam, tidak percaya. 500 juta itu uang sangat besar untuk desa kecil seperti Langgur.
Kertas ketiga adalah foto-foto rumah yang dibakar dulu, foto-foto sebelum dibakar, dan daftar nama warga yang rumahnya dibakar, ada 12 rumah.
Dan kunci kecil emas itu, kuncinya adalah kunci brankas bank tempat 500 juta itu disimpan.
Pak RT mengambil kunci emas itu dan menatap Dion.
"Dion, ini uang ayahmu dari jual tanah kita yang haram itu. Tapi kalau wasiatnya bilang pakai untuk bangun rumah kami lagi, apa kamu mau lakukan?"
Dion yang masih menangis karena ayahnya mati, langsung berdiri dan mengangkat kunci emas itu tinggi-tinggi di depan semua warga.
"AKU MAU! AKU MAU BANGUN SEMUA RUMAH YANG AKU BAKAR DULU! AKU MAU PAKAI SEMUA UANG INI UNTUK LANGGUR! AKU TIDAK MAU SATU RUPIAH PUN UNTUK AKU! INI CARA AKU TEBUS DOSA AYAHKU DAN DOSAKU!"
Suara Dion keras dan tegas, tidak seperti Dion setahun lalu yang penakut.
Ara yang mendengar itu langsung berdiri dan peluk Dion sebentar, peluk kakak adik.
"Bagus, Dion. Ayahmu di alam sana pasti bangga kamu berubah jadi baik."
Mama Ino yang rumahnya paling parah dibakar dulu, maju dan peluk Dion juga.
"Kalau begitu, kita bangun 12 rumah itu lagi, tapi bangun lebih bagus, pakai batu bata, tidak pakai kayu lagi biar tidak mudah dibakar. Dan sekolah SD Langgur yang masih setengah dibangun itu, kita selesaikan pakai uang ini."
Semua warga setuju dan bersorak, "SETUJU! BANGUN RUMAH BARU! BANGUN SEKOLAH BARU!"
Malam itu, Dion menulis surat balasan untuk pengacara di Jakarta, isinya dia terima warisan tapi dia mau pakai semua uang itu untuk Langgur. Dia juga minta tolong pengacara untuk makamkan ayahnya di Jakarta dengan baik, walaupun ayahnya jahat, dia tetap anaknya.
Seminggu kemudian, uang 500 juta itu cair dan ditransfer ke rekening desa Langgur yang dipegang Pak RT Unus. Uang itu langsung dipakai.
Tukang bangunan didatangkan dari Tual, 20 orang, untuk bangun 12 rumah baru dalam waktu dua bulan. Rumah-rumah itu dibangun dari batu bata merah, atap seng baru, lantai semen, jauh lebih bagus dari rumah kayu dulu.
Sekolah SD Langgur yang dulu setengah jadi, sekarang dilanjutkan bangun sampai jadi gedung sekolah beneran, ada 3 kelas, ada papan tulis baru, ada meja kursi baru.
Dion setiap hari ikut kerja jadi kuli bangunan, angkat batu bata, angkut semen, walaupun dia yang punya uang warisan, dia tidak mau jadi bos, dia mau kerja seperti warga biasa untuk tebus dosa.
Ara yang melihat Dion kerja keras setiap hari, membawakan Dion air minum dan papeda setiap siang di bawah Pohon Revan Baru.
"Dion, istirahat dulu, kamu sudah angkat batu bata dari pagi," kata Ara.
Dion yang keringatnya bercucuran, senyum lebar, "Tidak apa-apa, Kak Ara. Dulu aku bakar rumah, sekarang aku yang bangun lagi. Aku senang, rasanya dosaku hilang satu-satu setiap batu bata aku pasang."
Pohon Revan Baru yang sudah berbunga itu, sekarang bunganya sudah jadi buah mangga kecil-kecil, lima buah mangga kecil hijau. Warga percaya, lima buah itu adalah tanda lima rumah pertama yang selesai dibangun.
Satu bulan kemudian, lima rumah pertama selesai! Warga yang punya rumah baru itu menangis bahagia masuk ke rumah batu bata baru mereka yang lebih kuat dan lebih bagus.
Di depan setiap rumah baru, Dion tanam satu bibit mangga kecil lagi, bibit dari Pohon Revan Baru, jadi nanti Langgur akan punya banyak Pohon Revan Baru di setiap rumah.
Langgur yang dulu dibakar, sekarang dibangun lagi lebih bagus, pakai uang dari orang yang dulu membakarnya. Itu namanya karma baik.
Malam setelah lima rumah selesai, Ara duduk lagi di bawah Pohon Revan Baru yang buahnya sudah mulai besar, sambil menulis di buku harian barunya.
Dia menulis, "Hari ini 5 rumah selesai. Dion sudah benar-benar jadi orang baik. Ayahnya mati, tapi warisannya jadi berkah buat Langgur. Mungkin ini yang namanya Revan bilang dulu, 'Harta haram kalau dipakai untuk kebaikan, jadi halal.'"
Angin malam bertiup dan lima buah mangga kecil di Pohon Revan Baru bergoyang pelan, seperti lonceng kecil yang berdenting, tanda setuju.
Langgur bukan cuma merdeka dari kutukan emas, tapi juga merdeka dari dendam, karena memaafkan lebih berat daripada menebang pohon, tapi lebih manis hasilnya.