Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Pasukan Jin Kafir Mengepung Kampung
Jam 03:44.
Hujan darah masih turun di Dusun Krajan. Langit merah darah seperti Alam Seberang , tanah sudah jadi tulang manusia bertumpuk, kalau diinjak berderak.
Dua gerbang masih menganga:
Sumur belakang rumahku: lima meter, gerbang Jin Kafir, keluar terus pasukan Banaspati.
Masjid Tua Tanpa Karpet: lima belas meter, gerbang Jin Islam, keluar 300 pasukan Kiai Jirji.
Aku berdiri di tengah, di perempatan dusun, baju ku basah darah hujan, tongkat cendana Malik di tangan kanan ku patah ujungnya karena adu mantra.
Bu Wiwik, Ibu Angkat ku dari Surabaya, masih di video call,menangis lihat langit Krajan merah dari layar HP ku, "Arga! Apa yang terjadi di kampungmu? ucap ibuku.
Aku matikan HP. Aku tidak bisa jelaskan Gerbang Antara Dua Dunia Terbuka ke Ibu Angkat.
Malik lari ke aku, jubah putihnya sudah kotor darah hujan, dia gendong anaknya santri kecil 5 tahun yang pingsan habis adu mantra.
"Arga, Banaspati tidak langsung serang! Dia kepung dulu! Itu taktik Raja Iblis Kampung! ucap Malik.
Aku lihat sekeliling. Benar.
1000 Pasukan Jin Kafir yang keluar dari sumur lima meter itu tidak langsung masuk rumah warga. Mereka buat lingkaran besar, mengelilingi Dusun Krajan secara penuh.
Di utara, di jembatan bambu masuk dusun, berdiri Ulo Sowo yang hidup ketiga kalinya, tubuh ularnya 20 kali lebih besar, kepalanya sebesar mobil Avanza, matanya merah, lidahnya menjilat jembatan sampai jembatan itu hitam dan putus. Tidak ada warga bisa keluar, tidak ada bantuan bisa masuk. Utara terkepung.
Di selatan, di sawah.
berdiri 20 anak remaja bermata hitam, anak-anak yang dulu mata hitam sekarang sudah remaja, tingginya dua meter, mereka pegang tangan, buat pagar gaib hitam, setiap padi yang kena pagar itu langsung mati jadi abu. Selatan terkepung.
Di barat, di Beringin Kembar, berdiri Jamil yang berkhianat yang hitam lagi, dia bawa 300 Jin Kafir kecil-kecil, anak buah Ulo Sowo yang mati kena azan tapi hidup lagi karena gerbang terbuka. Mereka gali tanah di bawah Beringin, bikin parit hitam dua meter mengelilingi dusun. Barat terkepung.
Di timur, di Masjid Tua Tanpa Karpet, berdiri Banaspati sendiri, Raja Iblis empat meter dengan kepala kerbau, dia tancapkan gada tulang sapinya ke tanah tulang, dan dari gada itu keluar asap hitam yang naik ke langit merah, asap itu jadi kubah hitam, menutup langit Dusun Krajan seperti mangkok terbalik. Timur, atas, semua terkepung.
Pasukan Jin Kafir Mengepung Kampung. Bukan menyerang, tapi mengepung. Biar warga panik, biar warga kelaparan gaib, biar warga saling bunuh.
Warga yang baru siuman dari kesurupan massal , mereka bangun, lihat langit merah, tanah tulang, hujan darah, dan lingkaran Jin Kafir di sekeliling kampung, mereka menjerit.
Bu Lastri peluk anaknya, "Kiamat! Kiamat! teriaknya.
Pak Min ambil parang, tapi parangnya berkarat kena hujan darah.
Sari, satu-satunya gadis yang darahnya sudah suci, dia lari ke aku, "Kak Arga, kita dikepung! ucapnya.
Aku harus jadi komandan. Aku ingat pesan Mbah Suro Joyo : "Kalau kampung dikepung, jangan lawan keluar, lawan dari dalam, pakai Masjid Tanpa Karpet sebagai benteng."
Aku teriak, "SEMUA WARGA MASUK MASJID! BAWA TIKAR, BAWA AIR BENING SUMUR YANG MASIH PUTIH! MASUK MASJID!"
Warga sebanyak 40 orang lari ke masjid, masuk ke retakan lima belas meter yang sebenarnya adalah gerbang Jin Islam. Tapi di dalam masjid, karena ada 300 Jin Islam, tempat itu aman, cahaya putih, hujan darah tidak masuk.
Di dalam masjid, Kiai Jirji sudah buat barikade cahaya, 300 Jin Islam pegang pedang cahaya, melingkar.
Malik tarik aku, "Arga, kita tidak bisa menang lawan 1000 kalau kita di dalam saja. Mereka kepung kita biar kita kehabisan tenaga. Satu-satunya cara buka kepungan, kita harus bunuh 4 penjaga penjuru: Ulo Sowo di utara, 20 remaja mata hitam di selatan, Jamil di barat, Banaspati di timur. 4 penjuru mata angin. Itu Ritual Terakhir di Tengah Alas yang belum kita lakukan.
"Bagaimana caranya? tanyaku.
"Anak saya, santri kecil ini, dia tahu mantra untuk buka pagar. Tapi dia butuh darah penjaga lagi, darahmu, untuk jadi kunci..."jawab Malik.
Anak kecil 5 tahun itu sadar, dia menatap aku, "Kak Arga, boleh minta darah? tanyanya.
Aku tidak pikir panjang, aku sobek lagi telapak tanganku yang baru sembuh, darahku menetes ke dahi anak itu.
Begitu darahku kena dahinya, anak itu bercahaya terang sekali, dia terbang, keluar dari kubah hitam masjid, terbang ke atas langit merah.
Dari atas langit merah, anak itu teriak dengan suara 1000 santri, "BISMILLAHI RAHMANI RAHIM! PAGAR KAFIR HANCUR!"
Cahaya putih dari anak itu turun seperti meteor, menghantam empat penjuru.
Utara: Meteor hantam kepala Ulo Sowo, kepala sebesar Avanza itu putus, Ulo Sowo mati keempat kalinya, jembatan bambu yang putus menyambung lagi dengan cahaya.
Selatan: Meteor hantam pagar 20 remaja mata hitam, pagar hitam itu pecah, 20 remaja itu menjerit, mata hitamnya pecah, jadi mata normal, mereka jatuh pingsan jadi anak desa biasa.
Barat: Meteor hantam parit hitam Jamil, parit itu tertutup, Jamil yang hitam terpental, tubuh hitamnya retak, dari retakan itu keluar cahaya putih, Jamil abu-abu lagi, setengah sadar.
Timur: Meteor hantam kubah hitam Banaspati, kubah itu retak, hujan darah berhenti, langit merah bolong, terlihat sedikit bulan purnama asli.
Kepungan pecah 60%
Pasukan Jin Kafir 1000 yang melingkar, mereka panik, barisan mereka berantakan karena empat penjaganya jatuh.
Banaspati marah besar, dia cabut gada tulangnya dari tanah, dia tunjuk ke aku yang berdiri di pintu masjid.
"PENJAGA BARU! KAU PIKIR KAU MENANG?! KEPUNGAN KU MEMANG PECAH, TAPI AKU MASIH PUNYA 1000 PASUKAN! DAN KAU HANYA PUNYA EMPAT PULUH WARGA LEMAH DAN 300 JIN ISLAM YANG SUDAH CAPEK!"
Dia angkat gada, dia pukulkan ke tanah tulang.
Blarrr! Tanah tulang di bawah masjid bergetar, retakan masjid lima belas meter yang jadi gerbang Jin Islam, menganga lagi jadi dua puluh meter, dan dari dalam retakan dua puluh meter itu, bukan keluar Jin Islam, tapi keluar tangan Ibu kandungku, Mira, yang mau ditarik Banaspati paksa jadi tumbal kedua.
Banaspati mau pakai Ibu untuk tutup gerbang Jin Islam, biar 300 Jin Islam tidak bisa keluar bantu warga.
Aku lihat tangan Ibu di retakan masjid, Ibu menangis, "Arga... jangan..."ucap ibuku.
Pasukan Jin Kafir Mengepung Kampung, memang pecah pagar luarnya, tapi sekarang mereka mengepung dari dalam, lewat Ibu.
Perang sesungguhnya baru mulai.