NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Terbongkarnya Kecurangan

Setelah selesai sarapan, Tantya, Bu Afifah, dan Tara berpindah ke ruang keluarga. Ruangan itu sederhana, dengan seperangkat sofa lama yang masih terawat, meja kayu di tengah ruangan, serta televisi yang diletakkan di atas lemari kecil. Dindingnya masih menggunakan cat lama, sementara lantainya berlapis keramik yang sebagian warnanya sudah kusam dimakan usia.

Tantya duduk bersandar di sofa, sementara Bu Afifah duduk di sebelahnya. Tara memilih duduk di karpet dekat meja sambil memainkan ponselnya. Sesekali gadis itu menunjukkan sesuatu di layar kepada kakaknya, membicarakan pesanan makanan yang masuk ke akun jualan daringnya.

Namun, di tengah obrolan ringan itu, pandangan Tantya justru tertuju pada lantai dan dinding ruang keluarga. Dahinya berkerut. Ia teringat sesuatu yang pernah dibicarakan ibunya beberapa bulan lalu.

"Bu, kenapa keramiknya belum diganti? Apa uang yang aku kirim kurang?" tanyanya tiba-tiba.

Bu Afifah yang sedang merapikan ujung kerudungnya langsung menoleh. Ia tampak bingung mendengar pertanyaan putrinya.

"Maksudmu apa, Tya?"

Tantya menunjuk lantai di hadapannya. "Lho, itu kamar Tara belum direnovasi juga?"

"Renovasi?" Bu Afifah mengulang kata itu, semakin tidak mengerti.

"Iya, Bu. Waktu itu, kan, saat Mas Rendra pulang sendiri ke sini, sekitar dua bulan lalu, Ibu bilang mau renovasi dapur dan kamar Tara. Aku ingat betul. Begitu Mas Rendra pulang dan cerita soal itu, aku langsung transfer uang lima puluh juta untuk biaya renovasi." Tantya menatap ibunya dengan heran. "Kok sampai sekarang belum ada perubahan apa-apa?"

Bu Afifah terdiam. Wajahnya berubah serius, sementara Tara yang semula sibuk dengan ponsel langsung mengangkat kepala.

"Lima puluh juta?" ulang Bu Afifah dengan suara nyaris tak terdengar.

"Iya, Bu. Lima puluh juta. Memangnya kenapa?"

Bu Afifah menatap putrinya lekat-lekat, seolah berusaha memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.

"Kita nggak pernah menerima uang itu, Tya."

Tantya sontak menegakkan tubuhnya.

"Apa?"

"Kita nggak pernah menerima uang lima puluh juta dari kamu, Nak." Bu Afifah menggeleng pelan. "Lagian, mana berani Ibu dan Tara meminta kamu merenovasi rumah ini? Rumah ini masih bisa ditempati. Kalau memang belum ada rezeki untuk memperbaiki semuanya, ya, kami jalani saja seperti biasa."

Tantya menatap ibunya dengan mulut sedikit terbuka. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu.

"Apa, Bu? Serius?"

"Mana berani Ibu bohong sama kamu, Tya." Bu Afifah mengusap lengan putrinya dengan lembut. "Uang yang dikirim suamimu, ya, uang itu. Yang sejuta setiap bulan."

Tantya langsung menoleh tajam. "Berapa?"

"Sejuta," jawab Bu Afifah polos. "Kan, kamu mengirimnya segitu, ya?"

"Apa? Ibu benar-benar cuma menerima segitu?"

Kali ini suara Tantya meninggi. Ia bahkan setengah berteriak karena tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Iya, Nak. Memangnya kenapa?" Bu Afifah mulai terlihat kebingungan melihat perubahan sikap putrinya.

Namun, Tantya seolah tidak mendengar pertanyaan itu. Pikirannya mendadak dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat dadanya sesak. Selama ini, ia selalu memastikan bahwa kebutuhan ibunya terpenuhi. Ia mengirim uang setiap bulan dalam jumlah yang menurutnya cukup untuk membantu ibunya dan Tara menjalani kehidupan sehari-hari.

Bukan satu juta rupiah. Tapi lima juta rupiah.

Jumlah yang sama dengan uang bulanan yang ia kirimkan kepada ibu Rendra.

"Ya Allah, Bu!" Tantya mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Aku selalu mengirim uang ke Ibu itu lima juta setiap bulan. Lima juta. Aku samakan dengan kiriman untuk ibunya Mas Rendra."

Bu Afifah dan Tara langsung terdiam. Keduanya saling menatap, sama-sama terkejut mendengar pengakuan Tantya.

"Lima juta?" tanya mereka hampir bersamaan.

Tara bahkan sampai meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menatap kakaknya dengan mata membesar, seolah masih berusaha mencerna informasi yang baru saja didengarnya.

"Iya, Tar. Lima juta." jawab Tantya dengan napas memburu. "Aku nggak pernah mengurangi uang yang kukirim untuk Ibu. Aku pikir selama ini Ibu menerima jumlah yang sama dengan yang kutransfer."

Bu Afifah menggeleng pelan. Wajahnya terlihat begitu terpukul. "Ya Allah, Tya. Jadi selama ini kamu mengirim lima juta setiap bulan?"

"Iya, Bu."

"Tapi yang masuk ke rekening Ibu cuma sejuta."

Kalimat itu membuat suasana ruang keluarga mendadak hening. Tak ada lagi obrolan ringan. Tak ada lagi tawa seperti saat mereka sarapan tadi. Hanya terdengar suara televisi dari ruangan sebelah yang samar-samar terdengar, kontras dengan ketegangan yang kini menyelimuti mereka.

Tantya menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. Ia berusaha mengingat kembali semua uang yang pernah dikirimkannya, termasuk transfer lima puluh juta untuk renovasi rumah ibunya.

Jika ibunya hanya menerima satu juta rupiah setiap bulan, lalu ke mana perginya empat juta rupiah lainnya?

Dan yang lebih membuatnya geram, bagaimana mungkin uang lima puluh juta yang secara khusus ia kirimkan untuk renovasi rumah ini tidak pernah sampai kepada orang yang seharusnya menerimanya?

Tantya mengangkat wajah. Rahangnya mengeras, sementara matanya mulai berkaca-kaca menahan amarah. "Mas Rendra..." gumamnya lirih, nyaris seperti desisan. "Jadi, selama ini kamu melakukan semua ini di belakangku?"

Bu Afifah menatap putrinya dengan cemas. "Tya, ada apa sebenarnya? Apa suamimu yang biasa transfer uang itu melakukan?" Bu Afifah tak berani melanjutkannya.

"Ya Bu, dia mengambil sebagian besar hak ibu." Tantya tertawa pendek, tetapi sama sekali tidak terdengar seperti tawa bahagia. Ia justru merasa getir menyadari betapa mudahnya dirinya mempercayai orang yang selama ini ia anggap sebagai pasangan hidup.

"Semua uang itu aku transfer lewat rekening Mas Rendra. Karena dia yang memintanya demikian. Aku sangat percaya dia akan menyampaikannya kepada Ibu."

Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara bergetar. "Aku nggak pernah berpikir kalau uang untuk Ibu sendiri bisa diperlakukan seperti ini."

Tara yang sejak tadi diam akhirnya mendekat dan duduk di samping kakaknya. "Mbak, berarti uang yang selama ini Mbak kirim buat Ibu..."

Tara tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Tantya menoleh kepada adiknya, kemudian mengangguk pelan. "Iya, Tar. Seharusnya Ibu menerima lima juta setiap bulan. Bukan satu juta."

Bu Afifah menunduk. Ada kesedihan yang perlahan memenuhi wajahnya. Selama ini, ia tidak pernah mempermasalahkan jumlah uang yang diterimanya. Satu juta rupiah memang tidak banyak, tetapi ia berusaha mencukupkan diri. Ia bahkan bersyukur karena Tara mulai menghasilkan uang dari berjualan makanan secara daring sehingga mereka masih bisa menyisihkan sedikit uang untuk ditabung.

Ia tidak pernah menyangka bahwa putrinya sebenarnya telah berusaha memberikan lebih banyak. "Nak," ucap Bu Afifah pelan, "Ibu nggak pernah tahu. Ibu pikir memang segitu kemampuanmu. Ibu juga nggak mau kamu terbebani."

Mendengar itu, hati Tantya justru semakin sakit.

"Iya, Bu. Aku tahu. Justru karena Ibu nggak pernah menuntut apa-apa, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik buat Ibu. Alhamdulillah toko busana muslimku laku banget."

Tantya mengusap sudut matanya dengan cepat. Ia tidak ingin menangis, tetapi kenyataan yang baru saja terungkap terasa begitu menyakitkan.

Pagi tadi, ia datang ke rumah ibunya dengan harapan bisa menenangkan diri dari perlakuan keluarga suaminya. Ia tidak pernah menyangka bahwa kepulangannya justru akan membuka persoalan yang jauh lebih besar.

Kini, bukan hanya perasaan dan harga dirinya sebagai seorang istri yang terluka. Kepercayaannya kepada Rendra pun mulai runtuh.

Kini, Tantya merasa perlu memeriksa semuanya sendiri. Ia tidak ingin lagi hanya mengandalkan penjelasan suaminya.

Sebab jika benar uang yang selama ini ia kirimkan tidak pernah sampai kepada ibunya, maka ada sesuatu yang harus segera ia ungkap. Sesuatu yang mungkin akan mengubah seluruh pandangannya terhadap laki-laki yang selama ini ia panggil suami.

1
Heny
What lagi asyik baca thor.. Lanjut
Heny
Jng mau di bujuk di rayu tya jng banyak mengalah
Heny
Gercap tya jng tunggu lama2 amankan aset ygkm punya
Heny
Sudah lah tya lbh baik pisah dr pada dimanfaatkan
Heny
Duh tantya besok2 klau diajak jng mau lbh baik jln sendiri
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!