Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Cemburu
Pagi-pagi ketika Glen sedang siap-siap didepan cermin dan merapikan penampilnnya untuk segera berangkat kekantor, sementara Amira masih berada didapur mempersiapkan serapan seperti biasanya. Setelah Glen selesai bersiap, dia keluar dari kamar dan pergi kedapur.
"Pagi sayang." Sapa Glen tersenyum.
"Selamat pagi, sayang." Jawab Amira setelah melihat Glen sekilah dan kembali mempersiapkan makanan diatas meja.
"Sepertinya enak banget makanan ini, perutku langsung terasa lapar." Ucap Glen sembari duduk dibangku.
"Haha, biasa ajah sayang. Nih, kamu harus makan yang banyak." Ucap Amira membuat makanan itu kepiring Glen.
"Terimakasih, sayang. Kamu makan juga lah."
"Oke," Lalu Amira mempersiapkan makanan untuknya juga.
"Sayang," panggil Glen.
"Hem, kenapa?." Jawab Amira sambil fokus makan.
"Kamu gak merasa kelelahan kalau harus memasak?," Tanya Glen, lalu Amira menatap Glen. "Maksud ku, kamu kan juga cape pergi kekantor dan pulang kamu harus memasak dan membereskan rumah sendirian. Aku tidak tega sayang melihat kamu mengerjakan semuanya. Kita bisa membayar orang untuk urusan rumah." Perjelas Glen, merasa tidak enak melihat Amira yang harus mengerjakan banyak hal. Meskipun Amira sebagai istri dan harus bertanggung jawab dengan urusan rumah saja, akan tetapi Glen tidak mau itu. Dia tidak ingin Istrinya mengerjakan semuanya setelah mereka menikah.
Amira tersenyum, dia merasakan begitu pedulinya Glen dengannya. "Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Aku masih bisa kok mengurus ini semuanya. Lagi pula ini adalah tanggung jawab ku sebagai Istri." Jawabnya.
"Apa kamu serius?, aku hanya merasa kasihan kepadamu sayang, karena aku tahu kamu juga pasti merasa lelah setelah pulang dari kantor."
"Aku serius, kalau pekerjaan kantor kan aku tidak setiap hari pergi kekantor, dan aku lebih banyak waktu dirumah ajah. Masih bisalah aku urus semuanya. Sudah-sudah kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku, sayang." Ucapnya sepenuh hati.
"Baik lah kalau begitu sayang, asalkan hal ini kerelaan hati mu."
Tidak lama kemudian Hp Amira berdering diatas meja makan. Dan mengalihkan pandangannya ke Hp tersebut, Amira mengambil dan melihat siapa yang menelponnya.
"Melly," Sontak Glen menatap Amira dan sedikit panik. "Dari kemaren dia gak angkat telpon ku." Ketus Amira. Lalu dia menerima panggilan tersebut.
Disis lain Glen menelan ludahnya dan berusaha menahan ekspresi khawatirnya dan berharap didalam hati supaya Melly tidak mengatakan sesuatu yang bisa menghancurkan hubungannya. dengan Amira nantinya.
"Amira, hai." Sapa Melly dengan suara cerianya.
"Hai, Mell. Kenapa kemarin kamu tidak bisa dihubungi?, kamu dimana?."
"Oh iya, Mir. Maaf ya, kemaren aku lagi ada urusan yang sangat penting, jadi aku tidak menyadari kamu menghubungi aku." Jelas Melly.
"Oh, begitu ya. Aku paham kok Mell. Jadi apa sekarang kamu sudah santai?, bagaimana keadaan mu sekarang apakah baik-baik saja?."
"Hem, aku lumayan baik-baik saja sekarang." Jawab Melly dengan suara sedikit terdengar ragu.
"Kenapa Mell?, apa ada yang terjadi hal yang kurang baik padamu?." Tanya Amira khawatir.
Glen yang mendengar pun langsung menatap Amira dan sedikit tegang.
"E-em, tidak perlu khawatir Mir. Semuanya sudah terjadi dan Sekarang aku sudah baik-baik saja kok, Mir. Bukan hal yang perlu dipikirkan."
"Syukur lah kalau begitu." Ucap Amira menghela napasnya. Ketegangan Glen pun berkurang sedikit setelah melihat ekspresi Amira yang masih biasa saja. "Melly, kalau ada apa-apa kamu beri tahu aku ya, jangan didiemin sendiri." Ucap Amira cemberut. "Gak adil kan kalau aku ada masalah selalu ku kasih tahu samamu, sementara kamu tidak mau berbagi padaku." Tambahnya.
"Hahaha, baik lah-baiklah. Aku akan berusaha berbagi masalah ku padamu sekarang." Jawabnya sarkas.
"Hahaha, oke, Mell."
"Oh iya, ada apa kamu menghubungi ku kemarin, Mir?."
Amira menghela napasnya bersiap untuk memberitahukan kabar pernikahannya kepada Melly, sebenarnya dia sedikit khawatir memberi tahu ini karena setelah menikah sudah diberi tahu, harusnya dia memberi tahukan hal seperti ini sebelum menikah. tapi ya sudah lah, semuanya terjadi begitu tiba-tiba dan Amira sudah pasrah mendengar perkataan dari sahabatnya itu.
"Sebenarnya aku ingin memberitahukan kalau aku sudah menikah, Mell."
"Aku sudah tahu."
"Ha?" Amira bingung, kenapa Melly b isa tahu? dan dari mana dia mengetahuinya sementara Amira belum pernah cerita kesiapa pun selain pernikahannya dengan Glen. "K-kamu tahu?."
"Aku sudah tahu kalau kamu pasti ingin mengerjai ku kan?." Ucap Melly.
Lalu Amira menghela napasnya, ternyata pemikiran Melly berbeda dengan yang sebenarnya.
"Ya ampun, aku ini serius Mell, aku sudah menikah dua hari lalu."
"Apa?."
Amira bisa mendengar suara Melly yang kaget, dia menjadi sedikit grogi sekarang. "A-em aku minta maaf Mell, aku tidak memberi tahu mu sebelum menikah karena tiba-tiba saja pernikahan ini terjadi." perjelas Amira. Disisi lain Glen hanya terdiam saja menyimak perkataan mereka. Glen menyadari kalau Melly sedang berpura-pura tidak tahu tentang pernikahan Amira, dan dia merasa sedikit lega akhirnya Melly mau membantunya untuk tidak memberi tahu hubungan mereka dulu.
"Tunggu dulu, k-kamu serius, Mir?."
"I-iya aku serius, Mell. Aku menikah dengan Glen."
"Aku gak terima!." Ucap Melly dari balik telepon.
"Ya ampun, aku minta maaf Melly baru bisa mengabari mu. Pliss maaf kan sahabat mu ini ya." Ucap Amira memohon, berpikir kalau Melly tidak terima karena dia memberi tahunya setelah pernikahan, padahal maksud Melly adalah kalau dia tidak terima dia menikah dengan Glen.
"Melly, kenapa kamu diam?."
Glen melihat kearah Amira lagi, penasaran dengan apa yang Melly katakan, karena suara Hp nya sangat kecil jadi Glen tidak bisa mendengarnya, Glen hanya bisa menangkap pembicaraan mereka dari ekspresi dan perkataan Amira saja.
"Melly, jangan marah dong. Kamu marah ya sama aku?. Melly plisss." Ucap Amira memohon-mohon bak anak kecil.
"Hahaha, Kamu lucu sekali memohon padaku Mir."
"Astaga, jadi kamu hanya ber-ekting saja?. Bisa-bisanya ya kamu mengerjai ku, hampir saja aku terbang kesitu untuk membujuk mu."
"Ya ampun, sebenarnya aku masih kesal sih sama kamu, Mir. Karena terlambat memberi tahu ku. Akan tetapi, aku tidak bisa lama-lama kesal pada mu. Karena kamu adalah sahabat ku."
Amira tersenyum lega mendengar perkataan Melly.
"Tetapi aku akan menghukummu."
"Ha?, menghukum ku?. menghukum apa?."
"Karena aku akan ke Indonesia minggu depan-"
Amira syok mendengar Melly akan datang ke indonesia, dia sangat merasa senang. " Kamu ke Indonesia?."
Seketika Glen keselek dengan air yang baru saja diminum.
"Iya, aku akan keindonesia jadi aku harus menghukummu dengan memisahkan mu dengan suami mu si Glen itu." Ucap nya.
"Aku senang sekali kamu bakal datang, Mell. Tapi hukuman apa itu?, memisahkan ku dengan Glen?." Tanya nya bercanda, dia tahu kalau Melly sedang bercanda dengannya. Namun disisi lain Glen semakin menegang, dia tahu kalau kedatangan Melly keindonedia pasti mempunyai maksud tertentu.
"Karena aku sudah kesitu, jadi sementara kamu harus menemani aku selama di situ. Tidak akan kubiarkan kalian berdua bersama. Oke!. Karena aku lah yang paling sering komunikasi pada mu selama ini, aku sangat cemburu!." Ucapnya terkekeh.
"Hahaha, baiklah-baiklah, apa sih yang tidak untuk sahabatku ini."