Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ethan melangkah melewati ambang pintu, menjejakkan kakinya ke dalam kamar Bella yang pengap dan berdebu. Pria itu berjalan perlahan, berkeliling memeriksa setiap sudut isi ruangan tersebut dengan dada yang kian terasa sesak dihantam rasa bersalah. Penyesalan yang teramat besar membakar nuraninya karena selama dua puluh tahun ini, ia sama sekali tidak pernah memperhatikan bagaimana kelayakan kehidupan adik perempuannya di rumah megah ini.
Dunia mereka benar-benar berbanding terbalik bagai bumi dan langit. Selama ini, Ethan dan adik-adik laki-lakinya tidur dengan nyaman di dalam kamar yang luas, di atas kasur sutra yang empuk dengan pendingin ruangan yang sejuk. Sementara di gudang dingin ini, Bella terpaksa melewatkan ribuan malam hanya beralaskan sebuah tikar tipis yang sudah usang dan selimut kain yang teramat tipis untuk menahan angin malam.
Saat sepasang mata elang Ethan terus menyapu pemandangan miris di sekitarnya, gerakannya mendadak terhenti kaku. Pandangannya terkunci rapat pada sebuah bingkai yang diletakkan di atas meja kecil di sudut ruangan.
Jantung Ethan serasa berhenti berdetak seketika. Tubuhnya membeku, dan seluruh wajah tegasnya memucat pasi melihat objek di dalam bingkai tersebut.
Itu adalah sebuah foto duka. Foto potret diri Bella yang tersenyum manis, lengkap dengan kain hitam yang menyilang di sudut bingkainya—sebuah foto pemakaman yang biasanya disiapkan setelah seseorang tiada.
"Bella ... ternyata kamu sudah menyiapkan semuanya," bisik Ethan, suaranya mendadak pecah dan serak oleh luapan air mata penyesalan yang tak terbendung lagi.
Kedua tangannya yang gemetar hebat terulur untuk mengambil foto duka tersebut, memeluknya erat di dada. Seluruh kekuatan di kakinya lenyap. Dengan tubuh ringkih yang kehilangan arah, Ethan merosot turun dan terduduk lemas di atas tikar tipis yang menjadi tempat tidur Bella selama dua puluh tahun ini.
"Dari sejak awal ... kamu rupanya sudah bersiap menghadapi kematianmu sendiri, tepat sejak hari di mana kamu mengetahui batas usiamu," ratap Ethan pilu di tengah kesunyian gudang lantai tiga, menyadari betapa kejamnya takdir yang telah mereka paksakan pada adik perempuannya yang berjuang sendirian di dalam kegelapan.
"Pasti sangat menyakitkan apa yang kamu rasakan selama ini, Bella ...," bisik Ethan parau. Air matanya kini luruh semakin deras, membasahi permukaan kaca bingkai di genggamannya. "Pasti ... pasti kamu selalu merasa kesepian di atas sini. Aku benar-benar salah padamu. Aku bersalah karena telah menyiksa batinmu selama dua puluh tahun ini."
Ethan meratapi nasib buruk adiknya dengan dada yang kian teramat sesak. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia terus mengusap-usap permukaan foto duka Bella, seolah-olah lewat sentuhan itu ia bisa menghapus ribuan hari penuh penderitaan yang telah ia timpakan pada sang adik. Rasa penyesalan yang membakar nuraninya terasa begitu menghancurkan, melebihi rasa sakit fisik mana pun yang pernah ia tahu.
Tak tahan lagi menahan badai emosi yang mengamuk di dalam dadanya, Ethan langsung membekap bingkai foto duka Bella di dadanya dengan teramat erat.
Pria yang biasanya selalu tegap, tenang, dan berwibawa sebagai kepala keluarga itu kini hancur total. Bahunya berguncang hebat, dan pertahanannya runtuh tanpa sisa. Di atas tikar tipis yang dingin dan usang itu, Ethan menangis sejadi-jadinya, menumpahkan raungan pilu yang selama belasan tahun ini ia kekang dalam kesunyian. Gudang lantai tiga yang pengap dan berdebu itu kini menjadi saksi bisu atas penyesalan terdalam seorang kakak sulung yang telah terlambat menyadari ketulusan adiknya.
Setelah beberapa saat tenggelam dalam tangisnya yang mulai mereda menjadi isakan serak, ingatan Ethan mendadak terarah kembali pada tujuan utamanya datang ke sini. Buku harian mendiang Mama.
Dengan mata yang memerah dan bengkak, Ethan perlahan menurunkan bingkai foto Bella dan meletakkannya kembali ke atas meja kecil dengan sangat hati-hati.
"Ternyata ... hari kematian yang dia katakan pada waktu itu ... pada Mama, Papa, dan Kakek benar-benar terjadi," ucap Ethan dengan suara yang terputus-putus oleh isakan parau. Pria itu mengangkat tangannya yang gemetar, lalu mulai memukul-mukul dadanya sendiri dengan keras, mencoba meredakan rasa sesak yang teramat sangat menghimpit parunya.
Setiap pukulan di dadanya laksana hantaman godam yang menghakimi seluruh keangkuhannya di masa lalu.
"Hanya saja ... kami yang tidak bisa menerima kenyataan pahit akan hal itu," ratat Ethan pilu. "Kami selalu melimpahkan seluruh kesalahan padanya. Selama belasan tahun ini, aku selalu berpikir bahwa dialah penyebab dari segala penderitaan yang menimpa kami. Aku selalu berpikir kalau keberadaannya hanya membawa kesialan bagi keluarga ini, dan dengan mengasingkannya di tempat menjijikkan seperti ini, akan membuat kami jauh dari musibah."
Air mata Ethan luruh semakin deras, menetes membasahi tikar tipis yang menjadi saksi bisu kesendirian Bella selama dua puluh tahun. Kebenaran yang baru saja ia sadari terasa begitu membakar nuraninya dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
"Aku selalu berpikir dialah yang menyebabkan semua anggota keluarga meninggal dengan kesialannya ...," tangis Ethan pecah lagi, meremas kain kemeja di dadanya dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Padahal dia tidak pernah membunuh siapa pun. Dia hanya bisa melihat akhir dari takdir kami ... dan kami justru menghukumnya atas kutukan yang tidak pernah dia minta!"
Di tengah ruangan yang sunyi dan berdebu itu, penyesalan seorang kepala keluarga Adipta terdengar begitu menyayat hati. Kebencian yang selama ini mereka gunakan sebagai benteng pertahanan, kini terbukti hanyalah bentuk ketakutan pengecut yang telah menghancurkan hidup adik perempuan mereka sendiri.
Setelah beberapa saat membiarkan dadanya bergemuruh oleh rasa sakit, Ethan perlahan menurunkan tangannya. Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa, ia menghapus air mata yang mengaburkan pandangannya.
Para pelayan yang berkumpul di luar koridor hanya bisa terpaku dalam diam. Melihat Ethan, sosok kepala keluarga yang biasanya selalu tegak dan berwibawa, kini terduduk lesu dan terpuruk dalam tangis penyesalan yang hebat di atas tikar tipis itu, sungguh membuat mereka merasa sangat iba.
Kesedihan yang selama bertahun-tahun ini tersimpan rapat di lantai tiga, malam ini akhirnya meledak tanpa sisa.
Tak tahan lagi melihat pemandangan memilukan itu, Bibi Marni—pelayan paruh baya yang sejak tadi berdiri menguping dengan air mata berlinang di balik pintu—akhirnya melangkah mantap memasuki kamar gudang tersebut. Ia mendekati Ethan yang masih meremas kemejanya sendiri dengan dada yang kembang kempis.
"Tuan Muda Ethan ... Anda sangat keliru," ucap Bibi Marni dengan suara yang bergetar hebat menahan tangis, mengabaikan status sosial di antara mereka demi menyuarakan kebenaran.
Ethan tidak menjawab. Ia hanya terisak parau, tetap menenggelamkan wajahnya di atas lutut yang ditekuk.
"Apakah Tuan Muda sudah lupa jika Nona Besar Bella juga merupakan adik kandung Anda sendiri, Tuan?" tegur Bibi Marni, setiap katanya laksana hantaman belati yang langsung menusuk nurani Ethan. "Saat kecelakaan maut itu terjadi, Nona Besar juga kehilangan keluarganya. Bukan cuma kalian saja yang berduka di rumah ini."
Bibi Marni menjeda kalimatnya sejenak untuk menghapus air mata yang meluncur di pipinya yang keriput, lalu melanjutkan dengan nada yang kian menyayat hati.
"Apalagi ... Nona Besar bukan cuma kehilangan kedua orang tuanya malam itu, Tuan. Beliau juga harus kehilangan seluruh kasih sayang dari kakak-kakak kandungnya sendiri. Kalian mengasingkannya, membencinya, dan memperlakukannya seolah beliau adalah monster pembawa petaka. Padahal saat itu ... saat itu Nona Besar masih teramat kecil, Tuan Muda! Beliau masih berumur sepuluh tahun dan sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang kutukan ghaib di tangan kirinya!"
Mendengar rentetan kalimat jujur dari mulut pelayan setianya, tubuh Ethan seketika menegang kaku. Kata-kata Bibi Marni dengan telak menelanjangi seluruh dosa dan keegoisan jajaran kakak laki-laki keluarga Adipta selama dua puluh tahun ini.
Isak tangis Ethan kembali pecah, kali ini terdengar jauh lebih memilukan dan serak. Rasa bersalah yang teramat sangat laksana meremukkan seluruh tulang-tulangnya di atas lantai marmer gudang yang dingin ini, menyadari betapa kejamnya mereka telah merampas masa kecil adik mereka sendiri.
"Tuan Muda tidak tahu betapa menderitanya Nona Besar selama ini," ucap Bibi Marni lagi, suaranya parau dan terputus-putus oleh tangis. Ia meratap pilu, memandang sekeliling ruangan yang pengap. "Beliau selalu diasingkan, dikucilkan, dan tidak dipedulikan sejak kecil. Bibi selalu merasa kasihan setiap kali melihat Nona Besar ... betapa kejamnya kalian pada anak yang sama sekali tidak berdosa ini, Tuan!"
Mendengar kata "kejam" yang telak diarahkan kepadanya, pertahanan Ethan benar-benar lebur. Air matanya mengalir deras membasahi pipi yang memucat.
"Iya, Bibi benar ...," sahut Ethan dengan suara bergetar hebat. Pria itu mengangkat tangannya yang kekar, lalu mulai memukul-mukul dadanya sendiri dengan hantaman yang sangat keras. "Kami yang salah selama ini. Apalagi aku ... aku yang paling bersalah besar di sini! Aku manusia brengsek. Aku yang brengsek ... aku brengsek!"
Setiap pukulan yang mendarat di dadanya seolah menjadi cara Ethan untuk menghukum dirinya sendiri atas kelalaiannya selama dua puluh tahun.
"Sudah, Tuan ... sudah. Jangan menyalahkan diri Anda sendiri seperti ini," ucap Bibi Marni panik. Rasa ibanya mengalahkan kemarahannya saat melihat sang majikan besar memukuli dadanya sendiri dengan begitu frustrasi. Ia melangkah maju, mencoba menahan pergelangan tangan Ethan yang gemetar.
"Tidak, Bi ... aku salah, Bi! Aku banyak dosa sama Bella ... dia adik kandungku, Bi!" raung Ethan lagi, menolak untuk ditenangkan. Napasnya memburu layaknya orang yang kehilangan arah, didera rasa sesak yang teramat sangat mencekik parunya.
Bibi Marni ikut menangis, mengelus pundak Ethan yang kini tampak begitu rapuh di atas tikar tipis yang usang. "Yang sabar, Tuan ... jangan begini lagi. Kasihan Nyonya dan Tuan Besar di alam sana. Mereka pasti akan sangat sedih melihat anak-anaknya terpecah dan saling membenci seperti ini," ucap Bibi Marni dengan nada suara yang melembut, mencoba menenangkan badai penyesalan di dalam dada Kak Ethan.
Ethan perlahan menurunkan tangannya yang lemas. Derap napasnya berangsur-angsur melambat di tengah keheningan gudang lantai tiga yang berdebu. Kalimat Bibi Marni tentang mendiang orang tua mereka seolah menjadi jangkar yang menariknya kembali dari jurang kegilaan rasa bersalah. Ia harus kuat. Ia tidak boleh hanya menangis di sini. Masih ada buku harian Mama yang harus ia temukan, dan masih ada Bella di rumah sakit yang sedang menanti pembuktian tobatnya.
"Saya sudah hidup lama dan punya banyak pengalaman hidup, Tuan Muda," ucap Bibi Marni dengan nada suara yang bergetar penuh ketulusan, menatap langsung ke dalam mata elang Ethan yang masih basah. "Jujur saja, masalah dan takdir orang tua itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan anak-anak. Nona Besar Bella itu sama seperti kalian, beliau sama-sama tidak bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu."
Bibi Marni mengembuskan napas pendek, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menyampaikan permohonan terakhirnya demi sang nona besar.
"Jadi, saya mohon, Tuan ... jangan pernah menyakiti Nona Besar Bella lagi," pinta Bibi Marni parau, air matanya kembali meluncur di pipinya yang keriput. "Beliau itu sangat rapuh dan juga butuh perlindungan dari kakak-kakaknya. Berilah Nona Besar kehidupan yang layak di rumah ini, Tuan Muda."
Mendengar rangkaian kalimat yang sarat akan permohonan itu, Ethan merasa dadanya laksana dihantam oleh ombak besar. Kata-kata sang pelayan setianya mengunci seluruh tekad baru di dalam jiwanya. Ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun, termasuk adik-adik laki-lakinya, menyakiti Bella lagi setelah hari ini.
"Terima kasih banyak, Bibi ...," ucap Ethan lirih dengan suara baritonnya yang serak.
Bibi Marni hanya mengangguk takzim sebagai balasan. Setelah berhasil menenangkan sang tuan besar dan memastikan badai penyesalan di dada Ethan mulai mereda, pelayan paruh baya itu perlahan membalikkan badan. Ia melangkah keluar dari kamar gudang yang pengap tersebut dan berjalan menuju dapur di lantai bawah, meninggalkan Ethan yang kini kembali sendirian di dalam kamar sunyi milik Bella.
Setelah Bibi Marni turun ke dapur, Ethan terdiam dan kembali merenung seorang diri di dalam kamar Bella yang sunyi. Pandangannya terjatuh pada lantai marmer yang dingin, membayangkan bagaimana adik perempuannya melewatkan ribuan malam sepi di tempat ini.
"Aku yang bersalah padamu ...," bisik Ethan lirih pada keheningan ruangan. Suara baritonnya bergetar hebat menahan sesak. "Saat mengetahui hari kematianmu adalah tepat di hari ulang tahunmu ... pasti kamu sangat ketakutan selama ini, Bella. Sebagai kakak tertua, aku yang paling bersalah padamu."
Rasa bersalah itu kembali menghujam nuraninya, tetapi kali ini tidak lagi membuatnya terpuruk. Ethan menarik napas panjang, mencoba menguasai seluruh emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Sorot matanya yang memerah kini memancarkan seulas tekad baru yang teramat kuat.
"Bella ... Kakak berjanji akan menebus semua dosa dan kesalahan Kakak padamu," ucap Ethan tegas, mengunci janjinya di dalam hati.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki pelan terdengar mendekat. Bibi Marni kembali masuk ke dalam kamar gudang tersebut sembari membawa sebuah nampan berisi secangkir teh hangat untuk sang majikan besar.
"Tuan Muda, minumlah ini terlebih dahulu agar pikiran Tuan bisa sedikit lebih tenang," ucap Bibi Marni lembut, meletakkan cangkir tersebut di atas meja kecil di samping bingkai foto duka Bella.
Malam kian melarut di dalam ruang rawat rumah sakit yang sunyi senyap. Jarum jam dinding digital di atas pintu terus berdetak ritmis, berkejaran dengan detak suara bedside monitor yang menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan ini. Olivia sudah pulang sejak sore tadi, dan kini aku kembali sendirian, terbungkam di bawah selimut putih yang kaku.
Aku menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan lanskap kota dengan kerlip lampu yang temaram. Pikiran dan batinku berkecamuk hebat, merenungkan apa yang sebenarnya akan terjadi pada kehidupanku ke depannya.
Aku masih hidup ..., bisikku lirih dalam hati, menurunkan pandangan dan kembali menatap nanar telapak tangan kiriku.
Kulitku polos, bersih dari barisan angka ghaib berdarah yang kemarin sempat mengunci takdirku di tanggal dua puluh Juni. Rasa tidak percaya bercampur ngeri seketika merayap di sepanjang pembuluh darahku. Kutukan ghaib yang kuwarisi dari mendiang Mama tidak pernah meleset seumur hidupku; tanda itu selalu menjemput Papa, Mama, dan Kakek tepat pada detiknya. Namun malam ini, fakta bahwa aku masih bisa menghirup pasokan oksigen di dunia ini membuktikan bahwa roda takdir kami telah bergeser secara misterius.
Namun, alih-alih merasa tenang, dada bagian kiriku justru mendadak dihantam oleh rasa cemas yang teramat sangat menyesakkan.
Jika kutukan ini meleset dari diriku, apakah itu berarti takdir kematian tersebut sedang mengincar hal lain? Apakah pergeseran garis akhir ini akan berbalik memicu malapetaka baru yang jauh lebih mengerikan bagi Kak Ethan, Kak Aaron, Kak Charles, atau bahkan adik kecilku Olivia?
Aku meremas ponsel di balik bantal, teringat kembali pada pesan kejam dari Kak Aaron beberapa jam lalu dan amukan temperamental dari Kak Charles siang tadi. Hubungan keluarga kami sudah hancur lebur oleh kesalahpahaman masa lalu selama dua puluh tahun. Kini, dengan adanya Kak Ethan yang mendadak berubah protektif dan mulai mencari tahu rahasia di gudang lantai tiga, aku tahu badai besar di dalam keluarga Adipta baru saja dimulai.
Aku memejamkan mata erat-erat di tengah temaram lampu ICU, membiarkan setitik air mata pasrah luruh membasahi pipiku. Di tengah kesendirian malam yang kian mencekam, aku hanya bisa berdoa pada kesunyian, memohon agar kesempatan kedua yang kucuri dari kematian ini tidak perlu dibayar mahal dengan nyawa saudara-saudaraku yang lain.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~