"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pembalasan Selir Cerdas di Hadapan Raja
Dua tangan bersarung kulit mencengkeram lengan Dyah Ayu dan menyentaknya berlutut ke batu pelataran.
Bhayangkara. Empat orang, bertopeng hitam, mengepungnya dari segala arah. Di belakang mereka, dua belas Prajurit Estri membentuk lingkaran dengan belati terhunus, ujung-ujungnya berkilau merah di bawah cahaya obor.
Pelataran Candi Leluhur berubah menjadi pasar yang terbakar. Para brahmana berlarian menjauhi padupan. Seorang adipati muda muntah di balik pilar. Tubuh Tumenggung Arya Seta masih mengejang di atas tikar, kakinya menendang-nendang sesaji bunga hingga kelopak merah dan putih berhamburan.
"Picis dia!" teriak seseorang dari barisan menteri. "Tusuk dia di depan arca leluhur!"
Suara-suara lain menyambut. Makin keras. Makin buas.
Di atas undakan, Gusti Prabaswari sudah kembali duduk. Kipas bulu merak menutupi separuh wajahnya. Hanya matanya yang terlihat, basah dan gemetar, persis seperti mata seorang permaisuri yang baru saja menyaksikan pembantaian.
Tetapi Dyah Ayu melihat kipas itu. Gerakannya terlalu pelan. Terlalu teratur. Tangan yang ketakutan tidak mengipas dengan irama tembang.
Salah satu Bhayangkara di sisi kirinya mencengkeram lengannya lebih lemah daripada yang lain. Jari-jarinya sedikit gemetar. Dyah Ayu tidak menoleh ke arah topeng itu. Ia tidak perlu.
"Gusti Prabu."
Suaranya tidak keras. Tetapi ia mengucapkannya dengan jernih, di sela jeda teriakan, dan sengaja diarahkan lurus ke atas dampar emas.
Prabu Hayam Vira belum bergerak sejak asap hitam pertama naik. Ia masih duduk, satu siku di sandaran dampar, jari-jari menopang rahang. Satu-satunya orang di pelataran itu yang tidak berteriak, tidak berdiri, dan tidak menutup hidung.
"Hamba tidak memohon ampun," lanjut Dyah Ayu. "Hamba memohon waktu sepemakan sirih. Jika hamba tidak bisa membuktikan tangan hamba bersih, Gusti boleh memicis hamba dengan tangan Gusti sendiri."
"Sinuwun!" Prabaswari menurunkan kipasnya. "Mahapatih Gajahwira sedang sekarat! Apakah kita harus mendengarkan dongeng dari perempuan yang..."
Hayam Vira mengangkat satu jari.
Permaisuri terdiam di tengah kalimat.
"Lepaskan dia," ucap sang Raja.
____________________
Cengkeraman di lengannya terlepas. Dyah Ayu berdiri, merapikan jariknya, lalu berjalan tanpa tergesa ke arah barisan menteri yang tumbang.
"Tabib Keraton," panggilnya. Seorang lelaki tua berkain cokelat menoleh dengan wajah pucat. "Mereka tidak sekarat. Busa di bibir, kejang, mata berputar, tetapi kulit mereka tidak membiru. Ini asap kecubung, bukan warangan. Beri mereka air kelapa hijau yang dicampur arang kayu yang ditumbuk halus. Paksa mereka muntah. Sebelum bulan turun, mereka akan bangun dengan kepala sakit."
Tabib itu menatapnya. Lalu menatap tubuh Tumenggung Arya Seta. Ia berlari memanggil muridnya.
Dyah Ayu kembali ke depan arca. Ia berlutut di samping padupan perunggu berukir naga yang masih basah oleh air siramannya.
Lalu ia merogoh setagennya.
Bungkusan daun pisang itu sudah lembap oleh keringat, tetapi masih utuh. Ia membukanya perlahan, di hadapan semua mata, dan mengeluarkan sebatang dupa cokelat kemerahan. Ukuran, warna, dan gulungannya sama persis dengan tiga batang yang tadi ia bakar.
"Hamba membuat enam puluh batang dupa dari satu adonan, di dapur sesaji, disaksikan dua dayang," ucapnya. "Hamba menyisakan satu batang, sesuai ajaran ibu hamba."
Ia tidak menancapkannya ke padupan perunggu. Ia mengambil cawan tanah liat kosong dari sesaji, menyulut dupa itu pada api pelita, lalu menancapkannya di sana.
Asap putih naik. Tipis, lurus ke langit malam, tanpa condong.
Wangi kamboja dan kemenyan menyebar di pelataran. Bersih. Hangat.
Orang-orang yang tadi berteriak paling keras mundur selangkah, menahan napas. Satu tarikan napas berlalu. Dua. Lima.
Tidak ada yang batuk. Tidak ada yang tumbang.
"Dupanya sama," ucap Dyah Ayu. "Tetapi tempat ia dibakar berbeda."
Ia meraih padupan perunggu itu. Bunyi logam yang diseret di atas batu berdenting nyaring di keheningan. Ia membaliknya. Abu kelabu dan sisa dupa yang basah jatuh berhamburan.
Di dasar padupan, di bawah lapisan abu, melekat pasta hitam kental setebal kuku. Lengket. Berkilat seperti ter.
Dyah Ayu mengambil pisau kecil dari sesaji buah, mengeruk pasta itu sedikit, lalu mengangkatnya ke arah cahaya obor.
"Dupa yang terbakar meninggalkan abu kelabu yang rapuh. Ini bukan abu," ucapnya. "Ini getah biji kecubung hitam, dicampur minyak kelapa agar tidak kering. Getah ini diletakkan di dasar padupan sebelum abu ditaburkan. Begitu bara menyentuhnya, ia menguap bersama asap dupa."
Ia menyodorkan ujung pisau itu ke arah Tabib Keraton, yang baru kembali. Lelaki tua itu mengendusnya, lalu mundur dengan wajah mengernyit.
"Kecubung," gumamnya. "Kecubung hitam. Tidak salah lagi."
Bisik-bisik kembali meledak di barisan menteri. Tetapi kali ini, kepala-kepala itu tidak menoleh ke arah Dyah Ayu.
Kepala-kepala itu menoleh ke arah undakan. Ke arah Permaisuri.
"Padupan itu hadiah kehormatan dari Gusti Permaisuri," ucap Dyah Ayu tenang. "Hamba baru menerimanya dua malam lalu, dari tangan Nyai Kenanga."
Kipas di tangan Prabaswari berhenti bergerak.
____________________
"Fitnah." Suara Permaisuri dingin, tetapi masih terkendali. "Padupan itu sudah berada di tanganmu dua hari. Siapa pun bisa memasukkan apa pun ke dalamnya. Termasuk dirimu sendiri."
"Gusti benar," jawab Dyah Ayu, lalu menyembah. "Karena itu, izinkan hamba memeriksa satu hal lagi."
Ia berdiri, berjalan ke arah barisan dayang di samping undakan. Langkahnya berhenti di depan seorang perempuan paruh baya berwajah tirus yang bersimpuh dengan kedua tangan tersembunyi di balik lipatan kain.
"Nyai Kenanga. Boleh hamba melihat tangan Nyai?"
Dayang itu tidak bergerak.
"Tunjukkan tanganmu," ucap Hayam Vira dari atas dampar. Suaranya tidak meninggi sedikit pun.
Perlahan, Nyai Kenanga mengulurkan kedua tangannya.
Kulit di punggung tangannya merah dan lecet, seperti digosok batu apung berkali-kali. Tetapi di sela kuku-kukunya, di bagian yang tidak bisa dijangkau batu apung, tersisa garis-garis ungu kehitaman yang tipis.
Dyah Ayu meraih tangan itu. Mendekatkannya ke hidung. Bau pahit dan apak yang sama dengan pasta di dasar padupan.
"Getah kecubung hitam tidak luntur oleh air," ucapnya, cukup keras untuk didengar seisi pelataran. "Hanya air kapur sirih yang bisa melunturkannya, dan itu butuh semalaman. Nyai sudah menggosoknya sampai kulit Nyai terkelupas, tetapi sela kuku tidak bisa digosok."
Ia melepaskan tangan itu.
"Dua malam lalu, saat Nyai menyerahkan padupan ini kepada hamba, kuku Nyai bersih. Hamba mengingatnya, karena terlalu bersih untuk dayang yang mengaku baru saja menggosok perunggu." Ia menatap lurus ke mata dayang itu. "Dan dua dayang di dapur sesaji melihat Nyai datang sendirian sebelum subuh tadi. Katanya ingin memastikan padupan pusaka Gusti Permaisuri sudah bersih."
Nyai Kenanga menarik tangannya ke dada. Wajahnya kelabu.
Untuk pertama kalinya, matanya melirik ke atas undakan. Ke arah Prabaswari.
Hanya sekejap. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya bersujud, dahi menghantam batu.
"Ampun, Sinuwun! Hamba sendiri yang melakukannya! Hamba iri pada selir baru itu! Gusti Permaisuri tidak tahu apa-apa! Hamba sendiri!"
Dyah Ayu tidak bergerak. Ia memandang punggung perempuan yang gemetar itu, lalu mengangkat pandangannya ke atas undakan.
Prabaswari duduk tegak, wajahnya putih pualam. Tetapi ia tidak membantah. Ia tidak membela dayangnya. Ia hanya mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi, dan Dyah Ayu mengerti: perempuan itu sudah memperhitungkan hal ini. Nyai Kenanga sudah dikorbankan sebelum ia melangkah ke dapur sesaji.
Hayam Vira bangkit dari dampar emasnya.
Ia menuruni undakan, satu anak tangga demi satu, tanpa tergesa. Setiap orang di pelataran bersujud saat ia lewat. Ia berhenti di depan Nyai Kenanga, lalu mencabut keris dari pinggangnya.
"Kau meracuni para pembesarku di depan leluhurku," ucapnya. "Satu-satunya hal baik yang kau lakukan malam ini adalah tidak membunuh mereka."
Keris itu turun hanya satu kali.
Tidak ada jeritan. Hanya satu bunyi tumpul, dan tubuh yang rebah ke samping.
Beberapa selir memalingkan muka. Seseorang terisak di belakang barisan. Prabaswari tidak memalingkan muka sedikit pun. Tetapi kuku jemarinya kini mencengkeram lengan singgasana, dan Dyah Ayu melihat satu kuku berhias giok itu retak.
Hayam Vira menyerahkan kerisnya yang basah kepada seorang Bhayangkara. Lalu ia berbalik menghadap pelataran.
"Dengarkan aku."
Pelataran itu sunyi total.
"Perempuan ini menyelamatkan Mahapatihku, menyelamatkan kehormatan leluhurku, dan membongkar pengkhianat di bawah hidung kalian semua dalam waktu sepemakan sirih." Matanya menyapu barisan menteri, lalu naik ke Prabaswari, dan berhenti di sana. "Mulai malam ini, Dyah Ayu dari Watugaluh bukan lagi selir ampil. Ia adalah Selir Utama. Prameswari Muda Kagendra. Paviliun Candrakirana menjadi miliknya."
Seseorang di barisan selir menjatuhkan kipasnya.
Prabaswari tersenyum. Senyum yang sempurna, tanpa cela, tanpa retak.
Lalu ia bangkit, menuruni satu anak tangga, dan menyembah sang Raja dengan anggun.
"Hamba ikut berbahagia, Sinuwun," ucapnya lembut. "Keputren memang sudah lama membutuhkan... darah baru."
_____________________
Paviliun Candrakirana berbau melati dan kayu cendana yang baru dipernis.
Tiang-tiangnya dilapisi prada emas. Kelambu ranjangnya sutra tipis berwarna gading. Ada kolam teratai kecil di serambi belakang, dan cermin perunggu setinggi tubuhnya yang begitu mengilap sampai Dyah Ayu bisa menghitung setiap bulu matanya sendiri.
Enam dayang baru menyiapkan air mandi berisi kelopak mawar. Tidak satu pun dari mereka berani menatap matanya.
Dyah Ayu berdiri di depan cermin itu lama sekali. Kemben sutra ungu tua kini membalut tubuhnya. Gelang emas melingkar di pergelangan kanannya, menutupi bekas memar yang mulai menguning.
Tangannya masih berbau kecubung.
Ia sedang menggosok jemarinya dengan air kapur sirih ketika pintu jati paviliun terbuka tanpa diketuk.
Keenam dayang langsung bersujud, lalu bergegas keluar tanpa diperintah. Pintu tertutup di belakang mereka.
Prabu Hayam Vira berdiri di ambang bilik. Mahkotanya sudah dilepas. Kain batiknya masih sama dengan yang ia pakai di pelataran candi. Di ujung kainnya, Dyah Ayu melihat satu bercak gelap yang belum kering.
Ia berbalik, dan tanpa melepas pandangan dari Dyah Ayu, menarik palang kayu pintu hingga terkunci.
Bunyi kayu yang terkunci berdebam pelan di seluruh bilik.
"Gusti," ucap Dyah Ayu, menyembah dengan tangan yang masih basah.
Hayam Vira tidak menjawab. Ia berjalan mendekat. Satu langkah, dua langkah, sampai Dyah Ayu terpaksa mundur. Punggungnya menyentuh dinding kayu berukir, dingin dan keras di balik sutra tipisnya.
Raja itu mengangkat kedua tangannya dan menempelkannya ke dinding, di kiri dan kanan kepala Dyah Ayu. Mengurungnya.
Bau cendana, bau besi, dan bau darah yang samar memenuhi setiap tarikan napas Dyah Ayu. Dadanya naik-turun, nyaris menyentuh dada lelaki itu. Ia bisa melihat setiap garis luka di leher Hayam Vira, dan denyut nadinya yang berdetak pelan dan tenang.
Terlalu tenang.
Hayam Vira menunduk. Hidungnya menyusuri garis rahang Dyah Ayu, berhenti di bawah telinganya, tepat di tempat yang semalam ia tekan untuk menghitung ketakutannya. Dyah Ayu merasakan panas napas itu merambat turun ke lehernya.
"Kau telah memenangkan babak pertama melawan Permaisuri," bisiknya, rendah dan serak. "Sekarang, tunjukkan padaku apa imbalan yang pantas untuk Rajamu ini."
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..