Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Perjalanan singkat dari garasi menuju pintu depan rumah Nessa malam itu terasa seperti rute yang sangat panjang bagi Naya. Tangan kirinya yang kini dihiasi oleh cincin berlian berpotongan emerald itu terus berada dalam genggaman erat Kafka.
Ucapan pria itu di dalam mobil tadi—tentang di kamar mana mereka akan tidur—masih terus berputar di kepala Naya, membuat wajahnya terasa panas dan kakinya sedikit gemetar.
Begitu pintu depan terbuka, suasana rumah sudah gelap dan sepi. Hanya ada lampu temaram di sudut lorong. Nessa sepertinya sudah tertidur pulas di kamarnya.
Naya menarik napas lega. Ia melangkah menuju tangga, namun langkahnya terhenti saat menyadari Kafka berjalan tepat di belakangnya, nyaris menempel. Pria itu tidak berbelok ke arah kamar tamu di lantai bawah yang menjadi tempat tidurnya selama beberapa hari ini, melainkan terus mengikuti Naya menaiki tangga.
Saat Naya tiba di depan pintu kamarnya, ia berbalik. Kafka berdiri menjulang di hadapannya, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, menatap Naya dengan sorot mata yang menuntut.
"Kaf, kamarmu di bawah," bisik Naya, berusaha terdengar rasional meskipun jantungnya berdetak tidak keruan.
"Mulai malam ini, kamarku ada di mana pun kau berada," jawab Kafka dengan suara serak yang pelan.
Pria itu melangkah maju, mendorong pintu kamar Naya hingga terbuka, lalu menuntun Naya masuk ke dalam. Naya menelan ludah. Kamar ini lumayan luas, namun ranjangnya adalah ranjang single ukuran medium, bukan king-size seperti di hotel.
"Kaf, ranjangnya sempit," Naya mencoba beralasan, mundur selangkah hingga punggung kakinya menyentuh tepi kasur.
Kafka menutup pintu di belakang mereka hingga berbunyi klik. Pria itu melepaskan jas abu-abunya, melemparnya sembarangan ke atas kursi meja rias, lalu melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Setiap gerakannya memancarkan karisma yang membuat napas Naya tersendat.
"Ranjang yang sempit berarti kau tidak punya ruang untuk menjauh dariku, Sayang," Kafka mengukir senyum miring yang memabukkan.
Ia berjalan mendekat, menekan bahu Naya dengan sangat lembut hingga wanita itu terduduk di tepi ranjang. Kafka lalu berlutut di hadapan Naya, melepaskan sepatu hak tinggi yang dikenakan wanita itu dengan telaten, mengusap pelan pergelangan kaki Naya sebelum berdiri.
"Ganti bajumu, bersihkan wajahmu. Aku akan menunggumu di sini," perintah Kafka halus, mengecup kening Naya sebelum memutar tubuhnya, memberikan privasi bagi Naya.
Naya tidak bisa menolak. Ada sesuatu yang luar biasa manis dan protektif dari cara Kafka memperlakukannya. Setelah mencuci wajah dan mengganti pakaian kerjanya dengan piyama sutra berlengan panjang berwarna navy, Naya keluar dari kamar mandi.
Kafka sudah berbaring di atas ranjangnya. Pria itu hanya melepaskan kemejanya, menyisakan kaus dalam hitam tanpa lengan dan celana bahannya. Lengan kokohnya yang dihiasi urat-urat halus terlipat di bawah kepalanya. Ia menempati separuh ranjang, menyisakan ruang yang sangat pas untuk Naya di sebelahnya.
Naya naik ke atas ranjang dengan ragu-ragu. Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Kafka langsung bergerak. Pria itu menarik pinggang Naya, merengkuh wanita itu hingga punggung Naya menempel sempurna di dada bidangnya. Kedua lengan Kafka melingkar posesif di perut Naya, mengunci wanita itu dalam kehangatan.
Aroma mint dan cedarwood seketika menginvasi paru-paru Naya. Tubuh keras Kafka di belakangnya terasa seperti dinding pelindung yang tak tertembus.
"Tidurlah," bisik Kafka, bibirnya menyapu puncak kepala Naya, suaranya bergetar di tengah keheningan malam. "Tidak ada lagi bayangan masa lalu. Hanya ada aku. Mulai sekarang, setiap kali kau menutup mata dan membukanya, hanya ada aku."
Naya memejamkan mata. Rasa aman yang luar biasa pekat menyelimutinya. Jemari Naya bergerak meremas pelan lengan Kafka yang melingkar di perutnya. Malam itu, di atas ranjang yang sempit, Naya tidur dengan sangat nyenyak, dijaga oleh pria yang bersumpah untuk menjadikan dunia Naya sebagai pusat semestanya.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyilaukan mata Naya. Ia mengerjap pelan, merasakan beban berat namun nyaman di pinggangnya.
Ia menoleh dan mendapati Kafka masih tertidur lelap. Wajah pria itu terlihat sangat polos dan damai saat tertidur, sangat kontras dengan aura eksekutif kejam yang biasa ia pancarkan. Rambut hitamnya jatuh menutupi kening, dan napasnya teratur menerpa bantal.
Naya tersenyum tanpa sadar. Ia mengangkat tangan kirinya, menatap cincin berlian yang berkilau tertimpa cahaya pagi. Kejadian semalam benar-benar nyata.
Kruyuk...
Perut Naya berbunyi pelan. Ia lapar. Dengan sangat hati-hati, Naya menyingkirkan lengan Kafka dari pinggangnya, berusaha tidak membangunkan pria itu. Ia berhasil turun dari ranjang, merapikan piyamanya, dan mengendap-endap keluar dari kamar menuju lantai bawah.
Di dapur, aroma kopi dan telur dadar sudah tercium. Nessa sedang berdiri di depan kompor dengan rambut yang dijepit asal-asalan, mengenakan kaus kebesaran.
"Pagi, Nes," sapa Naya santai, berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin.
"Pagi, calon kakak ipar!" goda Nessa tanpa menoleh, tangannya sibuk membalik omelet. "Gimana tidur lo? Nyenyak setelah dilamar sama adik gue?"
Naya nyaris tersedak air minumnya sendiri. Wajahnya seketika merona. Ia berdehem pelan. "Ya... nyenyak kok."
"Bagus deh. Gila ya, gue masih nggak nyangka Kafka segercep itu. Dari dulu dia tuh kaku banget kalau urusan cewek. Eh, tapi wajar sih, dia kan udah naksir lo dari jaman batu," cerocos Nessa sambil mematikan kompor dan memindahkan telur ke atas piring.
Nessa berbalik, membawa dua piring sarapan ke meja makan. Saat ia meletakkan piring di depan Naya, matanya yang setengah mengantuk tanpa sengaja menangkap kilauan yang sangat menyilaukan dari tangan kiri Naya yang sedang memegang gelas.
Gerakan Nessa terhenti total. Ia membeku. Matanya membelalak lebar, menatap tangan Naya.
"N-Nay..." suara Nessa tiba-tiba mengecil, terdengar seperti orang yang baru saja melihat hantu. "Itu... di jari lo... itu apaan?"
Naya tersentak. Ia buru-buru menyembunyikan tangan kirinya di bawah meja. "Eh? Bukan apa-apa, Nes."
"Bukan apa-apa ndasmu! Siniin tangan lo!" Nessa menarik tangan Naya dengan paksa dari bawah meja.
Begitu melihat cincin berlian berpotongan emerald itu dari jarak dekat, rahang Nessa nyaris jatuh menyentuh lantai. Matanya melotot seolah ingin keluar dari sarangnya.
"YA TUHAN! KAFKA!" teriakan melengking Nessa menggema ke seluruh penjuru rumah, memekakkan telinga Naya. "Lo gila ya, Nay?! Batu segede gaban begini lo umpetin?! Ini... ini Cartier kan?! Astaga, ini harganya bisa buat beli ruko dua pintu di Kemang!"
"Nes, pelan-pelan suaranya! Ini hadiah dari Kafka semalam..." Naya berusaha menenangkan sahabatnya yang kini memegangi kepalanya sendiri seolah mau pingsan.
Terdengar suara langkah kaki berat dari arah tangga. Kafka turun dengan wajah bantal, masih mengenakan celana bahannya yang kusut dan kaus dalam hitam. Matanya menyipit karena silau, rambutnya berantakan, namun ketampanannya justru terlihat semakin tidak masuk akal.
"Ada apa teriak-teriak pagi-pagi, Kak Nessa?" tanya Kafka dengan suara seraknya yang khas bangun tidur, berjalan santai menuju dapur.
"Lo nanya ada apa?!" Nessa menuding adiknya dengan garpu. "Lo lamar sahabat gue pakai cincin seharga ruko, terus lo biarin dia tidur sendirian di atas sementara lo tidur di bawah?! Lo waras nggak sih, Kaf?!"
Langkah Kafka terhenti. Ia menguap pelan, mengusap belakang lehernya, lalu menatap kakaknya dengan tatapan datar yang luar biasa tenang.
"Siapa bilang aku tidur di bawah?" jawab Kafka santai. Ia menarik kursi di sebelah Naya, duduk, lalu menuangkan kopi ke dalam cangkirnya. "Ranjangnya memang sempit, tapi untungnya aku tidak butuh banyak ruang selama aku bisa memeluknya."
Keheningan seketika melanda meja makan itu.
Naya menutupi wajahnya dengan kedua tangan, ingin rasanya ia menghilang ke inti bumi saat ini juga. Kafka benar-benar tidak tahu diri! Pria itu mengucapkannya seolah ia sedang mendiskusikan cuaca pagi ini.
Nessa menganga. Ia menatap adiknya, lalu menatap Naya yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus.
"Kalian..." Nessa menunjuk Naya dan Kafka bergantian. "Kalian tidur sekamar? Di rumah gue? Di bawah hidung gue?!"
"Jangan berteriak, Kak. Telingaku sakit," tegur Kafka, menyesap kopinya dengan elegan. "Dan ya, kami tidur bersama. Hanya tidur. Aku masih cukup menghormati ayah Naya untuk tidak melewati batas sebelum cincin itu berpindah ke tangan kanannya."
Nessa menghembuskan napas panjang, memijat pelipisnya. Bukannya marah, wanita itu justru terlihat kehabisan kata-kata menghadapi kelakuan dominan adiknya.
"Terserah lo deh, Kaf. Gue udah nggak ngerti lagi sama cara kerja otak lo yang kelewat bucin ini," gerutu Nessa, kembali duduk dan mulai memakan sarapannya dengan agresif. "Tapi awas aja kalau sampai Mama dan Papa tahu. Lo bisa digantung di Monas."
Mendengar kata 'Mama dan Papa', gerakan Kafka yang sedang memotong telur dadar terhenti. Naya juga ikut membeku. Orang tua Kafka dan Nessa adalah konglomerat yang menetap di London. Bagaimana reaksi mereka jika tahu putra pewaris mereka melamar seorang wanita biasa yang baru saja gagal menikah?
"Mereka akan tahu pada waktunya," jawab Kafka singkat, namun rahangnya sedikit mengeras.
Siang itu di kantor, Naya merasa seperti sedang berjalan di atas catwalk. Bukan karena penampilannya, melainkan karena setiap kali ia mengetik di keyboard atau memegang dokumen, cincin berlian di jari manis kirinya memantulkan cahaya lampu ruangan dengan sangat mencolok.
Beberapa kali Mita dan teman-teman divisinya melirik ke arah tangannya.
"Nay, cincin baru?" tanya Mita saat jam makan siang, matanya tidak lepas dari berlian itu. "Kemarin-kemarin perasaan nggak ada. Gila, kilaunya... ini asli kan?"
"Dari... hadiah," jawab Naya sekenanya, berusaha menyembunyikan tangannya. Ia ingat pesan Kafka tadi pagi di dalam mobil: "Jangan dilepas. Biarkan semua pria di kantormu tahu bahwa kau adalah milik orang yang mampu memberikan dunia untukmu."
Baru saja Naya bernapas lega karena jam makan siang hampir usai, ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja bergetar hebat. Ada panggilan masuk dari Nessa.
"Halo, Nes?" sapa Naya.
"Nay! Lo lagi sama Kafka nggak?!" suara Nessa terdengar sangat panik dari seberang sana.
"Nggak, dia kan di kantornya. Kenapa, Nes?" perasaan Naya mendadak tidak enak.
"Gawat, Nay! Gawat banget!" Nessa nyaris berteriak. "Gue tadi kelepasan update status Close Friend foto tangan lo yang pakai cincin itu. Dan tebak apa? Akun bodong punya Mama ternyata masuk di Close Friend gue!"
Darah Naya seolah berdesir cepat menuju ujung kakinya. "Terus...?"
"Mama langsung video call gue sambil nangis-nangis histeris nanya itu cincin siapa," isak Nessa frustrasi. "Gue terpaksa ngaku kalau Kafka abis ngelamar lo. Dan lo tahu apa yang Mama lakuin?!"
"Apa, Nes?" Naya menelan ludah, suaranya bergetar.
"Mama sama Papa lagi packing koper sekarang. Mereka memajukan jadwal penerbangan dan bakal mendarat di Jakarta besok malam! Mereka mau ketemu lo, Nay! Siapkan mental lo, karena Nyonya Besar Adiraja kalau ngamuk lebih seram dari Godzilla!"