NovelToon NovelToon
NATIONAL PROTECTION

NATIONAL PROTECTION

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEDATANGAN KAWAN LAMA

​Tawa Ignatius memecah keheningan yang mencekam di jalanan Sektor 1 yang telah hancur lebur. Pahlawan Nasional Peringkat Keenam itu tertawa terbahak-bahak hingga ia harus memegangi perutnya. Zirah apinya berkobar semakin liar, merespons emosi arogannya yang meledak-ledak. Ia memandang pemuda berjubah hitam di depannya seolah sedang melihat pelawak jalanan.

​"Peringkat Pertama? Sang Kaisar Kilat?!" ejek Ignatius, matanya menatap Andre dengan pandangan merendahkan yang dipenuhi keyakinan buta. "Kau pikir kau bisa membodohi kami dengan ilusi murah dan petir hitam tiruan itu? Kaisar Kilat telah mati sepuluh tahun lalu! Tubuhnya menjadi abu, dan jiwanya dikutuk ke neraka terdalam. Kau hanyalah bidaah gila yang mencoba memakai nama hantu untuk menakuti pahlawan Eden!"

​Ignatius merentangkan kedua tangannya. Udara di sekitarnya menguap, menciptakan distorsi panas yang melengkungkan pandangan. Api suci berwarna putih yang diklaim mampu memurnikan segala dosa meledak dari tubuhnya, membentuk pusaran tornado api yang menjulang hingga menembus awan. Aspal jalanan meleleh menjadi magma seketika.

​"Aku, Ignatius, Sang Holy Pyromancer, akan memastikan namamu benar-benar menjadi abu!" raungnya, bersiap meluncurkan badai api pemusnah ke arah Andre.

​Di sisi lain, Gaius dan Elara tidak ikut menyerang. Insting bertarung mereka yang jauh lebih tajam daripada Ignatius menjeritkan peringatan mutlak. Ketenangan pemuda berbaju hitam di depan mereka, tekanan gravitasi dari auranya, dan yang paling penting... stigmata mahkota hitam di dadanya. Ada sesuatu yang terlalu familier dari hawa membunuh itu, sesuatu yang membuat jiwa kedua pahlawan senior itu bergetar hebat.

​Namun, sebelum Ignatius sempat melepaskan serangan apinya, langit di atas mereka mendadak membeku.

​Awan yang sebelumnya terbakar oleh panas Ignatius tiba-tiba membeku menjadi kristal-kristal es raksasa yang jatuh berhamburan. Suhu udara anjlok secara ekstrem dari ribuan derajat Celcius menjadi minus seratus derajat hanya dalam waktu satu detik.

​BLAAARRR!

​Sebuah tombak perak sepanjang dua meter menancap dengan keras di aspal, tepat di antara Andre dan ketiga Pahlawan Nasional tersebut. Gelombang badai salju absolut meledak dari titik jatuhnya tombak itu, membekukan pusaran api suci Ignatius dalam sekejap mata layaknya patung kaca, lalu menghancurkannya menjadi serpihan debu es yang tak berbahaya.

​Ignatius terpental mundur, memuntahkan darah akibat pembalikan mananya sendiri. "Sihir es mutlak ini... tidak mungkin!"

​Dari langit yang membeku, tiga sosok melayang turun dan mendarat dengan anggun di belakang tombak perak tersebut.

​Di barisan paling depan, berdiri Valeria, Sang Tombak Perak, Pahlawan Nasional Peringkat Ketiga. Di sebelah kanannya, berdiri seorang pria berzirah baja berat memegang pedang meteorit—Orion, The Gravity Knight, Pahlawan Peringkat Kedelapan. Dan di sebelah kirinya, seorang wanita anggun dengan busur melengkung yang memancarkan pendaran cahaya bulan—Selene, The Phantom Archer, Pahlawan Peringkat Kesembilan.

​Gaius membelalakkan matanya yang berada di balik helm bajanya. "Valeria?! Orion? Selene?! Apa yang kalian lakukan di Sektor Pusat? Arthur tidak memberikan mandat untuk kalian turun dari wilayah perbatasan!"

​Elara, yang melayang dengan pusaran anginnya, juga tampak kebingungan luar biasa. "Dan mengapa kalian menyerang Ignatius? Apa kalian sudah gila? Pemuda itu adalah Ancaman Bencana Skala Nasional! Dia yang membunuh Kaelen!"

​Namun, ketiga Pahlawan Nasional itu sama sekali tidak mempedulikan teriakan Gaius dan Elara. Mereka bertiga melangkah melewati tombak perak yang tertancap di tanah, berjalan menghampiri Andre.

​Lalu, di hadapan sisa-sisa puluhan ribu Inkuisitor yang sedang mengepung mereka, dan di bawah tatapan tak percaya dunia yang mungkin sedang menyimak melalui satelit pengintai, Peringkat Ketiga, Kedelapan, dan Kesembilan dari umat manusia itu menjatuhkan diri mereka. Mereka berlutut dengan satu kaki, dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

​"Maaf kami terlambat, Komandan," ucap Valeria, suaranya bergetar menahan luapan emosi dan kesetiaan mutlak yang selama sepuluh tahun ia pendam. "Kami telah mengamankan wilayah perbatasan Utara dan memblokir bala bantuan Inkuisitor dari dua sektor lainnya."

​"Pedang dan panah kami kembali menjadi milikmu, Bos," sambung Orion dan Selene secara bersamaan, suara mereka serempak memancarkan kehormatan tertinggi.

​Keheningan yang melumpuhkan akal sehat melanda seluruh Sektor 1. Lima ratus legiun Rishing Guild di belakang Andre menahan napas, menyadari betapa gilanya skala kekuasaan pemimpin mereka. Pahlawan Nasional, pilar-pilar pelindung umat manusia, berlutut di hadapan Andre seolah ia adalah dewa yang kembali dari surga.

​"Kerja bagus," ucap Andre datar. Pemuda itu melangkah maju, melewati Valeria dan menatap lurus ke arah Gaius serta Elara.

​"Valeria, apa-apaan ini?!" bentak Gaius, suaranya terdengar panik dan bingung. Raksasa baja itu mundur selangkah. "Kau memanggil bidaah itu dengan sebutan Komandan?! Apa kau telah dicuci otak oleh ilmu hitam sektenya?!"

​"Yang dicuci otaknya adalah kalian berdua, Gaius! Elara!" balas Valeria bangkit berdiri, mata peraknya memancarkan kemarahan yang menyala-nyala. "Arthur adalah pengkhianat! Sang Hakim Suci yang kalian sembah itu menjual nyawa Komandan kita kepada para Seraphim dan Pilar Iblis sepuluh tahun lalu! Dia menanam Holy Beacon dan relik komunikasi di seluruh benua untuk melemahkan hukum Aturan Keilahian Bumi demi kekuasaan politiknya sendiri!"

​Elara menggelengkan kepalanya keras-keras, angin di sekitarnya berputar liar mencerminkan kekacauan pikirannya. "Tidak... itu tidak mungkin! Arthur adalah cahaya umat manusia! Kematian Kaisar Kilat adalah tragedi, bukan konspirasi rahasia!"

​Andre akhirnya membuka suara. Suaranya tidak keras, namun tekanan dari Absolute Pressure miliknya memastikan setiap kata tertanam langsung ke dalam otak mereka, mengabaikan segala bentuk perisai mental.

​"Gaius," panggil Andre pelan. "Palu godammu masih terlalu bertumpu pada lengan kananmu saat kau mulai terbawa emosi. Dan Elara... pusat pusaran badaimu masih memiliki celah setengah detik setiap kali kau mengambil napas panjang untuk merapalkan sihir berturut-turut."

​Kedua pahlawan itu membeku. Jantung mereka seakan berhenti berdetak.

​Kritik spesifik tentang gaya bertarung yang menjadi kelemahan fatal mereka. Nada suara yang datar namun membawa wibawa yang membuat mereka selalu merasa aman di medan perang yang paling berdarah sekalipun. Hanya ada satu orang di seluruh alam semesta yang pernah mengatakan hal itu kepada mereka. Seseorang yang mengajari mereka cara bertahan hidup saat mereka masih menjadi petarung kelas menengah, jauh sebelum mereka mendapat gelar Pahlawan Nasional.

​Palu godam raksasa di tangan Gaius jatuh berdebum ke aspal, menghancurkan jalanan. Otot-otot raksasa pria itu bergetar hebat. Air mata perlahan menetes dari balik pelindung wajahnya.

​"Bos..." bisik Gaius parau. Ia langsung menjatuhkan dirinya ke tanah, berlutut tanpa peduli pada lumpur dan debu. "Ini... ini benar-benar kau? Kau hidup kembali?"

​Elara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Angin puting beliung yang selalu melindunginya pudar seketika. Wanita itu menangis tersedu-sedu, turun dari udara, dan ikut berlutut di samping Gaius. Mereka berdua adalah pahlawan yang bertarung murni untuk melindungi umat manusia. Mereka mematuhi Arthur karena mereka percaya pria itu adalah pewaris sah dari tekad sang Kaisar Kilat. Menyadari bahwa mereka telah dijadikan pion oleh pembunuh komandan mereka sendiri membuat dunia mereka hancur lebur.

​Lima dari Pahlawan Nasional kini resmi berada di pihak Rishing Guild.

​Namun, di tengah momen emosional itu, sebuah raungan penuh kegilaan meledak.

​"BOHONG! KALIAN SEMUA PENGKHIANAT! BIDADAH!"

​Ignatius, yang baru saja bangkit dari tumpukan es, telah kehilangan akal sehatnya. Fanatismenya terhadap doktrin Arthur telah merusak jiwanya hingga ke tingkat sel. Sang Holy Pyromancer tidak peduli dengan fakta atau logika. Jika kenyataan bertentangan dengan kepercayaan sucinya, maka kenyataan itulah yang harus dibakar sampai habis.

​"Aku akan memurnikan kalian semua! Untuk Eden! Untuk Sang Hakim Suci!" teriak Ignatius histeris. Ia merapalkan mantra terlarang, membakar sisa umur dan inti jiwanya sendiri sebagai pengorbanan mutlak.

​Tubuh Ignatius meledak menjadi bola api putih raksasa yang ukurannya terus membesar, menyerap seluruh oksigen di Sektor 1. Ini bukan sekadar sihir api biasa; ini adalah Supernova, sebuah teknik bunuh diri sakral yang diklaim mampu meratakan sebuah benua. Panasnya begitu ekstrem hingga zirah para Inkuisitor di kejauhan mulai meleleh meski mereka tidak terkena radiasinya secara langsung.

​"Gawat! Dia membakar jiwanya! Kita harus mengevakuasi pasukan, Bos!" teriak Orion, bersiap memanggil perisai gravitasi pemantulnya.

​"Tidak perlu," potong Andre dengan suara dingin yang mematikan.

​Andre tidak membuang waktu. Ia menggunakan Void Step. Bayangannya melipat dimensi, dan dalam seperseribu detik, ia sudah berada tepat di pusat bola api Supernova yang sedang mekar tersebut. Ia berdiri langsung di hadapan Ignatius yang wajahnya telah hangus terbakar oleh sihirnya sendiri.

​Mata hitam obsidian Andre bertemu dengan mata Ignatius yang membelalak penuh teror saat menyadari bahwa panas absolut yang ia hasilkan tidak mampu menyentuh kulit pemuda itu sama sekali. Cahaya dan panas itu sepenuhnya ditelan oleh efek pasif Devour Light dari pedang sang Kaisar.

​"Api palsumu terlalu dingin untuk membakar bayanganku," bisik Andre.

​"Black Lightning: Absolute Execution."

​Satu ayunan dari Nocturne. Tidak ada suara ledakan. Tidak ada kilatan cahaya benderang. Sebuah garis hitam absolut membelah ruang, memotong pusaran Supernova itu menjadi dua bagian yang seketika padam ditelan oleh ruang hampa. Dan bersamaan dengan padamnya api suci tersebut, kepala Ignatius terlepas dari lehernya dengan irisan yang terlalu mulus, melayang ke udara sebelum akhirnya tubuh tanpa kepala itu jatuh berdebum ke atas aspal.

​Pahlawan Nasional Peringkat Keenam resmi binasa tanpa sempat melukai satu orang pun.

​Gaius, Elara, Valeria, Orion, dan Selene menahan napas melihat eksekusi yang begitu cepat, brutal, dan tak masuk akal tersebut. Sepuluh tahun telah berlalu, dan kekuatan sang Peringkat Pertama ternyata telah berevolusi menjadi sebuah anomali yang menolak tunduk pada hukum alam.

​Para Inkuisitor yang tersisa menjatuhkan senjata mereka ke tanah dengan gemetar. Pemimpin mereka tewas seketika, dan setengah dari formasi Pahlawan Nasional kini berbalik melawan Eden. Kemenangan Rishing Guild hari ini akan tercatat dalam sejarah umat manusia sebagai titik balik runtuhnya tirani Asosiasi Pusat.

​Bastian dan Marvin tersenyum, sementara lima ratus legiun bayangan bersorak merayakan dominasi absolut pemimpin mereka.

​Namun, sebelum sorakan itu mencapai puncaknya, langit di atas Sektor Pusat mendadak berubah warna.

​Biru cerah tergantikan oleh pusaran badai kosmik berwarna ungu kehitaman dan merah darah yang berputar dengan kecepatan gila. Ini bukan sihir dari Arthur, bukan kedatangan malaikat, dan bukan pula sekadar gerombolan iblis tingkat menengah. Tekanan gravitasi yang turun dari pusaran itu begitu masif, begitu absolut dan purba, hingga kelima Pahlawan Nasional yang sedang berlutut itu secara refleks terbatuk dan memuntahkan darah.

​Udara menjadi sangat berat, seolah lautan tak kasat mata baru saja ditumpahkan ke atas kota.

​Sebuah robekan portal raksasa—lebarnya nyaris menutupi seluruh langit Sektor Pusat—terkoyak dengan paksa dari luar angkasa. Suara robekannya terdengar seperti raungan alam semesta yang sedang disiksa dengan belati raksasa.

​Dari dalam portal yang memancarkan energi kekacauan murni itu, terdengar sebuah suara telepati yang meremukkan pikiran, membuat bangunan-bangunan pencakar langit di bawahnya retak dan runtuh menjadi debu.

​"SIAPA MANUSIA FANA YANG BERANI MEMBUNUH VORAZ, PENGIKUT KESAYANGANKU?!"

​Sesosok kaki raksasa berbulu lebat yang dihiasi rantai magma melangkah keluar dari portal. Wujudnya menutupi matahari, memancarkan aura buas yang mengeringkan udara. Ia adalah The Beast King—Calamity Ketiga, penguasa jutaan ras monster mutan di alam semesta.

​Namun, yang membuat darah umat manusia membeku bukanlah Sang Raja Binatang Buas itu saja. Di sebelahnya, melayang keluar sosok lain yang seluruh tubuhnya terbuat dari materi gelap kosmik, tanpa wajah, hanya memiliki ribuan mata yang berkedip secara bersamaan—Calamity Keenam, The Void Weaver.

​Sistem Dunia langsung meledak dengan rentetan peringatan berwarna merah darah yang memenuhi seluruh pandangan setiap manusia di Sektor Pusat. Suara alarm di kepala setiap orang berbunyi nyaring. Namun bagi Andre, matanya yang telah disempurnakan oleh kekuatan Fourth Job dan artefak Mythic mampu menembus batasan sensor Sistem yang biasanya hanya akan menampilkan status "Error" untuk entitas setingkat dewa.

​Di mata Andre, Sistem dengan jelas menjabarkan identitas sang kiamat:

​[PERINGATAN MUTLAK! KIAMAT GANDA TELAH TIBA!]

[Dua Entitas Tingkat Bencana (Calamity) Menembus Hukum Dimensi!]

[Identitas: The Beast King (Calamity ke-3) - Level 218]

[Identitas: The Void Weaver (Calamity ke-6) - Level 195]

​Sistem sempat menampilkan teks statis: [Peluang Bertahan Hidup Bumi: 0%].

​Namun sedetik kemudian, stigmata di dada Andre berdenyut hebat. Sistem merespons keberadaan jiwa Sang Kaisar Kilat, memaksa layar merah itu berkedip dan mengkalibrasi ulang kalkulasinya.

​[Mengkalkulasi Probabilitas... Anomali 'Kaisar Kilat' Terdeteksi.]

[Aturan Keilahian Semesta sedang menekan 30% statistik entitas penyerbu.]

[Peluang Bertahan Hidup Bumi dikalibrasi ulang: 42%]

​Melihat angka probabilitas yang kini bukan lagi nol mutlak, sebuah senyuman perlahan mengembang di bibir Andre. Ini bukan keputusasaan. Ini adalah undangan ke medan perburuan.

​"Empat puluh dua persen, ya?" gumam Andre, matanya yang sekelam malam menyipit penuh antisipasi. Ia memutar bilah Nocturne yang mendengung liar, merespons musuh bebuyutannya. Ia menatap ke arah para pahlawan dan legiunnya yang masih terkejut. "Bangkitlah, Rishing Guild! Dunia mungkin berpikir kiamat baru saja tiba, tapi bagi kita, ini adalah pesta panen."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!