Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Zavian menurunkan tubuh Mirella dengan hati-hati ke dalam bak mandi yang baru saja ia isi sebagian dengan air dingin, bukan membekukan, namun cukup sejuk untuk menembus kabut yang memburu kesadaran gadis itu. Begitu air menyentuh kulitnya, Mirella tersentak kaget, matanya yang tadi sayu kini terbuka sedikit lebih lebar.
"Da-daddy ... dingin ..." suaranya bergetar, tangannya mencoba mencengkeram pinggiran bak mandi seakan ingin menarik diri.
"Maaf, Mirella. Ini satu-satunya cara agar kau merasa lebih baik," bisik Zavian lembut, namun tangannya tetap menahan pundak gadis itu agar tidak bangun. Ia mengambil gayung, lalu perlahan menyiramkan air dingin itu ke lengan Mirella, ke wajahnya, perlahan namun terus.
Mirella menggigil, bibirnya bergetar hebat, namun rasa panas yang tadi membakar seluruh tubuhnya perlahan mulai mereda, digantikan oleh rasa sejuk yang menenangkan, meski membuatnya kedinginan. Pupil matanya yang tadi melebar kini perlahan kembali normal, napasnya yang terengah-engah mulai teratur.
Tanpa banyak pikir, Zavian melangkahkan kakinya masuk ke dalam bak mandi itu juga. Air itu membasahi kemeja putihnya, menempel erat di tubuhnya, namun ia tidak peduli. Ia duduk di belakang Mirella, membiarkan gadis itu berbalik dan memeluknya erat, seakan ia adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai.
Mirella menyandarkan wajahnya yang basah di dada bidang itu, mendengar detak jantung pria itu yang tenang, stabil, menjadi penenang bagi dirinya yang masih gemetar.
Zavian membiarkannya. Ia melingkarkan kedua lengannya di punggung gadis itu, perlahan mengusap punggungnya dengan gerakan menenangkan, tidak ada niat buruk, hanya perlindungan murni.
"Sudah... semuanya akan baik-baik saja. Kau akan membaik sebentar lagi." bisiknya berulang kali, seperti mantra yang ia ucapkan untuk meyakinkan gadis itu sekaligus dirinya sendiri.
Beberapa menit berlalu sampai ia merasa suhu tubuh Mirella sudah jauh lebih terkontrol. Ia keluar dari bak mandi terlebih dahulu, lalu mengangkat tubuh Mirella dengan hati-hati, membawanya berdiri di atas keset kering di lantai kamar mandi.
Zavian mengambil handuk besar berwarna putih bersih yang tergantung di dinding, lalu membungkus tubuh ramping itu sepenuhnya, mengusap dengan lembut, mengeringkan setiap bagian tubuhnya dengan hati-hati. Setelah itu, ia mengusap rambut panjang Mirella yang basah, membiarkan ujung jemarinya menyisir lembut helai demi helai rambut itu sampai airnya tidak lagi menetes.
Mirella berdiri diam, matanya menatap lurus ke dada Zavian yang kini basah kuyup, napasnya sudah jauh lebih tenang, namun tangannya masih mencengkeram ujung kemeja pria itu seakan takut jika ia melepaskannya, Zavian akan menghilang dari hadapannya.
Zavian mengangkat wajah gadis itu perlahan dengan ujung jarinya, menatap mata hijaunya yang masih terlihat lelah namun jernih kembali. Panas di wajahnya sudah hilang, digantikan oleh rona merah yang malu-malu.
"Kau sudah lebih baik," ucapnya lembut, lebih seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan.
Mirella mengangguk pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
"Terima kasih, daddy." ucapnya malu-malu.
Zavian tersenyum tipis, senyum yang tulus dan menenangkan. Ia membimbing gadis itu kembali ke tempat tidur, lalu menarik selimut tebal yang terlipat rapi di ujung kasur, menyelimuti tubuh Mirella hingga sebatas bahu. Ia menyesuaikan bantal di bawah kepala gadis itu agar lebih nyaman.
"Tidurlah. Kamu harus tidur, jangan pikirkan yang lain," ucapnya pelan, sambil menepuk-nepuk pelan bagian luar selimut di dekat bahu gadis itu.
"Tapi bunda ..."
"Jangan pikirkan. Biar aku yang menghadapi ibumu."
"Tapi ..."
"Ssstt, tidurlah."
Mirella mengerjap pelan, matanya perlahan terasa berat. Ia menarik sudut selimut sedikit lebih tinggi hingga menutupi sebagian pipinya, lalu menatap Zavian untuk terakhir kalinya sebelum kelopak matanya akhirnya terpejam perlahan. Napasnya menjadi teratur, tubuhnya yang tadi tegang kini rileks sepenuhnya.
Zavian berdiri di samping kasur itu cukup lama, memastikan gadis itu benar-benar tertidur lelap. Hatinya terasa berat, melihat betapa rapuhnya gadis ini, betapa kejamnya dunia yang ia tinggali. Bahkan di dalam keluarganya sendiri. Namun di saat yang sama, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Sebuah tekad yang kuat mengakar di hatinya, apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Mirella. Termasuk ibunya sendiri.
Dengan langkah pelan, Zavian berjalan menuju kursi sudut kamar, duduk di sana tanpa berniat pergi. Ia akan tetap terjaga, menjaga tidur gadis itu sepanjang malam. Dia masih tidak habis pikir dengan Viona.
Viona, kau benar-benar gila.
Ucapnya dalam hati. Entah berapa lama dia hanya duduk seperti ini sampai Mirella tiba-tiba bermimpi buruk.
"Bunda maaf... Bunda... Mirella takut ... Jangan bunda!"
Zavian dengan gerakan cepat berdiri, naik ke atas kasur untuk menenangkan gadis remaja itu. Ia berbaring di samping Mirella saat Mirella menarik lengannya kuat.
Zavian langsung berbaring di sampingnya, membiarkan kepala Mirella menyandarkan berat badannya di lengan yang ia ulurkan. Tangannya yang lain perlahan mengusap punggung gadis itu dengan gerakan memutar yang lambat dan menenangkan.
"Shhh ... Itu hanya mimpi. Tidak ada siapa-siapa di sini selain aku. Jangan takut," bisiknya tepat di dekat telinga gadis itu, suaranya rendah namun tegas, membelah ketakutan yang masih membayangi tidurnya.
Mirella tersentak terjaga, matanya terbuka lebar dan napasnya tersengal-sengal seakan baru saja berlari jauh. Saat ia melihat wajah Zavian di dekatnya, ketakutan di matanya perlahan berganti dengan kebingungan, lalu perlahan matanya tertutup lagi. Tangannya kini melingkar di pinggang Zavian.
Lelaki itu tertawa kecil. Tangannya mengusap-usap punggung Mirella sampai gadis itu benar-benar terlelap. Dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana bisa gadis selembut ini bertahan hidup bertahun-tahun dengan ibu kandungnya yang gila itu.
Tanpa sadar, mata Zavian ikut tertutup. Ia juga sudah kelelahan seharian ini, dengan pernikahan bisnis yang tidak dia sukai, belum menghadapi Viona, dan sekarang, berhadapan dengan Mirella, putri Viona yang disodorkan padanya. Gadis polos yang tidak tahu apa-apa, yang kini jatuh di tengah-tengah permainan sialan ini.
Kalau saja tidak mengingat ibunya yang sangat menyukai Viona hingga pernikahan sialan ini terjadi, Zavian tidak akan pernah mau terlibat dengan wanita toxic itu.
Nafas Zavian perlahan teratur, masuk ke alam mimpi sambil memeluk gadis remaja yang masih polos di hadapannya.
apa ada yang sabotase ...