Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Malam yang dingin di markas komando utama Ardio.
Di dalam aula strategi berdinding kaca tebal yang kedap suara. Di atas meja tersebut, peta digital holografik tiga dimensi memancarkan pola jaringan kekuasaan Black Cobra yang tersebar di kawasan pelabuhan timur hingga perbatasan internasional.
Di sekeliling meja, delapan pria bertubuh tegap duduk kaku. Mereka adalah para pimpinan aliansi mafia tingkat tinggi, penguasa sektor logistik, perbankan gelap, keamanan, dan persenjataan dunia bawah yang selama belasan tahun ini tunduk di bawah patronase Ardio.
Ardio melangkah masuk. Namun, yang membuat seluruh pimpinan aliansi tersentak kaget hingga refleks berdiri adalah sosok yang berjalan tepat di samping sang King Mafia.
Adelia melangkah dengan kepala tegak, tanpa ada sedikit pun rasa gentar menatap para penguasa kegelapan yang berkumpul di ruangan itu.
"Duduk," perintah Ardio pendek.
Kedelapan pimpinan aliansi langsung duduk kembali dengan sikap hormat.
Salah satu pimpinan senior dikenal sebagai Marcos, penguasa dermaga, menatap Adel sebelum berpaling pada Ardio.
"Bos Ardio... Kami menerima panggilan darurat tingkat tertinggi. Seluruh kekuatan tempur dan armada cadangan sudah disiagakan di jalur perimeter. Tapi... apakah aman membawa putri Anda ke dalam rapat perang tingkat ini?" panggil Marcos ragu dengan suara serak.
"Putriku bukan lagi seseorang yang harus disembunyikan di balik layar, Marcos. Adelia hadir di sini sebagai pewaris tunggal dari seluruh kekaisaran ini. Siapa pun yang meragukan posisinya... sama saja meragukan kepemimpinanku," ujar Ardio dingin dan bernada ancaman.
Marcos dan seluruh pimpinan aliansi menelan ludah. "Kami paham, Bos Ardio! Maafkan kelancangan kami!"
"Dua jam yang lalu, sisa-sisa Black Cobra di bawah pimpinan Victor mencoba menyentuh putriku. Mereka juga adalah iblis yang sama yang menyebabkannya tumbuh tanpa seorang ibu belasan tahun lalu," kata Ardio dingin.
"Victor...? Si Ular Tirus itu ternyata masih hidup?!" gumam Marcos dengan mata membelalak.
"Dia masih hidup, dan dia berpikir bisa bersembunyi di balik benteng tua pelabuhan timur. Malam ini, kita tidak akan melakukan perundingan. Kita tidak akan memberi mereka kesempatan untuk menyerahkan diri," sambung Ardio seraya menekan satu tombol di konsol kontrol.
Ardio memandang satu per satu sekutunya. "Aku mengumpulkan kalian untuk membunyikan genderang perang total. Malam ini juga, aku ingin seluruh jalur penyelundupan Black Cobra ditutup rapat. Sita semua aset mereka, hancurkan setiap pangkalan logistik mereka, dan ratakan persembunyiannya sampai tidak ada satu pun dari mereka yang bernapas saat matahari terbit!"
"Siap, Bos Ardio!" seru kedelapan pimpinan aliansi serempak dengan nada bersemangat yang membara.
"Marcos, kamu blokir seluruh jalur laut. Jangan biarkan ada satu pun kapal Victor yang bisa berlayar," perintah Ardio tegas.
"Tugas dilaksanakan, Bos!" sahut Marcos mantap.
"Reno. Siapkan pasukan garis depan. Kita berangkat dalam sepuluh menit," panggil Ardio pada tangan kanannya.
"Semua armada tempur dan dua ratus pasukan khusus sudah berada di dalam posisi siaga satu, Bos Ardio!" balas Reno seraya membungkuk hormat.
Para pimpinan aliansi membungkuk sebelum bergegas melangkah keluar ruangan untuk mengeksekusi perintah perang terbesar dalam dekade ini.
Aula strategi yang luas itu kini kembali sunyi. Hanya tersisa Ardio dan Adel yang berdiri di depan meja peta holografik.
Ardio menoleh menatap putri tunggalnya.
"Adel... Apakah kamu takut?" tanya Ardio lembut.
Adel menatap lurus ke dalam mata sang ayah, lalu tersenyum.
"Adel tidak takut sedikit pun, Pa. Selama ini Papa berjuang sendirian menanggung beban masa lalu dan melindungi Adel. Tapi malam ini... kita hadapi mereka bersama-sama," jawab Adel mantap, tanpa keraguan.
Adel mengulurkan tangan meletakkannya di atas telapak tangan Ardio yang penuh bekas luka pertempuran.
"Kita selesaikan dendam atas kematian Mama. Dan kita jaga masa depan kita bersama," bisik Adel
Ardio tertegun sejenak. Ia menggenggam erat jari putrinya.
"Iya, Sayang. Kita tuntaskan malam ini!" bisik Ardio penuh tekad.
Keduanya berjalan berdampingan menuju pintu keluar tempat armada tempur.
Hari ini menandai dimulainya perang besar