NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

~DALAM TAHAP REVISI~

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — Foto Pernikahan (Revisi)

“Tidak, Pak. Saya tidak menahan kiriman Bapak.” Raras berdiri di bawah papan nama gudang Wates dengan ponsel di telinga. Keringat dingin mengalir di punggungnya. “Yang berubah hanya syarat pembayaran. Aturannya sama untuk semua pembeli.”

“Pak Danang bilang dia harus antre.”

“Memang, Pak. Sekarang semua pembeli mengikuti antrean yang sama.” Raras menarik napas. “Maaf kalau penjelasan saya terdengar keras.”

“Tidak keras, Mbak. Justru jelas.” Pak Hartono berdeham di ujung sana. Terdengar bunyi kertas dibalik. “Biasanya orang baru menelepon kalau saya sudah menagih penjelasan.”

“Saya baru tahu Bapak ingin penjelasan, Pak.”

“Baik.” Pak Hartono diam sejenak. “Kontrak Pak Danang akan saya evaluasi minggu depan. Saya minta sampel bercap, seperti kiriman pertama. Paling lambat Selasa depan.”

“Sampel bercap, Pak?”

“Pak Hadi tahu maksud saya. Kalau tidak bisa dipenuhi, bilang saja sekarang. Saya perlu kepastian.” Terdengar bunyi pulpen diketukkan ke meja. “Saya sudah tua, Mbak. Saya lebih suka orang yang berterus terang daripada orang yang menjanjikan semuanya mudah.”

“Saya mengerti, Pak. Kalau memang tidak bisa, saya akan bilang.”

“Baik. Saya akan bicara dengan Pak Hadi.”

“Dan satu lagi, Mbak. Jangan sampaikan ini lewat Pak Danang.”

“Saya tidak akan menitipkan jawaban kepada siapa pun, Pak. Kalau Bapak bertanya kepada saya, saya sendiri yang menjawab.”

Telepon ditutup. Raras menurunkan ponsel dan baru sadar kakinya gemetar. Dimas sudah tidak terlihat di dekat mobil putihnya.

“Mbak, mboten nopo-nopo (tidak apa-apa)?” Pak Wiryo berdiri di ambang pintu kantor dengan segelas teh baru.

“Mboten, Pak. Matur nuwun. Saya hanya perlu duduk sebentar.” Raras menerima gelas itu. Tangannya masih gemetar saat porselen menyentuh jarinya. “Telepon tadi dari Pak Hartono, Semarang.”

“Orang Semarang itu galak, Mbak, kalau barangnya terlambat.”

“Bukan galak, Pak. Beliau hanya tidak mau dibohongi.”

“Sampeyan kok mriki, Mas? (Anda kok kemari, Mas?) Itu yang saya tanyakan kepada Mas Danang, Mbak. Wajahnya seperti orang kehilangan dompet.”

Suara Pak Bambang terdengar dari ponsel, bercampur dengan riuh Beringharjo yang mulai sepi. Raras duduk di dipan pendapa belakang dalem dengan kaki ditarik ke atas. Secangkir wedang jahe mengepul di sampingnya. Pukul empat lewat dua puluh. Aditya duduk di kursi rotan di seberangnya, sibuk membaca koran yang tidak kunjung dibalik halamannya.

“Mas Danang datang ke kios Bapak?”

“Setengah empat, Mbak. Masih memakai kemeja yang sama seperti tadi siang. Tangannya gemetar waktu mengeluarkan ponsel.”

“Lalu?”

“Dia menunjukkan foto, Mbak. Foto pernikahan kalian.” Bambang menelan ludah. “Di pendapa Magelang. Mas Danang berdiri di samping Mbak. Di belakang kalian ada orang tua memakai beskap hitam, memegang tongkat kayu, rambutnya putih semua.”

Raras memejamkan mata. Ia ingat hari itu: kebaya putih, paes yang menekan dahi, Eyang yang hanya mengangguk sekali setelah ijab selesai.

“Eyang,” gumamnya.

“Saya sudah lama kenal beliau, Mbak. Waktu Mas Danang bertanya, ‘Bapak kenal orang-orang ini?’ saya langsung menjawab. Itu Raden Mas Jayeng Kusuma, simbahnya Mbak.”

“Bapak bilang begitu?”

“Nggih, Mbak. Dia sendiri yang bertanya.”

“Dia bertanya apa lagi?”

“Dia menunjuk ukiran di belakang kalian. Gebyok kayu yang ada ukiran daunnya. Saya bilang itu daun sawo kecik, tanda sebuah dalem.” Bambang berdeham. “Dia mengulanginya dua kali, ‘sawo kecik, sawo kecik’, seperti sedang menghafal.”

“Lalu siapa lagi yang dia tanyakan?”

“Saya tunjukkan satu-satu. Itu Pak Aditya, Ibu Retno. Terus orang yang berdiri di samping Mas Danang, saya bilang, ‘Itu Raden Roro Raras Pramesti.’”

Cangkir di tangan Raras berhenti tepat di bibirnya. Di seberang, Aditya menurunkan koran dan memandangnya tanpa berkata apa-apa.

“Dia bilang apa, Pak?”

“Lama sekali dia diam. Lalu dia bertanya, ‘Roro itu gelar?’”

“Bapak menjawab apa?”

“Saya bilang, ‘Itu gelar keturunan, Mas. Tapi tidak semua orang menggunakannya.’ Dia langsung bilang, ‘Dia tidak pernah cerita.’”

“Lalu Bapak bilang apa?”

“Saya bilang, ‘Mbak Raras memang tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun, Mas. Tapi orang-orang di pasar tahu.’” Bambang berhenti sejenak. “Saya juga bilang, ‘Mungkin karena Mas tidak pernah bertanya.’ Maaf, Mbak, kalau saya terlalu ikut campur.”

Raras tertawa pendek, getir, lalu mengusap matanya dengan jari. “Tiga tahun saya menunggu dia bertanya, Pak.”

“Mbak...”

“Sekarang dia bertanya.” Suaranya merendah. “Tapi bukan kepada saya. Dia malah bertanya kepada orang lain.”

“Mbak, saya tidak bermaksud membuat keadaan tambah sulit.”

“Bukan salah Bapak.” Raras menarik napas panjang. “Bapak hanya menjawab pertanyaannya. Memang itu yang saya minta.”

“Saya tetap merasa tidak enak, Mbak.”

“Setelah itu, Mas Danang bertanya apa lagi?”

“Dia bertanya siapa yang memberi perintah kepada Pak Hadi sampai semua keringanan itu bisa diberikan. Saya bilang, ‘Tanya Mbak Raras.’ Dia langsung diam.” Bambang berdeham. “Lalu dia duduk di bangku kios selama sepuluh menit. Tidak bicara apa-apa. Saya buatkan teh, dia minum setengah.”

“Setengah?”

“Nggih, Mbak. Hanya setengah.”

Raras menatap wedang jahe di sampingnya. “Waktu pamit, dia bilang apa?”

“Dia salaman dengan kedua tangan, lalu bilang matur nuwun. Setelah itu dia meminta, ‘Tolong jangan telepon Bapak saya dulu.’”

“Bapak mengiyakan?”

“Tidak, Mbak. Saya bilang saya hanya akan menjawab kalau ditanya. Saya tidak bisa berjanji untuk menutupi apa pun.”

“Memang itu jawaban yang benar, Pak. Terima kasih.” Raras terdiam sebentar. “Mas Danang kelihatan sehat?”

“Kurus, Mbak. Kemejanya sampai longgar di bahu.”

“Bapak menawarinya makan?”

“Saya tawari nasi pecel. Dia bilang sudah kenyang.”

“Kalau dia datang lagi, tawari makan lagi, Pak. Tapi jangan bilang itu dari saya.”

“Kalau begitu, saya sedang menolong dia atau tidak, Mbak?”

“Bapak hanya menawari orang makan.” Raras tersenyum tipis. “Itu hal yang wajar. Saya tidak mau mengatur bantuan diam-diam dari belakangnya lagi.”

“Nggih, Mbak. Sekarang saya mengerti.”

“Bapak mungkin lebih paham daripada saya dulu.” Raras menyandarkan kepala pada tiang pendapa. “Hari ini Bapak sudah banyak membantu saya.”

“Mbak, boleh saya bicara terus terang?”

“Silakan, Pak.”

“Waktu Mas Danang pergi, saya melihat dia berjalan menjauh. Sepertinya dia baru sadar selama ini banyak kemudahan yang dia dapatkan tanpa tahu siapa yang membantunya.” Suara Bambang terdengar serak. “Saya kasihan melihatnya, Mbak. Tapi saya juga lega.”

“Lega kenapa, Pak?”

“Karena sekarang Mbak tidak perlu menyimpan semuanya sendirian lagi.”

Sambungan ditutup. Raras meletakkan ponsel di dipan. Bahunya baru bergetar setelah layar padam. Aditya meletakkan korannya, berdiri, lalu menarik kursi lebih dekat.

“Dia sudah tahu,” kata Raras. “Tentang Raden Roro. Dia tahu dari Pak Bambang, bukan dari saya.”

“Dia juga bertanya tentang ukiran sawo kecik di belakang kalian?”

“Iya.” Raras mengusap sisi cangkir. “Selama tiga tahun, foto itu ada di rumah kami. Tapi dia tidak pernah benar-benar memperhatikannya.”

“Kamu marah?”

“Tidak.” Ia mengusap pipi. “Saya malu, Pak. Rasanya seperti semua yang saya sembunyikan tiba-tiba terbuka. Tapi saya juga lega. Saya tidak perlu lagi menjaga rahasia itu.”

“Kamu senang?”

“Saya sedih, tapi juga senang.” Raras tersenyum miris. “Saya senang karena akhirnya dia tahu siapa saya. Tapi saya sedih karena dia baru tahu setelah semuanya berantakan.”

“Memang tidak mudah menerima kenyataan yang selama ini tidak kita lihat.”

“Mahal sekali, Pak, harga yang harus dibayar untuk itu.”

“Kalau kamu tahu sesuatu itu berharga, kamu juga harus siap menghadapi akibatnya.” Aditya mengangguk. “Kamu siap?”

“Belum.” Raras tersenyum lemah. “Tapi saya tidak bisa terus menunggu sampai benar-benar siap.”

“Besok keluarganya mungkin akan bertanya macam-macam.”

“Saya tahu, Pak. Saya tidak akan datang.”

“Tidak perlu. Tapi mereka mungkin akan menyebut namamu.”

“Nama saya tetap Raras, Pak.”

“Betul. Tapi besok mungkin ada yang menyebutnya dengan cara berbeda.” Aditya menyesap tehnya. “Biarkan saja. Kamu sendiri sudah berani mengakuinya sejak Selasa.”

“Ndoro?” Mbok Jinem muncul membawa piring kecil berisi tempe mendoan. “Panjenengan dereng dhahar wiwit enjing (Anda belum makan sejak pagi), Ndoro.”

“Matur nuwun, Mbok.”

“Dhahar dhisik, Ndoro. Sing durung rampung iku ora bakal mlayu (makan dulu, Ndoro. Yang belum selesai itu tidak akan lari).”

Raras mengambil satu potong mendoan dan menggigitnya. Ia baru sadar rasanya hambar. Aditya menyodorkan segelas air tanpa bertanya. Ponselnya bergetar lagi di dipan, satu kali, pendek.

Nama di layar membuatnya berhenti mengunyah: Bu Tutik, Kantor Prasetya.

Bu Raras, maaf mengganggu. Saya hanya ingin memberi tahu jadwal. Rapat pemegang keputusan dimajukan besok pukul tujuh pagi atas permintaan Pak Surya. Mas Danang diminta hadir.

Raras membaca pesan itu dua kali. Layarnya bergetar lagi sebelum ia sempat membalas. Pesan kedua datang dari nama yang sama.

Bu Raras, tadi siang Ibu Marlina datang ke kantor. Beliau menanyakan semua nota lama atas nama Bu Raras. Saya bilang saya hanya bisa menjawab sesuai pembukuan.

“Dari siapa?” tanya Aditya.

“Bu Tutik, Pak. Bu Marlina datang ke kantor tadi siang.” Raras mengangkat wajah. “Beliau menanyakan nota-nota lama.”

“Nota yang mana?”

“Nota atas nama saya, Pak. Semua yang saya urus sebelum berhenti bekerja di sana.”

Raras mengetik dengan jempol kiri: Terima kasih, Bu. Jawab sesuai pembukuan saja, tidak lebih. Mohon jangan kirim dokumen apa pun.

1
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!