NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANCAMAN DARI MASALALU

“Siapa yang mengizinkan wanita ini masuk ke ruangan saya?”

—

Suara berat Hendra terdengar begitu dingin, menusuk hingga ke dasar tulang. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu berdiri tegap di pintu masuk ruang kerja utamanya di lantai empat puluh lima Fahreza Tower. Kemeja putih mewahnya dipadu jas abu-abu kustom memancarkan wibawa dominan yang membuat suasana ruangan berplafon tinggi itu seketika membeku.

—

Aura yang sedang duduk di sofa kulit premium di samping meja kerja Hendra langsung mendongak. Di hadapannya, seorang wanita paruh baya bergaun glamor dengan perhiasan berlian mentereng berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Wajah wanita itu tampak penuh amarah dan kesombongan.

—

Di belakang wanita itu, dua sekretaris pribadi Hendra berdiri kaku dengan raut wajah pucat pasi.

—

“Ma-maafkan kami, Pak Hendra...” bisik salah satu sekretaris dengan suara gemetar. “Ibu Rosma memaksa masuk dan mengaku sebagai keluarga besar Fahreza...”

—

Rosma—wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung Aris sekaligus mantan adik ipar keluarga besar Fahreza—memutar tubuhnya dengan angkuh. Matanya berkilat marah menatap Hendra, lalu beralih memberikan tatapan paling benci ke arah Aura.

—

“Hendra! Kamu sudah gila, ya?!” bentak Rosma tanpa rasa takut sedikit pun. “Kamu tega membiarkan anak kandungmu sendiri, Aris, mendekam di penjara cuma gara-gara bisikan wanita gatal ini?!”

—

Aura tidak berdiri. Ia tetap duduk anggun di sofa kulit, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan tenang. Ia menyesap teh chamomile hangatnya sejenak sebelum meletakkan cangkir porselen itu ke atas meja dengan denting halus.

—

“Jaga bicaramu, Tante Rosma,” tegur Aura pelan. Suaranya halus dan tenang, tapi sarat akan penekanan yang sangat kuat. “Di ruangan ini, kamu sedang berbicara dengan Nyonya rumah tangga Fahreza dan Komisaris Utama perusahaan ini.”

—

Rosma tertawa sinis—sebuah tawa melengking yang penuh penghinaan. “Nyonya rumah? Komisaris? Jangan berlagak seperti Ratu di depan saya, Aura! Kamu pikir saya tidak tahu siapa kamu sebenarnya?! Kamu itu cuma cewek biasa yang dulu mengemis cinta ke anak saya, Aris! Kamu cuma memanfaatkan Hendra buat balas dendam!”

—

Aura mengulas senyuman tipis yang sangat dingin. Tidak ada rasa panik sedikit pun di matanya. Permainan gertakan seperti ini sudah terlalu basi baginya.

—

Hendra melangkah masuk ke dalam ruangan. Suara denting sepatu kulit mewahnya di atas lantai kayu jati memecah ketegangan. Pria matang itu berjalan melewati Rosma tanpa memandangnya sedikit pun, lalu berdiri di samping Aura dan melingkarkan tangan kokohnya di bahu sang istri secara protektif.

—

“Keluarlah,” perintah Hendra dingin kepada kedua sekretarisnya.

—

Kedua sekretaris itu menunduk cepat dan langsung melangkah keluar, menutup pintu ganda kayu jati tersebut dengan rapat dari luar.

—

Hendra menatap Rosma dengan mata cokelat gelapnya yang memancarkan kebengisan mutlak.

—

“Kamu berani membuat keributan di kantor saya dan menghina istri saya, Rosma?” suara Hendra terdengar rendah, namun berbobot bagaikan gumpalan es yang mengintimidasi.

—

Rosma mengepalkan tangannya yang dihiasi cincin berlian, mencoba bertahan di bawah tekanan aura dominan mantan kakak iparnya itu.

—

“Hendra! Sadar, Hendra!” seru Rosma dengan nada histeris. “Anakmu Aris divonis lima tahun penjara! Dia membusuk di dalam sel! Semua itu gara-gara cewek ular ini yang melaporkan dia ke polisi! Kenapa kamu malah membela mantan pacar anakmu sendiri daripada darah dagingmu?!”

—

Hendra tidak terkejut. Pria berusia 38 tahun itu sudah tahu seluruh cerita masa lalu antara Aura dan Aris. Hendra menyunggingkan senyuman sinis yang amat merendahkan Rosma.

—

“Aris dipenjara karena kejahatannya sendiri,” tegas Hendra tanpa ragu sedikit pun. “Dia memalsukan dokumen, menggelapkan uang perusahaan puluhan miliar demi foya-foya dengan pacar mewahnya. Dan kamu... sebagai ibunya, kamu bukannya mendidik anakmu agar bertobat, malah datang ke sini menyalahkan istri saya?”

—

“Tapi Aura sengaja jebak Aris, Hendra!” jerit Rosma, menunjuk wajah Aura dengan jari berhias cincin emasnya. “Dia mendekati kamu cuma buat ngancurin Aris! Dia memanfaatkan kamu!”

—

Aura berdiri dari sofa secara perlahan. Postur tubuhnya yang tinggi, anggun, dan dibalut gaun merah anggur burgundy membuat sosoknya tampak jauh lebih berkuasa daripada Rosma.

—

Aura melangkah satu titik mendekati Rosma, menatap wanita paruh baya itu lurus-lurus.

—

“Tante Rosma...” panggil Aura dengan suara selembut sutra. “Aris dipenjara karena dia pengecut dan penipu. Kalau kamu memang sayang sama anakmu, harusnya dari dulu kamu ajari dia cara jadi pria sejati. Bukan malah memanjakannya sampai dia merasa bisa menyalahgunakan nama besar Fahreza Group.”

—

“Kamu... kamu cewek kurang ajar!” geram Rosma, mengangkat tangannya hendak menampar wajah Aura.

—

SET!

—

Sebelum tangan Rosma sempat menyentuh udara di dekat wajah Aura, pergelangan tangan wanita paruh baya itu sudah dicengkeram erat oleh jemari kokoh Hendra.

—

Cengkeraman Hendra begitu kuat hingga Rosma meringis kesakitan.

—

“Jangan pernah berpikir untuk menyentuh istri saya di depan mata saya, Rosma!” bentak Hendra dengan suara menggelegar yang seketika menciutkan keberanian Rosma.

—

Hendra menghempaskan tangan Rosma hingga wanita paruh baya itu terhuyung mundur dua langkah.

—

“Mulai hari ini, seluruh aksesmu ke kediaman utama dan seluruh anak perusahaan Fahreza Group resmi ditarik,” ucap Hendra dengan keputusan mutlak yang tak bisa diganggu gugat. “Uang tunjangan bulanan yang biasanya kamu terima dari dinasti keluarga juga dipotong total. Kalau kamu berani mengganggu Aura lagi, saya pastikan kamu ikut masuk ke sel bersama anakmu.”

—

Mata Rosma membelalak lebar. Wajahnya seketika pucat pasi. Harta dan uang tunjangan dari keluarga besar Fahreza adalah satu-satunya penopang gaya hidup mewahnya selama ini.

—

“Hendra... Kamu... Kamu tega melakukan ini sama saya?!” bisik Rosma parau, suaranya gemetar ketakutan.

—

“Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya,” balas Hendra dingin. Pria itu menekan tombol interkom di meja kerjanya. “Pengawal, seret wanita ini keluar dari gedung sekarang.”

—

Dua pengawal bertubuh tegap melangkah masuk dan langsung memegang kedua lengan Rosma secara paksa. Wanita paruh baya yang tadi sangat sombong itu kini diseret keluar sambil berteriak-teriak histeris menumpahkan makiannya, sebelum suara pintunya ditutup rapat kembali.

—

Ruang kerja utama kembali hening.

—

Hendra membuang napas panjang, merapikan jas abu-abu mewahnya. Pria matang itu berbalik menatap Aura, lalu melangkah mendekat dan merangkul pinggang istrinya dengan sangat lembut.

—

“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” tanya Hendra hangat, memandangi wajah cantik Aura dengan rasa khawatir yang tulus.

—

Aura tersenyum manis, mengusap dada bidang suaminya. “Aku baik-baik saja, Mas. Gertakan seperti itu sama sekali nggak akan bisa menggoyahkan posisi aku di samping kamu.”

—

Hendra tersenyum menawan, mengecup kening Aura dengan mesra. “Kamu memang Ratu saya yang luar biasa.”

—

—

Sore harinya di kediaman utama Fahreza.

—

Suasana rumah megah itu sangat tenang usai hujan deras mereda. Pendar cahaya matahari senja berwarna keemasan membias masuk melalui jendela-jendela kaca besar, menyinari ruangan berlantai marmer Italia.

—

Aura sedang berdiri di ruang perpustakaan pribadi lantai dua, meneliti beberapa berkas investasi baru. Ia mengenakan gaun tidur kasual berbahan sutra lembut berwarna krem yang melambai anggun membingkai tubuh jenjangnya.

—

Langkah kaki tegap yang sangat dihafalnya terdengar mendekat.

—

Hendra melangkah masuk ke dalam perpustakaan tanpa mengenakan jas kerjanya lagi. Kemeja putihnya dilonggarkan di bagian leher, memberikan kesan santai namun tetap memancarkan pesona maskulin yang amat kuat.

—

Hendra berjalan dari arah belakang, melingkarkan kedua tangannya yang kokoh di pinggang Aura. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu mulus sang istri, menghirup wangi mawar dan kayu manis yang merekah dari leher Aura.

—

“Lagi sibuk banget ya, hm?” bisik Hendra dengan suara beratnya yang seksi di dekat telinga Aura.

—

Aura terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. “Cuma lagi ngecek draf investasi untuk proyek resor di Bali, Mas. Kita butuh merestrukturisasi manajemen di sana setelah kasus Aris selesai.”

—

Hendra memutar tubuh Aura agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. Pria berusia 38 tahun itu memandangi mata jernih istrinya dengan binar ketertarikan dan cinta yang tak lagi disembunyikan.

—

“Biarkan tim operasional yang mengurus detailnya esok hari,” ujar Hendra lembut, jemari kokohnya mengusap pelan pipi mulus Aura. “Malam ini, saya cuma mau menghabiskan waktu berdua sama istri saya tanpa ada urusan pekerjaan.”

—

Aura menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memikat. Kedua tangannya merayap naik, melingkar di leher tegap suaminya.

—

“Boleh... Mau habiskan waktu seperti apa, Mas?” pancing Aura halus.

—

Hendra menyunggingkan senyuman dominan yang menawan. Pria itu menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, hangat, dan sarat akan gairah kepemilikan mutlak. Aura memejamkan matanya, membalas ciuman suaminya dengan penuh kehangatan.

—

Di dalam dekapan Hendra, Aura merasakan kedamaian yang murni. Rasa dendam pada Aris yang dulu membakar jiwanya kini telah padam sepenuhnya, digantikan oleh rasa cinta dan kebanggaan karena memiliki seorang pria sejati yang berdiri membentenginya dari segala ancaman.

—

Hendra meregangkan ciumannya perlahan, menatap wajah memerah istrinya di bawah pendar lampu temaram perpustakaan.

—

“Ayo kita ke kamar,” bisik Hendra pelan seraya mengangkat tubuh jenjang Aura ke dalam dekapannya.

—

Aura memekik pelan karena kaget, lalu tertawa merdu sambil mempererat pelukannya di leher Hendra. Pria matang itu membawa istrinya melangkah menuju kamar utama mereka.

—

—

Dua minggu berlalu.

—

Kehidupan rumah tangga Aura dan Hendra makin harmonis dan tak tergoyahkan. Di kantor pusat, Aura dikenal sebagai komisaris yang sangat tegas, cerdas, dan dihormati oleh seluruh direksi senior. Di rumah, ia memegang kendali penuh atas manajemen kediaman utama Fahreza sebagai Nyonya rumah yang berwibawa.

—

Namun, di balik ketenangan yang terasa sempurna itu, sebuah riak konflik baru mulai berembus dari arah yang tak disangka-sangka.

—

Siang itu di Gedung Fahreza Tower.

—

Aura sedang duduk di meja kerja mewahnya, memeriksa laporan keuangan bulanan, ketika sekretaris pribadinya mengetuk pintu dan melangkah masuk dengan raut wajah yang cukup tegang.

—

“Permisi, Nyonya Aura...” sapa sekretaris itu dengan sangat sopan.

—

Aura mendongak, menatap sekretarisnya. “Ada apa, Laras?”

—

“Ada tamu penting dari jajaran pemegang saham utama yang ingin bertemu dengan Nyonya,” terang Laras. “Bapak Danu Fahreza—paman kandung Pak Hendra sekaligus pimpinan dewan pembina dinasti Fahreza.”

—

Aura menaikkan sebelah alisnya. Danu Fahreza adalah sosok tetua paling berpengaruh di dalam silsilah keluarga besar Fahreza. Pria tua itu dikenal sangat konservatif, keras kepala, dan memiliki kekuatan politik tanah air yang amat besar.

—

“Silakan persilakan beliau masuk, Laras,” perintahkan Aura tenang.

—

Beberapa saat kemudian, pintu ganda ruang kerja terbuka.

—

Seorang pria lanjut usia bertubuh tegap dengan tongkat kayu bersepuh emas melangkah masuk. Meskipun rambutnya sudah memutih seluruhnya, mata Danu Fahreza memancarkan ketajaman dan kekuasaan yang luar biasa. Di belakangnya, dua pengawal pribadi bersetelan hitam mengapit langkahnya.

—

Aura berdiri dari kursi mewahnya, melangkah mendekat dengan senyuman anggun dan sikap hormat yang berkelas.

—

“Selamat siang, Pak Danu. Suatu kehormatan bisa menyambut Anda di ruangan saya,” sapa Aura ramah.

—

Danu Fahreza menghentikan langkahnya, menopang tubuhnya pada tongkat emasnya. Pria tua itu meneliti penampilan Aura dari atas ke bawah dengan pandangan dingin yang penuh penilaian ketat.

—

“Duduklah, Aura,” ujar Danu dengan suara serak namun sangat berbobot dan menekan.

—

Aura mempersilakan Danu duduk di sofa tamu premium, lalu mengambil posisi duduk di hadapannya.

—

“Ada hal penting apa yang membuat Pak Danu berkenan hadir ke ruangan saya secara pribadi?” tanya Aura jernih.

—

Danu menyandarkan tubuhnya, menyilangkan tangannya di atas kepala tongkat emasnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Aura.

—

“Saya datang bukan sebagai dewan pembina perusahaan, Aura... tapi sebagai kepala dinasti keluarga besar Fahreza,” buka Danu tanpa berbelit-belit.

—

Aura tetap mempertahankan raut wajahnya yang tenang. “Saya mendengarkan, Pak Danu.”

—

“Pernikahanmu dengan Hendra sudah berjalan beberapa bulan,” lanjut Danu dengan nada datar. “Di mata bisnis, kamu berhasil membuktikan dirimu cerdas dan mampu menjaga stabilitas saham perusahaan. Saya mengakui kapasitas otakmu.”

—

Aura menundukkan kepalanya tipis. “Terima kasih atas penilaiannya, Pak Danu.”

—

“Tapi...” potong Danu tegas, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh penekanan. “Keluarga besar Fahreza bukan cuma soal saham dan angka laporan keuangan. Kami adalah dinasti terkuat di negeri ini yang membutuhkan regenerasi takhta yang sah.”

—

Dahi Aura berkerut tipis, namun ia tidak menyela.

—

Danu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Aura dengan pandangan mengintimidasi.

—

“Aris sekarang berada di penjara dan secara resmi telah dicoret dari daftar calon pewaris utama dinasti Fahreza,” pabar Danu lugas. “Itu artinya, masa depan kepemimpinan tunggal dinasti ini sekarang sepenuhnya bergantung pada keturunan langsung dari Hendra.”

—

Aura menahan napasnya sejenak. Ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan tetua keluarga ini.

—

“Dewan keluarga besar telah mengadakan rapat tertutup kemarin,” sambung Danu tanpa rasa ragu sedikit pun. “Kami memberi waktu enam bulan kepadamu untuk memberikan seorang putra sebagai calon pewaris sah dinasti Fahreza.”

—

Aura menatap Danu lurus-lurus, menjaga agar suaranya tetap stabil dan berwibawa. “Anak adalah karunia takdir, Pak Danu. Saya dan Mas Hendra tidak bisa memaksakan hal itu berdasarkan tenggat waktu.”

—

Danu tersenyum dingin—sebuah senyuman khas politisi tua yang kejam.

—

“Di dalam dinasti Fahreza, segalanya harus memiliki kepastian, Aura,” tegas Danu kejam. “Jika dalam waktu enam bulan kamu gagal memberikan penerus laki-laki bagi Hendra... dewan keluarga besar akan menggunakan wewenang tertinggi kami untuk memaksa Hendra mengambil istri kedua dari keluarga konglomerat rekanan kami demi menjaga kelangsungan garis keturunan Fahreza!”

—

DEG.

—

Kata-kata Danu Fahreza menghantam udara ruang kerja itu bagaikan gumpalan es yang membekukan darah.

—

Aura membelalakkan matanya tipis. Tuntutan gila dari dewan keluarga besar ini adalah sebuah ancaman terbuka atas kedudukannya sebagai satu-satunya Nyonya di kediaman Fahreza!

—

Sebelum Aura sempat membalas, pintu ganda ruang kerja mendadak terdorong terbuka lebar dari luar.

—

Hendra Fahreza melangkah masuk dengan raut wajah murka yang membara. Pria matang itu baru saja kembali dari rapat luar dan mendengar seluruh percakapan paman kandungnya dari balik pintu.

—

Hendra melangkah cepat menghampiri meja tamu, memotong jarak dan berdiri membentengi Aura secara mutlak di hadapan tetua dinasti tersebut.

—

Mata cokelat gelap milik sang taipan berkilat menakutkan saat menatap paman kandungnya sendiri.

—

“Paman Danu...” bentak Hendra dengan suara rendahnya yang amat berbahaya. “Siapa yang memberi izin kepada dewan keluarga untuk mengatur urusan ranjang dan pernikahan saya dengan istri saya?!”

—

Danu berdiri dari sofanya, menopang tubuhnya pada tongkat emasnya dengan pandangan tak kalah keras.

—

“Ini demi masa depan dinasti Fahreza, Hendra!” balas Danu tegas. “Kamu adalah pemimpin tunggal! Kamu butuh penerus sah! Kalau wanita ini tidak bisa memberimu anak laki-laki dalam waktu cepat, keluarga besar berhak—”

—

“Cukup, Paman!” potong Hendra dengan bentakan menggelegar yang membuat seluruh ruangan bergetar.

—

Hendra merangkul bahu Aura dengan sangat rapat, menatap tetua keluarganya dengan pandangan membunuh.

—

“Aura adalah satu-satunya istri saya! Nyonya sah di kediaman ini dan Ratu dalam hidup saya!” tegas Hendra tanpa keraguan sedikit pun di suaranya. “Kalau ada satu saja anggota dewan keluarga yang berani menekan istri saya atau mewacanakan pernikahan kedua... saya tidak akan segan-segan menarik seluruh saham pribadi saya dan meruntuhkan kejayaan dinasti Fahreza dari dalam!”

—

Danu terperanjat kaku. Ia tidak menyangka Hendra bakal begitu nekat mempertaruhkan seluruh kekuasaan bisnisnya demi membela istri mudanya di hadapan tetua keluarga!

—

Hendra menunjuk ke arah pintu dengan raut wajah sangat dingin.

—

“Keluarlah dari ruangan istri saya sekarang, Paman... sebelum saya lupa tata krama pada orang tua,” perintah Hendra dengan ancaman mutlak.

—

Danu mengepalkan tangannya di atas kepala tongkat emasnya, menatap Hendra dan Aura dengan kemarahan yang tertahan sebelum akhirnya berbalik melangkah keluar bersama para pengawalnya.

—

Pintu ganda ditutup kembali.

—

Hendra memutar tubuhnya, langsung merengkuh Aura ke dalam dekapannya yang sangat erat dan hangat. Pria matang itu menghirup wangi rambut Aura, memberikan perlindungan mutlak di tengah guncangan ancaman dinasti tersebut.

—

“Jangan dengarkan kata-kata Paman Danu, Sayang,” bisik Hendra lembut di dekat telinga Aura. “Tidak akan ada wanita lain dalam hidup saya. Kamu adalah satu-satunya istri saya sampai kapan pun.”

—

Aura menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, merasakan detak jantung Hendra yang teratur dan penuh kehangatan. Namun di dalam pikirannya, sebuah strategi baru mulai berputar cepat.

—

Ancaman dari dewan keluarga besar Fahreza bukan perkara sepele. Jika ia ingin mempertahankan takhtanya secara permanen dan membungkam seluruh mulut tetua keluarga, ia harus mengambil langkah berikutnya yang paling krusial dalam pernikahan ini.

—

Aura mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap suaminya.

—

“Mas Hendra...” panggil Aura dengan suara halus namun sarat akan keberanian yang luar biasa. “Bagaimana kalau kita...”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!