hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 20
Dor!
Dor!
Suara tembakan terdengar bertubi-tubi, memecah keheningan malam di wilayah timur. Beberapa anak buah Orzan berjatuhan setelah Damian melepaskan tembakan ke arah mereka.
Wajah Damian tampak dingin tanpa sedikit pun keraguan. Dia berlindung di balik sebuah kendaraan sebelum kembali membalas serangan musuh yang terus berdatangan.
“Brengsek! Mereka nggak ada habisnya!” gerutu Damian sambil mengganti magasin senjatanya.
Dari kejauhan, suara tembakan masih terdengar bersahutan. Anak buah Orzan terus berdatangan, sementara persediaan senjata milik Damian semakin menipis.
Damian melirik Vandes yang berada tak jauh darinya.
“Vandes!” panggilnya lantang.
“Siap, Tuan!” sahut Vandes sambil membalas tembakan ke arah musuh.
“Biarkan aku sendiri di sini. Kau pergi lindungi bagian persenjataan kita!” perintah Damian tegas. “Aku akan mencari Orzan.”
Vandes langsung menoleh dengan wajah tak percaya.
“Tuan, mana mungkin saya meninggalkan Tuan sendirian di tengah kepungan musuh sebanyak ini?” protesnya. “Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada pasukan kita. Izinkan saya tetap bersama Tuan!”
Damian menatapnya tajam.
“Apa kau tuli? Aku menyuruhmu melindungi persenjataan kita!” bentaknya, membuat Vandes terdiam sesaat.
“Tapi, Tuan—”
“Jangan meremehkan kemampuanku, Vandes!” potong Damian dingin. Dia memasukkan magasin baru ke dalam senjatanya, lalu menatap anak buahnya dengan sorot mata tajam. “Aku masih bisa mengurus diriku sendiri. Jangan sampai persediaan senjata yang tersisa ikut jatuh ke tangan Orzan!”
Vandes mengepalkan tangannya, jelas masih merasa keberatan meninggalkan tuannya sendirian.
Namun, dia tahu Damian bukan tipe orang yang akan mengulangi perintahnya berkali-kali.
“Baiklah, Tuan,” jawab Vandes akhirnya. “Tapi, tolong berhati-hati. Saya akan segera mengamankan bagian persenjataan dan mengirimkan bantuan setelah keadaan memungkinkan.”
Damian hanya mengangguk singkat.
“Pergi!”
Vandes segera berlari menuju bagian persenjataan, sesekali berlindung ketika suara tembakan kembali terdengar.
Setelah memastikan Vandes telah menjauh, Damian mengalihkan pandangannya ke sebuah bangunan besar di ujung wilayah tersebut.
Menurut informasi yang diterimanya, Orzan berada di sana.
Damian menyeringai tipis sambil mengangkat senjatanya.
“Jadi, kau bersembunyi di sana, Orzan?” gumamnya penuh kebencian.
Dia melangkah keluar dari balik kendaraan, lalu bergerak menyusuri sisi bangunan untuk mencari jalan masuk tanpa menarik terlalu banyak perhatian.
“Tunggu saja. Aku akan menemukanmu, bajingan.”
Dor!
Sebuah tembakan tiba-tiba melesat dari arah samping.
Damian segera menghindar dan berlindung di balik dinding. Dia mengembuskan napas kasar, lalu mengintip untuk mencari tahu dari mana serangan itu berasal.
Sial. Rupanya, anak buah Orzan sudah mengetahui keberadaannya.
Damian mengeratkan genggamannya pada senjata.
“Kalau kalian memang ingin mati lebih cepat, majulah sekaligus!” tantangnya lantang.
Dengan tatapan dingin, Damian kembali bergerak menembus kepungan musuh. Baginya, malam ini belum akan berakhir sebelum dia menemukan Orzan dan menyelesaikan semua masalah yang telah ditimbulkan pria itu.
Dor!
Dor!
Damian terus melepaskan tembakan ke arah beberapa anak buah Orzan yang berusaha menghalangi jalannya. Setelah berhasil melewati mereka, dia akhirnya tiba di sebuah ruangan luas yang tampak seperti gudang tua.
Di sana, seorang pria berdiri santai sambil memainkan pistol di tangannya. Senyum mengejek terukir di wajahnya begitu melihat kedatangan Damian.
Orzan.
Pria yang sejak tadi ingin ditemuinya.
“Sepertinya kau datang untuk mencari mati, wahai Tuan Damian yang terhormat,” ejek Orzan sambil bertepuk tangan pelan. “Aku sungguh tersanjung melihatmu datang jauh-jauh hanya untuk menemuiku.”
Damian mendengus jijik. Dia meludah ke samping sebelum mengangkat wajahnya untuk menatap Orzan.
“Cuih! Menjijikkan sekali melihat wajahmu,” balas Damian ketus.
Senyum Orzan langsung memudar.
“Mulutmu masih saja tajam, rupanya.”
“Dan kau masih saja banyak omong. Kalau memang berani, maju!” tantang Damian sambil mengangkat pistolnya.
Orzan terkekeh, lalu mengarahkan senjatanya ke arah Damian.
“Dengan senang hati.”
Dor!
Satu tembakan melesat, memaksa Damian segera menghindar ke balik sebuah tiang besar. Dia membalas tembakan itu tanpa membuang waktu, membuat Orzan ikut berlindung di balik tumpukan peti kayu.
Suara tembakan pun kembali memenuhi ruangan.
Dor! Dor!
Keduanya bergerak dari satu tempat perlindungan ke tempat lainnya, berusaha mencari celah untuk menjatuhkan lawan. Sesekali, mereka saling melontarkan tembakan, tetapi tak satu pun bersedia menyerah.
“Sialan!” geram Orzan ketika sebuah tembakan Damian menghantam peti di dekatnya.
Damian menyeringai tipis.
“Kenapa? Mulai takut?”
“Jangan terlalu percaya diri, Damian!”
Orzan tiba-tiba muncul dari sisi lain dan melepaskan tembakan. Damian sempat menghindar, tetapi peluru itu mengenai bagian samping perutnya.
UGH!
Damian terhuyung sambil menekan bagian yang terluka. Rasa sakit menjalar, tetapi dia masih mampu berdiri tegak.
“Cih, cuma begini?” ejeknya, berusaha mengabaikan rasa nyeri yang mulai mengganggu.
Dia kembali mengangkat pistolnya dan membalas serangan Orzan.
Dor!
Namun, saat Damian bergerak maju, Orzan kembali menembak.
Dor!
Peluru kedua mengenai bagian perutnya, tak jauh dari luka pertama.
“ARGH!”
Damian terhuyung dan satu lututnya hampir menyentuh lantai. Dia segera menahan tubuhnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menekan lukanya.
Orzan tertawa puas melihat keadaan lawannya.
“Bagaimana, Damian? Masih mau menyombongkan diri?”
Damian mengertakkan gigi. Biasanya, luka seperti itu bukan masalah besar baginya. Sebagai vampir, tubuhnya memiliki kemampuan untuk memulihkan diri jauh lebih cepat daripada manusia biasa.
Dia hanya perlu menunggu beberapa saat.
Namun, kali ini berbeda.
Damian menunduk, memperhatikan lukanya dengan kening berkerut. Rasa sakitnya tak kunjung mereda. Bahkan, luka tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menutup.
“Apa-apaan ini?” gumamnya, mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Orzan yang melihat ekspresinya langsung terkekeh.
“Oh, jadi kau mulai menyadarinya?”
Damian mengangkat wajahnya. Tatapan merahnya menajam, penuh kecurigaan.
“Apa yang kau lakukan padaku?”
Orzan berjalan keluar dari tempat persembunyiannya dengan santai. Dia memutar pistol di tangannya, seolah sudah yakin bahwa kemenangan kini berada di pihaknya.
“Tidak ada yang istimewa. Aku hanya menyiapkan sedikit kejutan untukmu.”
“Jangan bertele-tele, bajingan!” bentak Damian.
Orzan tertawa semakin keras.
“Peluru yang kugunakan tadi sudah dilumuri air suci dari gereja.”
Mata Damian membelalak sesaat.
“Apa?”
“Kau tidak salah dengar.” Orzan menyeringai puas. “Kau pikir tubuh vampirmu akan selalu bisa menyembuhkan dirinya sendiri? Sayangnya, air suci itu akan menghambat kemampuan regenerasimu. Luka yang biasanya bisa pulih dalam hitungan detik kini tidak akan semudah itu sembuh.”
Damian mencoba berdiri tegak, tetapi rasa sakit di perutnya membuatnya kembali meringis. Dia menekan lukanya lebih kuat, berusaha mempertahankan kesadarannya.
“Sialan...”
“Bagaimana rasanya, Damian?” tanya Orzan sambil memiringkan kepala. “Untuk pertama kalinya, kau tidak bisa mengandalkan kemampuan vampirmu sendiri.”
Damian menatapnya dengan penuh kebencian.
“Jadi, ini rencanamu? Mencuri persenjataanku, menyerang wilayahku, lalu menggunakan trik murahan seperti ini?”
“Trik murahan?” Orzan mengangkat alisnya. “Kau boleh menyebutnya apa saja. Yang jelas, kau sekarang terluka, sedangkan aku masih berdiri dengan sehat.”
Dia mengarahkan pistolnya kembali kepada Damian.
“Dan sepertinya, malam ini akan menjadi malam terakhirmu.”
Damian tertawa kecil meskipun napasnya mulai terasa berat.
“Jangan bermimpi, Orzan.”
Dengan susah payah, dia kembali mengangkat senjatanya. Tangannya sedikit bergetar, tetapi tatapannya tetap tajam.
“Aku belum akan mati di tangan pengecut sepertimu.”
Senyum Orzan menghilang.
“Kalau begitu, mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan!”
Dor!
Suara tembakan kembali menggema di dalam gudang.
Dan kali ini, Damian harus bertarung bukan hanya melawan Orzan, melainkan juga tubuhnya sendiri yang perlahan kehilangan kemampuan untuk menyembuhkan luka-lukanya.
Dor!
Suara tembakan kembali menggema di dalam gudang.
Kali ini, Orzan mengarahkan pistolnya tepat ke dada Damian. Sebuah senyum kejam terukir di bibirnya ketika melihat Damian yang sudah mulai kesulitan berdiri akibat luka di perutnya.
“Selamat tinggal, Damian,” ucap Orzan dingin. “Sampaikan salamku kepada penghuni neraka.”
Dor!
Peluru itu melesat dan tepat mengenai jantung Damian.
“ARGH!”
Tubuh Damian tersentak hebat. Matanya membelalak, sementara pistol yang sejak tadi digenggamnya terlepas dan jatuh menghantam lantai.
“Tu-tuan...”
Darah merembes dari luka di dadanya. Damian mencoba melangkah mundur, tetapi kedua kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya dengan baik.
Sial.
Dia bahkan tidak pernah membayangkan akan tumbang di tangan bajingan seperti Orzan.
Damian berusaha mencengkeram sesuatu untuk menahan tubuhnya, tetapi pandangannya mulai kabur. Napasnya terasa berat, dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar kesulitan melawan rasa sakit yang menyerang tubuhnya.
Orzan tertawa puas.
“Lihat dirimu sekarang! Mana Damian yang selama ini begitu sombong dan merasa tidak terkalahkan?”
Dia melangkah mendekat, menikmati pemandangan musuh bebuyutannya yang hampir tak mampu berdiri.
“Rupanya, vampir sepertimu juga bisa berakhir menyedihkan.”
Damian mengangkat wajahnya dengan susah payah. Meski tubuhnya hampir ambruk, tatapan merahnya masih menyimpan kebencian yang begitu dalam.
“Ba... bajingan...” desisnya lirih.
Orzan mengarahkan pistolnya sekali lagi.
“Sudah cukup. Mati saja kau!”
Namun, sebelum jarinya sempat menarik pelatuk—
Dor!
Sebuah tembakan terdengar dari arah pintu gudang.
Peluru itu mengenai Orzan hingga tubuhnya terhuyung. Senjata di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
“AARGH!”
Orzan memegangi tubuhnya sambil menoleh dengan wajah terkejut.
Di ambang pintu, Vandes berdiri dengan pistol terangkat. Napasnya memburu, sementara tatapannya berubah murka ketika melihat Damian yang hampir jatuh.
“JANGAN BERANI MENYENTUH TUAN SAYA!” teriak Vandes.
Orzan berusaha meraih senjatanya yang tergeletak di lantai.
Namun, Vandes tak memberinya kesempatan.
Dor!
Tembakan kedua dilepaskan.
Tubuh Orzan tersentak, lalu ambruk ke lantai. Dia tak lagi bergerak.
Suasana gudang mendadak hening. Hanya terdengar suara napas Vandes yang memburu ketika dia menurunkan senjatanya dan segera berlari menghampiri Damian.
“Tuan!”
Vandes berhasil menangkap tubuh Damian tepat sebelum pria itu jatuh sepenuhnya ke lantai.
“TUAN DAMIAN! Tuan, tolong buka mata Anda!” serunya panik sambil menopang tubuh Damian.
Damian berusaha membuka matanya. Pandangannya kabur, tetapi dia masih bisa mengenali wajah Vandes di hadapannya.
“Or... Orzan...” gumamnya lemah.
“Dia sudah mati, Tuan! Saya sudah menghabisinya!” jawab Vandes cepat. “Sekarang, tolong jangan bicara dulu. Saya akan membawa Tuan keluar dari sini!”
Damian menggeleng lemah, berusaha mengumpulkan sisa tenaganya.
“Pas... pasukan...” bisiknya.
“Persenjataan sudah berhasil saya amankan, Tuan. Pasukan kita juga sedang mengendalikan keadaan. Tuan tidak perlu memikirkan itu sekarang!”
Vandes menekan luka di dada Damian untuk membantu menghentikan perdarahan, lalu merogoh ponselnya dengan tangan gemetar.
“Brengsek! Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya kalau Orzan menggunakan air suci?!”
Dia segera menghubungi tim medis yang menunggu di luar wilayah pertempuran.
“Siapkan semuanya sekarang juga! Tuan Damian terluka parah. Kami membutuhkan bantuan secepatnya!” perintahnya dengan suara keras.
Setelah panggilan terputus, Vandes kembali menatap Damian.
“Tuan, bertahanlah. Tolong, jangan menyerah sekarang.”
Damian hanya mampu mengembuskan napas berat. Kepalanya terkulai lemah di bahu Vandes, sementara matanya perlahan terpejam.
“Tuan?!”
Vandes menepuk pelan pipi Damian, berusaha membuatnya tetap sadar.
“TUAN DAMIAN!”
Namun, Damian tak lagi menjawab.
Wajah Vandes seketika memucat.
“Tidak... tidak mungkin.”
Dia memeluk tubuh Damian lebih erat, lalu berteriak memanggil bantuan.
“TOLONG! SESEORANG, CEPAT KE SINI!”
Malam itu, Orzan memang berhasil dikalahkan. Namun, kemenangan tersebut terasa sia-sia bagi Vandes ketika melihat Damian terbaring tak berdaya dalam pelukannya.
Dan yang paling mengerikan, Emma sama sekali tidak tahu bahwa suaminya kini sedang berada di ambang kematian.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭