Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Wajah seorang perempuan asing menatapnya dari cermin kamar mandi yang berembun.
Rambut kusut dan kusam seakan telah menyerap asap dan keringat semalam. Riasannya luntur menuruni pipi dalam garis-garis hitam tebal yang tampak bagai bekas luka baru. Bibirnya membiru, pecah di sudut-sudutnya. Dan matanya... matanya adalah sumur kering, sembap, merah, tanpa secercah cahaya. Kosong.
Zaira mengerjap sekali. Dua kali. Bayangan itu tak berubah. Ia tak mengenali dirinya sendiri.
Dan mungkin, di sudut tergelap jiwanya, ia sudah tak mau mengenalinya.
Tak ada martabat di kulit yang terasa bagai pinjaman itu. Tak ada kebanggaan di tubuh yang telah ia gunakan sebagai alat tukar. Hanya sensasi menyengat di dada, seakan sebuah kepalan tak kasatmata meremas jantungnya, menghalanginya bernapas dengan normal.
Dengan gerakan lambat, nyaris seperti ritual, ia menyimpan uang itu.
Lembaran-lembaran baru. Ia melipatnya dengan ketelitian seorang ahli bedah, seolah tindakan mekanis itu bisa mencegah tangannya bergetar.
Ia melakukannya bukan karena kebanggaan. Bukan pula karena kepasrahan. Ia melakukannya karena kebutuhan.
Demi seorang ibu yang sakit, yang terbatuk di dini hari sambil menyembunyikan rasa sakitnya di balik senyuman. Demi tunggakan sewa rumah yang sudah menumpuk dua kali surat peringatan pemutusan. Demi satu semester kuliah yang masih tertunggak dan tak ingin ia relakan.
Bobot uang di dalam tasnya bukan apa-apa dibanding bobot yang ia rasakan di dalam jiwanya.
Saat melangkah keluar pintu, kota menyambutnya dengan ketidakpedulian yang biasa. Tak ada yang bertanya ke mana ia pergi. Tak ada yang meliriknya dua kali. Tak ada yang peduli. Jalan-jalan masih terlelap, hangat oleh embusan dini hari yang mulai memudar. Langit mulai memucat dalam rona pias, nyaris sakit-sakitan, seakan fajar pun sedang mabuk sisa semalam.
Matahari, sang hakim yang kejam, mulai memanjat gedung-gedung, menerangi segalanya dengan kejelasan yang tak mengampuni. Ia menyingkap kantung mata, langkah yang goyah, kotoran di sela kuku. Itu jenis cahaya yang tak menyisakan tempat untuk bersembunyi.
Udara segar menampar wajahnya bagai sebuah tamparan.
Sedetik, ia merasakan dorongan untuk berlari. Berlari sampai kakinya terasa nyeri. Sampai air matanya kering. Sampai ia bisa meninggalkan malam itu di belakang.
Tetapi ia tak melakukannya.
Ia hanya berjalan. Satu langkah. Langkah lagi. Tiap langkah menjauhkannya dari Zaira yang dulu. Dan mendorongnya secara berbahaya menuju sosok yang tak pernah ingin ia jadi.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi menurunkannya di sudut jalan yang jauh, jauh dari jalannya sendiri, jauh dari tatapan menuduh para tetangga di lingkungan kumuhnya. Ia tak bisa membiarkan gunjingan baru muncul. Ia tak boleh jadi "Tatiana" yang lain.
Ia membayar dengan kerongkongan tercekat. Sopir taksi bahkan tak meliriknya. Ia hanya menjalankan mobil dan lenyap dalam kabut fajar.
Ia lewat tanpa terlihat.
Bagai hantu yang berjalan di dunia yang tak lagi menjadi miliknya.
Di depan pintu rumahnya, tangannya gemetar saat memasukkan kunci. Logam itu berputar dengan klik lirih, nyaris tak terdengar... tetapi bunyinya berdentum di dadanya bagai letusan tembakan.
Zaira masuk berjinjit, mendekap tasnya ke dada bagai perisai. Aroma kopi yang baru diseduh dan roti panggang mengambang di udara bagai janji tentang rumah... tetapi bagi dirinya, itu hanya menimbulkan sengat rasa bersalah.
"Zaira?" Suara ibunya yang lembut dan serak terdengar dari dapur.
Zaira memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam.
"Iya, Mama," jawabnya, memaksakan nada ringan yang tak ia rasakan. Suaranya terdengar hampa, seolah datang dari orang lain.
Sosok ibunya muncul di ambang pintu. Ia mengenakan daster berbunga, rambut tersanggul asal-asalan, dan matanya lelah karena semalam tak bisa tidur.
"Dari mana saja kamu, Nak? Mama khawatir waktu lihat kamu belum pulang..."
Zaira menghindari tatapannya.
Simpul di kerongkongannya membara bagai api.
"Aku keluar sama Tatiana. Kami pergi ke sebuah pesta. Aku cuma mau sedikit menghibur diri," dustanya dengan kelembutan seseorang yang sudah berkali-kali melatih kalimat itu di dalam benaknya.
Ibunya mengembuskan napas, lalu membelai pipinya dengan lembut. Tangannya dingin, tetapi belaian itu hangat.
"Kamu masih muda, Zaira. Tak apa kamu bersenang-senang, menikmati hidup..." katanya dengan suara redup, sarat mimpi-mimpi yang terkubur dan bertahun-tahun pengorbanan. "Cuma... kabari Mama lain kali, ya?"
Zaira mengangguk, menggigit bagian dalam pipinya agar tak menangis.
"Iya, aku janji..."
Lalu ia berlalu, menaiki tangga tergesa-gesa, tubuhnya menegang, dengan perasaan bahwa ia meninggalkan jejak di belakangnya. Jejak sesuatu yang retak, tak kasatmata tetapi tak mau hilang.
Saat menutup pintu kamarnya, kesunyian jatuh bagai batu nisan. Ia menjatuhkan tasnya. Ia menyandarkan punggung ke daun pintu kayu lalu melorot hingga ke lantai. Ia memeluk lututnya, menahan jeritan-jeritan yang membara di dadanya.
Tetapi ia tak menangis.
Belum.
Ia bangkit dan melangkah ke kamar mandi bagai robot.
Ia melepas pakaiannya, sehelai demi sehelai, dengan tangan kaku. Blusnya beraroma parfum pria. Roknya bernoda yang enggan ia pandangi dua kali. Branya menggores kulitnya.
Air pancuran mengalir dengan semburan dingin membekukan, menyayat.
Ia menggigil.
Kemudian, kehangatan menyelimutinya bagai hiburan palsu. Ia masuk ke bawah pancuran, membiarkan air jatuh bagai hujan penyuci. Tetapi tak ada yang bisa membersihkan apa yang ia rasakan. Tak ada sabun yang bisa mencuci rasa malunya.
Riasannya luntur menuruni wajahnya bagai tinta hitam. Air menjilati kulitnya, menghantamnya, memeluknya.
Dan kemudian ia menangis. Bukan tangis lembut yang sunyi. Tidak.
Ia menangis dengan jiwanya. Dengan tulang-tulangnya. Dengan segenap isi perutnya.
Isak tangis itu keluar bagai kejang, bagai kilat rasa sakit. Ia memeluk diri sendiri di bawah air, gemetar. Uap mengaburkan dinding-dinding, seolah seluruh kamar mandi ingin menyembunyikan penderitaannya.
Ia ingin berteriak. Ingin memukuli dinding. Ingin lenyap. Mengoyak kulitnya sendiri. Kembali ke masa ketika ia masih bermimpi menyelamatkan dirinya lewat belajar, lewat kerja keras, lewat imannya.
Tetapi ia hanya bisa menangis. Dan begitulah ia lakukan, sampai air berubah suam, lalu dingin, dan tubuhnya kehabisan tenaga, meringkuk di sudut bilik pancuran.
Seolah ia bisa kembali menjadi Zaira. Tetapi ia sudah tak tahu lagi siapa dirinya.