Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKADEMI KERAJAAN SALOVA
Akademi Kerajaan Salova tampak megah dengan halaman luas tempat anak-anak bangsawan berkumpul.
Di dalam salah satu ruang kelas yang cukup besar, Julian duduk di bangku baris kedua dengan rapi, anak berusia enam tahun itu tampak antusias untuk memulai hari pertama nya belajar.
Namun, suasana hati Julian langsung sedikit terusik ketika sang guru pengajar, seorang wanita paruh baya, berjalan mondar-mandir di depan kelas sambil membagikan buku tulis.
Nyonya Marie berhenti tepat di meja Julian, lalu meletakkan satu buku di meja sebelah, tapi melewatkan meja Julian begitu saja.
Julian mengerjap-ngerjapkan matanya bingung, lalu mendongak menatap guru tersebut.
Julian ingat perkataan ibu nya tadi malam, bahwa buku tulis akan diberikan di akademi.
"Besok disekolah kamu akan mendapatkan teman baru, guru yang hebat yang akan mengajari kamu banyak hal dan memberikan kamu buku."
Ucap Aleta tadi malam sebelum tidur, kembali terngiang-ngiang di ingatan bocah kecil itu.
"Maaf, Guru, saya belum dapat buku," ucap Julian dengan sopan, mengangkat tangan kecilnya ragu-ragu.
Nyonya Marie melirik Julian sekilas, lalu mendengus meremehkan.
"Buku? Untuk apa anak baru sepertimu diberi buku pelajaran tingkat dasar?" ucap Nyonya Marie ketus.
"Kamu ini baru masuk, belum bisa menulis dan membaca, jangan banyak menuntut, tunggu sampai bulan depan kalau kamu sudah bisa menulis!" lanjut Nyonya Marie terang-terangan meremehkan Julian di depan murid-murid bangsawan lainnya.
Beberapa anak bangsawan di kelas langsung tertawa kecil mengejek ke arah Julian.
Julian mengepalkan kedua tangan kecilnya di atas meja. Kalau dulu, sebelum Aleta datang mengubah hidupnya, Julian pasti sudah menunduk ketakutan dan menangis diam-diam.
Tapi sekarang? Di dalam kepala bocah itu terngiang jelas ajaran tegas dari ibu tirinya, kalau kita benar, tidak ada alasan buat kita untuk nunduk atau takut sama orang lain!
Julian menegakkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap tepat ke mata sang guru tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Tapi, Guru, saya sudah bisa membaca dan menulis," ucap Julian dengan suara yang lantang dan jelas, sama sekali tidak gemetar.
Nyonya Marie menghentikan langkahnya, alis wanita tua itu berkerut dalam mendengar jawaban seorang anak berusia enam tahun yang berani membantahnya di depan kelas.
"Anak kecil dari wilayah pinggiran sepertimu jangan berani berbohong di kelas saya! Mana mungkin anak seumuran mu sudah bisa membaca tanpa bimbingan khusus akademi!" cibir Nyonya Marie semakin merendahkan.
"Saya tidak berbohong, Guru, kalau tidak percaya, Guru boleh menguji saya sekarang juga!" tantang Julian dengan dagu sedikit terangkat, gaya bicara yang persis sekali meniru kebiasaan ibu tirinya saat menghadapi orang menyebalkan.
Seisi kelas langsung mendadak sunyi senyap. Murid-murid lain terperangah, tidak menyangka anak baru itu berani menantang guru paling galak di akademi.
"Dasar anak nakal!Sudah berani melawan guru, masih saja berbicara omong kosong!" bentak Nyonya Marie dengan suara melengking penuh amarah.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekati meja Julian dengan cepat, lalu tanpa ampun menjewer telinga kanan bocah malang tersebut hingga Julian meringis kesakitan.
"Aduh... sakit, Guru! Saya tidak berbohong!" rintih Julian sambil berusaha berjinjit mengikuti arah tarikan tangan gurunya di depan kelas.
Seketika seisi kelas langsung meledak dalam tawa ejekan.
Anak-anak bangsawan itu menunjuk-nunjuk Julian dengan tatapan mengejek, menikmati momen jatuhnya mental sang anak baru.
"Makanya jangan sok pintar kalau asalnya dari keluarga miskin!" teriak salah seorang murid laki-laki dari bangku belakang, disusul gelak tawa teman-temannya yang lain.
Setelah puas mempermalukan Julian di depan seluruh murid, Nyonya Marie akhirnya melepaskan jeweran nya dengan kasar hingga Julian hampir terjatuh ke lantai.
"Kembali duduk dan diam! Kalau kamu buat masalah lagi, saya pastikan kamu langsung dikeluarkan dari akademi ini!" ancam Nyonya Marie tajam, lalu melanjutkan pelajarannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Julian menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan air matanya.
Sepanjang sisa jam pelajaran, Julian hanya bisa menunduk dalam-dalam di bangkunya, dengan isak tangis yang mati-matian yang dia tahan agar tidak terdengar oleh anak-anak lain.
"Dasar miskin," ejek anak laki-laki di sebelah Julian.
"Ibuku bilang, Marquez Volis itu adalah Jendral paling miskin di kerajaan Salova," ucap anak itu lagi, sengaja menginjak kaki Julian.
"Jangan menghina Ayah ku!" balas Julian tidak terima, memukul teman yang mengejek nya.
"Huwaaa Nyonya Marie Julian memukul ku!" teriak anak itu menangis.
Anak-anak yang lain yang melihat teman sekelas mereka menangis langsung ikut, memukuli Julian, menjambak rambut nya.
"LEPAS! LEPAS!"
Berontak Julian, menendang-nendang mereka yang menarik rambut nya.
"SUDAH DIAM!"
Bentak Nyonya Marie menghampiri meja Julian dan Kemabli menjewer telinga Julian.
"Kamu benar-benar anak kurang ajar! Berani sekali kamu memukul teman mu!" bentak Nyonya Marie.
"Dia dulu yang menginjak kaki ku," jawab Julian, meringis.
"Berani kamu melawan guru hah!" bentak Nyonya Marie, lagi.
"Sakit Bu, telinga saya sakit..." ucap Julian, dengan mata berkaca-kaca.
Tring
"Horeee!"
Lonceng jam istirahat berbunyi, semua murid-murid langsung berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing.
"Pelajaran kita lanjutkan nanti," ucap Nyonya Marie, berjalan keluar dari ruang kelas.
Julian kini duduk seorang diri di dalam kelas nya, pria kecil itu sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi, telinga nya memerah bekas jeweran dari gurunya tadi.
"A-aku mau ibu..." bisik Julian, mulai terisak.
Julian keluar dari kelas nya berlari keluar untuk pulang, karena ini memang belum waktunya jam pulang, jadi belum ada jemputan dari Seno.
"Guru nya jahat hiks...aku tidak suka Nyonya Marie hiks...hiks..."
Tangis Julian sepanjang jalan, sambil terus berlari.
"Hiks... hiks... ibu..." racau Julian di sela isak tangisnya yang semakin kencang.
Bocah itu terus mempercepat larinya melewati gerbang akademi, sama sekali tidak peduli pada tatapan heran beberapa orang yang berpapasan dengannya di jalanan ibu kota.
Setelah berlari cukup jauh, akhir nya Julian sampai di kediaman nya dengan penampilan acak-acakan, karena tadi dia sempat terjatuh di jalan.
"Paman buka gerbang nya hiks...hiks..." ucap Julian.
"TUAN MUDA!"
Teriak penjaga gerbang itu terkejut melihat keadaan Julian.
Sementara itu, Aleta sedang sibuk memeriksa beberapa kantong bibit baru di teras belakang bersama seorang pelayan.
Tiba-tiba, telinga tajam Aleta menangkap suara isak tangis anak kecil yang terdengar samar dari arah depan gerbang rumah.
Aleta langsung menghentikan aktivitasnya, mengerutkan kening dalam-dalam, dia sangat mengenali suara tangisan itu.
"Julian?" gumam Aleta pelan, lalu bergegas meletakkan kantong di tangannya dan berlari menuju gerbang depan.