NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Suara Dari Dapur

Malamnya demam Ara semakin tinggi. Kepalanya berat, badannya menggigil meski sudah diselimuti kain tenun dua lapis. Mama Ino menempelkan kompres handuk basah di dahinya sambil komat-kamit berdoa. Bau minyak kayu putih menyengat di kamar sempit itu.

"Minum dulu air putihnya, Ara. Jangan keras kepala," bisik Mama Ino. Suaranya pelan tapi matanya sembab.

Ara memaksakan diri duduk. Tenggorokannya masih seperti terbakar. Dia meraih gelas plastik di meja kayu. Airnya hangat, agak asin. Di luar, kabut merah masih tebal. Dari celah jendela, cahaya lampu tetangga terlihat buram seperti lampu yang terendam air keruh. Jam dinding berdetak pelan. Jam 11 malam.

Setelah Mama Ino tidur di tikar sebelah, Ara mendengar suara aneh dari dapur.

Bukan suara tikus. Bukan suara kucing tetangga yang berkelahi. Ini suara air. Suara seseorang menyiram tanah lagi. Suara ember besi diseret pelan di atas tanah basah. Cek... cek... byur.

Jantung Ara berhenti sejenak. Tadi pagi jejak kaki itu nyata. Bukan halusinasinya karena demam. Sekarang suara itu kembali.

Dengan sisa tenaga, Ara turun dari kasur. Kakinya gemetar. Dia tidak menyalakan lampu senter. Dia hanya berjalan pelan ke arah dapur yang gelap. Pintu dapur terbuka sedikit. Angin malam membawa masuk bau tanah basah yang sama seperti pagi tadi. Bau yang dingin, bau hujan yang tidak turun.

Di halaman belakang, di bawah pohon mangga yang sudah mati, ada seseorang berjongkok.

Orang itu memakai jaket hitam yang robek di lengan kiri. Kepalanya tertunduk. Dia sedang menyiram tanah di bawah pohon itu dengan ember kecil. Gerakannya sangat sabar, seperti merawat sesuatu yang berharga. Tanah di bawah pohon mangga itu memang sudah lama tidak disiram karena pohonnya sudah mati sejak setahun lalu.

Ara menahan napas. Tenggorokannya sakit, tapi dia tidak berani batuk.

"Revan?" Suaranya hampir tidak terdengar.

Orang itu berhenti menyiram. Perlahan dia menoleh.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Ara melihat wajah itu dengan jelas, meski hanya terkena cahaya bulan yang tertutup kabut merah. Wajah itu pucat, lebih kurus dari yang dia ingat. Rambutnya gondrong dan basah. Di pelipis kirinya ada luka panjang yang sudah mengering menjadi hitam. Tapi matanya, matanya masih sama. Mata Revan yang selalu terlihat sedih ketika menatap Ara.

Revan tersenyum. Senyum yang sama seperti lima tahun lalu ketika dia pamit.

"Ara," ucapnya. Suaranya serak, seperti orang yang terlalu lama tenggelam dan baru belajar bernapas lagi.

Air mata Ara langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Demam, rindu, takut, semua bercampur menjadi satu. Dia ingin berlari memeluk Revan. Dia ingin marah kenapa baru pulang sekarang. Dia ingin bertanya kenapa meninggalkannya selama lima tahun tanpa kabar.

Tapi sebelum dia bisa bergerak, Revan mengangkat jari telunjuknya ke bibirnya. Ssst. Dia mengisyaratkan agar Ara diam.

Kemudian Revan menunjuk ke tanah yang baru dia siram. Di bawah cahaya bulan, Ara melihat sesuatu yang membuatnya merinding.

Tanah yang disiram Revan itu bergerak. Bukan karena cacing. Ada sesuatu di dalamnya yang mencoba keluar. Sesuatu yang kecil, putih, seperti akar yang tumbuh terlalu cepat. Dari tanah basah itu, perlahan muncul tunas hijau. Tunas itu tumbuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dalam hitungan detik, tunas itu menjadi batang kecil, lalu daun kecil terbuka.

Pohon mangga yang sudah mati setahun itu hidup lagi.

Revan berdiri. Dia berjalan pelan mendekati Ara. Langkahnya miring ke kiri, persis seperti yang Ara ingat. Ketika jarak mereka hanya tinggal satu meter, hawa dingin yang menusuk langsung menyergap tubuh Ara. Dinginnya bukan dingin malam biasa. Ini dingin seperti masuk ke dalam air laut

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!