"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Polisi
"Aluna sakit apa, Bian?" tanya Mama Mila sebelum Bian akan beranjak pergi.
"Nggak tahu, katanya punggung berdarah dan langsung dibawa Mang Jono pakai mobil pick up untuk ke rumah sakit." jawab Bian sambil mengambil kunci mobilnya.
"Papa... Ayo kita ke rumah sakit," teriak Mama Mia memanggil suaminya yang masih mencangkul beberapa tanah kebun agar bisa ditanami sayuran dan buah.
"Siapa yang sakit, Ma?" tanya Papa Kio langsung menghentikan kegiatannya.
"Aluna..." teriaknya lagi.
Mendengar hal itu, Papa Kio segera mengakhiri kegiatannya di kebun. Dia menyuruh orang-orang di sana untuk menyelesaikannya. Bian bersama Mama Mila dan Papa Kio pun bergegas masuk ke dalam mobil yang terparkir di kebun. Mereka segera pergi dengan raut wajah paniknya. Bian belum mengetahui apa yang terjadi. Pasalnya Mbak Ambar tadi juga tidak menjelaskan secara gamblang. Mbak Ambar hanya mengatakan jika Aluna terluka dan Reyhan ikut ke rumah sakit. Ada juga Elova yang tengah menangis histeris.
"Cek CCTV, Pa." suruh Bian pada Papa Kio agar mengambil ponselnya untuk memeriksa CCTV rumahnya. Tanpa diketahui oleh semua orang, Bian memasang CCTV tersembunyi di rumahnya. Hal ini karena ada kedua anaknya yang harus selalu dipantau keadaan dan keamanannya.
"Ini si Lova ada di rumah ya berarti? Duh... Harusnya dibawa sekalian," ucap Mama Mia yang merasa khawatir saat tadi mendengar tangisan pilu dari Elova.
"Kalau bawa Lova ke rumah sakit, agak beresiko. Apalagi tadi Lova sampai menangis histeris begitu. Lagian juga semua orang panik, di rumah hanya ada mobil pick up. Tidak mungkin Lova duduk di belakang bersama ART lain," ucap Bian membela keputusan Mbak Ambar yang tidak ikut pergi bersama Elova.
"Baru kali ini ada..."
Lihat ini...
Papa Kio menyodorkan ponsel Bian ke arah Bian dan Mama Mila. Keduanya terkejut melihat adegan Aluna menendang Mbak Lani padahal punggungnya sedang berdarah. Bahkan pisau itu masih tertancap di punggungnya. Mama Mila menangis melihat aksi heroik dari Aluna yang melindungi Reyhan. Padahal Aluna mempunyai keterbatasan tapi bisa mengetahui ada bahaya mengintai anak tirinya.
"Mama dan Papa aku drop di depan rumah ya. Mama tenangkan Lova dan Papa urus Mbak Lani. Jangan biarkan dia kabur. Bibi Sita juga karena Bian khawatir kalau dia ikut-ikutan menyembunyikan Mbak Lani," ucap Bian memberikan perintah.
"Tap..."
"Ma, ada cucu Mama di rumah. Nanti kalau Lova sudah tenang dan Mbak Lani diamankan, baru Mama menyusul." sela Bian agar Mama Mia tidak protes dengan idenya.
"Baik lah. Mama ini juga mau hubungi polisi," ucap Mama Mia membuat Bian menganggukkan kepalanya setuju.
Papa Kio sedari tadi diam sambil menyimpan bukti video CCTV. Dia juga sedang mengotak-atik pengaturan pada CCTV agar suaranya keluar. Sedangkan Bian, kembali fokus mengemudikan mobil. Pikiran Bian sudah kemana-mana. Aluna menyelamatkan Reyhan dengan kondisinya seperti itu. Antara terharu dan takut jika kejadian ini membuat nyawa Aluna terancam. Apalagi Reyhan yang melihat langsung kejadian ini.
"Anak pungut," Suara dari ponsel Bian membuat semua yang ada di dalam mobil itu langsung membeku. Bian berusaha untuk fokus karena bisa berbahaya, apalagi membawa kedua orangtuanya.
"Mbak Lani mengatakan Lova sebagai anak pungut. Makanya Aluna marah dan berakhir Mbak Lani emosi. Aluna tak terima kemudian menamparnya," ucap Papa Kio sambil meringis pelan.
"Pantas saja Lova menangisnya sampai begitu," gumam Mama Mia sambil menutup mulutnya karena tak tega mendengar tangisan pilu dari cucunya.
"Kurang ajar," umpat Bian sambil mengeratkan genggamannya pada kemudi mobilnya.
Cittt...
"Bian langsung pergi Ma, Pa. Tolong urus dulu," lanjutnya setelah mobil sampai di depan rumahnya.
Brumm... Brumm...
Jika sampai Bian masuk ke dalam rumah, sudah dapat dipastikan kalau laki-laki itu akan mengamuk. Papa Kio dan Mama Mia menganggukkan kepalanya kemudian bergegas masuk. Dari luar saja, Mama Mia dan Papa Kio sudah mendengar tangisan Elova yang menyayat hati. Bersamaan dengan kepergian Bian, mobil polisi berhenti di halaman rumah. Papa Kio segera menemui polisi kemudian menjelaskan kejadiannya sesuai CCTV. Sedangkan Mama Mia masuk ke dalam rumah untuk memeriksa keadaan Elova.
"Saya baru sampai, Pak. Di rumah ini kebetulan tidak ada penjaga selain Mang Jono yang merangkap jadi sopir dan tukang kebun. Sekarang Mang Jono lagi antar korban ke rumah sakit. Saya tidak tahu pelaku ada di dalam rumah atau tidak. Soalnya saya cari dari tadi tidak ada wujudnya di CCTV setelah ditarik oleh salah satu ART," ucap Papa Kio menjelaskan.
"Baik, Pak. Saya minta akses CCTV rumah," ucap salah satu polisi.
"Berpencar, cek apakah pelaku masih ada di rumah ini atau tidak. Pelaku terpantau tidak ada pergerakan di CCTV. Cek kamar pelaku karena tidak ada CCTV di sana," ucapnya meminta semua anggotanya untuk berpencar.
Baik,
Papa Kio pun ikut mencari keberadaan Mbak Lani. Beberapa polisi juga berjaga di halaman rumah. Jangan sampai Mbak Lani kabur dari rumah ini. Kebetulan juga area belakang rumah atau tempat untuk istirahat ART, tidak ada CCTV. Mbak Ambar tidak mungkin bisa mencegah Mbak Lani keluar dari rumah ini. Dia harus menjaga keselamatan Elova. Baru kali ini terjadi pada keluarganya, sehingga Bian tidak kepikiran untuk ada penjaga di rumah ini.
"Mbak Ambar, tahu dia dimana?" tanya Papa Kio setelah masuk ke dalam rumah.
"Tidak tahu, Pak. Tadi Bibi Sita menyeretnya keluar lewat pintu belakang. Habis itu, fokus kami pada Bu Aluna dan Nak Reyhan." ucap Mbak Ambar sambil menggelengkan kepalanya.
"Biar aku cek ke belakang," Papa Kio langsung keluar lewat pintu belakang menuju area kamar khusus ART yang menginap.
"Hati-hati, Opa. Nenek lampil olangnya nekat," seru Elova tiba-tiba di dalam gendongan Omanya.
"Pasti, cucu Opa yang cantik." seru Papa Kio sambil mengacungkan jempolnya ke arah Elova.
Papa Kio mendengar suara orang berbicara di sebuah kamar. Tampaknya itu adalah suara Bibi Sita dan Mbak Lani yang terlibat perdebatan. Bahkan handle pintu pun digerakkan secara kasar seperti ingin dibuka. Namun pintu terkunci dengan rapat. Beberapa polisi pun saling memberi kode untuk bersiap menangkap orang yang terduga sebagai pelaku. Papa Kio di depan kamar itu sudah menahan emosinya. Apalagi mendengar Mbak Lani akan pergi tapi tak diperbolehkan oleh Bibi Sita.
"Kamu harus minta maaf tentang ucapan dan tindakanmu itu pada Bu Aluna, Lani. Ini sudah termasuk kriminal, jangan kabur." seru Bibi Sita yang terdengar sampai luar.
"Nggak mau, Bi. Aku nggak salah kok. Udah lah biarin aku pergi balik ke kampung," seru Mbak Lani kekeh drngan keinginannya.
Bi Sita...
Mbak Lani...
Ini saya...