NovelToon NovelToon
Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Balas Dendam / CEO / Penikahan Kontrak / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:602
Nilai: 5
Nama Author: Lorena Carapia

Sepuluh tahun diasingkan ke sekolah asrama di negeri seberang, Elisa akhirnya pulang ke New York—bukan untuk disambut, melainkan untuk menghadiri misa arwah mendiang ibunya. Di rumah megah yang dulu miliknya, ia justru diperlakukan bagai orang asing: kamarnya dirampas, foto ibunya disingkirkan, dan ibu tiri beserta saudari tirinya sudah menyiapkan satu rencana keji—menjual Elisa lewat pernikahan pada seorang pria bengis dua kali lipat usianya.

Namun malam itu, sepasang mata dingin sudah lebih dulu mengunci punggungnya.

Mario Adikara—taipan sekaligus pemimpin mafia yang tak pernah kalah dan tak pernah ditolak. Kecuali oleh satu gadis, di sebuah restoran di Italia, yang berani menampar harga dirinya. Kini ia datang untuk menagih. Dengan akta nikah palsu dan satu ancaman yang membuat sang ayah bertekuk lutut, Mario menyeret Elisa ke dalam pernikahan yang tak pernah ia minta.

Yang tak Elisa duga: di balik dinginnya pria itu tersembunyi obsesi yang membara. Dan di balik masa lalunya sendiri tersembunyi rahasia yang bisa meruntuhkan dua keluarga sekaligus—tentang siapa ibunya sesungguhnya, siapa ayahnya yang sebenarnya, dan mengapa ada begitu banyak orang yang menginginkannya lenyap.

Balas dendam, tipu daya keluarga, cinta yang posesif, dan kebenaran yang berdarah. Ketika si gadis yang dibuang kembali untuk merebut haknya, tak ada satu pun yang berani lagi memandangnya sebelah mata.

Dinikahi paksa oleh sang bos mafia... atau justru inilah pertemuan yang telah lama ditakdirkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorena Carapia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Cantik

Sepanjang hidupnya, Emma dikenal sebagai wanita cerdas yang sanggup mengendalikan setiap emosinya dengan sempurna. Namun kali ini ia hanyut oleh dorongan amarah.

Sejak melihat Elisa, hatinya dilanda kegusaran. Kemiripan gadis itu dengan mendiang ibunya terlalu kentara.

Kenangan-kenangan lama membanjiri benaknya. Cara Kejora tersenyum, wataknya yang meledak-ledak. Semua itu dulu Emma benci setengah mati.

"Ternyata aku meremehkanmu. Dasar bocah tolol."

Yang tak kau ketahui, Elisa sayang, adalah kejutan yang sudah kusiapkan untukmu. Sebentar lagi aku akan menyingkirkanmu lagi dari kehidupan Yosef, seperti dulu kusingkirkan ibumu dan dirimu bertahun-tahun lalu. Emma menggumam pada dirinya sendiri.

Berpura-pura menyesal, Emma menoleh ke arah Elisa. Air matanya dibiarkan menetes, lalu ia berkata dengan suara terisak.

"Aku minta maaf. Seharusnya aku tak berbicara sekasar itu padamu. Aku juga tak seharusnya terbawa emosi sampai mengaku bahwa Diana adalah saudarimu. Aku tahu itu pukulan berat bagi perasaanmu."

Segaris tipis muncul di bibir Elisa. Ia bisa melihat kepalsuan di mata Emma. Ia jauh berbeda dari ayahnya, atau siapa pun yang mudah mempercayai Emma.

Bertahun-tahun ia menanggung derita karena ketiadaan sang ayah. Ia ditelantarkan di sekolah asrama selama delapan tahun yang panjang. Sepuluh kali Natal ia lewati seorang diri, tanpa seorang pun yang memeluknya.

Tak punya teman bicara tentang segala hal yang menimpanya telah menempa Elisa menjadi gadis yang tegar.

Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah orang berlebih dalam keluarga yang dibangun ayahnya bersama Emma, istri barunya.

"Aku tak percaya sedikit pun padamu... Kau bisa membohongi ayahku. Tapi tidak denganku.

"Aku tak tahu permainan apa yang kau mainkan, dan sejujurnya aku tak peduli. Tapi ingat baik-baik, aku tak akan membiarkan diriku diinjak-injak, olehmu maupun oleh siapa pun.

"Sekarang keluar dari kamarku. Aku tak mau melihatmu di dekatku. Aku tak mau melihat wajahmu, dan aku juga tak mau melihat wajah Diana. Kalian berdua menjijikkan bagiku."

Emma terpaksa menelan amarahnya dan melangkah keluar kamar. Elisa merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Tak pernah ia bayangkan bahwa kepulangannya akan menyuguhkan begitu banyak kejutan. Dan bahwa ia harus berhadapan dengan ibu tirinya seperti ini. Ia mengakui, dirinya bukan lagi bocah yang bisa dikendalikan Emma.

Bik Surti, yang menyaksikan semuanya, merasa sangat iba pada Elisa. Yang paling menyakitkan, ia tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi gadis itu; ia hanyalah satu di antara sekian pelayan di mansion mewah ini.

"Nak, pindahlah ke kamar lain supaya bisa istirahat. Kau terlihat sangat lelah. Sebaiknya kau mandi lalu tidur sebentar. Perjalananmu jauh sekali. Besok hari yang baru."

Elisa mengangkat wajahnya. Hal terakhir yang ia inginkan sekarang adalah beristirahat dan membiarkan Emma serta Diana terus berbuat sesuka hati.

"Tidak, Bik Surti. Aku akan berdandan dan turun ke aula. Aku ingin tahu, pesta ini dalam rangka apa."

Bik Surti membelalakkan matanya. Ia hendak berkata sesuatu, tetapi Elisa tak memberinya kesempatan. Gadis itu sudah bertekad merebut kembali kedudukan yang menjadi haknya dalam keluarga itu.

"Pergilah, Bik. Aku ingin sendiri," perintah Elisa.

Bik Surti menundukkan kepala. Elisa sama keras kepalanya dengan sang ibu. Bukan hanya kecantikannya yang diwarisi, tetapi juga watak pemberontak dan kuat itu.

Bik Surti hanya berharap semua itu tak membawanya pada akhir yang sama seperti Kejora, ibunya. Tak lama kemudian wanita itu keluar dari kamar Elisa.

Gadis itu tinggal dalam sunyi. Ribuan kenangan menyerbu pikirannya. Kamar itu menjadi saksi seluruh kasih sayang yang selama bertahun-tahun ibunya curahkan padanya.

Kejora adalah wanita yang sangat tegar. Ia tak akan pernah memaafkan pengkhianatan suaminya. Ketika tahu Yosef berselingkuh lama dengan Emma, sepupunya sendiri, Kejora meminta cerai.

Namun hal itu hanya akan mencoreng citra perusahaan-perusahaan mereka. Yosef berbicara dengan Kejora dan menawarkan sebuah kesepakatan. Seperti yang sudah diduga, Kejora menolak dan tetap meminta cerai. Beberapa hari kemudian, ia mengalami kecelakaan mengerikan yang merenggut nyawanya, meninggalkan putri kecilnya di tangan Yosef, sang suami.

Elisa membuka kopernya, memilih sebuah gaun yang sangat terbuka, yang menurutnya bisa menarik perhatian seluruh tamu pesta.

Elisa meletakkannya di atas ranjang. Ia mengeluarkan peralatan rias dan beberapa barang pribadi. Setelah semuanya tertata rapi, ia masuk ke kamar mandi dan mandi dengan cepat. Saat keluar, kamar itu sudah bersih.

Gadis itu mengeringkan rambutnya, lalu merias wajahnya, menonjolkan garis-garis wajahnya, dan memberi sentuhan akhir pada bibirnya. Ia membiarkan rambutnya tergerai di punggung dan bahunya.

Di aula, para tamu mulai bertanya-tanya tentang ketiadaan tuan rumah. Hanya Diana yang tampak melayani mereka, sementara Emma dan Yosef sama sekali tak kelihatan.

"Sepertinya kau ditinggal sendirian," komentar salah satu teman Diana.

"Bukan begitu. Seharusnya aku di atas menyambut kepulangan Elisa."

"Adikmu pulang? Wah, itu berita besar. Coba katakan, apakah dia secantik kamu?"

"Jangan bicara ngawur, Evelyn. Elisa jauh di bawahku. Lihat aku, tak ada wanita yang bisa menyaingi kecantikanku. Aku sudah memenangkan berbagai penghargaan, dan di sekolah aku selalu dianggap gadis tercantik," jawab Diana ketus.

"Oke. Aku cuma bilang. Tak perlu kau tanggapi seserius itu."

"Lihat pria itu. Ya ampun, tampan sekali." Diana menancapkan pandangannya pada Mario.

"Lupakan pria itu.

"Dia jauh lebih tua dari kita. Pria semacam itu biasanya mencari wanita sepuluh tahun lebih tua dari kita," komentar Evelyn.

"Belum ada satu pun pria yang bisa menolak kecantikanku. Lihat saja bagaimana kubawa pria rupawan ini ke ranjangku," ucap Diana dengan penuh percaya diri.

Diana melangkah ke tempat Mario sedang berbincang dengan beberapa pria. Ia mengambil dua gelas sampanye. Ketika hampir sampai di dekat Mario, semua orang menoleh ke arah wanita yang menuruni tangga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!