NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Hitam di Gerbang Kampus

​Sajian sarapan pagi di meja makan utama telah usai dengan khidmat. Menu bubur ayam hangat dan segelas susu segar berhasil mengisi energi Kirana untuk menghadapi hari pertamanya di kampus. Setelah merapikan tas ranselnya yang berisi berkas-berkas pendaftaran, Kirana berpamitan kepada Rian yang menemaninya hingga ke area lobi utama.

​"Aku berangkat dulu, Mas," pamit Kirana dengan senyum sopan.

​"Hati-hati di jalan. Doni dan pengawal akan memastikan semuanya beres di sana," pesan Rian dengan nada tenang dan penuh perhatian.

​Kirana melangkah keluar melalui pintu utama mansion, menyusuri jalan setapak taman yang asri hingga tiba di gerbang besi besar kediaman Wijaya. Di luar gerbang, sebuah mobil sedan hitam elegan telah terparkir rapi. Di samping pintu mobil, seorang pengawal berbadan tegap berdiri membukakan pintu dengan hormat, sementara Doni sang asisten pribadi duduk di kursi depan mengangguk menyambutnya.

​Sebelum Kirana sempat melangkah masuk ke dalam mobil, sebuah suara langkah kaki tegap terdengar mendekat dari belakang.

​Kirana menoleh, dan ia terkesiap pelan mendapati Rian—yang tadinya berada di lobi—kini berjalan mendekatinya dengan kedua kaki kokoh tanpa kursi roda, memanfaatkan sepinya area luar halaman yang terlindung dari pandangan para pelayan rumah.

​"Mas Rian...?" panggil Kirana bingung.

​Rian berhenti tepat di hadapan Kirana. Pria itu sedikit menundukkan wajahnya karena perbedaan tinggi badan di antara mereka. Tanpa diduga, sebelum Kirana sempat mencerna situasinya, Rian mengangkat tangan dan dengan lembut mendaratkan kecupan hangat di kening Kirana.

​Sebuah sentuhan lembut, tulus, dan penuh perlindungan.

​Wajah Kirana seketika merona merah padam hingga ke pangkal lehernya. Jantungnya berdegup kencang seolah melompat dari rongga dada. Ia mematung, kedua tangannya meremas tali ranselnya erat-erat karena terlalu gugup menerima perlakuan manis yang begitu mendadak itu.

​"Aku tidak ikut ke kampus karena ada urusan penting di kantor," bisik Rian tepat di dekat telinga Kirana dengan suara baritonnya yang lembut. "Nikmati hari pertamamu, dan jadilah dirimu sendiri."

​Kirana yang masih salah tingkah hanya mampu mengangguk pelan dengan pipi merona merah.

​"B-baik, Mas... Saya berangkat," jawabnya terbata-bata.

​Rian tersenyum tipis melihat tingkah istrinya yang menggemaskan, lalu memberi isyarat kepada pengawal agar membukakan pintu mobil. Kirana segera masuk ke dalam kendaraan, sementara Rian berdiri tegak di tepi gerbang, mengantar kepergian sang istri dengan tatapan penuh keyakinan.

​Mobil hitam itu perlahan melaju meninggalkan pelataran mansion, membawa Kirana menuju gerbang babak baru dalam hidupnya di universitas impiannya.

​Mobil sedan hitam ber-AC dingin meluncur mulus menembus hiruk-pikuk jalanan kota, membawa Kirana menuju salah satu universitas negeri paling bergengsi di pusat kota. Pagi ini, penampilannya tampak sedikit berbeda. Berkat fasilitas dan perhatian penuh dari Rian, lemari pakaiannya kini dipenuhi setelan busana kasual elegan namun tetap sederhana—sebuah blouse pastel berpotongan rapi, celana bahan katun yang nyaman, serta tas jinjing kulit kualitas terbaik yang dipilihkan khusus oleh asisten pribadi Rian. Penampilan baru itu membuat aura kecerdasan dan keanggunan Kirana semakin terpancar alami.

​Sepanjang perjalanan, Kirana melirik ke arah kaca spion tengah. Di bangku depan, Doni duduk mendampingi sopir, sementara di belakang mereka, sebuah mobil SUV hitam berisi para pengawal setia mengekor dengan jarak yang cukup konsisten.

​Melihat pengawalan ketat ala pejabat tinggi itu, Kirana merasa tidak enak hati. Ia tahu Rian hanya ingin memastikan keselamatannya, namun status barunya yang mendadak dikelilingi bodyguard justru membuatnya ngeri membayangkan kehebohan yang akan terjadi di lingkungan kampus nanti.

​Saat mobil mendekati gerbang utama universitas yang dipadati oleh lalu-lalang mahasiswa beransel dan motor, Kirana bergeser sedikit ke depan dan berbicara dengan nada sopan kepada Doni.

​"Pak Doni... bolehkah saya meminta tolong satu hal?" tanya Kirana ragu-ragu.

​Doni langsung berbalik menghadap Kirana dengan hormat. "Tentu, Nyonya. Apa yang bisa saya bantu?"

​"Nanti, saat kita sampai di area kampus... tolong sampaikan kepada para pengawal agar tidak terlalu berjarak dekat dengan saya," pinta Kirana, jemarinya meremas tali tasnya karena cemas. "Saya takut jika harus berjalan dikelilingi orang-orang berbadan tegap dan berjas hitam. Mahasiswa lain pasti akan melihat dan menjadikan saya pusat perhatian. Saya hanya ingin kuliah dengan tenang seperti mahasiswa pada umumnya."

​Doni tertegun sejenak, lalu tersenyum maklum. Ia paham betul bahwa Nyonya mudanya ini terbiasa hidup sederhana dan tidak suka mencari perhatian publik.

​"Baik, Nyonya. Saya akan menginstruksikan para pengawal untuk berjaga di titik-titik tersembunyi dan memantau dari kejauhan. Mereka tetap akan mengawasi keselamatan Nyonya, namun tidak akan mengganggu ruang gerak Nyonya di lingkungan kampus," jawab Doni profesional.

​Kirana menghembuskan napas lega, senyum tulus terukir di bibirnya. "Terima kasih banyak, Pak Doni."

​Tidak lama kemudian, mobil mewah itu menepi dengan mulus di dekat area parkir khusus mahasiswa baru. Pintu dibukakan dengan sigap. Sesuai kesepakatan, para pengawal turun dengan menyebar secara rahasia, membaur di antara kerumunan mahasiswa tanpa menarik perhatian berlebih.

​Kirana menarik napas dalam-dalam, memantapkan langkah kakinya menapaki halaman kampus impiannya. Di sinilah masa depannya dimulai—sebuah babak baru di mana ia berdiri di atas kaki sendiri, membawa nama besar Wijaya, namun tetap mempertahankan jati dirinya yang membumi.

1
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!